Nindi Rizkia Morseli adalah anak semata wayang dari pasangan Pak Samsul dan Bu Lasmi. Mereka bukan orang kaya, melainkan dari keluarga yang sangat sederhana.
Nindi bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan papanya Lingga. Disitulah awal mula mereka bertemu. Lingga adalah laki-laki yang tak pernah asal mau bicara dengan perempuan sembarangan, yang di akibatkan pernah gagal bertunangan dengan seorang perempuan hingga membuat seorang Lingga selalu cuek dengan wanita. Tapi entah mengapa, setelah pertemuannya dengan Nindi, ia merasa sedikit terbuka kepada wanita.
Akankah Lingga jatuh hati pada seorang gadis polos seperti Nindi???
Lihat kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Kiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 34
"Aku harus segera cepat keluar dari rumah sakit ini. Aku harus dengan cepat pula menemuinya, wanita yang selama ini aku nantikan kedatangannya." Sambil menatap foto yang ada ditangannya dengan lekat.
Tampak dua buah senyum yang sangat mengembang dalam foto itu. Foto itu tak sengaja di ambil oleh seorang fotografer yang kebetulan sedang melewati kampung mereka.
Flashback***
"Hai adik-adik kecil? kalian sedang apa?."
"Kami lagi cari belut, soalnya di sawah ini banyak belutnya paman."
"Kalian suka makan belut?."
"Suka. Soalnya enak, apalagi di panggang*." *Jawab salah satu bocah tersebut
"Hebat semua dong, kalo kalian mau makan belut, apalagi belutnya belut sawah. Dan pasti kalian anak-anak yang sehat?."
"Hehehh iya paman."
"Adik-adik kecil ini, sudah dapat berapa belutnya?."
"Aku belum dapat." Anak perempuan itu berbicara.
"Aku sudah dapat dua paman?" bocah laki-laki menunjuk tangannya.
"Waah... mana coba paman mau lihat belutnya, besar-besar ngga?."
Bocah laki-laki itu langsung mengeluarkan belut-belut yang tadi ia tangkap, dan memegangnya erat-erat.
"Ini paman, besar kan?."
"Gimana kalo kalian paman foto sambil pegang belutnya ya?."
"Iya paman." Mereka dengan antusias berjejer rapi dengan pose yang lucu, khas anak kecil.
"Satu.. dua .. tiga." Cekrek..
"Alamat rumah kalian dimana? biar besok paman kirim fotonya yang sudah jadi?".
"Kirim ke rumah aku aja paman?" anak perempuan itu menjawab dengan semangat.
"Rumah adik kecil ini dimana memangnya?."
"Itu, di ujung jalan setapak itu paman. Yang didepan rumah ada kolam ikan kecilnya, yang ada pohon rambutan, terus ada bunga kuningnya bunga eek ayamnya paman."
Mendengar penjelasan dari anak perempuan itu, membuat yang mendengarnya tertawa geli. Padahal tinggal tunjuk saja, karena jarak dari sawah ke rumahnya tidak jauh. Masih terlihat dengan jelas.
"Oke, besok kalo sudah jadi paman pasti antar ya, atau paman kirim. Kan paman sudah tahu dimana rumahnya."
"Iya paman, terima kasih?." Lalu pria dewasa itu melangkahkan kakinya pergi sambil melambaikan tangan. "Iya sama-sama. Sampai jumpa kembali?."
"Da-dah..." anak-anak itu juga melambaikan tangannya. Membuat salah satu ekor belut terlepas dari genggaman*.
Akhirnya mereka tertawa bersama-sama. Dan tepat satu hari sebelum kepindahan Nindi ke kota, foto itu di antar kerumahnya. Ia tersenyum bahagia melihat fotonya bersama Reno.
Comeback***
"Kau masih tetap seperti dulu Nin. Masih tetap cantik, justru bertambah." Sambil mengusap foto itu sambil tersenyum.
***
"Eh, hari ini kok Nindi ngga keliatan batang hidungnya ya?" Ayu berbicara sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok Nindi.
"Iya nih. Mentang-mentang sudah jadi tunangannya CEO, udah ngga mau kerja lagi!" Joni berkata mencibir.
"Hush! sembarang aja kalo ngomong! mana tau dia lagi sakit, atau ada urusan lain sama Lingga?."
"Iya-iya deh, maaf. Gua kan cuma bercanda aja kali?."
"Oh iya, tadi pagi sih gua liat Nindi keluar sama pak Lingga pakek mobil, waktu gua lagi bersihin lantai bawah." Resti berkata sambil mengingat-ingat, kalau tadi pagi ia melihat Nindi dan Lingga.
"Kemana ya mereka?" Joni mengira-ngira.
"Oh iya. Mungkin mereka fitting baju pengantin, atau lagi mempersiapkan surat undangan. Intinya mengurus semua hal untuk pernikahan mereka besok?." Ayu berkata dengan semangat.
Resti dan Vian yang tidak mengetahui hal ini, begitu sangat terkejut mendengar pembicaraan Ayu.
"What!! Nindi dan Lingga mau married?" Resti benar-benar terkejut dengan hal ini. Karena dia memang tidak mengetahuinya sama sekali.
"Ngga salah bicara kan Lo? ngga boleh fitnah loh?" Vian menuding Ayu.
"Kalian sama anak-anak kantor aja yang ngga tau, kalo mereka tadi malam sudah tunangan" Joni membela Ayu.
"Tadi malam?" Resti semakin kaget.
"Iya tadi malam. Cuma gua tadi malam ngga bisa datang ke acaranya, sedikit ngga enak badan" Ayu menjawab.
Lalu tiba-tiba Joni memegang kening Ayu, mengecek suhu tubuhnya, lalu menempelkan lagi ke pantatnya sendiri. "Ngga panas kok tapi. Bohong lu?."
"Eh konyol! lu kira kening gua sama kaya pantat lu suhunya!! kalo sekarang mah, gua udah enakan." Ayu memukul bahu Joni dengan kuat.
"Auw... sakit woy!" Joni meringis kesakitan.
Tiba-tiba Vian bertanya pada Ayu, "tapi Lo sudah minum obat kan?."
"Ya sudahlah, makanya gua hari ini sudah bisa langsung kerja."
"Wahh... beruntung banget ya jadi Nindi? baru aja berapa hari kerja disini, udah diangkat jadi asisten. Eh, baru aja berapa hari kerja jadi asistennya pak Lingga, sudah di lamar aja." Resti berkata sambil memegang wajahnya.
"Itu sudah jadi takdirnya dan jalan hidupnya kali Res?" Vian menjawab.
Tiba-tiba Joni berkata dengan bijak, "semakin tinggi pohon, semakin banyak angin yang menerpanya. Semakin tinggi jabatan dan kehidupan seseorang, semakin banyak pula rintangan yang dihadapinya."
"Waahhh..." Ayu, Resti, dan Vian terngangah mendengar perkataan Joni barusan.
"Kenapa kalian gitu?" tanyanya.
"Gua salut aja sama Lo hari ini. Bijak banget Lo bicaranya?" Vian memuji Joni.
"Lu ngga lagi salah minum obatkan pagi ini?" Ayu berbalik memegang kening Joni.
"Kalian apaan sih. Kan bener yang gua bilang."
"Manusia pecicilan, sekaligus ugal-ugalan. Ada juga waktu warasnya yah?" Vian mencibir Joni.
"Kalian aja yang selalu berkomentar dengan apa yang kalian dengar. Kalian ngga pernah komentar dengan apa yang kalian lihat. Gua juga manusia bro, ada juga waktu sedih, bahagia, susah, senangnya." Joni menyilang kan tangannya didepan dada.
"Gilee... men."
"Prok prok prok.." Ayu, Vian dan Resti bertepuk tangan mendengar perkataan Joni barusan.
"Kayanya di kantor kita bakalan ada calon pak ustadz ya?" Ayu melirik jahil ke arah Joni.
"Terserah lu pada mau bilang apa." Joni akhirnya menyerah.
"Tapi ngomong-ngomong, kapan acara pernikahan mereka?" Resti kembali ke topik pembicaraan tadi.
"Waduh.. kalo itu sih kita juga belom tau. Soalnya kita belum ketemu sama Nindi sih?."
"Semoga aja resepsinya setelah dapet gaji. Jadi bisa ngasih kado yang lumayan." Ayu berkata memelas.
"Iya tuh bener. Soalnya kalo lagi tanggal tua, jangankan beli kado, bayar tagihan kos aja untung-untungan" Resti menyetujui perkataan Ayu.
"Dasar kismin Lo pada" Vian mencibir.
"Halah... sok-sokan kaya lu. Padahal sama aja kaya kita-kita." Resti balik mencibir Vian.
"Iya nih, padahal kerjaan kita sama aja. Gaji juga sama." Ayu mengerucutkan bibirnya.
Mendengar celotehan Ayu, Vian jadi tersenyum sendiri. Ada kisah dibalik ia menjadi cleaning servis di perusahaan itu, yang tidak diketahui siapapun. Kecuali kakaknya.
"Udah ayo kerja lagi, nih sudah selesai jam istirahatnya?" Joni bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar dari kantin kantor.