Indonesia
NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Keheningan malam di lantai bawah tanah studio itu terasa begitu pekat, jenis kesunyian berdenging yang sanggup merayap ke dalam tulang dan membekukan setiap kenangan manis yang pernah ada.

Cahaya lampu pendar putih yang menimpa meja-meja kaca steril membiaskan bayangan Hazel yang berdiri mematung.

Di ruangan ini, tidak ada suara angin malam Los Angeles, tidak ada deru mesin kendaraan, dan yang paling penting, tidak ada pendar hangat dari sepasang mata hazel milik Jameson yang beberapa jam lalu menatapnya dengan kesungguhan yang teramat sangat telanjang.

Hazel menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.

Jemari yang tampak begitu lentik, bersih, dan berkesan rapuh ini adalah jemari yang sama yang telah mencabut nyawa dua manusia tanpa mengedipkan mata.

Namun, mengapa malam ini telapak tangan itu terasa begitu dingin dan gemetar?

Bukan karena takut pada ancaman Detektif Alistair Reed. Bukan pula karena bayangan sel penjara atau hukuman mati.

Perasaan hampa yang menusuk ini bersumber dari potongan masa lalu yang mendadak menyeruak naik ke permukaan, terpicu oleh kata 'sakral' dan rasa bersalah yang diperlihatkan Jameson.

Hazel berjalan perlahan menuju sudut ruangan yang paling gelap.

Di sana, tertutup oleh kain beludru hitam yang tebal, berdiri sebuah kanvas besar berukuran dua meter.

Dengan gerakan halus yang hampir menyerupai bisikan, Hazel menarik kain hitam tersebut.

Di atas kanvas itu, terlukis sebuah pemandangan padang rumput hijau di pinggiran kota London.

Di tengah lanskap yang syahdu itu, berdiri seorang pria berambut pirang keemasan dengan senyuman paling hangat yang pernah Hazel saksikan seumur hidupnya.

Pria itu—Ocean Benedictus Blackwood—cinta pertamanya, sosok yang pernah menjadi tempat Hazel menyandarkan seluruh dunia dan harapannya—terlihat begitu hidup di atas kain linen itu.

Satu tetes air mata yang bening dan sunyi meluncur tanpa suara di atas pipi porselen Hazel.

Sebuah tetesan yang teramat sangat jarang, hangat, dan kontras dengan dinginnya udara ruangan steril tersebut.

Dulu, Hazel bukanlah seorang pembunuh berdarah dingin. Ia hanyalah seorang gadis kecil dari keluarga terpandang di Inggris yang tumbuh dengan jiwa seni yang lembut.

Ia mencintai warna, mencintai musik klasik, dan di atas segalanya, ia mencintai pria di dalam lukisan itu dengan seluruh kepolosan yang dimiliki seorang remaja.

Hazel mengingat bagaimana ia menyusun setiap detik usianya hanya untuk pantas berdiri di samping pria itu.

Ia belajar melukis untuk menggambar wajah pria itu, belajar bersikap anggun untuk menyenangkan keluarga pria itu, dan menyimpan seluruh cita-citanya dalam satu doa sederhana: menjadi pendamping hidupnya.

Namun, dunia memiliki cara yang teramat sangat kejam untuk meremukkan hati yang paling tulus.

Hari pernikahan itu... Hazel Tidak sanggup menyaksikan pria yang menjadi pusat alam semesta-nya mengucapkan janji suci kepada wanita lain.

Wanita yang tidak pernah berjuang keras seperti dirinya, wanita yang baru hadir beberapa bulan dalam hidup pria itu.

Dan sejak itu, Hazel merasa ada sesuatu di dalam dadanya yang retak secara permanen.

Retakan yang tidak menimbulkan suara, tetapi menghancurkan seluruh kehangatan, empati, dan warna di dalam jiwanya.

Ia membiarkan pria itu bahagia, tanpa pernah melontarkan satu kalimat pun tentang perasaannya yang berdarah-darah.

Dan di hari itulah, Hazel yang lembut dan penuh kasih telah mati.

Yang tersisa hanyalah cangkang kosong berwujud wanita cantik yang memandang hidup sebagai pertunjukan absurd dan kematian sebagai bentuk kebebasan mutlak.

Jika pria yang paling ia cintai bisa membuang seluruh keikut sertaan dan pengorbanan jiwanya begitu saja, maka apa artinya nyawa pria-pria lain di dunia ini?

Pria-pria konyol seperti Derek yang bersumpah TIDAK BISA HIDUP hanyalah kebohongan konyol yang pantas diuji sampai ke titik henti jantung mereka.

"Kau menangis untuk masa lalu... atau untuk pria Ashford itu, Miss Brooks?"

Sebuah suara bernada berat dan datar memecahkan kesunyian ruangan tanah itu.

Hazel tidak tersentak.

Ia mengusap air matanya dengan ujung jari, lalu perlahan menoleh.

Di ambang pintu baja yang terbuka sedikit, berdiri dua orang pria berjas hitam kelam dengan postur tegap dan garis wajah yang kaku tanpa emosi.

Mereka adalah dua pengawal pribadi yang dikirimkan langsung oleh keluarga besar Brooks dari Inggris—dua sosok bayangan yang selalu membersihkan jejak-jejak kematian yang ditinggalkan Hazel.

"Kalian melanggar batas privasiku, Edward," kata Hazel dengan nada suara yang sangat pelan, merdu, namun dipenuhi oleh nada melankolis yang pekat.

Pria bernama Edward itu membungkukkan kepalanya sedikit, menunjukkan rasa hormat yang mendalam namun kaku.

"Tuan dan Nyonya Brooks khawatir, Nona. Tuan Besar membaca laporan tentang keterlibatan keluarga Ashford dan kedatangan penyidik kepolisian bernama Alistair Reed. Tuan Besar bertanya... apakah perjalanan Anda di Amerika harus diakhiri sekarang?"

Hazel membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap kedua pengawal tua itu dengan pendar mata yang hampa.

"Kembali ke London? Ke tempat di mana setiap sudut kotanya mengingatkanku padanya?"

"Di sini berbahaya, Miss," timpal pengawal kedua dengan suara serak.

"Pria bernama Jameson Baxter Ashford itu... dia bukan pria biasa. Dia mulai menggali, dia mulai melindungi Anda dengan cara yang tidak terkendali. Tuan Besar takut jika pria itu terus membiarkan perasaannya masuk, dia justru akan membawa kehancuran untuk Anda berdua."

Hazel terdiam kaku.

Ucapan pengawal itu menghantam sudut hatinya yang paling tersembunyi.

Jameson...

Wajah sang dosen kembali menari di dalam benaknya. Tatapan mata hazel yang memancar cemas saat merawat rasa sakit perutnya tadi malam, kehangatan jemarinya yang mengelus pinggangnya, rasa panik luar biasa di matanya saat membawa sup hangat di ruang kuliah, dan desakan tulusnya di dalam ruang kelas yang sepi...

“Bisakah kau mulai memikirkan bagaimana kedepannya hubungan kita, Hazel? Aku serius... Aku tidak berniat melepaskanmu saat kesepakatan ini berakhir.”

Mengapa kata-kata itu terasa begitu menyengat sekarang?

Mengapa perhatian dari seorang Jameson Baxter Ashford—pria yang semula ingin ia manfaatkan dan hancurkan—justru terasa bagaikan sembilu yang menyayat kesadarannya?

Hazel melangkah perlahan mendekati meja instrumen kimianya. Jemari lentiknya mengusap botol kaca bening berisi cairan racun yang mematikan.

"Jameson hanya sedang terpesona oleh bahaya," bisik Hazel, suaranya mengalun bagai lagu pengantar tidur yang sedih.

"Dia pria yang memiliki segalanya di dunia ini. Harta, tahta, pujian, dan wanita-wanita sempurna dari kalangan Atas. Dia hanya belum pernah menemukan sesuatu yang bisa merusak ketenangannya. Saat dia menyadari bahwa aku adalah kehancuran murni, dia akan lari seperti yang lainnya."

"Tapi dia tidak lari malam ini, Miss," sahut Edward pelan.

"Laporan dari tim pengawas kita menunjukkan bahwa Jameson baru saja menggunakan pengaruh politik keluarga Ashford untuk menekan Divisi Kepolisian agar membatasi ruang gerak Detektif Alistair di kampus. Dia mempertaruhkan nama baik keluarganya hanya untuk mengulur waktu untuk Anda."

Langkah kaki Hazel terhenti.

Matanya membelalak tipis.

Rasa hangat yang amat sangat asing dan membakar perlahan merayap naik ke dadanya, bercampur aduk dengan rasa sakit dari kekecewaan masa lalunya.

Mengapa pria itu harus bersikap sebodoh itu?

Mengapa Jameson mau mengotori nama bersih keluarganya demi seorang wanita yang jiwanya sudah hancur dan berdarah-darah?

"Dia konyol..." gumam Hazel, suaranya bergetar halus.

Ia menyandarkan jemarinya pada tepi meja, menundukkan kepalanya saat rasa hangat itu berubah menjadi kepedihan yang teramat sangat.

"Dia sangat konyol..."

"Apakah kita perlu mengambil tindakan untuk menjauhkan Tuan Ashford dari Anda, Miss?" tanya Edward menuntut kepastian.

Hazel diam cukup lama.

Kesunyian di dalam ruangan bawah tanah itu makin terasa berat dan pekat.

Pikirannya melayang pada kenangan masa lalunya yang kelam di London, lalu berbenturan keras dengan pendar hangat di mata Jameson saat memanggilnya 'Baby' di dalam ruang kelas.

Dulu, ia memberikan seluruh cintanya yang paling tulus, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kehampaan dan gaun pernikahan orang lain.

Sekarang, ketika ia siap membuang seluruh kemanusiaannya dan hidup sebagai seorang monster tanpa rasa kasihan, seorang pria justru datang dan menawarkan seluruh perlindungannya tanpa meminta Hazel untuk menjadi suci kembali.

Hazel perlahan mendongak.

Matanya yang basah oleh sisa air mata kini memancarkan tekad yang redup namun amat dalam.

"Jangan sentuh Jameson," perintah Hazel halus namun tak terbantahkan. "Biarkan dia memainkan perannya."

"Tapi Miss—"

"Biarkan dia..." potong Hazel, suaranya begitu rapuh bagaikan helai daun kering yang gugur di musim gugur.

"Biarkan aku melihat... seberapa jauh pria itu sanggup berjalan di dalam kegelapan bersamaku. Sampai dia menyadari bahwa mencintai seorang wanita yang telah mati jiwanya... adalah siksaan yang paling sempurna."

Edward dan rekannya menundukkan kepala mereka dalam-dalam, memahami bahwa keputusan sang nona muda tidak bisa lagi diganggu gugat.

Kedua pengawal itu mundur beberapa langkah, lalu menghilang secara perlahan di balik pintu baja yang bergeser menutup rapat.

Kini, Hazel kembali sendirian di dalam studio bawah tanah yang dingin.

Gadis itu berjalan kembali ke arah kanvas tua yang menampilkan lukisan cinta pertamanya di London.

Hazel menatap wujud pria dalam lukisan itu untuk yang terakhir kalinya.

Dengan gerakan yang teratur dan penuh kepasrahan, Hazel meraih sebotol cat minyak berwarna hitam pekat.

Dengan jemari tangannya sendiri, Hazel mengoleskan warna hitam itu di atas wajah pria dalam lukisan tersebut, menghapus senyuman keemasan masa lalunya sedikit demi sedikit hingga yang tersisa hanyalah kegelapan yang menutupi seluruh kain kanvas.

Ia telah secara resmi membunuh kenangan manisnya sendiri.

Hazel melempar kuasnya ke lantai, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dingin studio. Ia memeluk kedua lututnya, menatap ke arah pintu keluar dengan pendar mata yang redup dan dipenuhi duka yang amat sangat dalam.

Malam kedua dari perjanjian mereka telah gagal karena Kebohongannya.

Tetapi malam ketiga... malam terakhir yang akan menentukan takdirnya dan Jameson Baxter Ashford... kini sudah menanti di depan mata.

Dan Hazel tahu, ketika fajar menyingsing besok, tidak akan ada lagi tempat untuk berlari bagi mereka berdua dari jerat cinta berdarah yang telah mereka pintal bersama.

1
Lilla Ummaya
Ka please updatee
Rosdianah 🌷: Author Usahain ya kak🫶
total 1 replies
Dinda Putri
pasangan yg mengerikan semoga aja gk ada penghianatan 🤭semangat up thor🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Rosdianah 🌷: huhu maafkan author beberapa hari ini author sibuk dunia nyata😭
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗
Asriani Rini
Suapakah nanti yg trrjebak dan sisp yg dijebak Lanjut Thor
Agunk Setyawan
seru
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🌷
total 1 replies
Leo
Cerita yg selalu kutunggu upnya
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🌷
total 1 replies
nayla tsaqif
Ngatain ocean bodoh,gk nyadar luu jg bodoh JB,,
Rosdianah 🌷: wkkwwk🤣
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
jadi beginilah dicintai laki-laki, Hazel...
Rosdianah 🌷: hazel nggak paham 🤣
total 1 replies
JR Rhna
Hazel akan bunuh Jameston sebab merayu rayu pd wanita😄
Rosdianah 🌷: hahah ngakak🤣
total 1 replies
JR Rhna
maka bunuhlah dia Hazel🤣
Rosdianah 🌷: hahahah No! itu bukan kata keramat 🤣🤣🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
padahal JB sesayang itu ma kmu hazel 🥺🥺jgn jd pembunuh..
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Lilla Ummaya
Jb dah bucin akutt..lanjut thoor
Rosdianah 🌷: author up besok lagi kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel sadis Thor 🥺🥺
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🥲
total 1 replies
nayla tsaqif
Laki2 mana yg menyakitimu hazel,, 😅 hazel yg lemah lembut soft spoken di dpn ocean ternyata,, ahh sudahlah mungkin ada plotwistnya!
Rosdianah 🌷: huhu author Sudah jelaskan Di bab sebelumnya 😭
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
enaknya gimana ini... 😅
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Nita Nita
motif hazel apa 🤔
Rosdianah 🌷: huhu author sudah jelaskan Dibab sebelumnya 😭
total 1 replies
Yusry Ajay
apa hazel yg membunuh Thor 🤔🤔
Lusy Purnaningtyas
apakah jadi saingan nya JB
Yusry Ajay
makin seru nih🤗🤗🤗panik ga hazel 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!