Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Aku akan bertanya sekali lagi
Suara langkah sepatu memecah keheningan lorong tahanan.
Hak sepatu mengetuk lantai dengan ritme tenang, terlalu tenang untuk tempat sekelam ini. Cahaya lampu redup memantulkan bayangan panjang di dinding, mengikuti sosok yang berjalan menyusuri lorong sempit itu.
Tatapannya lurus ke depan. Ekspresinya gelap.
Dua polisi yang berjaga di depan pintu besi refleks menegakkan badan saat melihatnya mendekat.
“Yang Mulia?” salah satu dari mereka ragu, suaranya ditahan rendah.
“Apa keperluan Anda di area tahanan?”
Orang itu berhenti tepat di hadapan mereka. "Aku ingin bertemu terdakwa kasus yang kutangani.”
Polisi itu saling melirik.
“Maaf, Yang Mulia. Area ini terbatas. Anda tentu tahu… tidak seharusnya ada pertemuan antara hakim dan terdakwa di belakang layar.”
Alis orang itu terangkat tipis.
“Sepuluh menit,” katanya tenang.
“Tidak lebih. Kalian bisa mengawasiku dari luar jika ragu.”
Keheningan menggantung sesaat.
Dua polisi itu kembali bertukar pandang, menimbang risiko di wajah masing-masing.
Akhirnya salah satu dari mereka menghela napas.
“Sepuluh menit. Kami tetap mengawasi.”
Pintu besi dibuka perlahan. Deritannya memanjang, memekakkan telinga di lorong sempit.
Orang itu mengangguk singkat, lalu melangkah masuk.
Di ujung lorong, di balik jeruji, seorang pria meringkuk di lantai. Tangannya memegangi kepala, tubuhnya gemetar hebat.
“Aku bukan pembunuh…” gumamnya berulang-ulang.
“Mereka yang membuatku melakukan ini… mereka yang memojokkanku…”
Kata-kata itu mengalir tanpa henti, seperti mantra putus asa.
“Saudara terdakwa.”
Suara tenang itu memotong gumaman.
Pria di dalam jeruji tersentak. Ia mengangkat wajahnya perlahan, lalu membeku saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
“Yang… Yang Mulia?”
Ia bangkit tergesa, lututnya menghantam lantai dingin.
“Percaya aku… tolong percaya aku…”
Air mata membanjiri wajahnya.
“Aku sama sekali tidak berniat membunuh mereka. Aku bersumpah… aku tidak pernah berniat melakukannya.”
Tangisnya pecah di antara jeruji besi. Suara napasnya tersengal, tubuhnya bergetar hebat saat ia meraih jeruji, seolah ingin keluar dari sangkar itu.
Di kejauhan, dua polisi berdiri di balik pintu terbuka, mengawasi tanpa suara.
Orang itu menatapnya lama. Tatapannya tenang, dingin, tanpa simpati yang kentara.
“Aku mencintai istriku…” lanjut pria itu terisak.
“Aku mencintai anakku… aku mencintai mereka semua. Aku...aku bukan monster…”
Ia mencoba menjelaskan, kata-katanya saling tindih, hancur oleh isakan.
Perlahan, orang itu mengangkat dagunya. Gerakannya kecil, namun penuh tekanan.
Lalu suaranya terdengar, rendah dan tajam,
“Aku akan bertanya sekali lagi.”
Ia menatap langsung ke mata pria itu.
“Kau membunuh keluargamu?”
Pria itu mengangkat kepala. Air mata mengalir tanpa henti di pipinya.
“Bukan aku…” katanya sambil menggeleng lemah.
“Aku tidak membunuh mereka. Aku bersumpah… aku tidak pernah berniat membunuh mereka.”
Ia kembali menunduk. Kepalanya bersandar pada jeruji besi yang dingin, tubuhnya berlutut rapuh di lantai. Tangannya menggenggam batang besi itu seolah berharap bisa merobohkannya atau merobohkan kenyataan yang menekannya.
Orang yang berdiri di depannya tak bergerak. Ia tetap tegak, tatapannya lurus, seakan air mata di hadapannya hanyalah pantulan cahaya lampu.
Tak mendapat respons, pria itu kembali bicara, suaranya pecah.
“Aku seharusnya tidak pulang malam itu…”
Napasnya tersendat.
“Seharusnya tidak. Kalau aku tidak pulang… semua ini tidak akan terjadi. Istriku masih hidup…”
Tangisnya kembali pecah. Ia menekan dahinya ke jeruji, bahunya bergetar hebat, seperti seseorang yang memohon ampun pada benda mati.
Baru saat itu orang di luar jeruji bereaksi. Ujung bibirnya terangkat tipis bukan senyum, melainkan garis dingin yang nyaris sinis.
“Kalau kau tahu semuanya takkan terjadi jika kau pulang,” ucapnya datar,
“lalu kenapa kau tetap pulang?”