Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tokoh di Balik Rumor I

Pagi di Swiss datang bersama hamparan putih yang menutupi halaman villa. Salju turun tipis sejak sebelum matahari muncul, meninggalkan lapisan lembut di atas pagar batu dan pepohonan yang mengelilingi rumah. Danau di kejauhan hampir tidak terlihat karena kabut yang menggantung rendah di atas permukaannya.

Amara berdiri di dekat jendela ruang makan sambil menikmati kopi. Pemandangan di luar begitu tenang hingga suara percakapan dari belakangnya terasa seperti bagian dari suasana pagi itu.

“Gilberth, itu croissant terakhir.”

“Memangnya kenapa?”

“Aku belum makan.”

“Berarti kamu terlambat.”

Susan langsung menatapnya tidak percaya.

“Dasar!”

Gilberth buru-buru memasukkan makanan itu ke mulutnya sebelum Susan sempat merebutnya.

Amara menoleh dan mendapati Leon hanya duduk sambil menikmati sarapannya, seolah keributan kecil tersebut sama sekali tidak berhubungan dengannya.

“Kau tidak mau menghentikan mereka?” tanya Amara.

Leon menggeleng santai.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin menikmati bulan madu.”

Amara mengangkat alis.

“Bulan madu?”

Leon menunjuk ke arah meja makan.

“Lihat sendiri.”

Amara kembali menatap mereka.

Susan masih mengomel, Gilberth tertawa, Elena berusaha menenangkan suasana, sementara Arsen duduk di ujung meja dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia sedang mempertanyakan keputusan hidupnya membawa keluarga sebesar ini ke Swiss.

Amara akhirnya tertawa kecil. Baru beberapa hari menikah, tetapi rasanya ia sudah kembali ke kehidupan lamanya. Rumah yang biasanya tenang kini dipenuhi suara tawa, perdebatan kecil, dan percakapan yang saling bersahutan. Anehnya, justru suasana seperti itulah yang membuat Amara merasa berada di rumah.

Leon memperhatikannya.

“Kau bahagia.”

Amara menoleh.

“Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?”

“Karena wajahmu terlihat berbeda.”

Amara tersenyum tipis.

“Mungkin karena aku sedang tidak memikirkan pekerjaan.”

“Pertahankan.”

“Aku akan mencoba.”

Ponsel Arsen yang terletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Ia melirik layar. Rupanya itu adalah pesan dari Jakarta. Ekspresinya tidak berubah, tetapi tangannya berhenti di atas cangkir kopi. Dan Raka yang duduk tidak jauh darinya menangkap perubahan itu.

“Masalah?”

Arsen membaca pesan tersebut sekali lagi sebelum mengunci layar.

“Laporan dari Compliance.”

Raka menatapnya.

“Rumor?”

Arsen mengangguk.

Amara yang mendengar percakapan itu tidak langsung ikut campur. Ia hanya menyesap kopinya dan membiarkan kedua putranya menentukan apakah informasi tersebut memang perlu dibicarakan di meja makan.

Arsen membuka kembali pesan itu.

Kami menemukan pola baru. Masih dalam tahap verifikasi.

Raka mengulurkan tangan.

“Boleh lihat?”

Arsen menyerahkan tabletnya. Raka membaca isi laporan singkat tersebut. Tidak ada nama. Tidak ada kesimpulan. Hanya beberapa catatan mengenai sumber informasi dan waktu penyebarannya.

“Belum jelas,” katanya.

“Belum.”

Amara akhirnya menoleh.

“Kalau belum jelas, jangan membuat kesimpulan.”

Arsen mengangguk.

“Itu juga yang aku pikirkan.”

“Kalau begitu, simpan dulu.”

Arsen menutup tablet.

“Baik.”

Tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Sementara mereka menikmati liburan di Swiss, penyelidikan di Jakarta bergerak melalui jalur yang jauh lebih sunyi.

Tim Compliance tidak mencari seseorang berdasarkan perasaan atau dugaan. Mereka menyusun kembali perjalanan rumor itu sejak awal, seperti menarik benang kusut satu demi satu tanpa tahu simpul terakhir berada di mana.

Informasi pertama mengenai hubungan Alya dan Celine dengan keluarga Amara memang muncul di antara peserta magang.

Namun setelah ditelusuri, ternyata cerita itu tidak berhenti di sana. Ada seorang karyawan yang membawa pembicaraan tersebut ke divisinya. Kemudian seorang supervisor menyampaikannya kepada beberapa orang lain. Setelah itu muncul komentar mengenai alasan Alya dan Celine bisa diterima di Aether.

Dalam waktu singkat, cerita sederhana berubah menjadi kesimpulan yang sama sekali berbeda.

Mereka masuk karena koneksi.

Mereka mendapatkan perlakuan khusus.

Mereka memiliki akses kepada keluarga direksi.

Padahal tidak satu pun dari cerita tersebut memiliki bukti. Kepala Compliance memperhatikan rekaman percakapan yang sudah dikumpulkan timnya.

“Siapa yang paling aktif menyebarkan cerita ini?”

Seorang auditor menggeser layar.

“Nama yang paling sering muncul adalah Darren Voss.”

Kepala Compliance membaca profilnya.

Darren merupakan Senior Business Development Manager. Masa kerjanya cukup panjang dan catatan kinerjanya tergolong baik. Tidak pernah mendapat teguran serius. Ia bahkan beberapa kali masuk daftar kandidat untuk promosi.

“Motif?”

“Belum bisa dipastikan.”

“Cari.”

Tim tersebut kembali bekerja.

Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan sesuatu yang menarik.

Beberapa bulan terakhir Darren memang sedang berusaha mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Ia beberapa kali mencoba mendekati orang-orang yang memiliki pengaruh terhadap keputusan promosi.

Tidak ada bukti bahwa ia melakukan pelanggaran. Namun ada pola. Darren selalu muncul di tempat yang sama ketika pembicaraan mengenai keluarga Amara mulai beredar.

Ia tidak pernah mengatakan, “Saya punya hubungan dengan keluarga Madam A.”

Ia memilih kalimat yang lebih samar.

“Saya cukup mengenal orang-orang di lingkaran mereka.”

Atau,

“Tidak semua orang tahu bagaimana sebenarnya hubungan keluarga mereka.”

Kalimat-kalimat seperti itu membuat orang lain penasaran. Dan rasa penasaran jauh lebih mudah berkembang menjadi gosip.

Menjelang sore, Arsen kembali membuka laporan dari Jakarta. Ia berada di balkon lantai dua villa. Dari sana, danau terlihat lebih jelas karena kabut sudah menghilang.

Raka datang membawa dua cangkir kopi.

“Masih memikirkan itu?”

Arsen menerima satu cangkir.

“Darren Voss.”

Raka duduk di kursi sebelahnya.

“Siapa dia?”

“Senior Business Development Manager.”

“Motif?”

“Belum jelas. Tapi namanya muncul berkali-kali dalam rantai penyebaran rumor.”

Raka membaca laporan yang ditampilkan di tablet.

“Dia bukan sumber awal.”

“Bukan.”

“Berarti seseorang memberinya informasi.”

Arsen mengangguk.

“Dan kita belum tahu siapa.”

Raka mengembalikan tablet.

“Jangan panggil orang itu dulu.”

“Aku tahu.”

“Kalau dia cuma mendengar dan menyampaikan tanpa niat buruk, situasinya berbeda.”

Arsen menatap danau.

“Karena itu aku ingin bukti lengkap.”

Raka mengangguk.

Mereka sudah cukup lama hidup dalam dunia yang membuat kesalahan kecil bisa berakibat besar. Karena itu mereka tahu betul bahwa keputusan yang dibuat berdasarkan asumsi sering kali lebih berbahaya daripada masalah itu sendiri.

Dari halaman terdengar suara Gilberth.

“Raka!”

Raka menutup mata.

“Apa lagi?”

“Snowmobile!”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku sedang bekerja.”

“Cuma sebentar!”

Arsen menahan senyum.

Raka menatap adiknya.

“Kamu tidak punya pekerjaan lain?”

Gilberth menjawab dari kejauhan.

“Tidak!”

Arsen akhirnya tertawa kecil.

“Pergilah.”

Raka menggeleng.

“Kamu senang sekali melihatku disiksa.”

“Sedikit.”

Raka berdiri dengan wajah pasrah.

Sebelum pergi, ia menatap Arsen.

“Besok kita lanjutkan.”

“Besok.”

Raka berjalan turun. Arsen kembali memandang danau. Selama beberapa menit, pikirannya terlepas dari urusan perusahaan.

Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang utama.

Api perapian memberikan kehangatan yang membuat udara dingin di luar terasa semakin jauh. Susan sedang menunjukkan foto-foto yang diambilnya sepanjang hari, sementara Nayla sesekali menyela untuk mengoreksi cerita Gilberth yang menurutnya terlalu dilebih-lebihkan.

Hana duduk di sebelah Raka.

“Besok kita pergi ke desa.”

Raka menatapnya.

“Bukannya kita sudah membuat jadwal?”

“Jadwalmu terlalu padat.”

“Kita hanya punya waktu beberapa hari.”

“Justru karena itu jangan dihabiskan dengan mengikuti jadwal.”

Raka terdiam.

Hana tersenyum puas. Amara yang mendengar percakapan tersebut hanya menggeleng.

“Biarkan saja mereka.”

Leon menoleh.

“Bukankah kau tadi bilang tidak ingin memikirkan pekerjaan?”

“Aku tidak sedang memikirkan pekerjaan.”

“Lalu?”

Amara menunjuk Raka dan Hana.

“Sedang menikmati masalah orang lain.”

Leon tertawa.

Di tengah suasana tersebut, Arsen menerima pesan baru. Kali ini ia tidak langsung membukanya.

Ia menunggu sampai suasana sedikit lebih tenang, lalu melihat layar.

Kami menemukan bukti komunikasi antara Darren Voss dan beberapa karyawan yang menerima informasi tersebut. Ada indikasi bahwa Darren sengaja membangun persepsi seolah-olah memiliki hubungan khusus dengan keluarga Madam A.

Arsen membaca sampai selesai. Kemudian pesan berikutnya muncul.

Namun Darren bukan sumber pertama. Kami menemukan satu nama lain.

Arsen mengangkat wajah. Raka melihat ekspresinya.

“Ada apa?”

“Bukan Darren.”

Raka langsung memahami.

“Siapa?”

“Belum dikirimkan.”

Beberapa detik kemudian, nama itu muncul.

Arsen membaca. Kemudian membaca sekali lagi.

Ia tidak mengenal orang tersebut secara dekat. Namanya bahkan hampir tidak pernah muncul dalam laporan direksi.

Raka mengambil tablet.

“Staf administrasi?”

“Ya.”

“Bagaimana dia bisa tahu?”

“Itu yang sedang dicari.”

Arsen tidak langsung meneruskan informasi tersebut kepada Amara. Bukan karena ingin menyembunyikannya.

Ia hanya tidak ingin membawa sebuah nama kepada ibunya sebelum tahu apa peran sebenarnya.

Pagi berikutnya, Arsen dan Raka kembali menghubungi tim Compliance. Kali ini mereka ingin mengetahui bagaimana informasi tersebut bisa sampai kepada staf administrasi itu.

“Periksa akses dokumennya,” kata Arsen.

“Sudah kami lakukan.”

“Hasilnya?”

“Dia memang menangani berkas administrasi peserta magang beberapa minggu lalu.”

Raka menyela,

“Apakah ada hubungan langsung dengan Alya atau Celine?”

“Tidak ada.”

“Lalu?”

“Kami menemukan bahwa sehari sebelum rumor pertama muncul, staf tersebut bertemu dengan seseorang dari divisi Business Development.”

Arsen menatap layar.

“Darren?”

“Bukan.”

Raka menyandarkan tubuh.

“Siapa?”

Nama kedua muncul. Kali ini Arsen tidak langsung berbicara. Ada sesuatu yang terasa semakin tidak sederhana.

Rumor tersebut ternyata memiliki beberapa lapisan. Seseorang mengetahui informasi. Informasi itu berpindah tangan.

Darren kemudian melihat peluang dan mengembangkannya. Namun orang yang memberikan informasi kepada staf administrasi tersebut masih menjadi tanda tanya. Dan semakin mereka menarik benang itu, semakin panjang pula jalurnya.

“Jangan hubungi siapa pun dulu,” kata Arsen.

Kepala Compliance mengangguk.

“Kami akan lanjutkan penelusuran.”

Panggilan berakhir.

Raka menatap Arsen.

“Menurutmu ini direncanakan?”

Arsen tidak segera menjawab.

“Belum tahu.”

“Kalau bukan?”

“Berarti kita sedang melihat serangkaian kebetulan yang terlalu rapi.”

Raka terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud Arsen. Dalam dunia mereka, kebetulan memang ada. Tetapi terlalu banyak kebetulan biasanya menyembunyikan sesuatu.

Siang itu Amara menemukan Arsen dan Raka sedang berbicara serius di ruang baca.

Ia berhenti di ambang pintu.

“Kalian belum selesai?”

Arsen menoleh.

“Sedikit lagi.”

Amara masuk.

“Rumornya?”

Arsen dan Raka saling pandang.

“Kami sudah menemukan orang yang memperbesarnya,” jawab Arsen.

“Darren?”

Arsen mengangguk.

“Dia mencoba menggunakan rumor tersebut untuk membangun pengaruh.”

Amara menarik kursi.

“Dan sumber awal?”

“Masih kami telusuri.”

Amara mengangguk.

“Bagus.”

Raka menatap ibunya.

“Kami belum mengambil tindakan.”

“Memang jangan.”

Amara menatap mereka bergantian.

“Aku tidak mau seseorang kehilangan pekerjaan hanya karena namanya disebut dalam sebuah percakapan.”

Arsen mengangguk.

“Bukti dulu.”

“Bukti dulu.”

Amara berdiri.

Sebelum keluar, ia berhenti.

“Dan jangan biarkan masalah ini merusak liburan kalian.”

Raka tersenyum tipis.

“Sulit kalau Ibu sendiri yang terus mengingatkan.”

Amara menatapnya.

“Aku hanya memastikan kalian tidak berubah menjadi dua direktur yang bahkan tidak bisa menikmati salju.”

Arsen tertawa kecil.

Raka menggeleng.

“Baik.”

Amara keluar dari ruangan.

Di lorong, ia bertemu Leon.

“Sudah selesai?”

“Belum.”

Leon mengangkat alis.

“Masih?”

“Masih ada satu orang yang belum jelas perannya.”

Leon memperhatikan wajah istrinya.

“Dan kau ingin tahu.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Amara terdiam sebentar.

“Karena aku tidak suka sesuatu yang tidak selesai.”

Leon tersenyum.

“Itu sifatmu yang paling sulit.”

Amara menatapnya.

“Tapi kau tetap menikahiku.”

“Sayangnya.”

Amara tertawa.

Mereka berjalan berdampingan menuju ruang utama.

Di luar, salju kembali turun. Sementara itu, jauh di Jakarta, penyelidikan terus bergerak menuju lapisan yang lebih dalam.

Nama Darren sudah ditemukan. Motifnya mulai terlihat. Namun ia bukan tokoh yang memulai semuanya.

Masih ada seseorang yang berdiri di belakang rantai kecil itu, seseorang yang sampai sekarang belum menyadari bahwa setiap jejak yang ditinggalkannya sedang disusun kembali oleh orang-orang yang bekerja untuk Madam A.

Dan ketika identitasnya nanti terbuka, persoalannya tidak lagi sekadar tentang gosip.

Karena ada alasan mengapa informasi mengenai Alya dan Celine bisa keluar dari tempat yang seharusnya tertutup.

Ada seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang seharusnya. Dan Amara tidak akan berhenti sebelum mengetahui siapa orang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!