Chahna Dhipa seorang gadis berparas cantik yang berprofesi sebagai penulis dan pelukis terkenal. Suatu hari ia terbangun di tengah hutan yang tak ia ketahui.
Ketersesatannya membawanya pada seorang pria dengan kutukan di tubuhnya dan mempertemukannya dengan tokoh utama pria yang kejam.
Akankah Chahna dapat keluar dari dunia novel ini? dan siapa pria dengan kutukan itu? Baca cerita ini sampai tamat ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TIANG_MANIS_2602 KY💀❤️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gundah Gelisah
"Chahna.." panggil sosok gagah itu lagi sehingga membuatnya bergidik. "Chahna Dhipa..." Bunyi desiran air terdengar nyaring ketika kaki panjang memasuki aliran sungai yang mengalir itu, kakinya beberapa kali keluar masuk air melangkah mendekati gadis yang mematung tak berdaya itu.
Nara yang melihat itu menundukkan kepalanya menatap mata ekspresi wajah Chahna yang semakin ketakutan, permintaan tolong memelas seolah tersirat di wajahnya yang mungil, rambutnya yang perlahan-lahan menutupi wajahnya seiring dengan terkulainya kepalanya itu membuat sosoknya jadi tampak lebih menyedihkan. Namun hal itu tidak membuat Nara berkutik dan meraihnya, pemuda itu hanya menatap dan mencoba memahami apa yang terjadi serta mengapa kehadiran Yasa begitu mengganggunya.
Chahna yang merasa bahwa Nara tidak akan menolongnya pun hanya menatapnya dengan sorot mata kecewa tapi masih ada sedikit harapan di benaknya, ia menatap mata pemuda itu lekat-lekat sampai mata mereka bertemu pandang beberapa saat. Mata datar itu hanya menatap matanya dengan sorot mata acuh tak acuh tanpa sedikitpun tersirat rasa kasihan atau bahkan peduli, melihat tatapan itu rasa kecewa di dalam diri Chahna semakin kuat dan jelas. Gadis itu menundukkan kepalanya dan membiarkan rambut-rambutnya yang terlepas dari sanggulnya turun menutupinya wajahnya.
Sedangkan Yasa yang sudah sangat dekat pada Chahna menatapnya dengan heran, mengapa gadis itu tidak lari? Kenapa dia hanya diam? Mengapa dia tampak kecewa? Pertanyaan-pertanyaan muncul melintasi pikirannya sejenak sebelum menghilang. Aroma bunga Kamboja yang harum menggelitik hidung Chahna, bau tersebut harum sangat harum tapi juga memabukkan dan membuat mual pasalnya aroma harum yang lembut itu berasal dari orang yang ia lihat membun*h banyak orang di mimpinya. Tangan kekar yang besar mendarat di bahu Chahna lalu melingkari lehernya menyerupai pelukan dari belakang, sebuah kepala terbenam di lekuk-lekuk lehernya dan rambut putih keperakan itu bertiup lembut di pipi Chahna.
"Nona, akhirnya saya menemukan anda," ujar lelaki jangkung yang kini membungkuk mendekap gadis itu dari belakangnya. Chahna yang mendengar itu hanya diam sudah tidak memiliki respon lagi, ia angkat pupil matanya melirik Nara yang hanya diam di depannya sambil memelototi Yasa dengan cara yang penasaran.
"Ayo kembali ke istana, nona." Ajak Yasa menggumamkan suara seraknya itu sehingga hanya gadis itu yang dapat mendengarnya.
Chahna yang mendengar itu masih melirik Nara dengan penuh harap, berharap pemuda itu setidaknya memberikan ujaran atau sahutan yang dapat menenangkan sedikit rasa gundah di hatinya yang mulai merasa Nara tidak peduli. Rasanya hati gadis itu diremas dengan kuat, pemikiran tentang Nara tidak peduli padanya membuatnya menyadari posisinya selama ini, kalau ia bukan teman melainkan hanya orang asing yang numpang tinggal di rumah lelaki itu. Dan sekarang, melihat ke bungkaman Nara memperjelas kebenaran akan pemikirannya.
Timeskip, cahaya bulan yang remang-remang menyinari bilik kayu yang sudah tak asing lagi bagi Chahna. Kain sutra yang melapisi bantalan empuk ranjang kayu itu serta tirai benang yang diikat rapi di tiang ranjang itu rasanya sama sekali tidak berbeda dengan sebelumnya. Chahna yang duduk di tepi tempat tidur dengan kaki yang terendam di rendaman air bunga, menoleh menatap keluar jendela. "Ternyata...kami hanya orang yang tak saling kenal," gumam gadis itu sedikit kecewa akan perasaan yang sempat berpikir bahwa mereka berteman. Kalau sudah begini, rasanya ia akan malu jika mengingat betapa ia sangat memaksa Nara memakan sayur dan menyembunyikan ikannya, "sksd banget!!" Pikirnya dalam hati, secara reflek memegang kedua sisi kepalanya dan menggeleng cepat mencoba mengusir rasa malu yang menyerbu kedamaian dirinya.
"Hhhaahh...daripada mikirin dia, lebih baik aku mikirin alasan aku kembali ke sini lagi," gumam Chahna mengusir pikiran Nara yang terus mengusiknya, ia mengeluarkan kakinya dari baskom berisi air bunga itu lalu meletakkannya di atas tempat tidur dan berbaring. Rambut-rambutnya terurai kemana-mana menutupi bantal dengan beberapa helai yang menutupi sebagian wajahnya. Tatapannya seketika menatap langit-langit kamar dan mulai memikirkan berbagai alasan yang menjadi penyebab dibawa nya ia kemari. Keheningan yang memekakkan telinga berlangsung selama beberapa saat sampai tiba-tiba pintu kamar gadis itu diketuk, sontak mendengar ketukan itu Chahna segera bangkit dan duduk di tepian ranjang menatap ke arah pintu dengan penasaran.
"Siapa?" Tanyanya dengan suara besar sambil melangkah untuk membuka pintu tersebut, sebelum tangannya mencapai gagang pintu gadis itu tercekat ketika suara parau terdengar dibaliknya.
"Buka pintunya." Titah suara itu. Chahna membelalak lebar menatap tangannya yang hendak memegang gagang pintu, untuk beberapa detik gadis itu hanya berdiam diri tidak bergerak. Ia mematung memikirkan segala pilihan terbaik yang dapat ia lakukan untuk situasi ini namun pilihan satu-satunya yang ia punya hanyalah membuka pintu itu demi keamanan kepalanya.
Chahna menarik nafas dalam-dalam, membiarkan udara-udara segar memenuhi paru-parunya yang mulai kesulitan bernafas akibat tekanan yang menyesakkan di perutnya. Detak jantungnya bahkan sudah tidak beraturan sama sekali, matanya terpejam beberapa detik mencoba tenang sebelum akhirnya gadis itu siap membuka pintu yang terdapat Yasa dibaliknya. Tangannya menggenggam erat gagang pintu dan menariknya hingga terbuka.
Begitu pintu terbuka, sosok pria dengan celana sarung bertali rantai emas yang mengitari pinggang, bertelanjang dada dengan jubah sutra berwarna ungu yang melapisi tubuhnya serta rambut putih yang acak-acakan sehingga menutupi sebagian matanya terlihat di hadapan Chahna menjulang tinggi di depan gadis itu. Chahna menyatukan kedua tangannya dan membungkuk hormat kepada sang raja yang berkacak pinggang di hadapannya, ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan santun, "salam kepada Yang Mulia Baginda raja," ucapnya santun.
Yasa yang berdiri disana hanya mengangguk sebelum melangkahkan kakinya masuk ke bilik Parameswari dan duduk di kursi rotan dekat jendela bilik, "bagaimana perasaan anda kembali lagi ke istana?" Tanya Yasa dengan tangan yang menampung dagunya dan siku yang diletakkan di pinggiran kursi.
Chahna hanya diam enggan membalas pertanyaan itu rasanya ia lebih ingin mencaci maki Yasa dan melampiaskan seluruh kekecewaannya pada Nara kepada pemuda itu daripada menjawab dengan santun, akan tetapi suaranya terasa tercekat diujung tenggorokannya turut enggan keluar mungkin karena aura mengintimidasi dari pemuda itu atau memang ia tak punya cukup keberanian untuk berdebat. Yaahhh.. dua-duanya sama aja. Gadis itu tetap berdiri dalam diam, ia mainkan jari-jarinya yang panjang untuk menghilangkan sedikit rasa tidak nyaman di hatinya.
Yasa yang masih menunggu jawaban dari Chahna mengeluarkan tawa kecil dari sela-sela bibirnya kemudian berdiri dari kursi yang ia duduki sebelumnya, ia letakkan tangannya menyilang di depan dadanya, "sedang bersikap seperti batu, Chahna?" Tanyanya dengan suara serak yang sedikit berdengung. Ia langkahkan kakinya mendekati gadis itu dan menjulang tinggi di depannya, matanya melirik ke bawah tepat ke arah Chahna yang meliriknya.
Tinggi badan Chahna yang hanya sepantaran dadanya membuat lirikannya tampak menyeramkan, menambah unsur kebencian dari sorot matanya itu ketika menatap Yasa dari tinggi badannya. Sekali lagi tawa kecil keluar dari sela-sela bibirnya, Yasa menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan melewati Chahna dan keluar dari bilik itu dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, meninggalkan Chahna yang kebingungan di tengah-tengah bilik.