Kemuning namanya, nama indah yang sama dengan nama sebuah bunga. Namun, kenyataan tidak seindah namanya. Dia harus di cerai suaminya ketika baru saja melahirkan anak pertamanya. Hidup Kemuning berubah sejak saat itu, bagaimana dia yang harus menghidupi anaknya seorang diri.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan Tuan Muda di tempatnya bekerja. Dan entah kenapa Tuan Muda itu selalu mendekatinya dengan berbagai cara.
"Menihkahlah denganku"
Kalimat yang membuat Kemuning terkejut seketika. Dia Tuan Muda, namun dia dengan lantang mengajaknya menikah.
Tentu Hubungan mereka tidak akan semulus itu, status sosial dan status Kemuning sebagai seorang janda, akan menjadi halangan tersendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Yang Akan Membuatmu Marah?!
Kemuning menghela nafas pelan ketika dia masih melihat suaminya yang hanya diam dengan wajahnya yang dingin. Jelas jika Anston masih merasa kesal pada Ibunya. Tangannya masih menggenggam tangan Kemuning, seolah takut jika istrinya akan pergi darinya.
"Sayang..." Kemuning mengelus pelan dada suaminya. "...Sudah ya, besok kamu pergi saja bekerja. Aku tidak papa kok, dan aku juga tidak akan melarang kamu untuk menjalani semua kegiatan yang biasa kamu lakukan sebelum menikah dengan aku"
Anston menoleh dan menatap istrinya, dia menggeser duduknya dan memeluk Kemuning dengan nyaman. Kepalanya bersandar di dada Kemuning yang terasa hangat itu.
Kemuning mengelus kepala suaminya dengan lembut. Sesekali dia akan mengecup kepala Anston. "Kamu jangan marah pada Ibumu, mungkin dia seperti itu karena memang takut kamu tidak lagi fokus dengan pekerjaan Kantor setelah menikah dengan aku. Padahal kamu juga pasti menjalani tanggung jawab kamu dengan baik"
Anston mengangguk, layaknya seorang anak kucing yang selalu menurut dengan perkataan majikannya. "Aku ingin istirahat dan tidur dalam pelukanmu"
"Iya, iya"
Kemuning membenarkan posisi tidurnya dan dia merentangkan tangannya untuk Aston masuk ke dalam pelukannya. Kemuning mencium puncak kepala suaminya dengan lembut. Anston benar-benar merasa nyaman saat bersama dengan istrinya ini. Seolah semua masalah yang ada di pikirannya langsung hilang seketika.
"Tidur ya, Sayang"
Puk..puk..
Kemuning menepuk punggung Anston dengan perlahan, seolah dia sedang menidurkan Melati saja. Namun Kemuning juga sempat kaget ketika melihat bagaimana sikap manja Anston saat ini. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan sikapnya saat di luaran.
Anston mendongak, dia menatap istrinya dengan senyum penuh arti. "Kemuning, sepertinya aku tidak ingin tidur sekarang"
Aaaa... Masa mau lagi si?
Kemuning sudah was-was saja, karena dia mengerti arti tatapan yang di berikan oleh suaminya itu. Kemuning benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, karena saat ini dia tidak mungkin bisa lepas dari terkaman suaminya itu. Padahal Kemuning masih merasa lelah, karena Anston benar-benar terlalu kuat dalam urusan ranjang.
"Sa-sayang, ayo tidur, ini 'kan sudah malam" ucap Kemuning mencoba untuk tetap terlihat tenang.
Kemuning menjerit tanpa suara saat tangan Anston langsung membuka gaun tidur yang di pakainya. Tersenyum saat melihat bagian dada Kemuning yang selalu menjadi tempat favoritnya untuk bermain-main. Bibirnya dan tangannya sudah mulai bermain-main di bagian itu hingga membuat Kemuning mulai bergelinjang.
"Ning, ayo naik ke tubuhku"
"Hah?!"
Kemuning terdiam dengan wajah melongo saat Anston sudah membuka seluruh pakaiannya dan sekarang berbaring di samping Kemuning dengan memintanya untuk naik ke atas tubuhnya.
"Hahaha.. Sayang, kamu bercanda ya"
Malu sekali jika memang aku harus naik ke atas tubuhnya seperti itu.
"Tidak! Ayo cepat naik, kau harus memuaskan aku malam ini. Katanya ingin menghiburku yang sedang kesal, ya seperti ini cara menghiburku agar kesalku hilang" ucap Anston
Ya, tapi tidak seperti ini caranya. Ya ampun, aku malu sekali.
"Cepat Ning 'ku" ucap Anston dengan lembut
Akhirnya Kemuning tidak bisa menolak, malam ini dia benar-benar harus menghibur suaminya dengan cara yang seperti ini.
########
Anston tersenyum menatap istrinya yang masih terlelap. Wajah Kemuning yang sedang tertidur itu terlihat sangat menggemaskan di matanya. Anston menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Kemuning
"Kemuning, bangun Sayang" bisik Anston di telinga istrinya itu
Kemuning menggeliat pelan, dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih butuh menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke kornea matanya.
"Sayang, selamat pagi" ucap Kemuning sambil menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Dia masih malu dengan kejadian tadi malam.
Anston terkekeh gemas melihat kelakuan istrinya itu. Dia menarik selimut itu hingga kembali terbuka dan memperlihatkan wajah malu istrinya yang menggemaskan.
"Kenapa di tutup, hmm?"
Kemuning terbelalak kaget saat tangan Anston yang mulai mengelus bagian sensitif dalam tubuhnya ini. "Sa-sayang, aku mau mandi dulu"
"Hanya sebentar"
Dengan secepat kilat, Anston sudah menendang selimut yang menutupi tubuh mereka hingga teronggok di lantai. Lalu dia beralih mengukung tubuh Kemuning. Dan pagi ini, kembali keduanya menikmati kegiatan yang sedang mereka lakukan.
"Ahh.. Sayang"
"Kemuning, kau memang selalu membuat aku puas. Aku mencintaimu"
Tubuh Anston ambruk di atas tubuh Kemuning, memeluknya dengan erat. Kemuning mengelus punggung Anston yang berkeringat. "Sayang, aku juga mencintaimu"
Anston menjatuhkan dirinya di samping Kemuning, memeluk Kemuning dengan erat. "Mandi yuk, aku mandikan kamu"
"Tidak usah Sayang, kita mandi sendiri-sendiri saja ya" Bisa tidak hanya sekedar mandi biasa jika harus mandi bersama.
"Kau tidak mau mandi bersamaku?!"
Loh kok?
Kemuning menatap suaminya yang langsung bangun dan membelakanginya. Anston sedang marah karena Kemuning yang menolak untuk mandi bersama dengannya. Kemuning langsung bangun dan memeluk tubuh suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung lebar Anston.
"Sayang, bukan begitu maksudku"
Anston tersenyum mendengar itu, dia sengaja seperti itu agar istrinya merasa bersalah dan akhirnya menuruti apa yang dia inginkan saat ini.
"Yaudah, mandi bareng ayok. Tapi hanya mandi saja ya, Sayang aku sudah lelah nih" rengek Kemuning pada suaminya itu
Anston hampir saja tidak bisa menahan tawa ketika mendengar ucapan Kemuning itu. Dia berdiri dan langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Berendam di bak mandi dengan Kemuning yang berada di depan Anston yang memeluknya dari belakang. Menikmati mandi bersama ini. Tangan Anston mengelus perut Kemuning di dalam air.
"Ning 'ku, aku harap akan segera hadir Kemuning kecil di dalam perutmu ini" ucapnya pelan
Kemuning terdiam mendengar ucapan suaminya itu. Dia tidak bisa menjawab apa-apa. "Sudah mandinya ya Sayang, airnya juga sudah dingin"
Anston mengangguk, mereka segera keluar dari bak mandi dan segera membersihkan diri di bawah shower. Kemuning yang masih memikirkan tentang ucapan Anston membuat dia bingung dan terus kepikiran.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Anston membantu Kemuning untuk mengeringkan rambutnya. Anston menatap wajah istrinya dari pantulan cermin di depannya.
"Ning, kau melamun?"
Kemuning mengerjap pelan, dia tersenyum pada suaminya dan menggeleng pelan. Sebenarnya dia hanya sedang memikirkan ucapan suaminya saat di kamar mandi tadi.
"Sayang, apa yang akan membuat kamu marah?" tanya Kemuning, entah kenapa dia tiba-tiba mempertanyakan itu.
Anston membungkukan tubuhnya, menyandarkan dagunya di bahu Kemuning. "Kenapa kau bertanya begitu? Sepertinya selama ini aku terlalu baik, sampai kau berpikir aku tidak akan marah padamu jika kamu melakukan kesalahan. Jangan meremehkan kemarahanku"
Kemuning langsung tersenyum masam, dia memegang tangan suaminya yang berada di dadanya. "Kalau misalkan aku melakukan kesalahan, apa kamu akan marah?"
"Aku akan marah, tapi aku tetap akan memaafkanmu asal kau bersungguh-sungguh meminta maaf"
Bersambung
serem bener tuan muda kalo marah,,,🤪🤭