Indonesia
NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

isi chat

Cheyrin menarik napas pelan.

"kayak nya gue gak bisa deh, gue chips aja ya"

Keputusan itu langsung memicu bisik-bisik.

"mana mau Cheyrin cium Steven, harga diri dia tinggi"

"yah kenapa Chey, padahal seru tau," kata beberapa orang sambil tertawa bercanda.

Sebagian dari mereka memang sudah tau tentang cinta segitiga itu.

Di seberang api unggun, Steven hanya tertunduk diam. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup cahaya api.

Sementara Jayden di sebelah kiri Cheyrin, rahangnya mengeras. Seperti ingin meledak.

Chips pedas diserahkan di hadapan Cheyrin.

"ayo makan, ini hukumannya" kata ketua tim.

Cheyrin mengambil chips itu. Tangannya diam beberapa detik di udara.

Tiba-tiba Jayden bersuara.

"tunggu, biar gue aja yang makan"

Juno langsung mengangkat suara. "wah pahlawannya ni"

Semua orang langsung menoleh pada Jayden. Termasuk Lisa yang sejak tadi juga sudah diam.

"Lo gak tahan pedas chey, mana bisa lo makan itu" ucap Jayden.

Cheyrin terdiam. Belum sempat menjawab, chips yang ada di tangannya langsung dirampas oleh Jayden.

Tanpa ragu, Jayden memakannya dalam sekali kunyah.

Sorakan langsung pecah.

"Aduh kenapa gak jadian aja sih" celetuk salah satu dari mereka sambil menggoda.

Yang lain ikut tertawa dan bersorak, menggoda Cheyrin dan Jayden.

Wajah Cheyrin memerah. Ia menunduk cepat, pura-pura menata sosis yang sudah dingin.

Jantungnya berdegup kencang.

Sementara Dara yang menyaksikan itu hanya diam. Alisnya mengerut. Senyumnya yang tadi ada, kini hilang.

Jayden batuk kecil karena pedas, tapi ia tetap duduk tegak. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Api unggun masih menyala. Tapi suasana di lingkaran itu... jauh lebih panas dari apinya.

Setelah Jayden memakan chips pedas itu, Cheyrin buru-buru meraih botol air.

"Lo gapapa?" tanya Cheyrin, suaranya terdengar khawatir.

Wajah Jayden memerah. Matanya sedikit berkaca-kaca karena pedas, tapi ia berusaha menahan ekspresinya agar tetap datar.

"makasih ya" ucap Cheyrin setelah menyerahkan air pada Jayden.

"aman kok" jawab Jayden singkat.

Cheyrin mengangguk pelan, lalu kembali ke tempat duduknya di lingkaran perempuan.

Permainan terus berlangsung. Botol berputar lagi dan lagi. Satu persatu berhenti di setiap anggota. Tawa, sorakan, dan godaan masih terdengar di sekitar api unggun.

Hingga akhirnya, botol berhenti tepat di hadapan Steven.

"Truth or Dare?" tanya ketua tim.

"Dare" jawab Steven.

Kertas diambil dan dibacakan.

"tunjukin isi percakapan orang terakhir yang lo chat"

Semua orang langsung penasaran. Bisik-bisik mulai terdengar.

Sebagian besar mengira itu pasti Lisa. Karena Steven dan Lisa memang resmi pacaran.

Steven terlihat ragu. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Layarnya ditunjukkan ke tengah lingkaran.

Dan yang terpampang di sana membuat semua orang terdiam.

Nama kontak terakhir yang ia chat adalah: Cheyrin.

"wah kok bisa Cheyrin" ucap Dara dari seberang, nadanya kaget.

"tunjukin dong, jadi penasaran" sahut yang lain.

Suasana langsung berubah. Semua saling menoleh satu sama lain.

Termasuk Jayden. Dahinya mengerut. Tatapannya tajam menatap layar ponsel Steven, lalu ke Cheyrin.

Cheyrin gelisah di tempat duduknya. Ia tau isi percakapan mereka bukan tentang cinta.

Itu tentang orang tua mereka. Tentang orang tua mereka yang sebenarnya akan bersama.

Jantung Cheyrin berdegup kencang. Ia tidak mau rahasia itu terbongkar di depan semua orang.

Akhirnya Cheyrin berdiri.

"stop" katanya, suaranya tegas.

"itu privasi, lo gak boleh asal nunjukin gitu aja"

Steven menatap Cheyrin. Ia menurunkan ponselnya perlahan.

Semua orang menoleh ke arah Cheyrin. Termasuk Jayden. Tatapan mereka campur aduk: bingung, penasaran, dan curiga.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Cheyrin berbalik dan berjalan meninggalkan lingkaran api unggun. Meninggalkan semua orang yang masih terdiam di belakangnya.

Jarum jam menunjuk pukul 22.00.

Api unggun sudah padam. Asapnya masih tersisa, terbawa angin laut.

Masing-masing dari mereka sudah kembali ke villa.

Di dalam kamar, Cheyrin berbaring di tempat tidur. Kamar itu ada 3 tempat tidur terpisah. Lampunya temaram.

Tidak lama kemudian, ia mendengar bisikan-bisikan dari luar kamar.

"padahal game tadi seru ya, kenapa sih langsung bubar"

Cheyrin hanya memandangi langit-langit kamar. Dadanya sesak.

Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke arah balkon.

Angin malam menerpa wajahnya. Di atas sana langit terbentang luas di atas laut. Suara ombak terdengar pelan, menenangkan.

Saat pandangan Cheyrin turun ke arah taman, ia berhenti.

Di balik salah satu pohon, ada dua orang.

Cheyrin memperhatikan dengan jelas.

Ternyata itu Jayden dan Steven.

Mereka terlihat sedang berbicara. Tapi dari gerak-geriknya, seperti orang yang sedang berdebat.

Kedua tangan Jayden berada di dalam saku celana. Bahunya tegang.

Steven berdiri di depannya, sesekali menggeleng.

Suara mereka tidak terdengar sampai ke balkon. Hanya bayangan mereka yang bertarung dengan cahaya lampu taman.

Jantung Cheyrin berdebar.

.

.

Suara ombak pinggir pantai terdengar jelas dari sana. Angin malam dingin.

Jayden berdiri di balik pohon, kedua tangannya di dalam saku celana. Di depannya Steven.

"Lo bisa gak sih gausah ganggu Cheyrin lagi?" ucap Jayden, suaranya rendah tapi menekan.

Steven mengangkat alis. "ganggu Cheyrin, maksud lo?"

Jayden berpaling sebentar ke arah laut, lalu menatap Steven lagi. Rahangnya mengeras.

"Lo udah punya pacar kan, Lisa. Jadi buat apa lo deketin Cheyrin lagi. Kita udah lama temenan, dan lo gak mungkin gak tau kalau gue naksir Cheyrin, jadi kenapa lo masih deketin dia?"

Steven memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napas.

"Jay stop, ini bukan kayak apa yang lo pikirin"

Jayden mengerutkan dahinya. "yang kayak gue pikirin apa anjing?

"kalau lo mikir kedekatan gue sama Cheyrin kayak apa yang Lo pikirin, Lo salah"

Steven menjeda.

"karena hubungan kami lebih dari itu"

Kalimat itu jadi pemantik.

Jayden yang sejak tadi menahan geram akhirnya melangkah maju. Ia mencengkeram kerah baju Steven.

"Apa lo bilang hah?"

Cengkeramannya makin mengencang.

Steven tetap santai. Kedua tangannya masih berada di dalam saku celana. Ia tidak melawan. Hanya menatap Jayden dengan ekspresi datar.

Syukurlah saat itu Cheyrin datang.

"stop!"

Cheyrin melerai mereka berdua dan mendorong Jayden agar melepaskan Steven.

"Jay lo kenapa?"

Cheyrin melirik ke arah Steven. "lo juga"

Lalu ia menghela napas panjang.

"kalian berdua kenapa sih, di mana mana selalu berantem, gak capek?"

Jayden menatap Cheyrin. Tatapannya datar, kosong. Ia mengangguk pelan, lalu melirik Steven sekali.

Tanpa mengatakan apapun, Jayden berbalik dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah Jayden pergi, Cheyrin menutup mata. Ia menghela napas.

"lo juga Steven"

Steven melirik Cheyrin.

"kenapa tadi lo mau nunjukin isi chat kita, lo mau bongkar masalah keluarga di depan semua orang?" ucap Cheyrin.

Steven membalas. "maksud gue gak gitu"

Cheyrin langsung memotong. Nadanya lelah.

"Udah lah, gue capek, energi gue udah abis banget ini mikirin orang tua kita, plis jangan nambah masalah"

Cheyrin menatap Steven sekali, lalu berbalik dan pergi. Meninggalkannya berdiri sendiri di bawah pohon.

Hanya suara ombak yang menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!