Indonesia
NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 — Pulau Terlupakan

Perjalanan menuju pulau terpencil yang diduga menjadi lokasi akademi tersembunyi Thornwood membutuhkan persiapan maritim yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, mengandalkan kapal yang disewa melalui kontak dagang Sylvaris yang terpercaya.

"Peta ini sudah berusia puluhan tahun," catat kapten kapal yang mereka sewa, seorang pelaut berpengalaman bernama Garrick yang telah lama berlayar di perairan timur. "Pulau ini ditandai sebagai 'tidak berpenghuni dan berbahaya untuk didekati'—peringatan yang jarang kulihat pada peta resmi kerajaan."

Tim ekspedisi yang dibentuk terdiri dari Ardan, Serena, Kael, dan dua prajurit Sylvaris yang berpengalaman dalam navigasi laut, didukung oleh sumber daya yang disediakan Roderic dan koalisi mereka untuk memastikan misi ini memiliki peluang keberhasilan maksimal.

"Kenapa pulau ini ditandai berbahaya?" tanya Serena, memeriksa peta kuno itu dengan seksama.

"Legenda setempat bicara tentang kabut yang tidak pernah hilang, dan kapal-kapal yang mendekat tanpa pernah kembali," jawab Garrick, meski nada suaranya menunjukkan ia sendiri tidak sepenuhnya memercayai cerita rakyat semacam itu.

---

Perjalanan laut memakan waktu enam hari, dan ketika mereka akhirnya mendekati koordinat yang ditandai dalam catatan lama, kabut tebal yang disebutkan dalam legenda memang mulai muncul, menyelimuti pandangan mereka dengan kelembapan yang terasa tidak alami.

"Ini bukan kabut biasa," gumam Kael, merasakan sesuatu yang aneh di udara, sensasi yang mengingatkannya pada energi magis yang pernah ia rasakan di hutan Sylvaris bertahun-tahun lalu. "Ada sihir di sini."

Mereka berhasil mendaratkan kapal dengan hati-hati di sebuah teluk kecil, pulau yang terungkap di balik kabut menunjukkan vegetasi lebat yang tumbuh liar tanpa campur tangan manusia selama bertahun-tahun, namun di tengah hutan itu, reruntuhan bangunan batu mulai terlihat—jejak dari akademi yang pernah berdiri di sini.

"Akademi Thornwood," gumam Serena, kekaguman dan kewaspadaan bercampur dalam suaranya saat mereka mendekati reruntuhan yang mengesankan meski telah lama ditinggalkan.

---

Penjelajahan reruntuhan itu mengungkap sisa-sisa dari apa yang pernah menjadi tempat perkumpulan intelektual yang signifikan—ruang-ruang kuliah yang telah runtuh sebagian, perpustakaan yang masih menyimpan beberapa gulungan meski banyak yang telah rusak oleh waktu dan kelembapan, dan di pusat kompleks, sebuah bangunan yang tampak lebih terawat dari yang lain, seolah seseorang masih mengunjunginya secara berkala.

"Seseorang berada di sini baru-baru ini," kata salah satu prajurit Sylvaris, memeriksa jejak di tanah sekitar bangunan pusat itu. "Jejak ini tidak lebih dari beberapa minggu."

Ketegangan segera meningkat di antara tim mereka, menyadari bahwa pulau yang mereka kira terlupakan mungkin masih memiliki penghuni, mungkin bahkan terhubung langsung dengan sosok misterius yang mereka cari.

Ardan mengisyaratkan timnya untuk bergerak dengan kehati-hatian ekstra saat mereka mendekati bangunan pusat, tangannya secara naluriah bergerak ke gagang pedang Halric yang telah menemaninya sepanjang perjalanan panjang ini.

---

Di dalam bangunan pusat, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan—bukan markas rahasia yang penuh dengan pengawal bersenjata seperti yang mereka antisipasi, melainkan sebuah ruangan yang dirawat dengan hati-hati, dipenuhi buku-buku dan catatan yang jauh lebih baru dari reruntuhan di sekitarnya.

Di tengah ruangan, duduk seorang wanita tua dengan rambut putih panjang, matanya menatap mereka dengan ketenangan yang mengejutkan, seolah telah lama menantikan kedatangan mereka.

"Aku bertanya-tanya kapan seseorang akhirnya akan cukup gigih untuk menemukan tempat ini," katanya, suaranya jelas meski usianya terlihat lanjut. "Aku Seraphine, murid terakhir dari Aldric Thornwood. Aku telah menunggu seseorang seperti kalian selama bertahun-tahun."

"Menunggu untuk apa?" tanya Ardan, waspada namun juga penasaran dengan pertemuan yang tidak terduga ini.

"Untuk berbagi kebenaran yang telah lama kusembunyikan," jawab Seraphine, "tentang Thornwood, tentang filosofi yang telah disalahgunakan menjadi alasan untuk kekejaman yang tidak pernah ia maksudkan, dan tentang identitas sesungguhnya dari orang yang kalian sebut Arsitek."

---

Seraphine mempersilakan mereka duduk di ruangan yang telah ia jaga selama bertahun-tahun, menyajikan teh herbal sederhana sementara ia mulai menceritakan kisah yang telah lama ia simpan sendirian.

"Thornwood bukan monster seperti yang mungkin kalian bayangkan," mulainya, suaranya membawa kesedihan mendalam dari kenangan yang telah lama ia pendam. "Ia seorang pemikir yang jujur percaya bahwa konflik terkontrol bisa mendorong kemajuan yang lebih cepat daripada perdamaian yang stagnan. Tapi ia tidak pernah bermaksud filosofinya digunakan untuk membenarkan pembantaian tanpa akhir."

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Serena.

"Beberapa muridnya, terutama satu yang paling cerdas dan paling ambisius, mengambil ide-idenya dan mendistorsinya menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap. Thornwood mencoba menghentikannya, tapi..." Seraphine berhenti, matanya berkaca-kaca dengan kenangan yang jelas masih menyakitkan. "Murid itu membunuhnya, tiga puluh tahun lalu, tepat di ruangan ini, dan mengambil alih akademi untuk membangun fondasi dari apa yang akhirnya menjadi Majelis Abu."

---

"Siapa murid itu?" desak Ardan, merasakan jantungnya berdebar dengan antisipasi jawaban yang telah mereka cari begitu lama.

"Namanya Cassian Voss," jawab Seraphine, nama yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya dalam seluruh penyelidikan mereka. "Ia menghilang dari catatan publik setelah kematian Thornwood, mengambil identitas baru, membangun jaringan yang perlahan berkembang menjadi apa yang kalian kenal sekarang sebagai Majelis Abu."

"Apakah dia masih hidup?" tanya Kael.

"Aku percaya begitu, meski ia pasti sudah sangat tua sekarang, mungkin menggunakan cara-cara untuk memperpanjang hidupnya yang tidak sepenuhnya kupahami," Seraphine menjawab dengan hati-hati. "Kekuatan dan pengaruhnya tumbuh begitu besar sehingga aku tidak berani mencoba menghentikannya sendirian. Aku hanya bisa bersembunyi di sini, menjaga kebenaran tentang gurunya yang sesungguhnya, menunggu seseorang yang cukup kuat dan cukup gigih untuk akhirnya menghadapinya."

---

Pengungkapan nama Cassian Voss membuka jalur investigasi yang sama sekali baru, meski juga menghadirkan tantangan besar—bagaimana melacak seseorang yang telah menghilang sepenuhnya dari catatan publik selama tiga puluh tahun, yang telah membangun kerajaan bayangan dengan kehati-hatian yang luar biasa.

"Apakah kau punya petunjuk tentang identitas yang mungkin ia gunakan sekarang?" tanya Ardan.

Seraphine menggeleng pelan. "Tidak secara pasti. Tapi aku tahu ia selalu terobsesi dengan simbolisme fajar dan kebangkitan—gelar-gelar yang kalian sebutkan, 'Penjaga Fajar', 'Arsitek'—semuanya konsisten dengan cara berpikirnya. Ia percaya dirinya membangun 'fajar baru' bagi dunia, melalui kehancuran tatanan lama."

Ia kemudian menyerahkan sebuah buku catatan pribadi Thornwood sendiri, yang berhasil ia selamatkan sebelum kematian gurunya, berisi pemikiran-pemikiran awal yang kemudian didistorsi Voss, serta beberapa sketsa wajah muridnya yang ambisius itu—gambaran visual pertama yang mereka miliki tentang sosok yang selama ini hanya mereka kenal melalui gelar misterius.

---

"Kenapa kau tidak pernah membawa informasi ini kepada otoritas, meminta bantuan untuk menghentikannya?" tanya Serena, penasaran dengan tiga dekade kesendirian yang telah dijalani wanita tua itu.

"Aku mencoba, bertahun-tahun lalu," jawab Seraphine, kepahitan jelas terdengar dalam suaranya. "Tidak ada yang percaya padaku—seorang wanita tua yang tinggal sendirian di pulau terpencil, menuduh seseorang yang bahkan tidak ada dalam catatan resmi mana pun. Aku hampir dianggap gila. Setelah itu, aku memutuskan untuk menunggu, menjaga kebenaran ini sampai seseorang dengan kredibilitas dan sumber daya yang cukup akhirnya datang mencarinya."

"Kau telah menunggu dengan sangat lama," kata Ardan, menghormati pengorbanan dan kesabaran yang telah ditunjukkan wanita ini selama puluhan tahun.

"Dan aku akan terus membantu sebisaku," janji Seraphine, "sekarang setelah kalian akhirnya datang. Kebenaran tentang Thornwood, tentang bagaimana filosofinya disalahgunakan, layak untuk akhirnya terungkap—bukan hanya untuk menghentikan Voss, tapi juga untuk membersihkan nama guruku dari kekejaman yang tidak pernah ia inginkan."

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!