"Alina Ariesta kamu bukan adik kandungku!"
perkataan itu mampu mengubah takdir dan segala-galanya dalam kehidupan Alina Ariesta Wirawan. Seorang gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu,harus merelakan hal yang paling berharga dalam hidupnya kepada pria yang disebutnya selama ini adalah abangnya,kakak sulungnya yang selalu melindungi dirinya selama ini.
Kenyataan pahit malam itu mengubahnya, hingga apa yang sudah mereka perbuat akhirnya terbongkar sudah di hadapan kedua orang tuanya.
"Alina Ariesta, apa kasih sayang Papa dan Mama padamu kurang, apa kami membeda-bedakan kalian dalam kasih sayang kami?" tanya Pak Wirawan.
"Alina Ariesta, Mama mohon tinggalkan Fadhlan untuk selamanya karena, kakakmu harus menikah dengan perempuan lain, Mama mohon pergilah dari sini,"
Jedar....
Alina Ariesta sangat terpukul mendengar fakta itu, jika setelah dirinya diketahui hamil, dia malah diusir dari rumah itu.
"Ya Allah... aku harus pergi kemana?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Fadlan terkejut dengan sikap anak kecil yang berlarian di dalam lokasi acara makan malam bertema bebas itu. Dia tidak menyangka jika, anak kecil yang saling berkejaran menabrak kursi rodanya adalah putranya yang dicarinya beberapa bulan belakangan ini.
"Ayah," cicit Rayan.
Frans, Farhat, Aliza saling bertatapan satu dengan yang lainnya. Sedangkan Alona memperhatikan dengan seksama anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Fadlan.
"Siapa anak ini, kenapa wajahnya mirip banget dengan suamiku?"
"Rayanza!" Teriaknya seorang perempuan dari arah belakang punggungnya Fadlan.
Suara yang terdengar jelas di telinganya itu suara seseorang yang sudah lama ia ingin lihat dan jumpai membuatnya berusaha untuk bangkit dari duduknya. Fadlan berusaha untuk bangkit dari duduknya dan sudah berdiri,tapi Aliza segera memegang lengannya Fadlan hingga,ia jatuhkan tubuhnya ke atas lantai.
Apa yang dilakukan oleh Fadlan yang hampir saja kebohongannya terbongkar, karena terlalu bahagia melihat Alina Ariesta semua mata tertuju padanya. Dengan cepat ia berakting terjatuh.
"Ahhh! Alina!" Teriaknya Fadlan sambil berusaha menggapai Alina Ariesta yang berdiri tidak jauh dari posisinya Fadlan berada.
Frans Lie, Farhat Abbas, Aliza Benazir saling bertatapan dan mereka tersenyum tipis, seandainya tidak banyak orang mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya Fadlan.
Alina Ariesta segera memalingkan wajahnya ke arah belakang punggungnya,ia menutup mulutnya melihat pria yang disukainya itu tersungkur ke atas lantai.
"Abang Fadlan!" Jeritnya Alina Ariesta yang berlari kencang ke arah Fadlan yang tidak mengetahui jika Fadlan lah yang menyebabkan semua itu terjadi, putranya juga terjatuh dan berada di depannya Fadlan sekarang.
Rayanza hanya tersenyum melihat kejadian itu," Alhamdulillah ayah dan bunda bertemu juga tanpa terencana sebelumnya, untungnya Nenek Sandra mendesak Alina Ariesta untuk segera pulang ke Indonesia dan menghadiri undangan makan malam dari Pak Damar Aldianto Alamsyah relasi bisnisnya Kakek sekaligus sahabat terbaiknya Kakek Daniel,"
Alina berlutut di depan Fadlan sambil berusaha untuk membantu Fadlan berdiri. Aliza segera membantu adiknya itu tanpa berbicara sepatah katapun. Farhat pun membantu Aliza agar Fadlan duduk kembali di atas kursi rodanya.
Raut wajahnya Alina begitu panik dan mencemaskan keadaannya Fadlan, "Kenapa bisa terjatuh Abang? Katakan padaku bagian mananya yang sakit?" Tanyanya Aliza yang memeriksa kondisinya Fadlan sambil mengecek dari ujung kaki hingga kepalanya.
Fadlan segera memegangi tangannya Alina Ariesta dengan erat," stop bertanya masalah keadaannya Abang,saya baik-baik saja tidak kenapa-kenapa kok setelah melihatmu serasa penyakitku segera terangkat dan hilang dalam sekejap mata," pungkas Fadlan.
Alina Ariesta tidak menimpali perkataannya Fadlan, wajahnya merona memerah saking malunya mendapatkan perkataan seperti itu di depan umum apalagi mereka sudah menjadi pusat perhatian dan tontonan dari banyaknya pasang mata yang berada di sekitar area tempat itu.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu," imbuhnya Alina Ariesta.
Aliza dan kedua rekan kerjanya memperhatikan dengan seksama wajahnya Alina Ariesta hingga bentuk tubuhnya itu.
"Mereka wajar bersaudara, hanya lebih putih sedikit warna kulitnya Non Alina dibandingkan dengan Aliza dan juga bentuk wajahnya Alina Ariesta lebih lonjong, hidung,dagu dan matanya sama,pasti Alisha sangat bahagia bisa bertemu dengan adik kandungnya yang sudah dua puluh tahun lebih ia cari keberadaannya," batinnya Farhat Abbas kekasihnya Aliza.
"Cik.. ck kalau saudara gimana pun pasti akan berjumpa juga walaupun sudah terpisah hampir tiga puluh tahun lamanya," cicitnya Frans Lie Adityaswara.
Seorang pria yang cukup berwibawa, bijaksana dan penuh kharisma berjalan ke arah mereka.
"Tuan Fadlan Ibrahmi Nabhan apa Anda baik-baik saja?" Tanya Pak Damar yang segera datang setelah mendapatkan informasi jika terjadi insiden kecil di sekitar pintu depan di kediamannya.
Fadlan menolehkan kepalanya ke arah dan segera tersenyum simpul," Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Tuan Damar, hanya kecelakaan kecil saja dan tidak ada yang luka juga," tukasnya Fadlan.
"Syukurlah kalau seperti itu," imbuhnya Tuan Damar.
Rayanza segera berlari ke arah dalam pelukan sahabat kakeknya itu yang sudah dianggap kakeknya sendiri.
"Kakek Damar!" Teriaknya Rayanza yang berhamburan memeluk tubuh tegap pria berusia sekitar lima puluhan itu.
"Hey Boys! cucu kesayangan dan jagoannya kakek, kapan datangnya Nak? kakek sangat merindukanmu," ucapnya Tuan Damar sambil membalas pelukan tubuh cucu kandung semata wayangnya itu.
"Rayan juga merindukan Kakek loh," timpal Rayan yang sangat gembira karena kepulangannya ke Indonesia ini sudah lama ia inginkan tetapi, tidak berani mengutarakan keinginannya kepada bundanya.
"Alina Ariesta,apa jangan-jangan dia adalah adik angkatnya Fadlan yang hamil itu terus kabur dengan alasan yang Hingg detik ini hanya tersiar karena hamil diluar nikah, aku yakin anak laki-laki itu putranya Fadlan dan pria yang menghamilinya aku yakin dengan sangat adalah Fadlan, Bu Atikah Aminah cukup lihai dan pintar menyembunyikan aib di dalam rumahnya dengan rapat, sampai-sampai pihak luar tidak ada yang mengetahui jika anak kandungnya sendiri yang menghamili anak pungut dari panti asuhan, tapi ngomong-ngomong aku perhatikan dari cara berpakaian sepertinya dari kalangan jetset juga," gumam Alona Asmirandah Devan.
Mereka segera bergabung dengan para tamu undangan yang lainnya yang sudah hadir memadati ruangan khusus. Alona tersenyum penuh arti melihat kedekatan Fadlan dan Alina. Dia hendak berucap tetapi, segera dicegah oleh Aliza.
Aliza berbisik di telinganya Alona," ingat jangan sekali-kali berani untuk buka suara, apapun yang kamu lihat dan dengar hari ini cukup kau saja yang mengetahui jika sampai terekspos keluar berarti kamu lah penyebabnya dan tunggu saja Tuan Muda Fadlan bakal akan bertindak padamu!" Ancamnya Aliza yang mengakhiri ucapannya dengan senyuman penuh maksud.
Alona terkejut mendengar ancaman dari Aliza perawat pribadinya Fadlan suami di atas kertasnya itu.
"Kenapa sampai mengetahui apa yang sedang aku pikirkan,apa jangan-jangan dia punya ilmu bathin atau cenayang yah yang sampai-sampai mengetahui jalan pikiranku," lirihnya Alona.
Aliza kembali tersenyum penuh kemenangan dan kembali berbisik di telinganya Alona," kamu itu hamil dan aku tahu siapa orang yang sudah menghamilimu, jangan mengira rahasiamu akan aman sampai seterusnya, karena kartu asmu aku sudah tau sejak dulu sebelum aku bekerja di rumahnya Tuan Arsyad Hakim, jadi tidak perlu mengelak kau hanya perlu manut dan tidak melawan semua perkataan ku saja,"
Alona mengepalkan tangannya dengan kuat," sial! Kenapa bisa dia mengetahui jika anak yang aku kandung adalah anaknya Mas Ferdi Armand bukan anaknya Fadlan, padahal selama ini aku perhatikan dia seperti orang bego,lugu dan polos tapi, ternyata cukup banyak tahu apa yang sudah aku lakukan, jadi jalan satu-satunya aku harus bekerja sama dengannya tanpa mas Ferdi mengetahui kebenarannya," Alona menggertakkan giginya itu hingga terdengar bunyi gemelatuk.
Aliza berlalu dari hadapannya Alona yang nampak jelas terlihat marah dan tidak terima jika kebusukannya terendus dan diketahui oleh perawat suami di atas kertasnya itu.
Alina Ariesta mendorong kursi rodanya Fadlan dengan hatinya yang kacau karena, dia takut jika Mama angkatnya mengetahui jika ia sudah bertemu dengan Fadlan.
"Kenapa aku takut ketahuan oleh Mama Atikah Aminah, aku seperti seseorang pembohong dan pencuri saja yang ketakutan, padahal kejadian itu sudah lama lagian kami sudah tidak muncul didepan mereka, pertemuanku hari ini dengan Abang karena tanpa sengaja.
Acara semakin ramai dan cukup lancar dan sukses terselenggara dengan baik. Alina Ariesta yang sedang menidurkan putranya di dalam sebuah kamar khusus yang sudah dipersiapkan oleh Damar kakek kandung anaknya itu.
Fadlan segera meminta tolong kepada Aliza untuk membantunya mengantarkan dirinya ke dalam kamar itu. Mereka sudah berada di depan pintu. Baru saja hendak ingin mengetuk pintu, tangannya terpaksa menggantung di udara karena pintunya sudah terbuka dari arah dalam.
"Abang, Mbak Aliza," sapanya Alina Ariesta sambil menutup rapat pintu kamar putranya yang sudah tertidur.
"Alina apa aku boleh berbicara padamu? Sebentar saja cukup lima belas menit," mohonnya Fadlan.
"Boleh, tapi sebaiknya kita bicaranya di balkon depan kebetulan aku perhatiin malam ini adalah bulan purnama," jelasnya Alina.
"Aliza kamu tinggalkan aku bersama Alina Ibu dari putraku," ucapnya Fadlan.
"Baik Tuan Muda," balasnya Aliza.
"Makasih banyak Mbak," sahutnya Alina sebelum Aliza pergi dari sana.
Alina segera mendorong sekuat tenaga kursi rodanya Fadhlan ke arah balkon belakang rumah megah itu yang berdiri kokoh.
"Benar katamu, indah banget malam ini, cahaya bintang dan sinar rembulan itu memang indah tetapi, wajahmu lebih cantik jika dibandingkan dengan taburan bintang dan sinar bulan itu," pujinya Fadlan.
Alina tersipu merona merah seperti buah tomat matang mimik wajahnya Alina Ariesta mendengar pujiannya Fadlan.
"Abang bisa saja mujinya, padahal aku masih seperti dulu, hanya gadis biasa saja berkat uluran tangannya papa Arsyad dan Mama Atikah Aminah aku bisa seperti sekarang ini," tukas Alina.
"Alin,kamu pergi kemana saja beberapa tahun ini, aku selalu mencari keberadanmu tapi bagaikan hilang ditelan bumi tanpa jejak,"
"Alhamdulillah ada kenalan bapak kandungku yang mengenali saya dan katanya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada bapak karena berkat jasa-jasa dan pengorbanan bapak beliau masih hidup sampai detik ini, karena semua kebaikan dan ketulusan bapakku, sehingga aku bisa seperti ini," terangnya Alina yang duduk di salah satu kursi sambil memandangi keindahan malam itu bersama pria yang masih sangat ia cintai itu.
"Apa kamu tahu tidak kalau Abang sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi, bagaimana dengan yang kamu rasakan?" Tanyanya balik Fadlan.
Alina tersenyum ke arahnya Fadlan dengan penuh kelembutan," kalau boleh jujur aku juga sangat bahagia Abang, bahkan aku mengira jika kita tidak akan bertemu lagi selamanya dan satu hal yang perlu kamu ketahui jika hatiku selamanya milik Abang hingga detik ini," ungkap Alina.
Apa yang diungkapkan oleh Alina Ariesta begitu besar pengaruhnya hingga membuatnya seperti akan terbang melayang naik ke langit saking bahagianya mendengar perkataan dari mulut perempuan yang sejak kecil sudah ia sayangi itu.
Fadlan mendorong sedikit kursi rodanya itu dan meraih batang bunga-bunga yang berada di samping kanannya. Ia mengikat ujung batang daun itu hingga membentuk lingkaran penuh menyerupai sebuah benda penting. Setelah selesai, Fadlan meraih tangannya Alina.
"Alin apa kamu bersedia untuk menikah denganku?" Tanya Fadlan sambil memegangi tangan kirinya Alina dengan tangannya yang satu memegang lingkaran yang bentuknya seperti cincin.
Air matanya menetes membasahi wajahnya itu,dia tergugu dalam tangisnya ia tidak menyangka jika hal yang sejak lama dia impikan hari ini akhirnya terkabul juga.
"Alina aku mohon jawablah," bujuknya Fadlan.
Alina menganggukkan kepalanya dan setuju dengan permintaan dari pria yang dicintainya setulus hatinya dan menjadikan dirinya sebagai seorang Ibu tunggal diusianya baru dua puluh tahun kala itu.
sementara alina anak angkat mereka berdua..
sangat sah mereke berdua menikah