Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Mentari pagi bersinar terang, di rumah sakit sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar terasa terik. Mobil-mobil mulai memenuhi area parkir. Beberapa pasien berjalan menuju ruang pendaftaran, sementara petugas sibuk mengarahkan mereka ke bagian masing-masing.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh dari pintu utama. Dika turun bersama asistennya.
"Pak, ruang pemeriksaan sudah dijadwalkan pukul sembilan."
Dika melihat jam tangannya. "Masih ada waktu."
"Dokter yang menangani juga sudah diberitahu."
Dika mengangguk singkat.
"Baik."
Ia berjalan memasuki gedung tanpa banyak bicara. Hari itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari lainnya. Hanya saja, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Dika datang ke rumah sakit bukan sebagai orang yang mengurus urusan perusahaan.
Melainkan sebagai seseorang yang sedang membutuhkan pemeriksaan. Dan ia tidak menyukai perasaan itu.
☘️☘️☘️☘️
Di lantai lain, Azmira baru saja menyelesaikan satu pemeriksaan ketika seorang perawat menghampirinya, perempuan itu terlihat begitu lelah. Namun ia berusaha untuk tetap semangat demi mengobati pasienya satu persatu.
"Dokter, pasien berikutnya sudah menunggu."
Azmira menerima berkas yang disodorkan. "Baik."
Ia membuka halaman pertama sambil berjalan kembali menuju ruang pemeriksaan. Matanya membaca beberapa informasi penting.
Nama pasien.
Usia.
Keluhan.
Azmira berhenti sebentar ketika melihat nama belakang pasien tersebut. Wiratama, bukannya itu pemilik perusahaan yang sedang bekerja sama dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi entah kenapa setiap nama itu ia sebut seperti ada rasa yang tidak asing di dasar hatinya.
"Nama ini sebenarnya tidak aneh, lalu kenapa setiap mendengar nama itu ada yang tersentuh di dalam sana," gumamnya dengan bingung.
Azmira segera menutup menutup berkas, karena memang pasien sudah ada di depan ruang pemeriksaanya.
"Silakan masuk."
Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk bersama asistennya, wajahnya begitu berwibawa meskipun usianya sudah termakan waktu.
Azmira mengangkat wajah. "Selamat pagi, Pak."
Dika mengangguk. "Pagi."
"Silakan duduk."
Dika mengambil kursi di hadapan meja pemeriksaan. Azmira kembali melihat berkas.
"Nama Bapak Mahardika Wiratama?"
Dika mengangguk. "Iya."
Azmira menuliskan sesuatu. "Usia?"
"Lima puluh tiga tahun.
"Keluhan yang dirasakan?"
Dika menarik napas. "Beberapa hari terakhir mudah lelah. Kadang pusing. Tadi pagi juga sempat terasa tidak nyaman di bagian dada."
Azmira langsung menatapnya. "Nyeri?"
"Tidak terlalu."
"Berapa lama?"
"Hanya beberapa menit saja Dok."
Azmira mengangguk. Tangannya kembali mencatat. "Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama?"
"Sesekali."
Azmira berhenti menulis. "Sesekali sejak kapan?"
Dika terdiam sebentar. "Mungkin beberapa bulan."
Azmira mengangkat wajah. "Kenapa baru diperiksa sekarang?"
Dika tersenyum tipis. "Karena saya terlalu sibuk."
Azmira menatapnya beberapa detik. Kemudian berkata tenang, "Kesibukan tidak membuat tubuh berhenti bekerja, Pak."
Dika sedikit terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatnya memperhatikan dokter muda di hadapannya. Azmira tidak berbicara dengan nada menggurui. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang menurutnya memang perlu dikatakan.
Dika mengangguk. "Baik."
Azmira kemudian melanjutkan pemeriksaan. "Tarik napas dalam."
Dika mengikuti instruksinya. Azmira memeriksa beberapa bagian, kemudian mencatat hasilnya. Tidak ada percakapan lain selama beberapa saat. Namun sesekali Dika memperhatikan wajah dokter muda itu.
Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Bukan karena ia mengenalnya. Justru sebaliknya.
Wajah itu terasa asing. Tetapi entah mengapa ada sesuatu dari sorot mata perempuan tersebut yang membuat pikirannya berhenti sejenak.
Dika segera mengalihkan pandangan. "Dokter."
Azmira menatapnya. "Iya, Pak?"
"Anda sudah lama bekerja di sini?"
"Belum lama Pak."
"Dokter spesialis?"
Azmira tersenyum kecil. "Saya masih dokter umum, Pak."
Dika mengangguk. "Masih muda."
Azmira terkekeh. "Kelihatannya saja, Pak."
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, Dika tersenyum, wajah gadis muda itu seolah menenangkan hatinya. Tapi ia masih belum berani menamai rasa itu.
"Oh begitu?"
Azmira mengangguk. "Iya Pak karena aku sudah 25 tahun."
Percakapan itu hanya berlangsung singkat. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.
Bukan bagi Azmira akan tetapi bagi Dika sendiri. Ia tidak tahu mengapa berbicara dengan dokter muda itu terasa begitu mudah.
Padahal biasanya ia tidak suka berbasa-basi dengan orang yang baru ditemuinya. Azmira kemudian menyerahkan beberapa lembar pemeriksaan.
"Saya ingin Bapak melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan."
Dika melihat lembar tersebut. "Perlu?"
"Saya menyarankan begitu."
"Apakah serius?"
Azmira tidak langsung menjawab. "Kita belum bisa menyimpulkan sebelum hasil lengkapnya keluar."
Dika hanya mendengarkan saja tanpa menyela ucapan dari gadis itu.
"Tapi saya tidak menyarankan Bapak mengabaikan keluhan yang tadi."
Nada suara Azmira tetap tenang. "Lebih baik kita memastikan semuanya sejak awal."
Dika mengangguk. "Baik."
Azmira tersenyum. "Kalau begitu, nanti hasilnya bisa dibawa kembali ke saya."
Dika berdiri. "Baik, Dokter."
Ia hendak keluar ketika tiba-tiba berhenti. Menoleh kepada Azmira.
"Siapa nama Dokter?"
Azmira sedikit heran, biasanya pasien tidak pernah tanya seperti itu. Karena namanya sudah tergantung di bagian kiri dadanya.
"Azmira."
"Azmira..."
"Iya."
Dika mengangguk, lalu ia mencoba mengulang nama itu di dalam hatinya.
"Terima kasih, Dokter Azmira."
"Sama-sama, Pak."
Pita itu berbalik badan. Rasanya begitu berat meninggalkan rumah itu. Namun ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di ruangan pemeriksaan.
Pintu kemudian tertutup. Azmira kembali menatap berkas pasien berikutnya. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya menurutnya begitu. Namun beberapa meter dari ruangan itu, Dika berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Nama itu masih terngiang di kepalanya.
Azmira. Entah kenapa nama sederhana itu terasa begitu sulit dilepaskan dari pikirannya.
☘️☘️☘️☘️
Di ruang tunggu, asisten Dika sudah menunggu. "Bagaimana, Pak?"
Dika tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya, "Dokter tadi namanya siapa?"
Asistennya sedikit bingung. "Azmira, Pak."
Dika mengangguk pelan. "Azmira..."
"Kenapa, Pak?"
"Tidak apa-apa."
Dika kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ia tidak tahu kenapa sejak keluar dari ruangan tadi, ada sesuatu yang terasa mengganggu pikirannya.
Sementara di dalam ruangan, Azmira sama sekali sudah melupakan pasien tersebut. Ia kembali memanggil pasien berikutnya.
Hari terus berjalan. Namun bagi Dika, pagi itu meninggalkan sesuatu yang tidak biasa.
Sebuah nama dan wajah. Hingga perasaan aneh yang belum bisa ia mengerti. Ia tidak tahu bahwa mulai hari itu, nama Azmira Shafitri perlahan akan semakin sering hadir di dalam kehidupannya. Bukan karena ia mencarinya. Melainkan karena keadaan yang akan mempertemukan mereka berkali-kali.
Bersambung . .
Selamat Malam harap sabar ya Kak Karma untuk Dika pasti ada kok tenang saja🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡