Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tusya Ryma

Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.

Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.

Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.

Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.

Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Dari Dulu Menyukaim

Di hotel tempat Louis menginap, ia berdiri di depan jendela sambil menatap pemandangan kota. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tubuhnya yang polos hanya tertutup handuk putih di pinggang.

"Aishhh, kenapa dari semalam teleponku tidak diangkat? Pesan pun tidak dibuka! Apa Kariss marah? Tapi ... apa alasan dia marah?"

Louis tidak tahu kalau semalam dari balkon kamar ayahnya, Karissa melihat dia masuk ke dalam taksi bersama Marine. Mungkin, itulah alasan Karissa sekarang enggan menerima telepon darinya.

"Sudahlah! Mungkin dia sibuk!"

Louis segera berbalik badan, menyimpan ponselnya di atas nakas, lalu mengambil pakaian dari dalam koper dan bersiap memakainya.

Ketika sedang memakai celananya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Louis tidak segera membukanya. Ia melanjutkan memakai celana hingga selesai.

Ketika hendak memakai kemeja berwarna abu-abu muda, suara ketukan pintu itu kembali terdengar. Louis segera beranjak menuju pintu, lalu membukanya. Terlihat seorang wanita berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Selamat pagi, Sayang!" sapa Marine yang saat ini sudah mengenakan mini dress seksi dengan riasan tebal di wajahnya.

Rambut panjangnya ditata setengah keriting, membuat penampilannya terlihat sangat mencolok.

"Nih, aku bawakan makanan untukmu!" Marine mengangkat kantong putih berisi dua porsi makanan, lalu melangkah ke depan, bersiap untuk masuk.

Louis hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu bergeser, membiarkan wanita itu masuk.

Marine meletakkan kantong berisi makanan itu di atas meja. Ia melihat Louis sedang mengenakan kemejanya dengan kancing yang belum terpasang, memperlihatkan dada putih dan berotot yang menggoda.

"Sini ...." Marine menghampirinya. Ia mendekat dan segera menyentuh kemeja Louis. "Aku bantu kancingkan bajumu!"

"Eh!" Louis mencoba menghindar. "Aku bisa sendiri!"

Ia menepis tangan wanita itu, lalu mundur satu langkah ke belakang.

Marine kembali mendekat, memegang kemeja Louis dan memaksa untuk membantunya.

"Sudah seharusnya aku membantumu! Jangan menolak!" paksa Marine, tidak membiarkan Louis menolak lagi.

"Nanti, jangankan mengancingkan baju, mencuci bajumu pun aku yang lakukan!"

Louis tidak punya pilihan lain selain diam.

Ketika tangan Marine memegang kancing, tiba-tiba matanya berhenti pada otot dada pria itu yang terlihat kekar dan keras. Dengan sengaja, ia menyentuh dan merabanya.

"Louis ...." Marine mendesah tiba-tiba. Wajahnya bersemu merah dengan sorot mata penuh kekaguman.

"Kau begitu seksi! Aku menyukaimu!" ucapnya lagi dengan berani.

Detik berikutnya, wanita itu memeluk tubuh tinggi Louis dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.

'Rasanya sangat nyaman!'

"Ma-Marine! Menyingkirlah!" ucap Louis sambil mendorong bahunya agar menjauh.

"Louis!" Marine masih mempertahankan posisinya, enggan melepaskan pelukan itu.

"Bukankah kita ini sepasang kekasih? Tapi, mengapa sekarang sikapmu begitu dingin? Kita tidak pernah lagi berpegangan tangan, berpelukan, bahkan berciuman. Kau selalu menghindar ketika aku menginginkannya! Apa sekarang kau tidak menyukaiku lagi?" tanya Marine dengan sedih.

Ia masih bersandar di dada pria itu dengan mata berkaca-kaca. Mungkin, sebentar lagi air matanya akan menetes.

"Marine!" panggil Louis dengan tegas.

Ia mulai berbicara serius. "Sekarang, aku ingin fokus dalam bekerja! Aku ingin membuat Ayah bangga. Aku juga akan membuktikan kalau aku mampu memimpin perusahaan suatu hari nanti! Jadi, sekarang aku ingin sendiri dulu! Bisakah kita mengakhiri hubungan kita?"

"Apa? Lo-Louis!" Marine terkejut mendengarnya. "Apa yang kau katakan?"

"Kau ingin mengakhiri hubungan kita? Tapi, kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Marine tidak mengerti.

"Apa karena aku mengganggumu?"

Marine mendongak, menatap Louis penuh permohonan.

"Aku tidak ingin kita putus! Kalau kau ingin fokus dalam pekerjaan, silakan saja! Aku tidak akan mengganggumu! Tapi, jangan mengakhiri hubungan kita!"

"Marine!" Louis menunduk, menatap wanita itu, lalu mendorongnya agar menjauh. "Kita lebih cocok menjadi teman!"

"Tidak, Louis! Jangan katakan itu!" tolak Marine sambil menarik kemejanya.

"Dari dulu, aku sangat menyukaimu! Bahkan, sebelum kau dan Karissa jadian pun aku sudah menyukaimu! Hanya saja, waktu itu kau terlebih dahulu menyatakan cinta kepada Kariss, membuatku harus memendam perasaan cinta ini sendirian! Dan sekarang, kita sudah bersama! Aku tidak ingin melepaskanmu lagi!"

Marine sungguh tidak ingin berpisah. Sejak lama, ia sudah menyukai Louis. Ia bahkan rela berkhianat kepada sahabatnya sendiri hanya demi pria ini. Sekarang harus putus? Marine jelas akan menolak.

"Hei, dengarkan aku!" ucap Louis dengan lembut.

Ia memegang wajah Marine, menyeka air mata di pipinya, lalu berkata, "Kau wanita baik dan cantik! Banyak pria yang menyukaimu! Aku yakin, kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku!"

"Tidak! Aku tidak ingin pria lain! Aku hanya menginginkanmu, Louis!" tolak Marine dengan air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya.

"Maaf!"

Louis tiba-tiba melepaskan diri dan mundur dua langkah ke belakang.

"Saat ini, aku hanya ingin sendiri dulu! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun!"

"Mulai sekarang, kita putus!" ucap Louis dengan berani.

Kalau bukan sekarang mengakhiri hubungannya dengan Marine, lalu kapan lagi?

Apa Louis harus menunggu sampai Karissa marah lagi?

Ia tidak ingin hal itu terjadi.

"Tidak, aku tidak mau putus! Aku masih ingin bersamamu!" balas Marine sambil menangis.

"Kalau tidak ingin berpegangan tangan, tidak masalah! Tidak ingin berpelukan atau bahkan berciuman, itu pun tidak masalah! Aku hanya ingin kita tetap bersama," lirihnya dengan perasaan terluka.

"Jangan katakan 'putus', Louis!"

Wanita itu terus saja menangis. Ia tidak terima dengan keputusan Louis yang ingin mengakhiri hubungan mereka.

Louis kembali berkata, "Marine, kalau memang kita berjodoh, pasti kita akan bersama lagi! Tapi, untuk saat ini, aku hanya ingin sendiri dulu! Walaupun kita putus, kita masih bisa berteman! Bahkan, kita masih bisa bertemu setiap hari karena kau asisten pribadiku!"

"Louis .... Kau sungguh keterlaluan!" sergah Marine dengan marah.

Air mata masih mengalir deras di pipinya. Namun pria di depannya tetap tidak mempedulikan.

"Apa ini gara-gara Karissa? Hah? Iya?"

"Kau masih menyukainya, kan?"

Mendengar nama Karissa keluar dari mulut Marine, Louis tiba-tiba terdiam. Pandangannya berubah suram.

Walaupun memang Karissa adalah alasannya, tapi ia tidak perlu memberi tahu Marine. Ia juga tidak harus menjelaskan apapun pada Marine

"Sudahlah!" Louis enggan berdebat lagi. "Bukankah jam sembilan nanti kita harus menemui klien? Sekarang, aku bersiap dulu!"

Marine tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat dengannya hanya demi mempertahankan hubungan mereka.

Ia segera menyeka air mata di wajahnya. Dengan suara serak, ia berkata, "Makanlah makanan yang sudah aku bawa. Nanti, jam sembilan aku akan kemari lagi!"

Lalu, Marine pergi meninggalkan Louis keluar dari kamar.

***

Siang hari, Karissa mengemas semua barangnya dan memasukkannya ke dalam koper besar. Ia berniat pergi dari rumah Tuan Lee dan tinggal di rumah yang sudah dibelinya kemarin karena rumah itu sekarang sudah kosong. Pemilik sebelumnya sudah pergi, hanya saja di lantai satu sudah mulai direnovasi.

Ketika sedang berganti pakaian, tiba-tiba ponselnya berdering. Karissa melihat bahwa panggilan itu berasal dari sahabatnya, Davi. Dengan cepat, ia segera mengangkatnya.

"Halo!"

"Kariss, aku jemput sekarang, ya! Kau sudah siap belum?"

"Eh!" Karissa terkejut. "Menjemputku?

"Tidak ... tidak ... jangan!" tolak Karissa dengan cepat.

"Maksudku, kau langsung saja ke rumah itu! Sekarang, aku sudah ada di dalam taksi. Sebentar lagi sampai," ucap Karissa dengan sedikit berbohong.

Kalau sampai Davi tahu di mana dirinya tinggal, itu bisa gawat.

1
Bu Kus
lanjut LG thro makasih
Bu Kus
penuh teka teki siapa dalang di balik itu semua jadi penasanaran
Bu Kus
seru banget kayanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!