Perjalanan Alam Fana
Era Kultivasi adalah era di mana kekuatan yang menjadi pemimpin, keadilan hanya pajangan semata. Luo Chen seorang bocah sebatang kara, hidup di era tersebut, meski dengan kecacatan kultivasi. Dia ingin mencapai puncak kultivasi, meski sampai berlumuran darah, dia tetap berusaha hidup, hingga keberuntungan datang kepadanya.
Apakah Luo Chen dapat menghadapi kehidupan hingga akhir ? Mungkinkah Luo Chen bisa mendapatkan keinginannya ? Bagaimana cara Luo Chen menghadapi semua masalah yang datang ?
Mari ikuti cerita ini agar tahu nasib Luo Chen yang malang !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mohamad Zaka Arya Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Lorong Gelap
Luo Huang Chen melangkah perlahan menyusuri lorong yang gelap, dinding-dinding batu di sekelilingnya tampak seperti bayang-bayang kelam yang mengintainya.
Hanya suara langkah kakinya yang terdengar, sementara cahaya dari api yang ia hasilkan dengan elemen api sendiri tak mampu menembus pekatnya kegelapan di depannya. Baru sepuluh langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari belakang.
Dia memutar tubuhnya cepat, tetapi lorong yang ia lewati sudah tertutup rapat oleh batu-batu besar. Jantungnya berdegup kencang, kepanikan mulai menyelimuti pikirannya.
Namun, Luo Huang Chen tahu bahwa kepanikan hanya akan memperburuk keadaan. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Hanya ada satu jalan ke depan," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba membangkitkan keberaniannya. "Aku tidak bisa kembali lagi, jadi aku harus melanjutkan."
Dengan tekad yang semakin bulat, dia melangkah lebih jauh ke dalam goa. Waktu terasa berjalan sangat lambat di tengah kegelapan ini. Entah berapa jam telah berlalu, namun rasa lelah mulai merayap di tubuhnya.
Setiap langkah terasa semakin berat, tapi Luo Huang Chen tetap melangkah maju, sampai tiba-tiba, di kejauhan, ada cahaya kecil yang terlihat. Cahaya itu berasal dari sekelompok batu yang tampak bersinar, menerangi jalur yang gelap gulita.
Saat ia mendekat, batu-batu itu memancarkan cahaya yang semakin terang, menyebar ke seluruh dinding goa. Jalanan yang tadinya kelam kini terlihat jelas.
Cahaya dari batu-batu tersebut memancarkan warna yang berbeda-beda, seolah mereka memiliki unsur elemen tersendiri. Tertarik oleh keunikan batu itu, Luo Huang Chen memungut satu untuk diperiksa lebih dekat.
Saat ia menyentuhnya, batu itu bergetar pelan, mengeluarkan panas yang lembut dan menyenangkan di tangannya. Cahaya yang terpancar dari batu tersebut berwarna merah, dan Luo Huang Chen langsung bisa merasakan bahwa ada energi elemen api yang terkandung di dalamnya.
"Luar biasa," gumamnya sambil memeriksa lebih banyak batu di sekitar. Beberapa batu memancarkan energi air, tanah, bahkan angin. Ini bukan hanya batu biasa—mereka mengandung elemen dasar yang bisa digunakan untuk berbagai hal, baik untuk menempa senjata, membuat pil, atau keperluan kultivasi lainnya.
Tanpa membuang waktu, Luo Huang Chen mulai mengumpulkan batu-batu itu satu per satu. Setiap kali ia menemui batu dengan unsur elemen tertentu, dia menyimpannya dalam cincin penyimpanan.
Beberapa batu terlihat lebih besar dan lebih kuat dibanding yang lain, menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki kegunaan khusus dalam hal menempa atau alkimia.
Jalan yang gelap kini dipenuhi cahaya warna-warni, namun Luo Huang Chen masih terus berjalan, mengumpulkan batu-batu tersebut tanpa henti.
Waktu terasa seolah berhenti. Berjam-jam berlalu, namun Luo Huang Chen tak pernah berhenti. Dia mulai merasakan lelah menggerogoti tubuhnya, otot-ototnya tegang setelah berjalan begitu lama.
Pada akhirnya, dia memutuskan untuk beristirahat di salah satu sudut goa. Mengambil napas dalam-dalam, dia duduk bersandar pada dinding batu dan mengeluarkan jasad monster yang ia bunuh sebelumnya dari cincin penyimpanan.
Dengan kemampuannya mengendalikan elemen api, Luo Huang Chen dengan mudah menyalakan api kecil, memanggang daging monster itu hingga matang sempurna.
Bau harum daging panggang memenuhi udara goa, dan dalam sekejap, rasa lapar yang telah lama ia tahan mulai terasa.
Sambil memakan potongan daging, Luo Huang Chen melirik batu-batu yang ia kumpulkan sepanjang perjalanan tadi. "Ini akan sangat berguna," pikirnya. “Bukan hanya untuk kekuatan, tapi juga untuk pengendalian elemen.”
Setelah kenyang, dia mengeluarkan sebuah kitab dari cincin penyimpanannya—kitab yang ia dapatkan dari ruangan sebelumnya. Kitab ini memuat berbagai teknik pengendalian elemen yang sangat mendetail, mulai dari cara meresap energi hingga bagaimana mengendalikan berbagai jenis elemen dalam situasi tertentu.
Luo Huang Chen mengamati setiap halaman dengan cermat, mempelajari teori dan metode yang disampaikan dalam kitab tersebut. Sesekali, ia mencoba melatih elemen-elemen yang ia temukan menarik, mulai dari api, air, tanah, dan udara. Setiap latihan membuatnya semakin memahami esensi dari kekuatan elemen-elemen ini.
Berbekal air yang telah ia ambil dan simpan di tungku kuno yang ia temukan sebelumnya, Luo Huang Chen tidak khawatir akan kehausan. Ia juga telah mempersiapkan cukup makanan di dalam cincin penyimpanannya, sehingga rasa lapar bukan lagi ancaman besar baginya.
Bahkan, Luo Huang Chen mulai melihat perjalanan ini sebagai kesempatan besar untuk memperkuat dirinya. Setiap hari, dia melatih elemen-elemen tersebut, sembari mengumpulkan lebih banyak batu elemen yang ia temui di sepanjang lorong goa.
Hari demi hari berlalu tanpa ada tanda-tanda cahaya matahari. Luo Huang Chen tidak bisa menghitung berapa lama ia berada di dalam lorong ini. Namun, rasa bosan tidak pernah muncul dalam dirinya.
Setiap kali ia merasa lelah, dia akan beristirahat, mengeluarkan bahan makanan dari cincin penyimpanannya, atau memakan daging monster yang ia buru di lorong goa ini.
Meskipun monster-monster tersebut tampak aneh dan asing, mereka tetap bisa dimakan, memberikan cukup tenaga untuknya bertahan hidup.
Setiap kali ia haus, dia akan mencari kolam kecil di sepanjang jalan. Kolam-kolam ini menyimpan air jernih yang tampaknya mengalir dari sumber bawah tanah. Luo Huang Chen mengambil air tersebut, menyimpannya di dalam tungku, dan meminumnya kapan pun ia butuh.
Rutinitas ini berlangsung berulang kali, sampai ia tak lagi menghitung waktu. Kadang ia bertanya-tanya, apakah waktu benar-benar berjalan di tempat ini, atau apakah dia sudah terjebak dalam dimensi lain?
Namun, Luo Huang Chen tidak menyerah. Semakin lama ia berada di lorong ini, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu yang besar menantinya di ujung jalan.
Meskipun tidak ada cahaya matahari, dia bisa merasakan tubuhnya semakin kuat. Latihan pengendalian elemen yang ia lakukan setiap hari mulai menunjukkan hasil nyata.
Dia bisa mengendalikan elemen api dengan lebih mudah, memanipulasi air untuk membentuk pola, bahkan membuat tanah bergerak sesuai keinginannya.
Kemampuannya berkembang dengan pesat, dan Luo Huang Chen tahu bahwa ketika ia keluar dari lorong ini, dia akan jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Tidak ada cara untuk mengukur berapa lama ia telah berjalan, tapi perjalanannya di lorong ini terus berlanjut tanpa henti. Setiap kali ia lelah, dia akan beristirahat di tempat yang aman, memakan makanan yang ia bawa, dan melanjutkan perjalanan begitu tubuhnya pulih.
Kadang-kadang ia terpaksa berburu monster kecil di lorong untuk bertahan hidup, namun sebagian besar makanan yang ia butuhkan telah tersedia dalam cincin penyimpanannya.
Dengan setiap langkah yang diambilnya, Luo Huang Chen merasa bahwa ia semakin mendekati tujuan yang tak ia ketahui. Lorong ini seolah menjadi medan latihan besar yang disiapkan khusus untuknya—ujian tak berujung yang menantang ketahanan fisik dan mentalnya. Dia tak tahu kapan atau bagaimana lorong ini akan berakhir, tapi satu hal yang pasti: apa pun yang menunggunya di ujung jalan, dia akan siap.
yang ke 14 , elemen waktu ,...
yang ke 15 , elemen asal ,... kayak novel sebelah , hhhhh