Mempunyai kecantikan yang berlebihan tentu saja dapat menjadi boomerang bagi wanita. Hal tesebutlah yang juga menjadi trauma seorang gadis bernama Disya.
Kakak yang disayanginya kehilangan nyawa akibat bunuh diri yang dilakukannya akibat pelecehan yang dialaminya sehingga mengalami depresi berat.
Dia mengalami pelecehan dikarenakan wajahnya yang sangat cantik. Sehingga Disya memutuskan untuk membuat wajahnya menjadi buruk rupa.
Tapi itu semua berubah ketika dia bertemu dengan seseorang dosen tampan yang dapat merubah pola pikirnya serta kehidupannya akibat cinta satu malam.
Jadi, apakah Disya akan mempertahankan penampilannya atau merubah menjadi lebih cantik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wuln Wln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Meninggalkan
“Apakah kamu yakin? Gimana nanti dengan nasib anak-anakmu jika tidak memiliki seorang ayah, lambat laun mereka pasti akan bertanya dan mencarinya.” Ucap Handoko.
“Disya yang akan menjadi ibu sekaligus menjadi figure seorang ayah bagi anak-anakku. Aku juga tidak akan membiarkan anak-anakku mempunyai seorang ayah yang pecundang seperti mas Brian.” Ucap Disya.
“Baiklah kalau itu maumu, ayah hanya bisa mendukungnya. Mungkin ini juga bisa membuatmu dan anak-anakmu menjadi aman dan selamat.” Ucap Handoko, karena semakin jauh Disya dengan orang yang membuatnya stress maka semakin baik juga buat keadaan dirinya dan kandungannya.
“Kalau begitu bisakah ayah membawaku pergi sekarang, aku takut saat mas Brian pulang keapartemen maka dia akan mencariku.” Ucap Disya yang tidak ingin melihat wajah Brian lagi. Karena sudah terlalu sakit yang dia rasakan akibat ulah Brian.
“Tapi keadaanmu masih belum pulih sayang, ayah akan membawamu pergi setelah keadaanmu sudah memungkinkan untuk dibawa bepergian jauh” Ucap Handoko yang tidak ingin mengambil resiko jika membawa Disya dengan keadaan yang tidak baik.
“Aku mohon ayah, kali ini Disya sangat berharap ayah membawaku pergi dari sini apapun yang terjadi.” Ujar Disya memelas dan memohon kepada Handoko agar menuruti permintaannya.
“Baiklah kalau gitu ayah akan temui dokter dulu.” Ucap Handoko kemudian keluar menuju ruangan dokter untuk bertanya lebih lanjut terkait kondisi Disya apakah bisa dibawa perjalanan jauh dalam keadaan seperti itu.
Dan dengan banyak pertimbangan akhirnya Disya diperbolehkan pergi dalam, tanda kutip dia harus selalu merasa nyaman, dan harus ada perawat yang selalu siaga disisinya.
Tepat pukul 01.20 yang mana seharusnya orang-orang masih pada tidur dengan pulas tapi tidak bagi Disya, dia telah berada didalam pesawat yang akan membuatnya meninggalkan kota yang penuh kenangan menyakitkan maupun menyenangkan itu. Dia akan mengubur semua kenangan-kenangan itu agar kedepannya dia bisa memulai hidupnya dengan lebih baik tanpa bayang-bayang masa lalu.
Disya tidak memberitahukan kepergiannya ini kepada siapa-siapa selain kedua orang tuanya. Bahkan Dina saja yang sahabatnya selama ini menemaninya tidak dia beritahu sebab dia tahu, pasti Brian akan menanyakannya pada Dina karena yang Brian ketahui hanya Dina lah teman Disya satu-satunya.
“Selamat tinggal semua, semoga aku bisa kembali dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya.” Ucap Disya setelah itu pesawat tersebut lepas landas meninggalkan segala kenangan yang telah dia rajut dengan seorang yang dia cintai, tapi cintanya tersebut hanya bertepuk sebelah tangan.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Disebuah kamar sepasang wanita dan pria itu tampak masih tertidur pulas padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, hingga bunyi telpon dari sang pria membangunkan mereka dari tidur pulasnya.
“Halo.” Ucap sang pria setelah mengangkat telponnya, dan dia belum menyadari keadaan disekelilingnya.
“….”
“Astaga bisa-bisanya aku telat seperti ini.” Ucap pria itu kemudian mematikan telponnya, dia memijit kepalanya yang terasa sangat sakit, dia melihat sekelilingnya dan dia baru menyadari ternyata dia tidak diapartmennya.
Yang lebih membuatnya kaget saat melihat kondisi tubuhnya dan wanita disebelahnya yang tidak menggunakan pakaian apapun.
“Arghh…apa yang lo lakuin dikamar gue.” Ucap Brian setelah mengingat kembali saat dia memutuskan untuk beristirahat dikamar ini. Malam itu dia merasakan kepalanya sangat sakit makanya dia memutuskan untuk memesan kamar di klub ini, tapi dia hanya sendiri dikamar lalu kenapa tiba-tiba ada Mona dikamarnya..
“Hikss…hikss, apakah kamu lupa, kamu telah mengambil kesucianku semalam Brian. dan kamu harus bertanggung jawab.” Ucap Mona yang berekting sambil menunjukkan air mata palsunya itu.
“Lo pikir gue percaya, kalau gitu buktiin ke gue mana bercak darah perawan lo kalau memang semalam kita ngelakuin itu.” Tantang Brian, karena dia sudah tau akal dari Mona yang sangat licik itu.
“Kamu nggak ingat semalam setelah kita ngelakuin itu, aku bersihin sprei dulu lalu kita bersih-bersih barulah setelah itu kita tidur.” Kilah Mona.
“Gue tetap nggak percaya terserah lo mau ngomong apa, gue akan suruh asisten gue Roni untuk nyelidikin ini. Dan jika lo ketahuan ngejebak gue, maka lo siap-siap aja buat nerima konsekuensinya.” Ucap Brian setelah itu dia berdiri sambil melilitkan selimut di pinggangnya, dia langsung menuju tempat pakaiannya yang semalam dia pakai kemudian mengambilnya lalu membawanya menuju kamar mandi untuk dia guanakan kembali.
Brian langsung teringat dengan Disya pasti dia sangat khawatir sekali dnegan keadaannya, karena dia belum pulang-pulang dari semalam.
Brian langsung mengambil ponselnya kemudian dia melihat, ternyata sudah banyak sekali pesan dari Disya, dan yang lebih mengherankan banyak sekali panggilan dari mertuanya. Dia langsung menelpon nomor Disya, tapi tidak sesuai ekspektasinya karena nomor Diysa tidak aktif. Dia menghubungi berulang kali tapi yang dia dapatkan tetap sama, bukan suara Disya yang dia dengar melainkan suara operator yang selalu menjawab telponnya.
Brian kemudian beralih menelpon mertuanya, dan hasilnya sama juga, dia semakin panik dan bingung dibuatnya. Tak mau berlama-lama dengan kebingungannya Brian langsung menuju apartemennya untuk mengecek keadaan Disya. bahkan pekerjaannya saja dia lupakan karena menurutnya yang terpenting saat ini adalah Disya.
Brian mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, hingga hanya memerlukan waktu setengah jam untuk sampai ke apartemen yang dia dan Disya tinggali.
Dia langsung menuju unit kamar yang mereka tempati, setelah sampai dia melihat keadaan diapartemen itu sangat sunyi sekali seperti tidak ada kehidupan disana.
Pelayan yang biasanya membersihkan juga tidka datang karena sejak dua hari yang lalu dia minta izin karena anaknya sedang sakit, makanya dia tidak bisa datang untuk bersih-bersih keapartemen.
“Disya..Disya.” Brian berteriak, tapi tidak ada sahutan juga dari dalam.
Bahkan Brian telah mengecek semua tempat tapi Disya tidak ada juga, saat dia masuk kekamar Disya dia melihat koper Disya tidak ada disana. Brian langsung panik, dia segera melihat pakaian Disya dan ternyata memang sebagian pakaiannya sudah tidak ada dilemari. Seketika tubuh Brian langsung luruh jatuh kelantai dia menangis dan juga bertanya-tanya diahatinya kenapa Disya meninggalkannya? Apa salahnya?.
“Kemana Disya pergi dan anak-anakku juga, apakah mereka meninggalkanku.” Brian langsung menuju ke rumah mertuanya untuk mencari keberadaan Disya, tapi hasilnya tetap nihil bahkan dia dilarang masuk oleh satpam di rumah Disya.
“Pak kenapa aku dilarang masuk, aku adalah suami Disya.” Ucap Brian frustasi.
“Maaf tuan kami hanya mematuhi perintah dari tuan besar untuk melarang siapapun yang ingin datang kerumah ini termasuk anda.” Ucap satpam itu dengan tegas.
“Tapi apakah istriku dan orang tuanya ada didalam?.” Tanya Brian yang berharap Disya masih berada disana dengan keadaan baik-baik saja.
“Kalau untuk nona Disya dia sudah tidak tinggal disini lagi. Kalau untuk tuan besar dan nyonya besar meraka masih ada tapi sekarang lagi tidak ada didalam.” Ucap satpam itu.
“Apa?? Disya tidak tinggal disini lagi? Lalu kemana istriku pergi pak?.” Tanya Brian yang semakin frustasi mendengarnya.
“Maaf tuan untuk itu saya juga kurang tau.” Jawab satpan itu.
Bersambung...
Hai, kak. Mampir di Karya aku juga ya kak. 😁
Salam kenal.