Indonesia
NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Realita yang absurd

Suasana di lantai utama PT Arunika Jaya pagi itu terasa sangat kontras dengan kepanikan yang terjadi semalam.

Begitu Fajar melangkah melewati pintu kaca lobi, telinganya langsung disambut suara bisik-bisik, gosip panas antarkaryawan, hingga gelak tawa santai dari beberapa staf yang berkumpul di dekat kubikel masing-masing. Ada yang menyeruput kopi saset, ada yang sibuk memainkan ponsel, bahkan ada pula yang tertawa terbahak-bahak seolah mereka sedang menghabiskan waktu di kafe, bukan bekerja di perusahaan besar yang baru saja diguncang masalah serius.

Fajar berhenti sejenak dan mengamati pemandangan itu.

Ia berkedip sekali.

Lalu sekali lagi.

“...Ini kantor atau warung kopi?” gumamnya pelan.

Tidak ada yang menjawab. Tentu saja, tidak ada yang mendengarnya karena sebagian besar orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Sejak kursi CEO kosong dan Kirana selaku atasan langsungnya sedang tidak masuk kantor, suasana perusahaan memang berubah drastis. Kirana memilih beristirahat di rumahnya yang sepi setelah berbagai tekanan menghantam dirinya. Sementara itu, jajaran manajemen yang biasanya berusaha mempertahankan citra profesional justru terlihat kehilangan arah.

Namun, bagi Fajar, keadaan ini bukan sesuatu yang pantas ditertawakan.

Perusahaan yang seharusnya berjalan berdasarkan tanggung jawab dan kepercayaan kini seperti bangunan megah yang fondasinya sudah lapuk. Dari luar masih terlihat kokoh, tetapi sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan keretakan di berbagai sisi.

Fajar merapikan jaketnya, kemudian melangkah menuju lift.

Hari ini, ia memiliki satu tujuan utama: membawa bukti yang cukup untuk membongkar kebohongan besar yang selama ini disembunyikan di balik nama PT Arunika Jaya.

Dokumen-dokumen itu bukan sekadar tumpukan kertas atau berkas digital biasa. Di dalamnya terdapat petunjuk yang mengarah pada fakta bahwa sosok yang selama ini dikenal sebagai Pak Ardi telah menggunakan identitas palsu sebagai Aditya.

Bukan hanya itu, dokumen tersebut juga menghubungkan identitas palsu itu dengan sejumlah transaksi mencurigakan yang melibatkan jaringan Baskara Holdings.

Fajar sudah menyiapkan mental untuk menghadapi penyangkalan, perdebatan, atau bahkan ancaman. Ia tahu, orang-orang yang memiliki banyak hal untuk disembunyikan tidak akan menyerahkan kekuasaan mereka begitu saja.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Namun, kenyataan yang menunggunya ternyata jauh lebih absurd daripada perkiraannya.

Beberapa waktu kemudian, Fajar berdiri di ruang rapat eksekutif dengan sebuah map tebal di tangannya. Di seberang meja panjang, sejumlah petinggi perusahaan duduk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Ada yang membaca laporan di tablet. Ada yang memeriksa jadwal rapat berikutnya. Bahkan, salah seorang di antara mereka tampak sibuk mengaduk kopi tanpa sedikit pun menunjukkan rasa ingin tahu terhadap kedatangan Fajar.

Fajar meletakkan map itu di atas meja.

“Bapak dan Ibu sekalian, saya membawa bukti terkait identitas Pak Ardi,” ucapnya tegas. “Selama ini, orang yang menggunakan identitas Aditya bukanlah Aditya yang sebenarnya.”

Seorang direktur mengangkat pandangannya sebentar.

“Lalu?”

Fajar terdiam.

“...Apa?”

Direktur itu kembali menatap tabletnya. “Saya bilang, lalu? Ada hal lain?”

Fajar menatapnya seolah baru saja mendengar seseorang mengatakan bahwa matahari terbit dari barat.

“Ada,” jawab Fajar, berusaha menjaga kesabarannya. “Ini menyangkut pemalsuan identitas, manipulasi dokumen perusahaan, dan transaksi ilegal yang terhubung dengan Baskara Holdings.”

“Begitu, ya.”

“Bapak mengerti maksud saya?”

“Tentu.”

“Lalu, kenapa Bapak terlihat seperti saya baru saja memberi tahu bahwa harga kopi naik seribu rupiah?”

Seorang petinggi lain terkekeh kecil.

“Anak muda, jangan terlalu berlebihan. Masalah seperti ini bukan hal baru di dunia bisnis.”

Fajar mengernyit.

Bukan hal baru?

Ia sudah mengumpulkan bukti, menyusun dokumen, dan mempertaruhkan dirinya untuk membawa masalah tersebut ke hadapan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab. Namun, mereka justru menanggapinya seperti mendengar kabar bahwa mesin fotokopi kembali kehabisan tinta.

“Jadi, kalian sudah tahu?” tanya Fajar perlahan.

Tidak ada jawaban langsung. Hanya tatapan singkat yang berpindah dari satu orang ke orang lain.

Tatapan itu sudah cukup.

Salah seorang direktur akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kami sudah mengetahui adanya ketidaksesuaian identitas sejak beberapa waktu lalu. Ada beberapa hal yang memang tidak sepenuhnya sesuai dengan dokumen yang kami miliki.”

Fajar menatapnya tajam.

“Ketidaksesuaian identitas? Dia menggunakan identitas orang lain!”

“Dan perusahaan tetap berjalan.”

“Dia memanipulasi informasi!”

“Bisnis juga tetap menghasilkan keuntungan.”

“Dia terlibat dalam transaksi ilegal!”

Kali ini, direktur tersebut menghela napas seolah Fajar adalah pegawai yang terlalu banyak bertanya.

“Selama semua itu tidak mengganggu kepentingan perusahaan, kami tidak melihat alasan untuk memperbesar masalahnya.”

Fajar terdiam beberapa detik.

Kemudian, ia tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena sulit mempercayai betapa rendahnya standar moral orang-orang di hadapannya.

“Jadi, selama kalian masih mendapat keuntungan, kalian bersedia menutup mata?”

Seorang petinggi mengangkat bahu.

“Dunia tidak sesederhana yang kamu bayangkan.”

“Benar,” balas Fajar. “Ternyata dunia jauh lebih absurd daripada yang saya bayangkan.”

Ia menutup mapnya kembali.

Pada titik itu, Fajar menyadari bahwa membawa bukti kepada mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Orang-orang ini bukan tidak memahami persoalannya. Mereka hanya tidak ingin kehilangan keuntungan yang selama ini mereka nikmati.

Mereka sudah tahu, tetapi memilih diam.

Mereka memahami kebohongan itu, tetapi membiarkannya tumbuh selama masih menguntungkan.

Dan sekarang, mereka berharap semuanya tetap terkubur hanya karena mereka memiliki jabatan.

Sayangnya bagi mereka, Fajar tidak datang tanpa persiapan.

“Baiklah,” katanya sambil memasukkan kembali beberapa dokumen ke dalam map. “Kalau begitu, saya tidak perlu membuang waktu lebih lama di sini.”

Salah seorang direktur menyipitkan mata.

“Apa maksudmu?”

Fajar mengeluarkan ponselnya.

“Saya hanya ingin memastikan satu hal. Kalian benar-benar yakin informasi ini tidak akan mengganggu kepentingan perusahaan?”

Ia menekan layar ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan singkat.

Tidak sampai beberapa detik, balasan muncul.

[Adik: Siap, Kak. Tinggal tunggu konfirmasi.]

Fajar tersenyum tipis.

“Kalau begitu, silakan lanjutkan kegiatan kalian.”

Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat, meninggalkan para petinggi yang kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Mereka bahkan tidak mencoba menghentikannya.

Mungkin mereka mengira Fajar hanya sedang menggertak.

Mungkin mereka merasa terlalu kuat untuk dijatuhkan oleh seorang pegawai biasa.

Atau mungkin, mereka memang sudah terlalu terbiasa hidup dalam kebohongan sampai tidak lagi mampu membedakan keberanian dari ancaman.

Apa pun alasannya, mereka baru saja melakukan kesalahan besar.

Di tempat lain, adik Fajar telah bersiap di depan komputernya.

Berbeda dengan kakaknya yang bergerak langsung di lapangan, ia lebih nyaman bekerja di balik layar. Keahliannya dalam keamanan siber dan analisis data membuatnya mampu menelusuri jejak digital yang sengaja disamarkan.

Namun, kali ini ia tidak bertindak hanya berdasarkan dugaan.

Berkas yang telah dikumpulkan Fajar menjadi dasar untuk menyusun laporan, mencocokkan data, dan mengidentifikasi bukti yang relevan. Salinan dokumen penting telah diamankan, sementara informasi yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana disiapkan untuk diserahkan melalui jalur pelaporan yang sesuai.

Begitu semuanya siap, ia mengirimkan konfirmasi kepada Fajar.

Setelah itu, informasi mengenai dugaan manipulasi identitas, transaksi ilegal, dan keterlibatan jaringan Baskara Holdings mulai menyebar ke ruang publik melalui saluran yang telah disiapkan.

Berita itu bergerak cepat.

Dalam hitungan menit, sejumlah unggahan mulai ramai dibicarakan. Potongan dokumen, laporan transaksi, dan bukti pendukung memancing perhatian pengguna internet. Nama-nama perusahaan yang sebelumnya jarang dibicarakan masyarakat mendadak menjadi topik hangat.

Beberapa media mulai menghubungi sumber informasi mereka. Orang-orang mempertanyakan keaslian dokumen tersebut, sementara yang lain menuntut penjelasan dari pihak-pihak yang disebutkan.

Tentu saja, penyebaran informasi itu tidak otomatis membuktikan seluruh tuduhan benar. Namun, jumlah dokumen yang saling berkaitan membuat masalah tersebut sulit diabaikan begitu saja.

Dan bagi para petinggi yang selama ini merasa aman, itulah awal dari mimpi buruk mereka.

Di ruang eksekutif, sebuah ponsel berdering.

Kemudian ponsel lainnya.

Lalu hampir seluruh perangkat di meja rapat berbunyi bersamaan.

Salah seorang direktur yang sebelumnya santai kini buru-buru membuka notifikasi di layarnya. Wajahnya berubah saat membaca judul berita yang muncul.

“Apa ini?”

Petinggi di sebelahnya langsung meraih ponsel.

“Tidak mungkin!”

“Siapa yang menyebarkan dokumen-dokumen ini?”

“Hubungi tim hukum! Sekarang!”

Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi kekacauan. Para petinggi saling menyela, menuntut penjelasan, dan mencoba menghubungi pihak-pihak yang mereka anggap bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jawaban pasti.

Nama Baskara Holdings mulai dikaitkan dengan berbagai dugaan pelanggaran. Hubungan bisnis yang sebelumnya tersembunyi ikut menjadi sorotan. Orang-orang yang selama ini berada di balik meja rapat kini harus menghadapi pertanyaan yang tak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat bahu.

Salah seorang direktur berdiri dengan wajah pucat.

“Bagaimana informasi ini bisa keluar?”

Tidak ada yang menjawab.

Sebab, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak bisa mengendalikan cerita yang beredar di luar gedung itu.

Mereka telah menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang bisa dikelola. Mereka percaya bahwa uang, jabatan, dan hubungan bisnis akan cukup untuk membuat semua masalah menghilang.

Namun, bukti yang telah tersebar kini menuntut penjelasan.

Dan kali ini, mereka tidak bisa sekadar menyebutnya sebagai masalah biasa.

Sementara itu, Fajar telah tiba di lobi.

Ia melewati pintu kaca utama tanpa menoleh ke belakang. Udara pagi menyentuh wajahnya, terasa jauh lebih segar dibandingkan udara pendingin di dalam gedung yang selama berhari-hari menjadi saksi berbagai intrik.

Di belakangnya, suasana PT Arunika Jaya masih kacau. Pegawai kebingungan membaca berita yang beredar, beberapa manajer sibuk menerima panggilan, dan nama Baskara Holdings mulai menjadi bahan perbincangan di berbagai tempat.

Fajar merogoh saku jaketnya, kemudian mengeluarkan ponsel.

Sebuah pesan baru muncul dari adiknya.

[Adik: Aman, Kak. Semua file cadangan sudah diamankan. Salinan bukti juga sudah disiapkan untuk diserahkan kepada penegak hukum melalui jalur yang tepat.]

Fajar membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia mengembuskan napas panjang.

“Bagus,” gumamnya.

Beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya, mereka tidak lagi hanya mengandalkan keberanian dan harapan. Bukti-bukti tersebut kini sudah berada di luar jangkauan orang-orang yang selama ini berusaha menutupinya.

Meski begitu, Fajar tahu bahwa penyebaran dokumen bukanlah akhir dari segalanya. Akan ada pemeriksaan, pertanyaan, dan proses panjang untuk memastikan kebenaran di balik semua tuduhan.

Namun, ia tidak harus menyelesaikan semuanya sendirian.

Ia telah melakukan bagian yang mampu ia lakukan.

Fajar memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu menatap jalan di hadapannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa harus terus-menerus menoleh ke belakang demi memastikan tidak ada ancaman yang mengikutinya.

Ia juga tidak lagi ingin membuang tenaga untuk meyakinkan orang-orang yang sejak awal memilih menutup mata.

Mereka telah mengambil keputusan sendiri.

Sekarang, mereka harus menghadapi konsekuensinya.

Fajar melangkah menjauh dari gedung tinggi PT Arunika Jaya, meninggalkan ruang-ruang rapat yang dipenuhi kepentingan, kebohongan, dan keserakahan.

Hari itu, realita memang terasa absurd.

Orang-orang yang seharusnya menjaga perusahaan justru melindungi kebohongan. Sementara seorang pegawai yang dianggap tidak memiliki kuasa memilih melakukan sesuatu yang bahkan tidak berani mereka lakukan.

Fajar tersenyum tipis.

“Semoga kalian menikmati kopi kalian,” gumamnya. “Sepertinya, setelah ini bakal susah tidur.”

Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya.

Di hadapannya terbentang kehidupan yang belum sepenuhnya ia pahami. Masih ada banyak hal yang harus dibereskan, dan belum semua pertanyaan mendapatkan jawaban.

Namun, satu hal kini jelas baginya.

Ia tidak perlu menjadi orang paling berkuasa untuk menolak tunduk pada kebohongan.

Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk membuka mata—dan kesediaan untuk bertindak ketika orang lain memilih berpura-pura tidak melihat.

Dengan kepala tegak, Fajar meninggalkan gedung itu.

Untuk saat ini, ia siap menyongsong lembaran hidup baru, jauh dari bayang-bayang Baskara Holdings.

Setidaknya, itulah yang ia harapkan.

Karena dalam dunia yang absurd, bahkan akhir dari sebuah kekacauan pun belum tentu menjadi akhir dari segalanya.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr /Good/
🍓ADIRA🍓
Ok. semangat Thor 🫰
Hamzah: di bab 32 juga aku ubah lagi, lagi direview 😅
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!