Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trap Sang Istri dan Hangatnya Dekapan Keluarga
...•Yuk melek beb...
...HAPPY READING ...
...----------------...
Beberapa waktu sebelumnya di lokasi markas bawah tanah...
Bau amis darah dan debu mengepul pekat di udara bunker yang pengap. Di atas lantai semen yang dingin dan kotor, Boni terkulai lemas tanpa daya. Pria yang dulunya bertindak bagai raja kegelapan di Kota A itu kini tak ubahnya bangkai bernapas—wajahnya hancur tak berbentuk, sementara tubuhnya melengkung menahan rasa sakit luar biasa di area vitalnya akibat serangkaian tendangan maut Michel.
"Hah... hah..."
Michel berdiri menyandarkan punggungnya di dinding beton. Napasnya memburu kencang, membuang sisa-sisa adrenalinya yang melonjak tinggi. Kemeja mewahnya yang tergulung hingga siku ternoda oleh percikan darah, namun raut wajahnya masih memancarkan aura membunuh yang dingin.
Dengan gerakan kasar, Michel menyambar ponsel canggihnya yang tergeletak di atas meja. Layar kaca itu dipenuhi oleh puluhan panggilan tak terjawab serta tumpukan pesan singkat dari Meilin dan Miler.
Namun, saat ibu jarinya menggeser layar untuk memeriksa pesan terkini, sebuah pesan singkat dari Miler membuat seluruh otot di tubuh Michel seketika menegang keras.
💬 [ MICHEL LAUREN, KALAU KAU TIDAK KEMBALI KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA, MAKA PUTRI KECILMU AKAN DIBAWA LARI OLEH ANAK VERADOUX! ]
Pesan singkat yang diketik dengan huruf kapital penuh itu membakar emosi Michel dalam satu detik. Bayangan Alex yang membawa kabur Helena ke tempat jauh langsung menari-nari secara liar di dalam kepalanya. Buku-buku jari Michel memutih saat ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga ponsel di genggamannya menyingkap bunyi berderit halus.
"Dia putriku! Bloodline-ku! Apa haknya pria Veradoux itu membawa lari putriku?!" gerutu Michel dengan suara bass yang menekan, rahangnya mengetat tajam. "Awas kau, Alex sialan! Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya, akan kubuat keluarga Veradoux kehilangan ahli warisnya!"
Dengan penuh amarah yang membara, Michel memutar badannya mantap. Matanya menancap tajam pada Jhansen yang masih berdiri bersiaga di sudut ruangan dengan wajah penuh lebam akibat adu fisik mereka tadi.
"Jhansen! Urus semua sisa kotoran di sini!" perintah Michel menggelegar. "Dan tetap awasi pergerakan Plumkin secara ketat! Walaupun pria tua bangka sialan itu sekarang sedang tak sadarkan diri karena serangan jantung, tidak menutup kemungkinan orang-orang sisaannya akan mencoba menyusup masuk untuk menyelamatkannya!"
"Siap, Tuan! Serahkan semuanya kepada saya!" jawab Jhansen tegas seraya menunduk hormat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Michel membalikkan tubuhnya, melangkah lebar meniti tangga keluar dari bunker tersembunyi itu. Ia melompat masuk ke dalam mobil sports hitamnya, menginjak pedal gas dalam-dalam hingga raungan mesin V8 membelah kegelapan malam. Mobil itu melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya, membelah jalanan Kota A dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit Medika Utama.
Setengah jam kemudian di koridor VIP Rumah Sakit Medika Utama...
Langkah kaki Michel yang terburu-buru bergema keras di sepanjang lantai marmer yang lengang. Setiap detik terasa bagaikan siksaan baginya. Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan skenario terburuk: Alex yang tersenyum licik seraya menyeret Helena keluar dari pintu belakang rumah sakit.
BRAKKK!
Dengan satu dorongan kasar, pintu kayu mahoni ruang perawatan VIP didobrak hingga menghantam dinding. Michel berdiri tegak di ambang pintu, dadanya naik-turun memburu, matanya menyipit tajam bagaikan elang yang siap menyambar mangsanya.
Dan pandangan pertamanya langsung terkunci pada pemandangan di samping brankar: Alex yang membungkukkan tubuhnya begitu dekat, hembusan napasnya nyaris menyentuh kulit wajah Helena.
"Alex Veradoux... apa yang sedang kamu lakukan pada putri kecilku?!" bentak Michel dengan suara menggelegar yang sanggup merindingkan bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya.
"Papa?!"
Elia yang kaget setengah mati spontan menoleh ke arah pintu. Wajahnya yang tadinya sudah memerah akibat godaan dan ucapan posesif Alex kini makin membara bagai kepiting rebus karena tertangkap basah oleh sang papa dalam posisi yang sangat kompromistis.
Di sisi lain, Alex yang tertangkap basah tidak menunjukkan kepanikan yang berarti. Pria Veradoux itu dengan sangat tenang menarik tubuhnya mundur, berdeham pelan guna menguasai keadaan, lalu membetulkan posisi duduknya di atas kursi kayu agar tampak formal, sopan, dan tak bernoda.
Michel melangkah masuk dengan aura intimidasi yang pekat. Matanya menatap Alex bagaikan seorang hakim yang siap menjatuhkan hukuman mati. "Alex! Berani sekali kamu berniat membawa putriku pergi?!" cecar Michel lagi, melangkah makin mendekat ke sisi brankar.
"Ha...?"
Alex dan Elia terlonjak kaget secara bersamaan. Keduanya saling melempar pandang dengan raut wajah penuh tanda tanya yang besar.
"Pergi ke mana, Pa?" tanya Elia bingung, matanya mengerjap-ngerjap polos.
Alex di sampingnya hanya bisa menaikkan kedua bahunya tipis sebuah gestur jujur bahwa dirinya pun sama sekali tidak paham dengan maksud tuduhan berapi-api dari mertua futuristiknya itu. "Saya tidak punya niat membawa Helena ke mana pun, Tuan Michel. Saya hanya berjaga di sini."
"Jangan bohong! Mamamu... maksudku, istriku jelas-jelas bilang kalau kamu—" Michel menghentikan kalimatnya secara tiba-tiba.
Tangan kanannya yang besar terangkat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat sebuah kesadaran mendadak menghantam kepalanya bagaikan hantaman godam. Wajah garang sang penguasa Keluarga Lauren itu seketika melunak, digantikan oleh raut canggung yang sangat menggelikan.
‘Sialan... Aku masuk ke dalam pancingan Miler secara mentah-mentah!’ batin Michel merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa bahwa istrinya adalah dalang utama di balik segala drama provokasi di keluarga mereka.
"Mama keluar, katanya mau cari angin segar sekalian nyari Papa," sahut Elia polos tanpa rasa curiga sedikit pun. "Mama baru aja pergi beberapa menit yang lalu."
"Oh... Hmmm... Begitu, ya..." Michel berdeham keras beberapa kali untuk menutupi rasa malu dan kecanggungannya yang membumbung tinggi. Namun, agar reputasinya sebagai pria tangguh tidak jatuh sepenuhnya, matanya kembali menyipit menatap Alex. "Tapi... kalian berdua sedang apa tadi? Kenapa jarak wajahmu dekat sekali dengan putriku?"
"Saya hanya membantu Helena menemukan posisi tidur yang paling nyaman untuknya, Tuan Michel," jawab Alex datar tanpa mengedipkan mata, berbohong dengan tingkat ketenangan yang luar biasa seolah ia sudah terlatih melakukan hal itu puluhan tahun.
Michel menatap Alex dengan pandangan penuh selidik. "Masa? Posisi tidur nyaman harus pakai tatap-tatapan dari jarak lima sentimeter?"
"Papa dari mana aja, sih?" potong Elia cepat, mencoba mengalihkan perhatian sebelum Michel melancarkan aksi interogasi ala polisi militer terhadap Alex.
"Minggir!"
Tanpa belas kasih sedikit pun, Michel mengulurkan tangannya dan menarik bahu Alex cukup kasar dari kursi samping brankar. Karena tidak siap, tubuh Alex yang tinggi besar itu sedikit terhuyung ke belakang. Tanpa rasa bersalah, Michel langsung menduduki kursi tersebut, mengambil alih wilayah kekuasaan di samping tempat tidur Helena, lalu menggenggam jemari mungil putrinya dengan erat.
"Papa..." panggilan lembut Elia membuat kemarahan Michel menguap begitu saja ke udara.
"hemmm..." Michel menjeda kalimatnya sejenak. Sorot matanya yang tadinya dipenuhi kilatan amarah dan kegelapan seketika melunak total saat menatap wajah pucat putri bungsunya. Ada pancaran kasih sayang yang begitu dalam, tulus, dan tak terbatas di dalam manik matanya. Pria yang baru saja mematahkan tulang-tulang musuhnya itu kini menatap Elia seolah gadis itu adalah benda kaca yang sangat rapuh.
"...Papa hanya mencoba menyibukkan diri di luar, Nak. Agar Papa tidak nekat menerobos masuk dan mengacaukan ruang operasi kamu kemarin," sambung Michel pelan, menyunggingkan senyum hangat yang dipaksakan untuk menutupi aksi pembantaian brutal yang baru saja ia lakukan di markas Boni demi membalaskan dendam sang putri.
‘Bohong banget! Bilang aja kalau Papa habis main gebuk-gebukan dan ngerusak markas penculik itu sampai rata tanah!’ batin Elia menjerit konyol di dalam kepalanya.
Sebagai orang yang tahu jalan cerita novel aslinya, Elia tahu betul bahwa Michel baru saja membantai komplotan Boni tanpa sisa. Namun, melihat bagaimana pria perkasa dan ditakuti oleh seluruh pejabat kota ini berusaha keras untuk tampil 'manis', lembut, dan menjaga perasaannya, desiran hangat yang sangat membahagiakan perlahan merayap memenuhi seluruh dada Elia.
Di dunia nyatanya yang dulu, Elia hanyalah seorang anak yatim piatu yang berjuang sendirian. Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya diperebutkan, dilindungi, atau ditatap dengan rasa khawatir yang begitu membuncah oleh sosok seorang ayah. Namun di sini, di dalam tubuh Helena, ia merasakan kehangatan keluarga yang selama ini hanya bisa ia impikan dalam tidur malamnya.
‘Sistem... lu emang sialan karena udah motong saldo gue sampai 7 triliun,’ bisik Elia dalam hatinya seraya menatap wajah tegas Michel yang kini dipenuhi kelelahan. ‘Tapi... makasih ya. Udah ngasih gue kesempatan buat ngerasain punya keluarga yang kayak gini.’
Tidak ada balasan dari Sistem karena modulnya sedang offline, namun ketenangan yang menyelimuti dada Elia terasa begitu nyata.
Tanpa sadar, sebuah senyum tipis yang sangat tulus dan memesona tercetak manis di bibir indah Elia. Matanya berkaca-kaca menahan haru, membuat wajahnya tampak jauh lebih hidup dan menggemaskan daripada sosok Helena yang dulu dingin dan penuh obsesi.
"Terima kasih ya, Pa..." bisik Elia lembut, jemari mungilnya membalas genggaman tangan Michel yang kasar. "Makasih udah khawatir sama aku."
Michel tertegun sejenak. Hatinya seperti disiram air sejuk melihat senyuman tulus dari putri bungsunya. Rasa lelah, amarah, dan stres yang menumpuk di kepalanya sepanjang malam seketika sirnah tanpa bekas. Michel menyunggingkan senyum lebar, mengusap puncak kepala Elia dengan penuh rasa kasih.
"Apapun untuk putri kecil Papa," bisik Michel mantap.
Di balik punggung Michel, Alex berdiri membisu. Pria berjas mahal itu memperhatikan interaksi hangat antara ayah dan anak tersebut dengan sorot mata yang melunak. Ada rasa lega yang amat sangat mendalam di dalam dada Alex melihat Helena sudah bisa tersenyum dan tertawa kembali.
Alex bersedekap dada, menyandarkan punggungnya di dinding kamar rawat, lalu berbisik pelan di dalam hatinya:
‘Senyum itu... saya berjanji akan melindunginya dengan seluruh hidup saya, Helena.’
...Bersambung......