Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Petunjuk Pertama

​Rintisan cahaya merah alarm menggema ke seluruh lorong Menara Arsip Pusat. Derap langkah berat dari puluhan Penjaga Zirah Besi dan Algojo Tinta bergema menggetarkan dinding-dinding batu bergaya gothic.

Bau belerang dan sihir pembeku menyengat udara, mengancam akan melumat siapa pun yang mencoba merusak tatanan birokrasi Dewan Gaib.

​BLAR!

​Lantai pualam di depan Konsol Utama hancur berhamburan saat dua Algojo Tinta mengayunkan kapak raksasa mereka.

​Madam Helga mengibaskan kipas sutranya dengan gerakan menyapu. Gelombang api keemasan meledak mendahului mereka, menghantam dada kedua algojo hingga terlempar menabrak deretan rak buku tua.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Madam Helga menyambar pergelangan tangan Damar, menarik pemandu muda itu melayang bersama angin sihirnya menembus kepulan asap hitam.

​"Lompat ke celah ventilasi barat, Damar!" bentak Madam Helga kencang, suaranya mengatasi gemuruh ledakan di belakang mereka.

​Damar memeluk erat clipboard kayu yang menjepit Lembar Koreksi Darurat Pak Budi. Dengan sisa stamina fisiknya, ia memanjat ambang batu, melompati parit sihir pelindung, dan meluncur masuk ke dalam lorong pembuangan angin menara bersama Madam Helga.

​WUUUUUSH!

​Tubuh keduanya meluncur deras menyusuri saluran pembuangan spiral, melintasi ribuan jaring mantra pengintai yang gagal mendeteksi mereka berkat sapuan sihir penyamar milik Madam Helga. Dalam hitungan detik, mereka terlempar keluar dari celah dinding bawah menara, mendarat dengan selamat di atas atap Bus 000 yang langsung melaju kencang meninggalkan area Menara Arsip.

​Pintu atas bus terbuka, dan keduanya terperosok jatuh ke lantai lorong interior bus.

​BAM!

​Pintu bus terkunci rapat. Mesin Armada 000 memekik nyaring saat kendaraan raksasa itu membelah kabut malam Sektor Empat dengan kecepatan penuh, menghilang di antara bayangan gedung-gedung tua birokrasi sebelum pasukan mengejar.

​Di dalam bus, keheningan yang tegang seketika merebak.

​Pak Indra, Marlina, dan Pak Budi yang berjaga di barisan depan langsung menepi dengan cemas. Namun, melihat riak aura yang sangat berat di antara sang pemilik agen dan pemandu mereka, tak satu pun arwah berani membuka suara.

​Damar perlahan bangkit berdiri dari lantai panggung, mengusap lututnya yang memar. Chrono-Compass di saku dadanya masih berdetik hangat, memancarkan pendar emas lembut yang memproyeksikan sisa-sisa ingatan dari berkas terlarang Level OMEGA tadi.

​Madam Helga berdiri mematung beberapa langkah di depan Damar. Gaun mantel hitamnya sedikit terkoyak, kipas sutranya terkulai kaku di samping tubuh. Wajah porselen sang atasan tertunduk dalam, diselimuti bayangan rambut hitamnya yang terurai. Ia tak lagi memancarkan aura keangkuhan atau kemurkaan yang biasa mengintimidasi siapa pun.

​"Madam," panggil Damar pelan, suaranya sangat halus.

​Madam Helga bergeming. Jemari tangannya yang bersarung sutra mengepal begitu erat hingga bergetar halus.

​"Kau sudah membaca berkas itu, kan?" bisik Madam Helga. Suaranya serak, begitu tipis dan rapuh, bertolak belakang dengan citra Pemilik Agen Last Trip Express yang abadi. "Kau ... dan seluruh agen lain di dunia bawah ini, pasti menganggapku sebagai atasan tak berguna yang membiarkan pemandunya sendiri hancur."

​"Gabriel bilang Madam menumbalkan Pemandu Pertama demi menyelamatkan nyawa Madam sendiri," potong Damar mantap, melangkah mendekat satu langkah "Tapi berkas resmi birokrasi Dewan tidak bisa bohong, Madam. Pemandu Pertama ... dia tidak pernah dijebak atau ditumbalkan."

​Madam Helga menengadahkan kepalanya perlahan. Air mata keemasan yang murni membasahi pipinya yang pucat, memantulkan pendar Chrono-Compass milik Damar.

​"Dia mengorbankan dirinya sendiri," lirih Madam Helga seraya meremas dadanya, mengingat kembali tragedi seratus tahun lalu yang selalu membayanginya seperti kutukan. "Seratus tahun lalu, ketika aku nekat melanggar aturan Dewan demi menyelamatkan rombongan jiwa yang terancam lebur di Sektor Bawah. Majelis Dewan menjatuhkan vonis Eksekusi Peleburan Jiwa padaku."

​Madam Helga menarik napas gaib yang bergetar. "Aku sudah siap menghadapi hukuman itu. Tapi pemandu manusiaku saat itu ... dia mendahuluiku. Tanpa sepengetahuanku, dia memanfaatkan frekuensi emosi jam saku itu untuk mengalihkan seluruh Hukuman Karma Dewan ke dalam inti jiwanya sendiri."

​Kata-kata itu menghantam perasaan Damar. Ia bisa merasakan beban rasa bersalah yang amat menyakitkan dari pendar aura Madam Helga.

​"Ketika aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat," lanjut Madam Helga, air matanya menetes makin deras ke lantai bus. "Aku melihat jiwanya lebur menjadi abu gaib tepat di hadapan mataku sendiri. Dia tersenyum padaku sebelum lenyap, memintaku untuk terus menjalankan bus ini. Dan aku? Aku hanya bisa berdiri di sana, tanpa sihir yang cukup untuk menarik jiwanya kembali."

​Madam Helga mengepalkan tangannya, dadanya kembang-kempis oleh amarah pada dirinya sendiri.

"Selama seratus tahun, Gabriel dan agen rival menyebarkan kebohongan bahwa aku adalah monster yang memanfaatkannya. Dan aku ... aku biarkan rumor busuk itu menyebar! Karena bagiku, rasa bersalah karena gagal menyelamatkannya jauh lebih berat daripada dituduh sebagai pembunuh!"

​Keheningan melingkupi interior bus. Budi Santoso menunduk haru, sementara Marlina menutupi mulutnya seraya menahan tangis.

​Kini semuanya menjadi terang benderang bagi Damar.

​Seluruh dinding es, sikap otoriter, gertakan eksekusi, dan sifat gengsi tinggi yang diperlihatkan Madam Helga selama ini bukanlah wujud dari kejamnya sang pemilik agen.

Semua itu adalah perisai pertahanan emosional yang dibangunnya untuk melindungi hatinya yang hancur.

Madam Helga bersikap dingin dan membuat jarak pada setiap pemandu, termasuk Damar karena ia teramat takut akan mengalami rasa kehilangan dan kegagalan yang sama untuk kedua kalinya.

​Damar merogoh saku dadanya, menarik keluar jam saku Chrono-Compass. Ia menggenggam alat pusaka itu kuat-kuat, lalu melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan Madam Helga.

​"Madam," panggil Damar dengan tatapan mata yang hangat, lurus, dan dipenuhi keberanian.

​Madam Helga menatap Damar dengan mata keemasannya yang sembap.

​"Pemandu pertama tidak mengorbankan jiwanya supaya Madam hidup dalam rasa bersalah selama seratus tahun," kata Damar pelan namun dipenuhi penekanan yang menusuk ke dalam kalbu. "Dia mengorbankan dirinya karena dia sangat mempercayai Madam. Dia tau kalau hanya Madam Helga yang punya keteguhan buat menjaga Last Trip Express tetap berjalan dan memberikan perlindungan buat arwah-arwah yang terasingkan di alam ini."

​Madam Helga tersentak kecil, bibirnya bergetar mendengarkan ucapan pemandu mudanya.

​"Dan sekarang, saya berdiri di sini sebagai pemandu tur Madam," lanjut Damar seraya membetulkan posisi clipboard-nya. "Saya bukan pemandu pertama, dan saya gak berniat buat mati konyol. Tapi saya janji, Madam gak bakal berjuang sendirian lagi di atas bus ini. Kita akan jalankan Last Trip Express ini bersama-sama, sesuai amanat yang ditinggalkan oleh beliau."

​DING ... DING ... DING ....

​Jam saku Chrono-Compass di tangan Damar mendadak berdenting nyaring! Pendar cahaya putih keemasan meledak lembut dari intinya, menyelimuti Damar dan Madam Helga dalam kehangatan resonansi emosi murni.

Energi itu seolah menjadi bentuk restu dari pemandu pertama yang tersimpan di dalam alat tersebut, menyembuhkan luka batin masa lalu yang selama ini membelenggu jiwa Madam Helga.

​Madam Helga menatap pendar jam saku itu, lalu beralih menatap Damar. Untuk pertama kalinya, rasa cemas dan ketakutan di mata sang pemilik agen sirna sepenuhnya, tergantikan oleh rasa percaya dan ikatan emosional yang tak terbantahkan.

​Madam Helga mengusap sisa air matanya dengan jemari bersarung sutra, lalu menarik napas panjang. Wajah cantiknya perlahan-lahan kembali menegak, memancarkan wibawa dan keanggunan mutlaknya, meski kini dihiasi oleh senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan.

​"Mulutmu benar-benar makin pandai berbicara, Damar," kata Madam Helga dengan nada halus yang dipenuhi kehangatan samar.

​Damar menyengir lebar, memajukan Lembar Koreksi Darurat Pak Budi yang telah tercetak rapi. "Soalnya saya punya atasan yang luar biasa hebat, Madam. Sekarang, bagaimana kalau kita tuntaskan tugas kita untuk menyapu bersih ketidakadilan birokrasi Dewan?"

​Madam Helga mengibaskan syal bulu hitamnya, memegang kipas sutranya dengan mantap. Pendar sihir keemasannya membara terang kembali, membakar sekeliling panggung bus dengan energi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

​"Sopir! Putar balik Armada 000 menuju Balai Pengadilan Agung Sektor Empat!" perintah Madam Helga dengan suara menggelegar dan penuh ketegasan. "Kita tunjukkan pada Majelis Dewan ... bagaimana cara Last Trip Express menegakkan keadilan!"

​Tiiiiiiiiiinnnnn ...!

​Klakson raksasa Bus 000 melengking tinggi membelah malam. Armada mistis itu berbelok tajam di persimpangan utama, memutus kabut Sektor Empat dengan gairah dan kekuatan baru, siap menghadapi perwakilan Dewan Gaib demi membersihkan nama baik Budi Santoso dan mengukuhkan kejayaan agen mereka.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!