Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pengakuan cinta Pada istri
Nayla melengkungkan punggungnya mengikuti irama, mencengkeram rambut Ethan sambil menikmati setiap sentuhan di bawah.
"Aku mau... ah..."
Ethan mempercepat gerakannya, wajah Nayla memerah, kepalanya terkulai, menerima setiap dorongan yang semakin kuat dan penuh gairah.
"Lebih cepat... Ethan..."
"Berikan padaku... sayang..."
Ethan mendorong lebih dalam dan lebih keras, meremas pinggul Nayla, wajahnya memerah menahan kepuasan yang hampir tiba.
"Ah... aku..."
Tubuh Nayla terasa begitu basah, suara dan aroma keintiman mereka terasa begitu nyata dan memabukkan.
"Sayang... angkat pinggulmu... aku akan datang..."
Ethan menarik pinggang ramping itu, kakinya menegang, tangan mereka saling menggenggam saat mereka mencapai puncak bersama. Kehangatan itu memenuhi tubuh Nayla sepenuhnya.
Mereka berdua terbaring di ranjang, Ethan masih menindih tubuhnya dengan lembut, menikmati sisa kebahagiaan yang luar biasa ini.
"Aku lelah..." keluh Nayla pelan, sedikit tak percaya ini benar-benar terjadi — bercinta dengan Ethan, dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Tidurlah. Terima kasih."
Ethan menarik selimut, menutupi tubuh mereka yang telanjang, sementara tangan Nayla melingkar erat di pinggangnya.
"Ethan..."
Ethan terkejut mendengar panggilan itu, tersenyum lalu mencium bibir Nayla yang kini terlihat begitu manja.
"Aku mencintaimu."
Ethan terdiam sejenak karena terharu, lalu tertawa pelan sambil mengusap rambut Nayla yang lepek, menyembunyikan wajahnya di dadanya.
"Katakan lagi, kurang keras, Nyonya Argantara."
"Tidak mau..."
Ia tahu istrinya pasti sedang malu luar biasa, wanita cantiknya ini memang sungguh menggemaskan.
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Nayla mendongak, menatap mata Ethan, mencari ketulusan di sana — dan ciuman lembut itu menjawab segalanya.
"Jangan menatapku begitu... kau seolah ingin dimakan lagi, ya?"
"Aku masih lelah... besok saja boleh?"
Ethan terkekeh, mengusap punggung telanjang istrinya dan mencium bahunya yang halus. "Tutup matamu, Nayla."
"Iya... jangan pergi ke mana-mana... peluk aku."
Ethan mengangguk pelan, memejamkan matanya, dan mereka berdua terlelap bersama dalam pelukan, menyambut mimpi terindah malam ini.
Suara jam digital di meja nakas berbunyi nyaring, menandakan saatnya pemilik kamar terbangun dari tidur nyenyaknya. Matahari sudah tinggi, namun kamar tidur bernuansa cokelat dan krem itu masih terasa remang-remang karena tirai jendela besarnya tertutup rapat.
Tittt... tit... tiiittttt...
Ethan terbangun, mengeluh pelan pada benda berisik yang seenaknya mengganggu tidurnya. Ia mengacak rambutnya, lalu meraba sisi ranjang — tempat Nayla tidur semalam sudah kosong.
"Nayla?"
Ethan langsung terduduk, sedikit panik saat melihat ke sekeliling kamar. Ia sendirian, tubuhnya telanjang, dan pakaian kemarin tergeletak di lantai.
"Sayang, kau di mana?!"
Ethan berdiri dengan perasaan cemas yang tiba-tiba menyeruak. Takut semua keindahan semalam hanyalah mimpi, padahal rasanya begitu nyata.
Drrttdrrtttt...
Ponsel di meja nakas berdering keras. Ethan mengabaikannya sejenak, buru-buru memakai kaos dan celana panjang, namun ponsel itu terus berdering tak henti.
"Halo, apa sih, Dim?"
"Hei Ethan, ini sudah jam sepuluh! Kau di mana?! Pak Kadir dan Pak Shinta sudah menunggu sejak tadi! Astaga, kau ini ngapain saja!"
"Eh, kenapa? Ya ampun, maaf — aku lupa pagi ini ada janji di toko perhiasan baru!"
"Belum mandi?! Kami sudah menunggu dua jam di sini! Dasar pelupa!"
"Diamlah, bawel! Aku segera ke sana!"
Klik.
Ethan langsung mematikan sambungan telepon Dimas Anggara. Kalau tidak diputus, pria itu pasti akan mengomel panjang lebar seperti nenek-nenek sampai telinganya panas.
"Ya ampun, makin bawel saja sih dia!"
Ethan berlari ke ruang ganti, menyambar jubah mandi dan kemeja bersih, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Saat sedang mengenakan kemeja dan celana kain, ia berniat pergi ke kamar sebelah — berharap Nayla ada di sana, agar hatinya tenang. Ia yakin semalam bukan sekadar mimpi.
Cklek...
"Ethan? Aku pikir kau masih tidur?"
Nayla justru baru masuk ke kamar, memakai piyama berwarna merah muda, rambut panjangnya masih setengah basah. Ia tampak terkejut melihat Ethan yang terengah-engah sambil memegang dadanya.
"Kau dari mana saja? Sejak tadi aku mencarimu, Nayla."
"Eh, aku... ya tentu saja membuatkan kopi dan sarapan untukmu. Kau pikir dari mana lagi?"
Nayla terkekeh, meletakkan secangkir kopi dan roti panggang buatan tangannya di meja nakas, lalu merapikan kemeja Ethan dengan wajah bingung.
"Rapi sekali. Hari Minggu begini kau mau ke kantor?"
Ethan menghela napas lega. Syukurlah Nayla masih ada di rumah ini, membuatkan kopi dan sarapan paginya, dan terlihat begitu cantik di pagi hari.
"Bukan ke kantor. Aku baru ingat ada janji dengan Dimas dan arsitek di toko perhiasan yang akan dibuka minggu depan."
"Hari Minggu begini?"
Ethan tersenyum, membiarkan Nayla memainkan kancing kemejanya, lalu menariknya duduk di pangkuannya. Nayla menatapnya dengan wajah manja, seolah meminta untuk dimiliki lagi.
"Iya, maaf ya. Aku kesiangan dan Dimas sudah mengamuk sejak tadi."
Nayla mengangguk pelan. Sebenarnya ia berharap hari libur ini bisa dihabiskan berdua saja, atau pergi berkencan seperti yang disarankan Shela kemarin. Tapi sepertinya rencana itu harus tertunda.
"Berarti aku sendirian di rumah hari ini?"
"Hei, kenapa cemberut begitu? Tidak apa-apa, sayang. Kalau mau, kau boleh ikut kok. Ayo bersiap."
"Benar boleh?"
"Tentu saja boleh." Ethan mengangguk mantap, membiarkan lengan Nayla melingkar di lehernya, lalu bibir mereka bertemu dalam ciuman pagi yang manis, semanis kopi buatan Nayla.
"Oke, aku ganti baju dulu ya."
Nayla hendak berdiri dari pangkuannya, namun Ethan menahan pinggangnya dan kembali mencium bibirnya, lalu beralih mencium lehernya yang mulus......