Sheeva terpaksa menerima perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Suatu hari, dia memergoki Amaar tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris calon tunangannya itu. Merasa terhina, dia melabrak mereka dan mengancam akan memberitahu Damian bahwa pria pilihannya itu adalah lelaki berengsek. Namun, Amaar bersikap santai seakan tak merasa takut sebab tahu jika Damian tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti nyata.
Sheeva yang kesal pergi meninggalkan ruangan CEO dan meluapkan keluh kesahnya itu kepada Azam, sopir pribadi gadis itu. Akibat sering bertemu membuat benih cinta muncul di hati keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan menjalin kasih di belakang orang tua dan calon tunangan Sheeva.
Lalu, bagaimana perjalanan cinta mereka? Akankah berakhir bahagia walau banyak ujian datang menghadang? Apakah orang tua Sheeva setuju saat mengetahui bahwa putri mereka menjalin kasih dengan seorang sopir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal
Amora semakin membaur ke dalam keramaian ketika rombongan Renata dengan agensi Top Models yang datang bersama Sheeva sudah terdengar di pintu depan. Sebisa mungkin, dia tidak kelihatan oleh siapa pun agar tidak ada yang tahu mengenai rencana busuknya dengan Renata. Dia sudah memastikan pelayan yang dibayar olehnya paham untuk siapa minuman dengan obat tidur dan jumlah buah zaitun yang berbeda itu.
Dia segera menyelinap dan pergi dari sana untuk menghubungi awak media dan mengabadikan sisi memalukan Sheeva yang akan menghancurkan keluarganya.
Amora menghubungi Tere untuk meminta bantuan mengundang awak media datang ke clab malam tersebut. "Cepat panggil para pemburu berita ke club malam yang biasa dikunjungi Bosmu."
"Tapi untuk apa menghubungi wartawan segala? Memangnya Mbak Amora telah menyusun rencana apa dengan Mbak Renata?" Tere penasaran sebab Renata tak memberitahunya terlebih atas rencana yang disusun bersama Amora.
"Bilang aja akan ada berita seru yang kelak menaikan rating surat kabar dan tayangan berita mereka. Udah, buruan hubungin mereka!"
Tere segera menghubungi beberapa awak media dan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Amora mengenai berita menarik yang akan naik ke rating tinggi itu. Meski beberapa awak media cukup ragu dengan informasi Tere, tetapi mereka tidak mau melewatkan kesempatan tersebut. Maka datanglah para awak media tersebut ke club malam untuk menyaksikan berita yang katanya akan menaikkan rating surat kabar dan tayangan berita mereka.
Tere menghampiri Amora yang berdiam diri agak jauh dari keramaian. Awak media sudah mulai berdatangan di depan club dan mulai bertanya-tanya di mana berita yang katanya menarik itu.
“Ada berita apa sih?” bisik Tere di telinga Amora. Pandangan mata asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Renata mengarah kepada sekumpulan manusia yang pekerjaannya memburu berita artis tanah air.
Amora menyeringai, tetapi Tere tidak melihat hal itu. Kondisi penerangan club yang remang-remang dan penuh lampu disko warna-warni membuat ekspresi licik di wajah Amora tersamarkan.
“Rahasia dong. Nanti juga lo tahu. Antar para awak media itu ke kamar yang paling ujung. Berita menariknya ada di sana.” Jari telunjuk Amora menunjuk salah satu kamar yang ada di lantai dua.
Selain menjadi tempat nongkrong, club itu dilengkapi fasilitas kamar lengkap dengan isinya sehingga para tamu yang lelah berjoged dapat menginap di sana.
Tere mengernyit alis. “Ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana mengenai berita ini?”
Amora memutar bola matanya malas. Menurutnya asisten Renata ini cukup kepo, ingin tahu semua urusannya.
"Enggak penting. Yang jelas, gue mendapatkan informasi ini secara valid, jadi awak media itu enggak akan kecewa.”
Tere sebenarnya ragu, tetapi dia memilih mengiyakan saja perkataan Amora. Dia segera menuju ke kerumunan awak media yang mulai menjadi pusat perhatian para pengunjung club.
"Maaf, kalian mau apa datang ke sini? Kenapa membawa kamera segala?" Salah satu petugas keamanan berpakaian serba hitam dan berbadan kekar mencekal sekelompok pemburu berita masuk ke dalam club.
"Kami ingin mencari berita yang konon katanya akan menjadi viral di dunia maya."
"Benar. Saya adalah wartawan di Xxxx dan ini tanda pengenalku dan rekan-rekan yang lain." Wanita berambut pendek sebahu menunjuk ID card yang menggantung di leher. Nama serta nama tempatnya bekerja tercantum jelas di sana.
Kedua pria kekar itu saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka berkata, "Tetap tidak bisa. Kami tidak dapat membiarkan sembarang orang masuk ke sini."
Akan tetapi, para awak media tak mau tahu. Mereka memaksa masuk walau tidak diizinkan oleh petugas keamanan. Aksi dorong mendorong pun terjadi, baik kedua penjaga maupun pemburu berita tak ada yang mau mengalah.
Melihat kegaduhan yang terjadi di club tempatnya bekerja, manajer club datang menghampiri bersamaan dengan Tere yang tiba di depan pintu masuk.
Melangkah maju ke depan lalu meminta sedikit waktu untuk berbicara secara empat mata. "Begitu ceritanya, Pak. Kedatangan mereka cuma sebentar kok di sini. Setelah mendapat apa yang dibutuhkan mereka akan pergi dengan sendirinya."
Manajer itu tampak berpikir sejenak, mencoba memikirkan keputusan apa yang tepat dalam hal ini. Sungguh dia bingung sendiri karena khawatir salah langkah dan justru pekerjaannya yang menjadi taruhan.
"Bagaimana, apa Bapak memberi izin kepada rekan wartawan untuk masuk ke dalam?" Raut kebingungan terpancar jelas di wajah manajer club.
Menghela napas panjang dan berat. "Baiklah, saya beri izin kalian masuk ke dalam club. Namun, ada beberapa syarat yang harus ditaati sebagai imbalan karena sudah memperbolehkan mereka meliput berita di club tempat saya bekerja."
Kesepakatan di antar mereka terjadi. Manajer club tidak mau apabila para wartawan menyebutkan nama club tersebut di setiap artikel, berita, atau surat kabar yang akan rilis. Tere menyetujui. Dia menjamin bahwa nama kelab malam ini tidak akan terekspos sama sekali. Pihak manajemen club membuat perjanjian tertulis yang menyatakan bahwa mereka berhak menuntut awak media itu jika nama club tersebut sampai muncul ke publik.
Para awak media itu segera digiring ke sebuah kamar yang ditunjuk oleh Amora. Mereka sudah siap dengan kamera berresolusi tinggi di tangan untuk mengabadikan apa pun yang ada di depan mata mereka. Pintu kamar itu dibuka dengan mudah karena sama sekali tidak terkunci.
Keramaian awak media itu juga diikuti dengan orang-orang agensi Top Models yang ada di sana. Mereka juga penasaran dengan apa yang terjadi. Begitu pintu kamar dibuka, semua orang terkejut dengan siapa sosok yang ada di sana. Para wartawan langsung menjepret dengan brutal.
Renata ada di kamar itu, berbaring dengan seorang pria tak dikenal yang memeluk pinggangnya. Orang-orang dari agensi Top Models juga terkejut dengan skandal yang ada di depan mata mereka.
Dari kejauhan, Sheeva mengernyit ketika melihat keramaian yang ada. Dia segera menghampiri tempat itu karena penasaran dengan apa yang terjadi. Dia benar-benar terkejut ketika mengetahui pemandangan yang sedang menjadi santapan empuk para wartawan itu.
“Renata…” gumam Sheeva pelan.
Sheeva memang pergi sebentar dari keramaian tadi. Dia sedang menerima panggilan dari Azam, kekasihnya. Sheeva tak mau mengganggu jalannya perayaan yang katanya untuk menyatakan perdamaiannya dengan Renata, jadi dia langsung menyelinap begitu saja dan tidak mengatakan apa-apa kepada rekannya. Lagi pula, mereka tampak begitu asyik berpesta dan Sheeva tidak mau mengganggu kesenangan tersebut.
“I-Ini, kenapa bisa seperti ini?” tanya Sheeva kepada Vanessa.
Vanessa tampaknya juga tidak menyangka jika Renata akan berada dalam posisi memalukan seperti itu. Belum lagi dengan banyaknya wartawan yang datang dan memotret kondisi dirinya saat ini. Saat foto-foto itu rilis ke media, reputasi Renata akan benar-benar hancur.
Wajah Vanessa memucat. Keringat dingin mulai mengucur di kening. Begitu yakin akan ada berita besar tersebar besok pagi di sosial media.
“Gue enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gue lagi asyik party dengan yang lain dan enggak tahu kenapa Renata bisa ada di sini," jawab Vanessa tergagap. Kemudian menoleh ke samping. "T-tadi ... lo ke mana, Va?"
"Pergi keluar sebentar untuk menerima panggilan penting. Karena suara musik DJ terlalu keras, gue memutuskan keluar agar dapat mendengar jelas suara si penelepon."
Vanessa mengangguk. Tidak ada yang menyangka bahwa pesta yang katanya merayakan perdamaian antara Renata dan Sheeva akan berakhir dengan skandal besar seperti ini.
***
Niat buruk yang ditujukan kepada Sheeva malah berbalik kepada Renata sendiri. Beberapa waktu lalu ketika Amora meminta salah satu pelayan secara random untuk memasukkan obat tidur yang dia bawa ke dalam minuman Sheeva, dia tahu mengenai niat buruk tersebut. Dia adalah pelayan yang berbeda, tapi Amora tidak menyadarinya.
“Kamu mengerti, ‘kan?” tanya Amora memastikan ketika dia diam-diam menyerahkan obat tidur ke tangan pelayan itu.
Pelayan itu diam dan hanya mengangguk.
Amora menyeringai. Dia mendekat dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku seragam pelayan itu.
“Anggap saja sebagai tip khusus karena telah membantuku. Ingat, jangan ada siapa pun yang tahu. Jika ada yang tahu, pekerjaanmu di sini juga akan terancam berakhir. Aku bisa menghancurkan karirmu di kelab malam ini jika kau mengacau.”
Lagi-lagi pelayan itu hanya mengangguk mendengarkan ucapan Amora. Dia segera pergi setelahnya, dan pelayan itu langsung memasukkan obat tidur itu ke minuman yang berbeda.
Pelayan itu menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Sebelum Amora datang dan secara diam-diam menyelipkan uang tip khusus ke saku seragamnya, dia sudah lebih dulu disewa oleh orang lain yang lebih professional. Dia sudah mendapatkan informasi bahwa Renata dan Amora akan mencelakai Sheeva, jadi dia ditugaskan untuk membalikkan keadaan dan membuat senjata yang ditodongkan oleh dua wanita itu berbalik kepada mereka.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya orang yang mempekerjakan pelayan itu untuk menyelamatkan Sheeva dan mengembalikan rencana buruk itu kepada orang yang berniat mencelakainya, tetapi yang jelas orang itu tidak tinggal diam dan tidak mau Sheeva dalam bahaya. Tugas itu tersusun rapi, dan pelayan suruhan itu melakukan semuanya tanpa seorang pun tahu.
...***...
jangan pisahin mereka
biarkan mereka bersatu
bagus ceritanya
Azam bukan orang miskin, sudah
tua berpikir seperti bocah,
nantinya sama amar mau bahwa
sudah berselingkuh dan celap celup
sana sini