Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Mantan Narapidana Jadi Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.

Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.

Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vivian Pulang ke Rumahnya

Sebuah mobil mewah berhenti di depan Hua Qing. Delvin Yang turun dengan raut wajah dingin. Kehadirannya langsung menarik perhatian para mahasiswa yang berada di sekitar kampus.

"Direktur Yang? Kenapa dia datang ke sini?"

"Tampan sekali!"

"Siapa pun wanita yang menikah dengannya pasti sangat beruntung."

Bisikan para mahasiswi terdengar di antara kerumunan. Mereka tidak bisa menyembunyikan kekaguman terhadap ketampanan Delvin.

Sementara itu, Mark masih bertengger di atas pohon sambil memeluk batangnya erat-erat.

"Mark Yang, kenapa kau takut sekali dengan ular? Ini hanya ular biasa, tidak berbisa," tanya Vivian sambil mengangkat ular di tangannya.

"Vivian Wei, jauhkan ular jelek itu dariku! Buang ke tempat lain!" ujar Mark ketakutan.

"Paman, kau di mana? Cepat datang dan selamatkan aku!" teriak Mark sambil melihat ke sekeliling.

"Pamanmu tidak ada di sini. Lagi pula, kau hanya perlu mencarikan peternak ular untukku. Kenapa kau ketakutan seperti ini?" tanya Vivian heran.

Mark menatapnya tidak percaya.

"Kau peringkat satu di Hua Qing, tetapi sifatmu aneh sekali. Apakah semua anggota keluarga Wei seperti itu?" tanyanya.

"Jangan samakan aku dengan mereka. Setidaknya, aku lebih pintar dan jenius!" jawab Vivian dengan bangga.

"Iya, iya, jenius!" sahut Mark kesal.

Tak lama kemudian, Delvin dan Asisten Jo tiba di lapangan sepak bola. Keduanya langsung melihat Vivian yang berdiri di dekat pohon, sementara Mark masih bertahan di atasnya.

"Apa yang terjadi pada mereka?" gumam Jo sambil menatap pemandangan aneh di hadapannya.

Saat itu, Vivian mencoba memanjat pohon untuk menghampiri Mark.

"Hei, hei! Jangan mendekat!" teriak Mark panik.

Tiba-tiba, sebuah tangan menarik bagian belakang baju Vivian hingga gadis itu kembali menginjak tanah.

Vivian menoleh dan mendapati Delvin berdiri di belakangnya.

"Lepaskan!" protesnya sambil berusaha melepaskan diri.

"Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, mengejar-ngejar pria lain dan bermain seperti ini, apakah menurutmu itu lucu?" tanya Delvin dengan tatapan dingin.

"Paman, akhirnya kau datang! Cepat amankan istrimu. Nyawaku hampir melayang gara-gara dia!" seru Mark dari atas pohon.

Delvin mendongak menatap keponakannya.

"Kau juga sama. Kenapa harus ikut bermain dengan bibimu?" tanyanya.

"Paman, ini bukan salahku! Vivian tiba-tiba mengejarku sambil membawa ular. Siapa yang tidak lari kalau melihat ular?" protes Mark.

"Delvin Yang, jangan salah paham. Aku tidak mengejarnya. Aku hanya ingin mencari dapur untuk memasak ular ini dan mencari peternak ular," jelas Vivian.

Asisten Jo yang mendengar penjelasan itu langsung menoleh kepadanya.

"Nyonya Muda, untuk apa Anda mencari dapur dan peternak ular?" tanyanya penasaran.

"Ular ini ada di laci mejaku. Vivi yang melakukan semua itu, jadi aku akan membalasnya dengan cara yang lebih menegangkan," jawab Vivian sambil tersenyum tipis.

Delvin mengalihkan pandangannya kepada istrinya.

"Vivi masih belum melepaskanmu?" tanyanya.

"Iya," jawab Vivian singkat.

"Lalu, untuk apa mencari peternak ular?" tanya Delvin lagi.

"Aku ingin membeli seratus ekor ular dan mengirimkannya ke keluarga Wei. Bukan hanya untuk Vivi, tetapi juga sebagai kejutan bagi seluruh keluarga Wei. Kebetulan, nenekku yang baik hati juga sedang berada di sana," jawab Vivian dengan senyum manis yang justru membuat orang lain merinding.

Delvin menatap istrinya selama beberapa saat, seolah sedang mencerna rencana yang baru saja didengarnya.

"Jadi, kau mengejar Mark hanya karena ini?" tanyanya memastikan.

"Iya. Tapi keponakanmu penakut sekali," jawab Vivian sambil melirik Mark yang masih memeluk pohon.

"Vivian Wei, harga diriku benar-benar hancur karenamu!" seru Mark kesal.

Vivian hanya mengangkat bahu, tidak merasa bersalah sedikit pun.

"Asisten Jo!" panggil Delvin.

"Ya, Tuan!" sahut Jo segera.

"Bawa ular ini pergi dan olah menjadi sup ginseng untuk keluarga Wei. Kemudian, kirimkan ular sesuai permintaan Nyonya Muda ke alamat keluarga Wei," perintah Delvin dengan tenang.

"B-baik, Tuan!"

Jo menerima ular tersebut dengan hati-hati. Meskipun merasa geli, dia tidak berani membantah perintah atasannya.

Namun, setelah melihat ular di tangannya, Jo kembali menatap Delvin dengan ragu.

"Tuan, apakah ular ini benar-benar harus dijadikan sup ginseng?"

"Lakukan sesuai keinginan Nyonya Muda," jawab Delvin tanpa ragu.

"Terima kasih. Kalau begitu, aku tidak perlu turun tangan sendiri," ujar Vivian puas.

Jo hanya bisa menelan ludah sambil membawa ular itu menjauh.

Delvin kemudian melepaskan tangannya dari baju Vivian dan menatap wajah istrinya dengan tatapan lembut.

"Sudah puas?" tanyanya.

"Tentu saja. Aku harus pergi ke keluarga Wei siang ini. Nenek sudah pulang, dan Mike menyuruhku kembali," jawab Vivian.

"Pasti tidak ada hal baik yang menunggumu di sana. Aku akan menemanimu," kata Delvin.

"Tidak perlu. Aku justru sedang menantikan momen indah ini," jawab Vivian dengan senyum penuh arti.

Dia kemudian menatap Delvin seolah teringat sesuatu.

"Bisakah aku meminta bantuanmu sekali lagi?"

"Katakan saja," jawab Delvin.

"Aku ingin melakukan tes DNA!"

Delvin sedikit mengernyitkan kening.

"Kau mencurigai mereka bukan keluarga kandungmu?" tanyanya.

"Iya. Bahkan, aku berharap mereka memang bukan keluarga kandungku," jawab Vivian terus terang.

Delvin terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, "Apa rencanamu setelah mendapatkan hasilnya? Apakah kau ingin menyerahkan Vivi kepada polisi?"

Vivian menggelengkan kepala. Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.

"Daripada menyerahkannya ke penjara, lebih baik aku menikahkannya dengan Bowie Lou. Menjadi istrinya jauh lebih menakutkan daripada mendekam di penjara."

Asisten Jo yang mendengar nama tersebut langsung terkejut.

"Bowie Lou? Pria yang sudah beberapa kali menduda itu? Kudengar, beberapa mantan istrinya mengalami koma, bahkan ada yang meninggal dunia!" serunya.

"Oleh karena itu, aku ingin Vivi menjadi istrinya," jawab Vivian tanpa sedikit pun keraguan.

"Wah, pembalasan dendammu cukup kejam," komentar Mark dari atas pohon.

Delvin menghela napas, lalu kembali menatap keponakannya yang masih bertengger di atas pohon.

"Apa kau tidak berencana turun dari sana?"

"Paman, singkirkan ular itu terlebih dahulu! Lagi pula, aku bisa sampai seperti ini juga karena ulah istrimu!" jawab Mark dengan wajah kesal.

Delvin melirik Vivian, yang justru memasang wajah polos seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.

Dia menggelengkan kepala sambil menghela napas.

"Tolong antar aku ke keluarga Wei. Aku ingin bermain dengan mereka sampai puas!" pinta Vivian sambil tersenyum penuh arti.

Delvin menatap istrinya sekilas, lalu mengangguk.

Sebelum pergi, Vivian menoleh kepada Asisten Jo.

"Asisten Jo, setelah supnya selesai dibuat, tolong kirimkan ke keluarga Wei!"

"I-iya, Nyonya Muda," jawab Jo gugup sambil menatap ular yang dibawanya.

Vivian tersenyum puas, lalu mengikuti Delvin menuju mobil.

Mansion Keluarga Wei.

Suasana tegang menyelimuti ruang utama mansion. Ibu Mike Wei duduk di sofa dengan wajah muram, sementara Mike dan anggota keluarga lainnya berada di sana.

Tak lama kemudian, Vivian tiba dan melangkah masuk dengan tenang.

Begitu melihat Vivian, wanita tua itu langsung menatapnya tajam.

"Akhirnya kau pulang juga! Setelah menyakiti keluarga sendiri, kau pergi begitu saja tanpa merasa bersalah!" tegurnya dengan nada tegas.

Vivian menghentikan langkahnya. Dia menatap wanita tua itu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.

"Keluarga sendiri? Sejak kapan kalian menganggapku sebagai keluarga kalian?" balas Vivian dingin.

1
MataPanda?_
bagus hajar terus.. 😄😄
semangat trus kak 💪💪
erviana erastus
🤣🤣🤣🤣 kocak
💝F&N💝
thor Linda, ayo up lagi
erviana erastus
stlh habis supx muntah semua 🤣🤣😏
💝F&N💝
ayo up lagi.
sudah di tunggu nih
erviana erastus
drama dimulai 🤣🤣🤣
erviana erastus
kasihanx si ular kena tampar 🤣
Permata_tanty
🤣🤣🤣
💝F&N💝
aku sudah vote ya

ayo lanjut lagi.
lucu dan menegangkan
Maria Mariati
Tak ampun, baru buka buku udah sakit perut ku /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Kinara Widya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
erviana erastus
sudah sepuh malah bodohx minta ampun gtu dah kalo dibutakan sama rasa benci eh nek kamu berani ngelawan delvin trs kalo kamu tau kebenaran apa tindakanmu ckckck
erviana erastus
pemenang nya delvin yang 🤣
aku
yaelah bilang aja cemburu gitu vin 🤣🤣
aku
hayoloh si gunung es udah meleleh, smpe bkin mleyot yg baca 🤣🤣
aku
udah vi jngan nego lagi. drpd kluarga dajjal gangguin mulu nnti, jd nyonya besar aja udah. 😁😁
aku
mau kabur dia pagi2 🤣🤣
aku
jandanya tor, bukan jandamu 🤣🤣🤣
aku
pepet trosss jan kasih kendor nnti kabur 🤣🤣
aku
assem vivian to the point amat 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!