Indonesia
NovelToon NovelToon
PESAN KEMATIAN

PESAN KEMATIAN

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Rumahhantu / Thriller / Roh Supernatural / Hantu / Iblis / Horor / Tamat
Popularitas:129.1k
Nilai: 5
Nama Author: Novi putri ang

Juara 2 Lomba Novel Horor 2023.

Season 1 Desa rawa belatung.
Season 2 Penelusuran gaib rania.
Season 3 Tumbal panti jompo.

Berawal dari ditemukannya buku catatan di sebuah kamar kost. Kamar yang dulunya di tempati oleh seorang gadis lugu. Ia merantau dari desa untuk bekerja di pabrik garment. Sejak ia ditemukan tewas di bangunan kosong yang tak jauh dari kostnya, banyak kejadian misterius yang terjadi di kost itu. Satu persatu teman-teman satu kost nya mendapatkan pesan misterius, yang berisi peringatan atau semacam ancaman. Pesan yang berupa selembar surat ataupun pesan singkat melalui ponsel, tiba-tiba dikirimkan untuk mereka.

Jika mereka tak melakukan apa yang dituliskan di pesan tersebut, maka mereka akan celaka dalam waktu yang sudah ditentukan di pesan tersebut. Sebuah pesan kematian yang akan mengantar mereka yang mendapatkannya bertemu dengan malaikat maut.

Tak ada yang tau siapa pengirim pesan kematian tersebut. Mungkinkah roh gadis itu gentayangan untuk membalas dendam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 SINGING BOWL?

Tiiing... Tiiing... Tinggg...

Suara sesuatu yang seperti dipukul secara berulang kali, terdengar nyaring. Karena penasaran, Putri melihat keluar kamar. Nampak Mbak Ijah sedang berjalan dengan membawa mangkuk berwarna perunggu yang ia pukulkan dengan tongkat besi berwarna senada. Alat itu bernama singing bowl. Sebuah alat yang sudah digunakan sejak lama dan sangat familiar di dunia supranatural.

Terdengar lantunan tembang jawa yang di ucapkan Mbak Ijah seraya memberikan pengumuman penting untuk para penghuni kost.

Angkara gung neng angga anggung gumulung.

Gegolonganira.

Triloka lekeri kongsi.

Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Begitulah suara tembang yang dilantunkan Mbak Ijah. Terdengar sedikit mistis, dan penuh dengan kesan wingit.

"Besok pagi kalian harus meninggalkan kost ini untuk satu hari satu malam. Karena keluarga besar Bu Melati dan Pak Harto akan berkumpul disini, jadi mereka membutuhkan privasi. Seperti yang sudah kalian tau di awal masuk ke kost ini, di setiap enam bulan sekali kalian harus meninggalkan tempat ini. Namun karena ada urusan yang mendesak, keluarga besar memutuskan untuk mempercepat acara. Sehingga pagi nanti kalian dipersilahkan meninggalkan kost. Dan bisa kembali keesokan harinya. Selain itu, saya juga perlu waktu untuk membersihkan setiap sudut ruangan. Jadi mohon pengertian kalian semua. Buat yang sudah mendengar pengumuman dari saya ini, bisa disampaikan ke teman sebelah kamarnya. Jika ada yang mau ditanyakan, silahkan cari saya di ruang belakang." Jelas Mbak Ijah berbicara seraya memukulkan tongkat besi ke mangkuk perunggu yang ada di tangannya.

Putri berdiri mematung di depan kamarnya. Ia melihat Mbak Ijah tanpa mengedipkan mata.

"Apa ada yang mau ditanyakan Mbak?" Tanya Mbak Ijah menghentikan langkah di depan kamar Putri.

Putri terkejut melihat perempuan paruh baya itu sudah ada di depannya. "Gak ada apa-apa kok Mbak, saya hanya kaget, kenapa mendadak sekali ngasih tau nya. Apa kondisi Bu Melati sudah lebih baik?" Jawab Putri dengan mengajukan pertanyaan.

Mbak Ijah mengembangkan senyumnya. "Beliau pasti akan lebih baik setelah bertemu dengan keluarga besarnya. Akan banyak kebahagiaan yang pasti didapatkan keluarga ini, meski banyak tragedi yang terjadi di kost. Karena itulah saya juga akan melakukan pembersihan secara total." Jelas Mbak Ijah sebelum melangkahkan kakinya pergi. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkah, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Putri.

"Oh iya, saya lupa menyampaikan pesan Bu Melati. Kalau Mbak Putri tak mempunyai tujuan lain sebagai tempat singgah untuk besok. Beliau menawarkan tempat singgah, sebuah paviliun yang ada di seberang jalan rumah ini untuk ditempati sementara. Gak hanya Mbak Putri saja yang ditawarkan untuk tinggal disana. Tapi ada tiga orang yang akan menumpang disana. Jadi Mbak Putri gak akan sendirian." Imbuh Mbak Ijah dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Wah kebetulan sekali Mbak. Saya memang gak ada tujuan lain. Karena sewaktu saya setuju dengan syarat di awal itu, saya pikir masih lama kan beberapa bulan lagi. Gak tau nya dalam waktu dekat ini. Siapa saja yang akan tinggal di paviliun itu Mbak?"

"Ada Mbak Febi dan Mas Wawan. Tadi Bu Melati sudah langsung menghubungi semua penghuni kost melalui grup chat. Tapi ada beberapa yang gak masuk ke grup, seperti Mbak Putri dan beberapa orang lainnya. Makanya saya langsung turun untuk memberikan pengumuman ini. Jadi bagaimana, apa Mbak Putri bersedia tinggal disana?"

Putri menganggukkan kepala seraya menyunggingkan senyumnya. Terlihat beberapa orang mulai mengemasi pakaian yang akan dibawa. Mereka sibuk mengambil pakaian dari ruang cuci. Putri melihat satu persatu orang, mereka terlihat cuek dan tak saling sapa.

"Jadi kaya gini kehidupan orang kota yang sebenarnya. Gak ada ramah-ramahnya sama sekali. Padahal aku udah tersenyum di depan mereka, tapi tanggapannya gak enak banget, cuma noleh doang!" Gumam Putri pada dirinya sendiri.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh belas tiga puluh. Sebentar lagi sudah memasuki waktu magrib. Putri sudah selesai mandi dan memakan rendang buatan ibunya. Ia ingin membagi masakan ibunya dengan Febi. Namun Febi belum kembali ke kost, dan setelah ia menerima balasan pesan dari Febi, barulah Putri tau jika temannya itu sedang berada diluar kota. Ia akan sampai di Jakarta subuh nanti, dan akan langsung pindah ke paviliun.

"Kok kebetulan banget ya, teman Febi dan Arum pindah di hari yang sama. Atau mereka memang sebenarnya berteman?" Gumam Putri dengan menggaruk kepala yang tak gatal.

Ia kembali merenung, teringat kejadian siang tadi. Bulu halusnya meremang jika teringat setiap sentuhan sosok yang tak ia lihat wujudnya siapa. Samar-samar terdengar suara adzan maghrib. Putri berniat shalat, dan mengambil air wudhu di kamar mandi. Namun tiba-tiba lampu yang menggantung di atasnya redup. Putri meraba-raba berusaha membuka pintu kamar mandi. Namun bukannya gagang pintu yang ia pegang, justru sebuah tangan yang terasa dingin seperti es. Ada aroma bunga kasturi yang menyebar disana. Putri terpojok kembali mengingat kejadian siang tadi. Aroma bunga kasturi semakin pekat seakan mendekat ke arahnya. Hembusan hangat dapat ia rasakan di depan wajahnya. Seakan ada yang sedang bernafas persis di depannya. Tubuh Putri bergetar hebat, ia menahan air mata yang sudah hampir menetes. Bahkan ia juga menahan nafas, karena takut jika sosok yang ada di depannya kembali menyentuh setiap jengkal tubuhnya.

Braaaks...

Pintu dibuka paksa dari luar. Nampak Wawan berada di depan pintu dengan membawa linggis di tangannya. Putri langsung bergelayut di lengan pemuda itu. Peluh membasahi seluruh wajahnya, nafasnya pun berderu kencang dengan tubuh yang bergetar.

"Lu kenapa diem aja di dalam? Gue kira gak ada orang. Soalnya gue ketok-ketok gak ada yang nyahut. Dan pintu kamar mandi ini emang kadang susah dibuka, harus dicongkel dulu dari luar. Katanya sih udah mau dibenerin, jadi sorry ya kalau gue lancang congkel pintu ini." Jelas Wawan panjang lebar, namun tak digubris sama sekali oleh Putri.

Putri hanya diam tanpa mengatakan apapun. Hanya ada ketakutan di dalam matanya. Wawan memintanya duduk, lalu mengambilkan segelas air. Tanpa jeda Putri langsung meneguk air itu sampai habis. Tak berselang lama Mbak Ijah datang dengan membawa nampan yang berisi bunga dan buah-buahan. Ia mengaitkan kedua alis mata, menatap Putri dengan serius.

"Aku wes paham, dadi iki pilihanmu Le." Ucap Mbak Ijah dengan tersenyum miring. Lalu ia menghampiri Wawan yang kebingungan melihat Putri diam tanpa mengatakan apapun.

"Biar saya yang bicara sama Mbak Putri Mas." Mbak Ijah memejamkan kedua mata seraya komat-kamit membaca mantra. Lalu ia meletakkan telapak tangannya di kedua mata Putri.

Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Putri mulai merespon. Ia langsung menangis sesegukan dengan menundukkan kepala. Wawan ketakutan, mengira jika Putri menangis karena ulahnya yang lancang membuka paksa pintu kamar mandi dari luar. Padahal yang sebenarnya terjadi bukan demikian.

1
Sri Wiludjeng
pendek banget cerita nya ...
tapi tetep keren dan bagus kok ceritanya /Smile/ /Good/
Farrah Rah Zarrah
Luar biasa
Else Widiawati
smangatttttt
Else Widiawati
kapan cerita selanjutnya ini kak novi....sekian purnama blm nongol juga
Salwaapilia Nuraeni
Kira" apa yah yang terjadi di kamar kost bekas ayu apakah ada yang aneh /Slight/
🥀princes_novel❤️🥀
akhirnya Rania muncul seneng banget lw ada Rania ,Adit dan mbak ayu🤭🤭🤭
Ridho Widodo
cerita yg membosankan..ending g jelas dan pemeran sok detektiv tp goblok..
Leo: yaudah si/Shy/
total 3 replies
Ridho Widodo
goblok putri
kok gue curiga sama bapaknya.
Kasih ibu sepanjang masa.
Dewintan New
bguss
ashieeechan
/Smile//Smile//Smile/
ashieeechan
/Panic//Panic//Panic//Panic/
Levha
mampir👣👣
Sisca Yakub
😭
FiaNasa
makin gak suka sama sikap putri nih,,udah gak pernah melaksanakan ibadah nya,,hanya penasaran terus yg ada untuk membongkar misteri kematian kakaknya,,trus klau makan apa gak baca bismillah dulu ya,,makanya gampang terkena pengaruh mereka
FiaNasa
mungkin Bu melati yg bikin putri slalu lalal dlm.ibadahnya,,mungkin kena mantra saat makan bersama Bu melati itu,,bukankah roh ayu sudah mengatakan jgn makan apapun ditempat Bu melati tp putri gak menuriut
FiaNasa
bodohnya si putri,,knp gak menuruti pesan ayahnya..
ㅤㅤ
see you kak..
ku tunggu novel baru.ny tentang wati..
XoffeLatte
apa mawar ini anak bapak nya putri sama bu melati 🥲
Woro Setiyani: iya spertinya..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!