Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

*DOR! DOR!*

Dua tembakan dari senjata cadangan yang disembunyikan Luca di balik sepatu botnya meluncur menembus kegelapan. Reinhard, yang sempat menyeringai penuh kemenangan, terpaksa berguling ke samping, menghindari peluru panas yang hampir merobek dadanya.

Kesempatan singkat itu dimanfaatkan Luca. Meski rasa sakit di rusuk dan dadanya menjerit hebat, pria itu merayap keluar dari himpitan peti kayu. Dengus napasnya terdengar berat, kasar, dan dipenuhi aroma darah yang makin pekat di tenggorokannya.

"Kamu pantang menyerah, seperti ibumu yang malang," kekeh Reinhard, muncul dari balik bayangan kontainer dengan pisau komando yang kembali terangkat.

"Jangan pernah sebut nama ibu saya dari mulut kotor Paman!" raung Luca, suaranya memecah kesunyian gudang bagai raungan serigala terluka.

Luca menerjang maju dengan sisa-sisa kekuatannya. Pertarungan jarak dekat kembali pecah dengan skala yang jauh lebih brutal. Tanpa senjata api di tangan, keduanya mengandalkan pertarungan otot dan baja.

Hantaman tinju Luca mendarat telak di tulang rusuk Reinhard, membuat pria tua itu tersedak darah. Namun, Reinhard membalasnya dengan sabetan pisau yang kembali menyayat bahu Luca, mengoyak daging dan menyiramkan darah segar ke lantai beton.

*BUGH! CRASH!*

Tubuh keduanya menghantam dinding kontainer besi hingga penyok keras. Luca mencengkeram cengkeraman tangan Reinhard yang memegang pisau, mencoba memutarnya, namun Reinhard menunduk dan menghantamkan dahinya tepat ke hidung Luca.

*Brak!*

Pandangan Luca berkilat putih saat rasa sakit membakar wajahnya. Keseimbangannya goyah. Reinhard memanfaatkan momen itu untuk menendang lutut Luca hingga pria muda itu terhempas bertekuk lutut.

Dengan napas tersengal-sengal dan darah membasahi setengah wajahnya, Luca mendongak. Di depannya, Reinhard berdiri dengan tubuh yang juga dipenuhi memar dan darah, namun matanya memancarkan kegilaan murni dari seorang pembunuh veteran.

"Kamu punya amarah yang besar, Luca. Tapi kamu tidak punya kekejaman yang cukup untuk mengalahkan ku!" desis Reinhard. Pria tua itu melangkah mundur saat mendengar derap langkah pasukan Marco yang kian mendesak masuk, lalu melemparkan bom asap rakitan ke lantai.

*CZZZZ-BOOM!*

Asap putih tebal seketika membumbung tinggi, membutakan pandangan dan memenuhi udara gudang. Luca berusaha mengejar sambil batuk hebat, namun tubuhnya meluruh dihantam rasa sakit yang luar biasa. Saat asap perlahan terkuak, Reinhard telah lenyap menembus kegelapan lorong rahasia dermaga.

Luca terduduk di atas genangan darahnya sendiri, mencengkeram dadanya yang naik turun tak beraturan. Kekalahan ini bukan hanya meninggalkan luka di fisiknya, tetapi melubangi keangkuhannya dengan rasa perih yang begitu membakar.

"Tuan! Tahan, Tuan!"

Marco berhamburan menerobos sisa asap yang menipis, menahan tubuh Luca yang hampir ambruk sepenuhnya ke lantai beton. Darah hangat dan pekat dengan cepat meresap ke dalam pakaian taktis Marco. Pria kepercayaan itu meringis melihat kondisi bosnya yang begitu parah—rusuk yang retak, bahu yang terkoyak, serta napas yang makin tersengal.

"Kumpulkan seluruh pasukan... kita mundur," bisik Luca dengan suara parau yang amat lemah, mata hitamnya masih menatap tajam ke arah lorong tempat Reinhard melarikan diri sebelum akhirnya kesadarannya meredup.

"Siapkan mobil medis sekarang! Kita lewat jalur belakang!" seru Marco pada anak buahnya melalui radio panggil.

Armada mobil hitam membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi, memotong rute utama menuju area belakang mansion keluarga Oliver. Marco tahu betul, jika situasi ini tercium oleh pihak luar—atau bahkan oleh Ruby—dampaknya akan sangat berbahaya. Kerentanan Luca adalah ancaman terbesar bagi kestabilan seluruh faksi mereka.

Mobil berhenti tepat di pintu gerbang bawah tanah rahasia yang terhubung langsung dengan lorong medis khusus di bawah mansion. Pintu besi tebal itu terbuka tanpa suara, menyembunyikan kedatangan sang penguasa yang bersimbah darah dari jangkauan siapa pun di lantai atas.

Tim dokter pribadi yang sudah disiagakan oleh Marco langsung menyambut mereka. Luca dibaringkan di atas tandu dan dilarikan ke ruang medis bawah tanah—sebuah fasilitas steril tertutup yang terpisah total dari area tempat tinggal utama.

"Bagaimana dengan Non Ruby, Tuan?" bisik salah satu pengawal tegap yang berjaga di dekat pintu rahasia.

"Jangan ada satu kata pun yang bocor ke atas," tegas Marco seraya menyapu darah di tangannya dengan kain basah. Wajahnya mengeras penuh intimidasi. "Gadis itu tidak boleh tahu Tuan Luca terluka, apalagi sampai tahu Tuan kalah dari pamannya. Biarkan dia berpikir Tuan sedang menyelesaikan urusan bisnis di luar kota."

Di lantai atas, di dalam kamarnya yang dingin, Ruby masih berdiri di tepi jendela. Ia menatap ke arah halaman depan mansion yang sepi, menggenggam jemarinya yang dingin dengan dada yang terus berdebar kencang tanpa tahu bahwa pria yang ditunggunya kini tengah berjuang melewati kritis di kedalaman tanah tempat ia berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!