Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34_Akhir dari sebuah penantian

Dio mengepalkan tangannya sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Bibirnya bergetar.

"Kau benar... tidak seharusnya kita mencurigainya seperti itu."

Syia mengusap bahunya sendiri. Senyumnya tipis, tapi matanya berkaca-kaca dan merah.

"Aku bodoh ya... dia yang mengajari kita semua hal yang tidak kita ketahui. Dia yang membawa kita sampai sejauh ini... tapi balasan kita malah curiga."

Mira tidak menjawab. Ia hanya membetulkan kacamatanya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa suara. *Tap tap pelan..* Langkahnya pelan tapi berat.

Roth yang melihat itu langsung menoleh.

"Kau mau ke mana?"

Mira terdiam di ambang pintu. Bahunya naik turun. Ia menoleh sedikit, tidak sepenuhnya.

"Aku akan melanjutkan apa yang ia percayakan padaku. Jika kalian ingin menebus kesalahan kalian... selesaikan pekerjaan yang ada, sebelum dia bangun."

Semua orang menatap punggung Mira. Tatapan penuh tekad itu menular, pelan-pelan membakar rasa bersalah mereka menjadi sesuatu yang lain.

Roth membunyikan jari-jarinya, suaranya keras memecah sunyi yang menyesakkan itu. *Krek..*

"Kita lakukan!"

Satu per satu mereka berjalan keluar di belakang Mira. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang lagi.

Saat Stella ingin ikut bangun, Syia berbalik. Ia tersenyum ke arah Stella, tapi senyum itu dipaksakan, jelas sekali ia menahannya.

"Ahh... Stella, lebih baik kau tinggal di sini saja. Kita tidak akan pernah tahu kapan orang yang menyerang Sora itu muncul lagi."

Stella mengangguk pelan. Tenggorokannya tercekat.

"Baiklah... serahkan padaku."

Syia melambaikan tangannya pelan. Ia berlari kecil keluar sambil mengenakan topi penyihirnya yang sedikit miring, berusaha terlihat biasa saja.

"Kalau begitu, tolong jaga dia ya..."

*Klek..*

Pintu tertutup. Kunci pintu berderak pelan.

Kamar itu kembali sunyi. Begitu sunyi sampai suara napas beratku sendiri terdengar begitu jelas dan menyakitkan di telinga. *Hah.. hah..*

Stella perlahan menoleh ke wajahku. Matanya tampak sayu, sembab, dan sangat lelah.

"Hei... Sora..."

Suaranya hampir tidak terdengar. Hampir seperti bisikan. Ia mengusap wajahku dengan punggung tangannya yang hangat, gerakan yang sangat hati-hati seolah takut aku akan pecah.

"Jika kau memang anak laki-laki yang pernah aku temui saat kecil... bisakah kau bangun secepatnya? Aku mohon..."

Ia menggenggam tanganku erat. Tanganku dingin. Tetap lemas. Tidak membalas sama sekali.

Stella mendekatkan wajahnya. Jaraknya tinggal beberapa senti. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur. Ia memejamkan matanya, air matanya menggantung di bulu matanya yang lentik, berkilau terkena cahaya lampu.

"Jika saja... kau masih belum bangun juga... maka aku..."

Bibirnya terbuka pelan, bergetar, mengarah ke bibirku. Satu senti lagi. Napasnya tertahan. *Deg..*

Tapi tepat sebelum menyentuh, ia berhenti.

Tanganku yang dingin di dalam genggamannya menyadarkannya. Ini bukan Sora di lorong salju itu. Ini Sora yang hampir mati karena melindungi mereka.

Air matanya akhirnya jatuh. Satu tetes yang besar. Menetes ke pipiku dan terasa panas. *Tik..*

"Aku mengerti... mungkin kau tidak ingin membahayakan kami. Tapi tolong, jangan membahayakan dirimu seperti ini lagi."

Suaranya pecah.

"Jika kau ada masalah... beri tahu aku."

Ia tidak jadi menciumku. Ia hanya menyandarkan dahinya ke dahiku. *Duk pelan..* Dahi kami bertemu. Bahunya bergetar hebat menahan isak yang tidak bersuara. Ia menggenggam tanganku seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh.

"Jangan tinggalin aku sendirian lagi... aku benci menunggu sendirian... jadi cepatlah bangun... kumohon..."

Saat air matanya mengalir dari pipiku, hangat, kemudian jatuh menetes ke lantai kayu dengan suara kecil, sesuatu terjadi. *Tik.. tik..*

Jari-jariku... bergerak sedikit. *Sret..*

Kelopak mataku bergetar.

Perlahan-lahan, dengan sangat berat, mataku mulai terbuka.

"Emm... Stella? Kenapa kau menangis?"

Suara serak itu membuat seluruh tubuh Stella membeku. *Deg!..*

Mata Stella langsung membelalak. Senyum di wajahnya pecah di tengah air mata yang masih mengalir deras.

"Sora! Akhirnya... akhirnya kau bangun..."

Aku perlahan mencoba bangun dari tempat tidur dan duduk, mengusap-usap kepalaku yang terasa pening.

"Stella, sebenarnya apa yang terjadi pada-"

Belum selesai kalimatku, Stella sudah memelukku dengan sangat erat. *Bruk..* Bukan pelukan biasa. Wajahnya membenam begitu dalam di dadaku, kedua tangannya melingkar di punggungku dan mencengkeram bajuku kuat-kuat.

Aku membeku. Lalu perlahan, tanganku naik dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pelan, membiarkan dia menangis sepuasnya di sana.

Lama. Hening itu lama sekali. Hanya isakannya yang tertahan dan napas kami yang berantakan yang terdengar di kamar itu. *Hiks.. hiks..*

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, pelukannya melonggar. Matanya sembab, hidungnya merah.

"Kenapa... kenapa kau tidak memberitahukannya padaku?"

Aku menatap wajahnya yang berantakan itu.

"Jika aku memberitahumu, kemungkinan besar akan terjadi perselisihan di antara kita semua. Aku tidak mau itu."

Bahunya menurun pelan.

"Begitu ya... tapi sebagai rekan... sebagai rekan, kau harus memberikan seluruh informasi yang kau punya kepadaku. Kau mengerti!? Jangan membuatku khawatir seperti ini lagi..."

Aku mengangguk pelan.

"Akan aku ingat. Maaf. Ada seseorang yang mengincarku. Seseorang yang bisa mengubah wujud menjadi orang lain."

Tubuh Stella mematung.

"Tidak mungkin... jadi luka-lukamu itu... semua itu karena dia?"

"Benar. Jika tanpa kemampuan di tubuhku, mungkin saja aku sudah mati sejak lama."

Stella memegang erat telapak tanganku dengan kedua tangannya, sambil memejamkan matanya erat-erat seolah sedang berdoa.

"Kau benar-benar sangat kuat ya, padahal hidupmu sudah sangat susah, tapi kau masih bisa tetap berdiri..."

Ia tersenyum, tapi senyumnya pahit.

"Sementara aku... aku hanya bisa berlari dari kenyataan. Menjadi putri bangsawan yang seakan-akan hidup hanya dikendalikan. Daripada melawan, aku lebih memilih kabur menjadi mata-mata seperti ini, aku sangat payah..."

Aku menggenggam tangannya balik, membalas genggamannya.

"Itu tidak benar, menurutku itu sudah menjadi pilihan yang tepat, kau berani untuk mengambil keputusanmu sendiri dan mengedepankan egomu, daripada rasa takutmu."

Stella terdiam menatapku. Matanya mencari kebenaran di mataku.

Lalu aku tersenyum tipis.

"Tapi tidak kusangka, aku akan mendengar kata-kata itu lagi, sepertinya aku dulu pernah mengucapkan hal yang sama kepada seorang gadis... penampilannya hampir mirip dengan dirimu."

Saat itu juga, pertahanannya runtuh.

Air matanya yang tadi sudah berhenti, kini pecah lagi. Jauh lebih deras.

Bibirnya bergetar hebat. Ia tidak bisa menahannya lagi. Bahunya berguncang.

"Tidak kupercaya... akhirnya... akhirnya penantian 5 tahunku berakhir... akhirnya aku bisa berdiri di sampingmu lagi... akhirnya aku bisa menepati janjiku padamu..."

Dia menangis dengan keras, tanpa peduli lagi suaranya terdengar keluar atau tidak.

"Terima kasih... terima kasih... Sora... terima kasih sudah kembali..."

Aku panik melihatnya seperti itu.

"Kau tidak apa-apa? Sudahlah... tolong jangan menangis lagi..."

Di dalam hatinya, suaranya berteriak lebih keras dari tangisnya.

_Selalu... selalu aku menunggumu kembali, dan pada akhirnya kau tidak kunjung muncul. Makanya aku bertekad mencarimu sendiri. Dengan menjadi mata-mata kerajaan, aku berharap setidaknya bisa mendapatkan kabar baik tentang dirimu, tapi semuanya hanyalah kabar buruk. Bertahun-tahun aku terus mencarimu, tapi tidak kunjung berhasil. Saat aku berpikir untuk menyerah dan kembali ke kerajaan, saat itu juga... kau muncul di hadapanku, berdiri di hadapanku dengan gagah, sama seperti yang pernah kau lakukan dulu..._

Sementara itu di luar, semua orang masih berdiri di balik pintu, tidak berani masuk. Mereka mendengar isakan itu dan hanya bisa tersenyum lega. Syia yang sedang membawa semangkuk sup hangat yang masih mengepul, langsung meletakkan mangkuk itu di depan pintu. *Srup hangat mengepul..* *Tok..*

"Aku tahu kalian semua sangat penasaran, tapi kita tidak boleh mengganggu reuni mereka... ayo."

Dia mendorong semua orang dari tempat itu dengan pelan, lalu melirik ke arah dalam melalui celah pintu dengan senyum yang tulus.

"Kau sudah berjuang keras ya, Stella."

[Kilas Balik]

Kerajaan Salfaria

Ibu Kota Luminas

Tahun Suci 1555

*Wusss..*

Angin dingin berhembus di balkon.

Stella kecil sedang menangis di pojok balkon yang dingin. Kakinya dilipat, tubuhnya menggigil bukan karena salju, tapi karena takut.

"Kenapa? Kenapa? Papa benar-benar terlihat sangat menyeramkan, aku belum pernah melihatnya berwajah seperti itu..."

Salah satu pria dengan ekor rubah berwarna putih dan ujung berwarna merah menghampirinya. Langkahnya angkuh.

"Hmm... padahal jika kau tetap menjadi seperti biasanya, kerajaan ini tidak perlu terancam konflik besar seperti ini..." Dia berjalan meninggalkan Stella begitu saja, tanpa menoleh.

*Tap tap..*

Stella hanya bisa melipat kedua kakinya lebih erat dan menundukkan wajahnya, ekornya mengelilingi dirinya sendiri untuk mencari hangat.

"Benar juga apa yang dikatakannya, aku tidak perlu perubahan, aku hanya perlu menjadi seperti biasanya, dan semua akan aman..."

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya dengan pelan, lalu sebuah jas yang masih hangat menyelimuti tubuh kecilnya.

*Sret pelan..*

"Anu... jika kau hanya memakai pakaian seperti itu, kau akan kedinginan."

Stella mengangkat wajahnya dengan kaget. Saat itu dia melihat anak laki-laki berambut hitam itu sedang berdiri di hadapannya dengan hidung yang memerah karena dingin.

"Bukankah kau anak yang membantuku tadi?"

Aku hanya tersenyum kepadanya, berusaha terlihat kuat padahal aku juga kedinginan.

"Benar, memang ada yang berbeda dariku?"

Dia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, lupakan saja..."

Aku menggosok tubuhku yang mulai menggigil.

"Huhh... dinginnya, harusnya aku mengambil sarung tangan tadi..."

Dia menoleh ke arahku, dan menarikku untuk duduk di sampingnya, bahkan dia memberikan sebagian jas yang kuberikan tadi kembali padaku.

"Te-terima kasih..."

Stella menundukkan wajahnya ke bawah lagi.

"Hei.. ada yang ingin kutanyakan kepadamu." Dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. "Kenapa kau tidak pernah berhenti... maksudku, lihatlah ada banyak sekali luka lebam di tubuhmu, aku yakin kau juga ditindas sama sepertiku..."

Aku mengangguk dan menatap ke arahnya.

"Karena aku memiliki seorang ibu, yang selalu menjadi panutanku. Menurutnya tidak ada kata menyerah di dalam hidupnya, karena itu... aku ingin jadi orang sepertinya."

Stella hanya bisa tersenyum tipis, senyum pertama hari itu.

"Kau benar-benar keren ya, sangat berbeda dariku, aku hanya bisa berlari dari kenyataan, menjadi putri bangsawan yang seakan-akan hidup hanya dikendalikan seperti boneka, yang tidak akan bisa bergerak bebas, karena... jika aku bergerak sesuai dengan keinginanku, itu akan menjadi sebuah masalah saja... aku sangat menyedihkan."

Aku langsung menarik bahunya dan menatap wajahnya lekat-lekat.

"Itu tidak benar! Kau tidak menyedihkan, dengar! Apapun pilihan yang kau ambil, orang lain tidak berhak mengaturnya, karena setiap pilihan akan menentukan masa depanmu, jadi... jangan biarkan itu direbut oleh orang lain!"

Stella hanya bisa terdiam, dia hanya menatapku dengan matanya yang sedikit melotot.

"Bagaimana jika aku kesulitan setelah mengambil keputusanku sendiri?"

Aku melepaskan tanganku dari bahunya dan tersenyum lebar, sambil menunjuk ke arah diriku sendiri dengan bangga.

"Jika itu terjadi aku akan membantumu..."

Bibir Stella bergetar, dia mengepalkan kedua tangannya.

"Tapi itu akan membuatmu kerepotan, aku tidak ingin itu terjadi..."

"Begitu ya..." Aku meletakkan tanganku ke daguku dan memejamkan mataku sebentar. Seketika mataku membelalak lalu aku menunjuk ke arahnya.

"Kalau begitu... aku ingin kau membantuku juga ketika aku sedang kesulitan, bisakah kau berjanji?" Aku menjulurkan jari kelingkingku kepadanya.

Dia terdiam sebentar, lalu mengerutkan dahinya dan menatap ke arahku. Perlahan, senyumnya kembali.

"Aku berjanji..." Lalu dia mengikat jari kelingkingnya di jari kelingkingku. Janji itu terasa hangat di tengah salju.

[Akhir Kilas Balik]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!