Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Think of You
Udah berani bohong, ya, kamu. Oke, kalau begitu aku mau ngerjain kamu sebentar. Sesekali boleh, dong, ngerjain suami sendiri.
Ara segera meletakkan buku hariannya kembali ke dalam laci. Ia lalu duduk manis di atas ranjang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki Bara mulai terdengar mendekat.
"Lama, ya, sayang? Maaf, tadi aku nyuci piring dulu."
Duh, aku malah jadi nggak tega. Tapi mau gimana lagi? Aku pengen banget ngerjain kamu.
"Ngapain kamu nyuci piring? Itu kan tugasku."
"Kamu baru aja bangun dari koma, sayang. Aku nggak tega kalau harus nyuruh kamu bersih-bersih."
Bara meletakkan makanan di atas meja.
"Sekarang kamu makan dulu, ya? Mau aku suapin?"
Ara menoleh ke arah makanan yang dibawa Bara. Ia kemudian berpura-pura memasang wajah jijik.
"Aku nggak mau makan. Aku malah jadi mual."
"Kamu mual?"
Bara langsung terlihat khawatir.
"Tadi sempat muntah, belum?"
"Kenapa? Kamu pengen lihat aku muntah-muntah, gitu?"
"Astaga! Sayang, nggak gitu."
Bara tampak kebingungan.
"Kenapa kamu jadi emosian kayak gini, sih?"
Kenapa Ara jadi sering tiba-tiba emosi kayak gini? Apa aku ada salah ngomong? Ah, mungkin karena efek hamil muda. Aku harus lebih sabar menghadapi dia.
"Bilang apa tadi?"
Ara langsung menatap Bara.
"Kayaknya aku dengar kata-kata 'emosi'. Oh, jadi sekarang kamu mikir aku kayak gitu?"
Ia memalingkan wajah.
"Kalau kamu udah bosan sama aku dan nggak sanggup menghadapi tingkahku, bilang aja. Kamu nggak perlu sampai berpura-pura perhatian kayak gini."
Bara, maaf.
"Ara?"
Bara mendekat.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa aku ada salah sama kamu?"
Ia meletakkan makanan di meja dekat ranjang, kemudian menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya. Tatapannya menatap Ara dalam-dalam.
Ara, apa kamu nggak suka kalau aku kembali? Aku pikir kamu bakal bahagia waktu melihat aku lagi. Apa aku salah? Apa seharusnya aku meninggal aja?
"Kenapa kamu malah ngelihatin aku sambil pasang wajah memelas kayak gitu?"
Ara berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya.
"Kamu mau nangis? Nangis aja sana!"
Duh! Kalau dia benar-benar nangis, gimana? Aku juga nggak tega karena sampai ngebentak dia kayak tadi. Bara, maafin aku. Aku cuma mau ngerjain kamu sebentar.
"Ara!!!"
Mati aku. Aku nggak tega ngelihat tatapannya.
Ara langsung kehilangan keberaniannya begitu melihat ekspresi Bara. Bara menghela napas.
"Lebih baik berantemnya nanti aja. Sekarang kamu makan dulu. Kamu juga belum makan dengan benar selama dua minggu ini."
Ara hampir tertawa mendengar perkataan Bara. Namun, ketika Bara kembali menatapnya, ia buru-buru memasang wajah datar.
Gak sekalian aja kamu bilang aku belum makan selama dua minggu. Aku masih nggak habis pikir kenapa tiba-tiba aja aku berada di tahun 2027 kayak gini.
"Nggak mau."
Ara mendorong piringnya sedikit.
"Aku mual lihat makanannya. Aku juga tambah mual waktu lihat wajah kamu. Aku pengen muntah, tapi nggak bisa."
Bara menundukkan kepala. Wajahnya terlihat murung. Ia memang belum pernah menghadapi seseorang yang sedang hamil sebelumnya. Karena itu, ia tidak tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya yang sedang mengalami perubahan emosi dan mual di awal kehamilan.
"Jangan-jangan..."
Ara berhenti sejenak.
"Aku hamil."
"Hah?"
Bara langsung mendongakkan wajahnya.
Tatapannya berubah panik. Ia takut Ara belum siap menerima kenyataan bahwa mereka akan memiliki seorang anak.
"Kenapa kamu kelihatan panik?"
Ara menatapnya curiga.
"Jangan-jangan aku beneran hamil? Iya?"
Bara terdiam. Ara semakin yakin.
"Kalau aku memang hamil, mending aku gugurin aja. Aku belum siap."
"Ara!!!"
Bara langsung berdiri.
"Kenapa bicaramu kayak gitu?!"
"Jadi bener?"
Ara ikut panik.
"Astaga! Kenapa tiba-tiba aku bisa hamil begini?!"
"Kamu nggak pengen hamil setelah menikah sama aku?"
Nada suara Bara terdengar kecewa.
"Oke. Aku terima kalau kamu memang belum siap. Tapi tolong, jangan pernah berpikir buat menggugurkan kandungan kamu."
Ia menatap Ara serius.
"Itu anak kita."
Duh. Mending udahin aja ngerjain Bara.
Ara mulai merasa bersalah. Ia mengambil makanan yang berada di atas meja. Sebenarnya ia memang sudah lapar sejak tadi, tetapi karena Bara tidak mau jujur kepadanya, rasa kesalnya membuatnya memilih untuk mengerjai suaminya.
Sayangnya, candaan itu justru berakhir seperti ini. Ara mulai makan perlahan sambil sesekali melirik Bara yang masih terlihat kesal.
"Kamu marah?"
"Enggak."
"Kayaknya kamu beneran marah."
"Aku nggak marah."
Bara memalingkan wajah.
"Kalau udah selesai, piringnya taruh aja di meja. Aku mau nyuci pakaian dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Bara keluar dari kamar. Ara hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan bersalah.
"Kayaknya aku memang udah keterlaluan."
Ia menghela napas.
"Aku harus cepat-cepat minta maaf."
Ara kemudian mempercepat makannya. Bahkan beberapa kali ia tersedak karena terlalu terburu-buru menelan makanan sebelum selesai mengunyah.
Sebenarnya perutnya masih terasa sedikit mual, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk makan. Bagaimanapun, sekarang ada calon buah hati mereka di dalam rahimnya.
Setelah selesai makan, Ara segera membawa piringnya turun ke bawah dan mencucinya. Ia kemudian berkeliling apartemen untuk mencari Bara.
"Bara?"
"Hmm?"
Suara Bara tiba-tiba terdengar dari belakang. Ara menoleh. Bara berdiri di sana, tetapi pandangannya sama sekali tidak mengarah kepadanya. Sepertinya laki-laki itu masih kesal dengan kejadian tadi.
"Udah selesai makan?"
"Bara."
Ara mendekat.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Aku nggak marah."
"Tapi kamu sama sekali nggak mandang ke arahku."
Ara menyilangkan tangan di depan dada.
"Memangnya kamu lagi ngomong sama angin? Apa sama tembok?"
Bara akhirnya menatapnya.
"Kalau memang aku marah, emangnya kenapa? Nggak boleh?"
"Aku mau minta maaf."
Ara menundukkan kepala.
"Aku cuma ngerasa bingung karena tiba-tiba aja aku hamil. Padahal waktu itu kita baru menikah secara kecil-kecilan di rumah sakit."
Ia mengangkat wajahnya.
"Belum sempat menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri seperti seharusnya, kok bisa langsung hamil?"
Bara mengernyit.
"Maksudnya, menikah secara kecil-kecilan di rumah sakit?"
Ara terdiam.
"Bara..."
Ia menghela napas.
"Nggak perlu bohong sama aku. Aku tahu semuanya."
Tatapan Bara berubah.
"Aku tahu kamu nyimpen buku harianku."
Bara tidak langsung menjawab.
"Ara, aku bisa jelasin semuanya."
"Mau jelasin apalagi?"
Ara menatapnya.
"Aku udah baca semua tulisanmu di buku harianku."
Bara menghela napas pelan.
"Apa kamu memang nggak suka kalau aku kembali lagi ke sini?"
Ara menggeleng.
"Apa kamu nggak suka kalau aku masih hidup?"
Ara kembali menggeleng. Ia kemudian melangkah mendekat dan membenamkan wajahnya di dada Bara.
"Enggak, Bara."
Kedua tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.
"Aku bahagia."
Suaranya bergetar.
"Bahagia banget karena aku bisa ketemu kamu lagi. Apalagi aku masih bisa nyentuh kamu kayak gini."
Bara membalas pelukan itu.
"Terus kenapa dari tadi kamu marah-marah sama aku? Aku cuma bingung menghadapi kamu."
Ara terkekeh kecil.
"Aku cuma pengen ngerjain kamu, sayang."
"Hah? Maksudmu?"
"Maaf."
Ara mendongak.
"Aku hampir nggak bisa nahan tawa waktu lihat wajah kamu yang udah kelihatan sedih tadi."
Ia menahan senyum.
"Aku juga sebenarnya nggak tega. Tapi mau gimana lagi? Kamu nyebelin banget karena nggak mau jujur sama aku."
Bara mengusap kepala Ara.
"Sebenarnya aku memang mau cerita semuanya waktu kita lagi berdua kayak gini, sayang."
Ia melirik ke arah ruang tengah.
"Kalau di rumah sakit rasanya nggak enak. Abangmu juga nguping terus."
"Selain itu, aku takut kamu bakal terkejut setelah tahu kalau kamu hamil."
"Ya udah."
Ara tersenyum kecil.
"Aku minta maaf, ya, sayang. Aku cuma pengen ngerjain kamu sebentar."
Ia mengusap perutnya sendiri.
"Aku juga nggak akan tega kalau harus menggugurkan kandunganku. Lagian, ini anak kita."
Ara menatap Bara.
"Ini juga hadiah untuk kita, kan?"
Bara mengangguk. Ia kemudian mengusap kepala Ara dengan lembut. Sungguh, perasaannya jauh lebih lega setelah mengetahui bahwa Ara hanya sedang mengerjainya.
"Tapi..."
Ara kembali teringat sesuatu.
"Pelaku yang nabrak kita sampai kita mengalami kecelakaan itu siapa?"
Bara melepaskan pelukannya. Ia menggeleng pelan.
"Aku nggak tahu."
Bara menghela napas.
"Sebenarnya aku nggak terlalu memedulikannya. Bisa kembali hidup aja sudah membuat aku bersyukur."
Ara terdiam sejenak.
"Kita harus cari tahu."
"Buat apa?"
"Kalau pelakunya memang sengaja menabrak kita dan dia tahu kita masih hidup, gimana?"
Bara terkekeh kecil.
"Kayaknya kamu terlalu banyak nonton drama, deh, sayang. Paling juga kecelakaan biasa."
"Perasaanku nggak enak, Bara."
Nada suara Ara berubah serius.
"Aku juga sedikit curiga sama satu orang."
"Siapa?"
"Emang waktu di masa lalu aku sama sekali nggak pernah cerita soal ini ke kamu karena aku nggak mau nambah beban pikiran kamu."
Bara menatapnya.
"Memangnya siapa orangnya? Kamu punya bukti?"
"Pelakunya adalah salah satu orang yang datang ke rumah sakit tadi."
Ara mengepalkan tangannya.
"Makanya aku pengen cari tahu apa sebenarnya maksud dia sampai mau bikin kita celaka."
Bara terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menganggap kecelakaan itu sebagai sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Sementara Ara hanya menatapnya dengan serius. Entah kenapa, sejak pertama kali melihat orang itu kembali di hadapannya, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggu pikirannya.
Dan semakin ia mencoba mengingat masa lalu, semakin kuat keyakinannya bahwa kecelakaan mereka bukan sekadar kebetulan.