Seorang wanita yang terikat pada hutang yang harus ditanggungnya, namun dibalik beban itu ada tiga hati yang justru memperebutkan dirinya, dan saat dia harus memilih, maka hatinyalah yang akan menentukan pilihan untuk hidupnya. Pilihan sulit yang akan menentukan kebahagiaannya bahkan kebahagian orang-orang yang dikasihinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sal01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH LIMA
Mario menghentikan mobil mewahnya disebuah mall terbesar di kota X, kemudian dia memakai masker dan kacamata. Gloria mengerutkan keningnya melihat Mario, terlebih saat menyadari dimana ereka berdua saat ini.
“Honey, mengapa ke mall, kukira kita akan ke pantai dan mengapa kenapa penampilanmu seperti itu” tanya Gloria bingung.
Mario malah menyerahkan masker dan kacamata juga untuk Gloria, “”Pakailah Glo, kamu ingin orang mengenali kita?, terlebih apa kamu ingin memperlihatkan muka jelekmu karena menangis itu” canda Mario.
“Honeeeeyyyy….” Gloria ingin protes, namu Mario segera memasangkan masker dan kacamata di wajahnya.
“Sempurna, aku benar-benar ingin menikmati hari ini tanpa gangguan siapapun Glo, kamu bisa bayangkan jika orang melihat kita berdua berjalan kan” tanya Mario.
Gloria hanya diam, dia sadar bukan dia yang jadi masalahnya, tapi Mario, jika para wanita diluar sana melihat Mario tanpa bodyguard tak terbayang bagaimana reaksi mereka. Akhirnya Gloria harus pasrah menerima tampil seperti itu yang memang menyamarkan penampilan mereka berdua.
Mario keluar dari mobilnya lalu berlari ke sebelah tempat duduk Gloria, Mario membukakan pintu mobil untuk Gloria lalu mengulurkan tangannya. Gloria meraih tangan Mario dan merekapun berjalan memasuki mall itu dengan bergandengan tangan, persis seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
“Sebenarnya kita mau kemana honey, apakah ada yang ingin kamu cari” Gloria masih penasaran.
“Glo, apakah kamu benar-benar tak pernah bersantai dan berkencan” Mario menggenggam erat tangan Gloria, seakan takut Gloria akan hilang.
“Hehehe…sebenarnya memang tidak pernah honey, aku hanya ke mall kalau mbak Anna yang ngajak, aku nggak ada waktu buat jalan-jalan, kalau belanja juga aku nggak bakal berani ke mall, paling aku nyari pasar pinggiran aja buat nyari keperluanku, yah sesuai dompetku aja sich” kekeh Gloria, karena memang Gloria tak akan pernah mau membuang waktunya untuk hal yang menurutnya nggak penting.
“Oh, begitu ya, kalau begitu sekarang saatnya kamu menikmatinya Glo, kita hanya akan jalan-jalan saja, atau apa kamu mau nonton Glo” tanya Mario.
“Jika kamu mau, aku pasti senang sekali honey”” ucap Gloria.
“Baiklah, ayo kita nonton” Mario mengajak Gloria ke arah bioskop yang tersedia di mall itu.
Sesampainya di bioskop, Gloria bingung karena Mario tidak pergi mengantri tiketnya, melainkan langsung menuju pintu salah satu studio yang sepertinya akan dimulai filmnya. Saat masuk Gloria semakin bingung melihat tak ada seorangpun didalam ruangan itu.
“Glo kamu mau duduk dimana” tanya Mario.
“Terserah honey” sahut Gloria, “Apa filmnya belum mulai ya, makanya yang lain nggak masuk” pikirnya.
Mario mengajak Gloria mengambil kursi pada bagian tengah, tidak terlalu dekat dengan layar. Saat mereka duduk seseorang masuk dan mengantar cemilan dan minuman untuk mereka berdua. “Heh gini ya kalau nonton sama sultan” gumam Gloria.
“Mall ini punyaku Glo, aku cuman minta satu ruangan ini dikosongkan aja, aku cape kalau harus nonton pakai masker dan kacamata” kekeh Mario.
Mereka menonton film bergenre romantis, yang membuat Gloria beberapa kali tersedak saat ada adegan dewasa didepannya. Sementara Mario tetap tenang, tangannya terus menggenggam tangan Gloria, tak sekalipun dilepaskannya, seolah Gloria anak kecil yang bisa tiba-tiba kabur darinya.
Setelah menonton selama kurang lebih dua jam setengah, Mario dan Gloria keluar dari ruangan itu. Gloria benar-benar panas dingin dan mukanya sudah merah merona karena ada begitu banyak adegan yang cukup vulgar dari film yang mereka tonton.
“Kenapa Glo, apa kamu juga ingin seperti itu” bisik Mario seksi di telinga Gloria. Hal itu membuat Gloria semakin tak karuan, mukanya semakin merah merona.
“Honey, apaan sich ah” ucap Gloria tanpa sadar dia memukul lengan Mario dan mencubit perut Mario saking malunya.
“Awww, hei mengapa kamu memukul dan mencubitku Glo, apa salahku” ucap Mario meringis kesakitan padahal Gloria memukul dan mencubit dengan perlahan.
“Aaaa maaf….maaf honey, aku nggak sengaja, maaf aku sungguh malu ini, jangan diledek donk” tanpa sadar Gloria bergelayut manja di lengan Mario.
“Hei, aku hanya bercanda, jangan sepanik itu” ucap Mario lembut seraya memegang bahu Gloria dan mengacak rambut Gloria. “Tapi aku senang kamu semanja ini Glo, teruslah bermanja padaku, aku sangat menyukainya” lanjutnya mengecup sekilas pucuk kepala Gloria.
Degh…
Degh…
Degh….
Jantung Gloria sudah tak bisa dikondisikan lagi, lututnya lemas, “Bagaimana aku tidak meleleh jika mendapat perlakuan seperti ini” Gloria menjerit dalam hatinya. Gloria terhanyut dengan perasaannya, sehingga dia tidak melepaskan tangannya dari lengan Mario, dia tetap bergelayut manja di lengan kekar pria itu.
Mereka berdua menikmati jalan-jalan itu, sesekali mereka berhenti dan berdiri di pagar pembatas hanya untuk melihat aktifitas orang-orang yang berlalu lalang. Kadang mereka tertawa lepas saat melihat hal-hal yang mereka anggap lucu, Gloria seakan lupa dengan siap dia saat ini berjalan. Dia begitu menikmatinya, tangannya tak pernah lepas dari genggaman Mario.
“Bahagia ini, aku baru merasakannya, bagaimana aku bisa melepaskannya, rasa ini begitu indah” bisik hati Mario, dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa hanya dengan melihat wajah ceria Gloria.
Tawa renyah wanita itu seakan lagu indah ditelinganya yang membuat hatinya berdesir penuh bahagia. Mario begitu senang menggoda Gloria dan saat Gloria bersikap manja padanya dia merasa sangat bahagia.
“Tuhan, ijinkan aku menikmatinya, meski hanya sesaat dan hanya hari ini saja, aku merasakan kebahagiaan ini, aku ingin menikmatinya, walaupun aku tak tahu bagaimana hari esok harus kuhadapi” bisik hati Gloria.
Gloria tanpa ragu mengenggam tangan Mario, bahkan seringkali dia bergelayut manja, seakan Mario adalah kekasihnya. Terkadang dia merengut manja saat Mario menggodanya, dan rayuan Mario selalu membuat hatinya berbunga dan bahagia.
“Glo, kita makan siang yuk, perutku sudah terasa lapar” ajak Mario.
“Heee aku kira badan kekar gini nggak bisa lapar honey, ternyata bisa juga ya” goda Gloria.
“Memang kamu kira badan aku robot ya” Mario mencubit hidung Gloria.
“Sakit honey, suka banget ich nyubit hidungku” Gloria merengek manja.
“Ha…ha…ha… habis hidung kamu udah kaya hidung pinokio Glo” kekeh Mario seraya merangkuh bahu Gloria.
“Enak aja, hidungku dibilang kaya pinokio, ini mancung namanya dan ini asli bukan karena sering berbohong” Gloria mencubit pinggang Mario, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Mario.
“Ha….ha….ha…..siapa tahu hidungmu palsu Glo, jadi kalau sering dicubit kan bisa lepas biar ketahuan aja” Mario begitu senang merasakan Gloria bisa bersikap begitu lepas dan tidak kaku lagi.
“Honeeyyy, kamu meragukan hidungku ini, ihhh bilang aja kalau kamu iri” rengek Gloria masih dengan merengut manja.
“Ha…ha…ha kenapa juga aku iri sama hidungmu Glo, hidungku aja jauh lebih bagus dari hidungmu” ucap Mario kembali mencubit pelan hidung Gloria.
“Huh itu sich menurutmu honeyyy, kalau menurutku biasa aja tuch” ucap Gloria menoel hidung Mario.
“Ha….ha….ha sudah ayo kita makan dulu” Mario membawa Gloria ke sebuah restoran di mall itu, mereka langsung masuk ke ruang VIP, disana sudah tersedia berbagai menu makanan di atas meja. Gloria sudah biasa dan tidak lagi bertanya melihat makanan yang sudah tersedia itu.
Mario menarik kursi untuk Gloria, sementara Gloria segera mengambil piring untuk Mario dan memilih beberapa menu makanan yang agak berat untuk Mario.
“Hei Glo kenapa menunya jadi seperti ini” tanya Mario.
“Biar kamu tambah energy aja honey, ntar kalau kamu nggak kuat pulang karena kehabisan energy aku nggak kuat ngangkat kamu” Gloria masih dalam mode bercanda.
“Enak aja, memang kamu kira aku ini bisa kehabisan energy ya” protes Mario, namun dia tetap menikmati hidangan yang sudah dipilih oleh Gloria.
“He he he, sekali-sekali makan menu berat honey, nggak akan bikin perutmu berlemak juga” kekeh Gloria.
“Ya sudah, tapi kamu juga harus makan menu yang sama, nggak boleh diet” ucap Mario.
“Tenang aja honey, aku nggak bakalan melewatkan makanan enak gini” ucap Gloria seraya mengambil beberapa jenis makanan dan meletakkannya di piringnya. Mereka berdua makan siang sambil diselingi dengan canda tawa, tak seperti biasanya yang kaku dan diam saja. Mereka benar-benar menikmati makan siang kali ini dengan suasana yang benar-benar berbeda.
“Glo, kamu benar-benar nggak ingin belanja apa gitu” tanya Mario yang melihat Gloria sama sekali tidak membeli apa-apa. “Masa kita sudah berjam-jam di mall ini pulangnya nggak bawa apa-apa” kekeh Mario.
“Nggak tuh honey, aku nggak merasa ada yang perlu dibeli” Gloria acuh saja, merasa nggak ada yang diperlukannya, secara semua kebutuhannya sudah disiapkan oleh Mario.
“Hemmmm, kalau begitu ikut aku sekarang” sahut Mario segera mengajak Gloria keluar dari restoran itu. “Ris, gerai handphone” ucapnya pelan melalui alat komonikasinya.
Ternyata semua kemudahan yang tersedia bagi Gloria dan Mario disiapkan oleh asisten Aris yang bersedia setiap menerima perintah dari Mario.
Mereka berdua melangkah memasuki gerai handphone terbesar di mall itu, manajer gerai itu segera menyambuut mereka berdua dan seorang pelayan menyerahkan beberapa contoh handphone keluaran terbaru dengan harga termahal.
“Pilihlah Glo” ucap Mario lembut. Gloria menatap Mario, dia sebenarnya ingin protes, tapi dia tahu Mario tidak akan suka, dan Gloria tak ingin merusak suasana saat itu. Gloria mengambil salah satu handphone itu dan menyerahkannya pada Mario.
“Seleramu bagus Glo” Mario menyerahkan hanphone itu ke manajer gerai itu, “Couple” ucapnya singkat. Kemudian Mario mengajak Gloria meninggalkan gerai itu.
“Ini mah gaya sultan belanja, nggak nanya harga apalagi nawar harga” kekeh Gloria dalam hati.
Mampir juga ya Di novel Baru aku"Cinta yang sebenarnya"....🙏🙏