“Laki-laki mana yang mau menikahi wanita mandul?” sinis ibu Mimi, selaku ibu mertua Alina.
Dituduh mandul lantaran tak kunjung hamil setelah lima tahun pernikahan. Kemudian dipoligami, tapi berakhir dicerai karena menolak menjadi pembantu untuk sang madu yang lagi-lagi hamil. Alina Princesela Kalandra, merasakan semua itu. Namun setelah resmi menjadi janda, Alina yang sempat terjebak ‘cinta satu malam’ dengan Dharen sang bos, justru dinyatakan hamil!
Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa wanita tangguh yang dianggap hina oleh mantan suami, mantan ibu mertua, bahkan pihak dari madunya hanya karena Alina orang kampung sekaligus dianggap mandul, justru hamil? Parahnya, Alina terancam menjadi nyonya besar. Sementara Dharen yang berasal dari keluarga kaya raya, merupakan bos Yusuf—mantan suami Alina.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 : Ini Belum Apa-Apa, Mas!
Tidak ada sarapan karena rumah saja masih berantakan. Sementara Rita, jangankan sudah mandi, shalat subuh saja, Rita tidak melakukannya.
“Memangnya kamu enggak bangunin?” sergah ibu Mimi.
Yusuf yang melangkah tergesa keluar dari kamar, jadi makin jengkel akibat pertanyaan tersebut. “Lah enggak kurang-kurang. Katanya anak pondokan dan terbiasa puasa. Pilihan Mama, kan?” ucap Yusuf sambil melirik sinis sang mama.
Ibu Mimi langsung tak bisa komentar. Karena biar bagaimanapun, adanya Rita dalam kehidupan mereka, memang ia juga yang menyebabkannya.
Demi menikahi Rita yang ibu Mimi yakini akan memberi Yusuf keturunan, ibu Mimi sampai mengeluarkan semua tabungannya. Bahkan karena uang untuk sewa hotel secara mendadak tidak murah, diam-diam, ibu Mimi juga jadi terlilit pinjaman. Parahnya, akibat menikahi Rita juga, Yusuf terancam kehilangan pekerjaan. Jadi, mau tidak mau, ibu Mimi harus memutar otak bagaimana caranya agar dirinya segera mengumpulkan dana. Pinjaman yang ia lakukan tanpa sepengetahuan Yusuf, harus segera dibayar.
“Alina wajib balik. Dia wajib bantu kumpulin biaya. Toh, salah siapa dia mandul!” batin ibu Mimi.
“Terus, si Rita juga wajib dibiasakan kerja. Masa iya, hidup enggak berguna!” lirih ibu Mimi sembari memasuki kamar Yusuf.
Di kamar Yusuf yang tadinya juga sempat ditempati Alina, Rita bahkan masih memakai gaun malam transparan. Rita sampai ngorok dan benar-benar pulas. Sebagian tubuh bagian bawahnya terlilit rapat oleh selimut.
“Pantas lah badannya subur kebangetan. Jam segini saja masih belajar jadi mayat! Jangan-jangan, hidup Rita memang hanya tidur dan makan, makanya tubuh bahkan perutnya saja kayak obesitas!” keluh ibu Mimi yang kemudian mengguncang-guncang tubuh Rita.
“Ya ampun ... ini anak belajar mati apa gimana? Masa iya, dibangunin enggak bangun-bangun?” keluh ibu Mimi kewalahan.
Karena segala cara membangunkan Rita tak ada yang berhasil, ibu Mimi memutuskan untuk mengguyur wajah Rita.
“Kebakaran ... kebakaran!” latah Rita yang langsung membuat ibu Mimi meliriknya makin sinis.
Rita terbangun, tapi langsung bingung. Karena bukannya wajah tampan Yusuf yang menyambut paginya, yang ada malah wajah sinis ibu Mimi.
***
Alasan Yusuf berangkat ke kantor lebih awal, tentu karena Yusuf ingin berbicara empat mata dengan Alina. Yusuf sudah mencoba menghubungi Alina, tapi tak ada satu pun usahanya yang berhasil.
Yusuf mengakui keputusannya tidak mengabari Alina mengenai pernikahannya dan Rita, salah. Namun bagi Yusuf, harusnya Alina paham, bahwa Yusuf melakukan itu karena Yusuf ada di posisi yang sangat sulit.
“Akhirnya ...,” lirih Yusuf ketika Alina yang ia tunggu, akhirnya datang.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit lamanya, Alina datang menggunakan motor perusahaan. Alina memakai celana panjang dipadukan dengan kemeja dan jas. Penampilan yang jauh dari kesan se.ksi. Namun pada kenyataannya, Alina memang memiliki tubuh yang sangat bagus. Hingga apa pun pakaiannya, Alina tetap terlihat menarik. Ditambah lagi, semenjak minggat dari rumah Yusuf, Alina malah makin cantik. Alina tampak jelas melakukan perawatan kecantikan besar-besaran.
Saking niatnya ingin bertemu dengan Alina, Yusuf sengaja menunggu di tempat parkir. Akan tetapi, tebak apa yang terjadi. Alina yang telanjur gedek kepada Yusuf, tak segan berusaha menab.raknya. Ke mana pun Yusuf menghindar, ditambah lagi tempat parkir yang sepi, membuat Alina terus mengejar.
“S—sayang ... Sayang, ... udah dong. Aku sudah berusaha adil!”
“Demi.t kamu ya! Setelah apa yang terjadi, kamu masih berani manggil aku sayang? Sini maju, biar aku gilas kamu jadi dendeng suami lucknut!”
“S—sayang, harusnya kamu tahu, posisiku beneran enggak mudah. Apapun akan aku lakukan asal aku masih bisa mempertahankan hubungan kita!”
“Nadjis banget!” Alina yang tak mungkin menabr.ak Yusuf karena pria itu malah memanjat terali benteng tempat parkir, memilih turun dari motor. Namun, setelah melepas helm, Alina menggunakan helm berwarna hitam itu untuk memu.kuli Yusuf. Tak lupa, pangkal paha selaku organ paling berharga Yusuf sebagai laki-laki juga tak luput dari amu.kan Alina.
“Pelan-pelan, kamu bakalan merasakan sakit yang aku rasakan, Mas! Kamu akan merasakan rasa sakit berkali-lipat dari yang sekarang aku dan keluargaku rasakan!” tegas Alina pada Yusuf yang sampai terkapar kesakitan di lantai parkiran.
“Ya ampun Sayang, ... bukannya sarapan makanan, ini aku malah sarapan amu.kan kamu!” rengek Yusuf.
“Kamu enggak usah sayang-sayang ke aku. Yang cocok kamu sayang-sayang itu si buntelan kentut kesayangan ibumu!” kesal Alina memilih pergi tanpa sedikit pun iba kepada Yusuf.
Bahkan meski Yusuf tak hentinya meri.ntih meminta tolong, hati sekaligus hidup Alina sudah telanjur memblokir pria itu dari kehidupannya.
Ternyata berita viral pernikahan Yusuf dengan Rita yang melibatkan Alina maupun Dharen di dalamnya, juga sampai ke orang-orang perusahaan. Yusuf dan Alina sama-sama dipanggil oleh kakek Restu. Keduanya disidang, disaksikan oleh Dharen dan juga pak Devano.
“Tapi apa yang Dharen katakan benar loh. Istri muda kamu mirip buntelan kentut. Bagus sih, ini membuktikan bahwa ibu Alina terlalu berharga untuk pria seperti pak Yusuf. Dikasih istri spek Masya Allah, malah ngambil yang musibah,” ucap pak Devano yang sekadar melirik Yusuf, sudah tak sudi. “Aku no, beneran enggak mau menerima dia di sini lagi. Apalagi Papa tahu banget, aku paling enggak bisa ada wanita apalagi seorang istri tersa.kiti. Dan fatalnya, ini Alina, anaknya karib kita!”
Tiba-tiba saja Yusuf merenungi status Alina yang ternyata masih memiliki hubungan baik dengan bos besar mereka. Yusuf sungguh baru tahu. Pantas Alina terus ditunggu kehadirannya di perusahaan. Bahkan meski Alina sudah tidak bekerja selama lima tahun lamanya.
Setelah mendengarkan saran dari pak Devano, kakek Restu memfokuskan tatapannya kepada Yusuf. Di hadapannya, Yusuf berdiri bersebelahan agak berjauhan dari Alina. Sementara di kursi sebelah Alina, Dharen masih menatap jengkel Yusuf. Namun berbeda dari biasanya, kini wajah Yusuf penuh lebam. Sekadar menggerakkan bibir saja, Yusuf tampak kesakitan. Tentu itu terjadi karena diam.uk Alina, tapi tak ada satu pun yang mengetahu
“Kalau memang, Pak Yusuf masih ingin bekerja di perusahaan kami, ini akan membuat Pak Yusuf sulit,” ucap kakek Restu.
Yusuf berdeham kemudian menunduk. “Saya pasrah, ... saya siap mengundurkan diri karena ibu Alina memang lebih layak dipertahankan di sini!”
“Jika niat kamu memang mengundurkan diri, pasti ujung-ujungnya, kamu jadi ben.alu juga kayak ibu sama istri baru kamu. Kamu pasti akan mengandalkan penghasilan Alina, makanya kamu juga tetap enggak mau menceraikan Alina!” semprot Dharen yang kemudian berkata, “Jan.cuk emang kamu ya. Pantas kamu mem.ble enggak punya pendirian, membahagiakan satu istri saja enggak be.cus. Mama kamu saja seson*gong itu!”
Satu hal yang Dharen syukuri. Meski Tuhan membuatnya kehilangan orang tua terlalu dini, ia memiliki fisik, otak, rekening, dan juga pekerjaan yang bukan kaleng-kaleng. Hingga mulutnya yang sudah terbiasa menghin.a orang, tidak akan dipermasalahkan apalagi jika yang dihi.na bukan tandingannya, contohnya saja Yusuf.
“Ibu Alina, apakah Anda ada pembelaan untuk Pak Yusuf?” tanya kakek Restu hingga semua perhatian langsung tertuju kepada Alina.
Yusuf sangat berharap Alina mau membelanya. Namun tidak dengan Dharen maupun pak Devano yang yakin, balasan Alina tidak akan pernah mengecewakan.
“Enggak ... karena niatnya memang akan bercerai Pak. Bagaimanapun prosesnya nanti, saya pasti akan menyelesaikan hubungan kami dengan perceraian. Namun karena pihaknya mempersulit, ya enggak apa-apa, saya layani!” tegas Alina tak sedikit pun melirik Yusuf.
Yusuf benar-benar sedih mendengar itu. Ia bahkan nyaris menangis. Pekerjaan mempuni yang ia tekuni nyaris delapan tahun lamanya, kini tinggal kenangan. Kenangan yang juga jauh dari kata indah.
“Ini belum apa-apa, Mas!” batin Alina meski sampai detik ini, ia tetap diam.
**
Hari ini. Ramaikan juga ya, diigeh NT ;) ❤️❤️❤️*