Dulu Raka adalah bos geng paling di takuti di kota. Sekarang ia kembali sebagai ustadz Raka dan membangun pondok pesantren untuk menuntun anak buah nya menuju jalan tobat.
Namun dosa masa lalu tidak pernah bener- bener hilang, saat musuh lama muncul kembali , Raka harus berjuang antara menebus dosa di masa lalu nya atau kembali dunia gelap yang dulu ia kuasai.
" Setiap orang berhak berubah namun tidak semua orang di masa lalu mau melepaskan mu. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Pagi itu udara terasa lebih berat, bukan karena hujan, bukan karena angin. Tapi karena satu kabar yang datang terlalu cepat.
Deni masuk ke ruang tamu dengan wajah tegang.
“Pak Jatmiko nggak ada.”
Raka yang sedang menyiapkan berkas langsung menoleh.
“Maksudnya?”
“Rumahnya kosong,tetangga bilang subuh tadi dia pergi.”
Ardi yang duduk di sudut ruangan perlahan mengangkat kepala.
“Pergi ke mana?”
Deni menggeleng.
“Nggak pamit ke siapa-siapa.”
Sunyi turun seperti tirai, Pak Jatmiko adalah salah satu warga yang berani memberi pernyataan bahwa tanda tangannya dipalsukan.
Namanya ada di dokumen proyek.
Kalau dia mundur kasus bisa goyah,
kalau dia hilang kasus bisa runtuh.
Raka berdiri.
“Kita ke rumahnya.”
Rumah Pak Jatmiko tidak jauh dari sawah belakang.
Pintu depannya terkunci, tapi tidak digembok. Di dalam, lampu masih menyala.
Seolah ditinggalkan tergesa. Di meja makan, ada gelas teh setengah penuh.
Belum basi ,artinya ia pergi belum lama.
"Istrinya?"
Deni bertanya pada tetangga.
“Bu Jatmiko ke rumah anaknya kemarin sore,” jawab seorang ibu. “Katanya cuma dua hari.”
Jadi Pak Jatmiko sendirian semalam, dan pagi ini… menghilang.
Ardi berjalan pelan menyusuri halaman belakang rumah itu jejak ban motor terlihat samar di tanah lembap.
Baru, ia menunduk lebih dekat Dua jejak. Satu kemungkinan milik Pak Jatmiko dan satu lagi tidak dikenal.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Dia nggak pergi sendiri,” katanya pelan.
Raka mendekat.
“Kamu yakin?”
Ardi mengangguk.
“Kalau orang panik pergi sendiri, biasanya nggak rapih,ini rapi.”
Terlalu rapi ,seolah-olah sudah direncanakan. Siang itu, polisi datang setelah menerima laporan.
Rumah diperiksa ,tidak ada tanda perlawanan dan tidak ada barang berantakan. Hanya satu hal yang janggal ponsel Pak Jatmiko tertinggal di atas meja.
Daya baterainya habis ,Polisi mencoba menghidupkannya dengan charger.
Beberapa menit kemudian, layar menyala.
Ada satu pesan terakhir, diterima tengah malam, Nomor tak dikenal.
'Bapak orang baik jangan rusak hidup cucu bapak .'
Tidak ada balasan, tidak ada panggilan setelah itu. Hanya sunyi yang terasa.
Wajah Deni memerah.
“Ini jelas ancaman!”
Polisi mencatat, memotret layar.
“Kami akan lacak nomor ini.”
Ardi menatap lantai ,kalimat itu sama nadanya dengan pesan yang ia terima.
Tenang , pendek.
Tanpa makian dan selalu menyebut keluarga Raka berdiri diam, dalam benaknya, satu pola mulai terbentuk.
Mereka tidak menyerang langsung.
Mereka menyerang rasa aman, Sore harinya, kabar menyebar cepat.
“Pak Jatmiko kabur.”
“Katanya dia dibayar.”
“Katanya dia takut.”
Isu tumbuh liar, beberapa warga mulai ragu.
“Kalau saksi aja hilang, kita mau ngapain?”
“Lawan orang besar begini bisa bahaya.”
Suara-suara itu tidak keras tapi cukup untuk menggerus perlahan. Ardi duduk sendirian di tepi sawah.
Angin menggerakkan padi muda ia memikirkan malam saat pesan terakhir masuk ke ponselnya.
“Kami tahu kamu tidur di bangunan depan.”
Sekarang saksi menghilang.
Besok siapa lagi?
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Rasa bersalah menyusup pelan, kalau bukan karena ia membocorkan rencana
mungkin semua tidak akan sampai sejauh ini.
“Jangan tarik semua beban ke kamu.”
Suara Raka muncul di belakangnya.
Ardi tidak menoleh.
“ Aku yang tahu cara mereka kerja.”
“Dan karena itu kamu berdiri di sini.”
Sunyi sejenak.
“Mereka bikin kita merasa sendirian,” lanjut Raka. “Itu cara paling cepat mematahkan.”
Ardi menghela napas panjang.
“Kalau Pak Jatmiko benar-benar dipaksa pergi?”
“Kita cari.”
“Kita nggak tahu ke mana.”
Raka menatap garis horizon.
“Orang yang ditekan biasanya cari tempat aman bukan tempat jauh.”
Ardi mengangkat wajahnya.
“Maksudnya?”
“Dia pasti hubungi seseorang yang dipercaya.”
Malam menjelang ketika kabar kecil datang, anak Pak Jatmiko menelepon salah satu warga. Katanya ayahnya tiba-tiba muncul di rumahnya siang tadi.
Tanpa banyak bicara hanya bilang ingin menenangkan diri, Polisi langsung bergerak ke sana.
Raka dan Deni ikut ,perjalanan satu jam terasa lebih lama dari biasanya. Di rumah anaknya, Pak Jatmiko duduk di kursi bambu.
Wajahnya pucat ,mata sembab Polisi duduk di depannya.
“Pak, apakah Bapak ditekan?”
Ia terdiam lama ,sangat lama.
Lalu akhirnya berkata pelan.
“Ada yang datang semalam.”
Semua menegang.
“Mereka nggak marah nggak teriak. Cuma bilang cucu saya sekolah di mana.”
Tangannya gemetar.
“Mereka tahu jadwalnya.”
Sunyi menyelimuti ruangan.
“Bapak ikut mereka?” tanya polisi.
Pak Jatmiko menggeleng.
“Saya cuma diminta istirahat beberapa hari ,biar nggak muncul dulu.”
“Dengan imbalan?”
Ia terdiam lalu menjawab hampir tidak terdengar,
“Uang."
Deni menatap lantai dengan rasa marah, tapi juga paham tekanan keluarga bukan hal kecil.
Polisi mencatat semuanya.
“Kami akan beri perlindungan,” kata petugas.
Pak Jatmiko mengangguk pelan.
“Maaf,” katanya pada Raka.
Raka hanya tersenyum tipis.
“Bapak nggak salah.”
Dalam perjalanan pulang, Ardi menatap gelap di luar jendela mobil. Saksi tidak benar-benar hilang.
Tapi hampir runtuh dan itu sudah cukup menunjukkan betapa dalam tangan yang bermain di balik semua ini.
“Ini baru awal,” gumamnya.
Raka menatap ke depan ia tahu tekanan akan terus naik kalau mereka bisa membuat saksi goyah sekali
mereka akan coba lagi dengan orang lain, dengan cara lain.
Dan malam itu, satu hal menjadi jelas bukan hanya lahan yang dipertaruhkan.
Tapi keberanian orang-orang kecil
dan keberanian selalu jadi target pertama.
Bersambung...