“Ada satu cerita yang sangat terkenal di kalangan para malaikat, seseorang di antara mereka mengetahui rahasia tuannya. Kekuatan Naga.”
“Akan ada seorang manusia yang di beri kekuatan naga. Rumor yang sudah berusia ratusan tahun itu sampai saat ini masih sangat terkenal di antara mereka yang hidup di atas sana dan mereka yang hidup di dunia yang berbeda. Gaib.”
“Hingga saat ini, kisah itu masih menjadi tanda-tanya bagi mereka semua. Mengapa? Dan kualifikasi apa hingga manusia itu mendapat kekuatan naga? Makhluk paling kuat sejagat raya.”
“Dan hari ini, mereka semua di kejutkan dengan malam yang terang benderang akan cahaya yang memancar indah di langit sana. Perpaduan warna biru putih ungu itu menampilkan bulan besar yang cerah. Akankah rumor itu menjadi suatu kenyataan? Kim Jeon Woo itukah kau?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aul rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Saat semuanya sedang fokus pada apa yang mereka kerjakan, tiba-tiba saja Song Min Tae mulai berbicara pada Park Jang Gu yang dimana obrolan mereka berdua tentu saja di dengar oleh empat orang lainnya.
"Park Jang Gu, apa yang akan kau lakukan pada Kim Jeon Woo besok?" Tanya Song Min Tae sembari memukul tongkatnya pada bola incarannya.
Di pukul lah tongkat itu setelah ia memperkirakan semuanya agar bola itu masuk tepat sasaran. Tak ada jawaban dari Park Jang Gu karena pria itu hanya diam mengamati permainan Song Min Tae.
Takk
Bola berhasil masuk dengan begitu tepat, Song Min Tae tersenyum puas melihatnya. Dia pun mulai melirik ke arah Park Jang Gu dan kembali bertanya padanya.
"Apa kau punya rencana?"
Mendengar itu Park Jang Gu menggeleng cepat, dia tak punya rencana sama sekali untuk membalas perbuatan Kim Jeon Woo pada anggotanya Yeon Gi Nam. Akan tetapi, ia hanya mengingat sesuatu hal dan sesuatu itulah yang membuat Song Min Tae mengajukan saran padanya.
"Entahlah! Tidak ada rencana yang terlintas di benakku." Jawab Park Jang Gu seraya berpikir. Ia juga kemudian melanjutkan ucapannya membuat Song Min Tae tersenyum senang.
"Tapi aku berpikir tentang ayah, mungkin dia bisa membantu kita. Kau kan tahu ayahku bisa membuat semua rencana kita berjalan dengan lancar."
"Hm, kalau begitu bagaimana jika rencananya begini..."
Mulailah Song Min Tae bersiap memberitahu rencananya, melihat rencana akan segera di bahas lantas keempat anak tadi yang sibuk dengan urusan masing-masing kini mulai mendekatkan diri mereka.
"Park Jang Gu kau beritahu pada ayahmu tentang...."
Dan seterusnya. Song Min Tae berhasil menyampaikan saran rencana untuk mereka besok dan tentu saja semuanya mendengarkan dia. Dia yang membuat rencana ini sangatlah terperinci namun juga bukanlah termasuk rencana yang sangat panjang seolah-olah Song Min Tae memang mempersiapkan nya hanya untuk besok saja.
"Kita harus membuatnya merasa terancam untuk pergi ke sekolah. Lakukan seperti yang biasa kita lakukan padanya." Jelas Song Min Tae di akhir percakapannya.
Semua orang yang di sana mengangguk paham, tak hanya itu mereka juga bahkan tersenyum senang saat mendengar rencana dari Song Min Tae.
Besok adalah hari yang di tunggu-tunggu bagi mereka dan untuk itu mereka saat ini mulai berpesta bersenang-senang untuk merayakan persiapan rencana esok hari karena sepertinya mereka sangat yakin akan kemenangan besok.
Di sisi lain di kamar Kim Jeon Woo tepatnya dengan suasana gelap seperti biasa di sana terdapat satu lampu yang hanya menyala di bagian meja belajar. Hal itu juga menjadi ciri khas bahwa dia memanglah Kim Jeon Woo.
Kali ini ia bukan sedang belajar dengan buku, akan tetapi Kim Jeon Woo sedang belajar dengan elektronik. Sepulang kerja tadi dan kini sudah tengah malam, Kim Jeon Woo hanya sibuk mengotak Atik apa yang ia ingin buat.
Benda-benda kecil seperti memori dan juga kamera tak luput dari pekerjaannya. Sepertinya juga, Kim Jeon Woo sedang merencanakan sesuatu untuk besok. Karena dirinya sadar kalau sore tadi menjadi pengibaran bendera sebagai tanda mereka akan berperang.
Perang Pembalasan
Judul di atas memang sangat tepat untuknya yang saat ini menggambarkan situasi yang sulit. Sama halnya dengan perang biasa, kurang tidur dan kurang makan menjadi santapannya sehari-hari. Kim Jeon Woo harus bertahan, menyerah akan menjadi bahan tawa bagi dirinya sendiri.
Di malam yang sunyi dan dengan suasana yang dingin ini, Kim Jeon Woo teringat akan satu kejadian lainnya dari banyaknya kejadian yang sudah ia alami sebelumnya.
Hari itu di sebuah atap gedung entah milik siapa, Kim Jeon Woo dan ke delapan anak-anak itu ada di sana sepulang sekolah. Saat itu memang jadwal mereka hampir sampai malam hari membuat suasana di atap itu pun gelap.
Hanya mengandalkan satu lampu yang ada di pintu jalur tangga yang ada di sana. Walaupun ada beberapa nyala lampu dari gedung-gedung tetangga namun tetap saja beberapa tempat yang di sana tidak mendapatkan cahaya.
Waktu itu adalah musim salju dimana salju-salju yang dingin menumpuk di tempat itu. Tak terbayang bagaimana dinginnya di sana, angin di atas atap itu sangatlah dingin benar-benar dingin hingga terasa sedang menembus kulit di dalam jaket tebal.
Kim Jeon Woo tak bisa kabur dari mereka. Ia tak bisa melakukannya karena mereka semua mengepungnya dari berbagai sisi. Keterpaksaannya untuk datang kemari karena mereka, dengan perilaku yang sangat buruk mereka akan menyiksa Kim Jeon Woo di tempat itu juga apabila ia tak mematuhi mereka untuk ikut ke atap ini.
Bugh
Bugh
Bugh
Aksi pertama yang di lakukan oleh Park Jang Gu adalah meninju paksa perut Kim Jeon Woo, anak itu sendiri tak bisa melawan karena ada Lee Seung Man yang menahan tubuhnya untuk tidak bergerak.
Tak terhitung berapa kali Park Jang Gu meninjunya, hidung mimisan dan kepala pusing pun mulai terasa oleh Kim Jeon Woo. Keadaan perutnya saat ini tak perlu ditanya lagi karena rasa sakitnya terasa sangat sakit.
Anak gadis hanya sibuk memotret dan merekam video kejadian itu. Teringat sekali oleh Kim Jeon Woo mereka semua hanya tertawa melihatnya padahal mereka sendiri juga manusia.
Apakah kalian sungguh tidak menganggap ku manusia?
"Hei lepaskan dia!" Suruh Park Jang Gu pada Lee Seung Man agar melepaskan Kim Jeon Woo.
Perintahnya itu tentunya langsung di jalankan, Kim Jeon Woo yang merasakan sakit mulai merintih kesakitan sembari memegang perutnya.
"Jangan dulu dilepas dong, aku belum melakukan sesuatu!" Seru Kim Yu Ri dari belakang.
Lee Seung Man menghembuskan nafasnya ke udara, terlihat ia segera menahan kembali tubuh Kim Jeon Woo. Park Jang Gu melihat itu semua, alhasil ia pun memberi peringatan pada Lee Seung Man agar tidak mengeluh.
"Lee Seung Man lakukan yang benar! Apa kau tidak suka melakukan ini hah?" Ucap Park Jang Gu sembari menatap tajam Lee Seung Man.
"Bukan begitu Hyung, kau tahu kan di sini sangat dingin?! Aku tidak bisa bekerja kalau tubuh ku kedinginan." Jawab Lee Seung Man mencari-cari alasan.
Park Jang Gu tahu bahwa itu hanya alasannya saja, tetapi ia biarkan saja karena sepertinya Kim Yu Ri akan segera melakukan sesuatu pada Kim Jeon Woo. Mainan mereka!
Kim Yu Ri dengan kameranya mulai merekam seolah ia sedang melakukan vlog. Video dengan menggunakan kamera depan itu kini sedang merekam wajah Kim Yu Ri dan juga Kim Jeon Woo, serta tak luput juga Lee Seung Man yang berada di belakang Kim Jeon Woo.
"Halo semuanya! Kembali dengan vlog RIRI, Kim Yu Ri."