Hujan adalah sahabat ku dari kecil. Sejak kecil aku tidak memiliki teman, aku di jauhi karena aku miskin dan tidak memiliki ayah. Aku tinggal bersama ibu dan nenekku. Tapi, ibu ku sudah meninggal, hanya nenek lah satu-satunya yang ku punya di dunia ini.
Perjalanan hidup ku yang sangat sulit, cobaan yang datang bertubi-tubi. Tenyata aku anak yang terbuang, saat bayi aku sudah di nyatakan meninggal, padahal aku masih hidup.
Bagaimana kisah ku selanjutnya?? yuk ikuti trus ya🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Alda marah padaku
Aku berlari ke dalam kelas, ku lipatkan tangan di atas mejaku, aku menangis, tapi aku menutupinya dengan lengan ku. Semua yang ada di kelas sedang memperhatikan ku, mereka menebak pasti aku sedang menangis.
Menit berikutnya ujian di mulai, hari ini adalah hari terakhir ujian, hanya satu pelajaran saja. Aku menghapus air mataku. Mika kembali duduk di samping ku, tapi ia tidak berbicara sama sekali, bahkan melirik ku saja ia enggan.
Aku menarik nafas dalam, berusaha untuk fokus ujian terakhir ku. Tapi sangat susah, kejadian tadi berputar kembali di dalam pikiran ku.
Sampai ujian selesai, banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab, padahal semalam aku sudah belajar, tapi saat melihat soal ujian pikiran ku langsung buntu.
"Mika," panggil ku setelah ujian selesai. Mika tak mendengarkan ku, ia langsung pergi dari hadapan ku. Aku ingin mengejarnya, tapi baru beberapa langkah semua orang melihat ku dengan tatapan curiga.
Aku pun langsung mengambil tas ku, aku ingin pulang saat itu. Hati ku tak tenang jika berlama lama di sini. Perjalanan pulang hampir semua siswa dan siswi memperhatikan ku. Aku hanya menunduk saat melewati mereka.
"Anak haram!! anak haram!!" mereka mulai mengejek ku. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan ejekan mereka. Aku berjalan cepat untuk meninggalkan sekolah.
"Hei," seseorang menahan lengan ku, aku pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu mau pulang?" tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk.
"Aku antar ya," ucapnya baik. Aku langsung menggeleng.
"Kenapa?" tanyanya heran. Aku tak menjawab pertanyaannya, aku langsung pergi meninggalkan pria itu.
"Kenapa? kamu kenapa?" ucapnya mengejar ku, kini ia berjalan selaras dengan ku.
"Kenapa? apa kamu malu di ejek dengan mereka?" tanya Heri menatap ku dari samping. Aku hanya diam, tak ingin berbicara dengannya.
"Ya, mungkin semua rahasia mu sudah tersebar di sekolah ini. Aku bisa kok membantu mu untuk membersihkan nama baik mu di sekolah ini. Tapi dengan syarat kau harus menjadi pacar ku, bagaimana?" ucap Heri yang masih berjalan di sebelah ku. Aku pun langsung berhenti berjalan begitu pun dengan dia.
Aku melihat ke arah Heri dengan tatapan yang tajam, aku tak suka cara dia membantu ku dengan imbalan yang tak mungkin mau aku terima.
"Lebih baik nama ku jelek di hadapan orang, dari pada harus berpacaran dengan mu!!" ucapku penuh penekanan. Aku langsung pergi meninggalkan Heri yang masih terdiam di sana.
"Apa yang kurang dari ku? aku tak pernah buat masalah, nama ku selalu baik di hadapan orang lain. Kenapa kau tak ingin menerima ku!!" teriak Heri dengan kesal. Aku tak meresponnya, aku terus berjalan meninggalkan dia di sana.
"Aiss . . . " Heri mengusap rambutnya dengan kasar. Ia tak habis pikir dengan Azalea yang sangat sulit ia dekati. Sebenarnya saat ini adalah kesempatan emas untuknya, ia bisa saja membantu Azalea agar namanya tidak jelek lagi di sekolah. Tapi Azalea malah menolak tawaran itu.
_____________________
"Gaes kalian tau, Alda berteman sama anak haram!! ha ha ha ha," tawa mereka jelas jelas mengejek Alda. Gerin dan beberapa temannya sedari tadi mengejek Alda. Alda hanya diam saja, ia tak peduli dengan ejekan itu.
Semua orang malah penasaran dengan teman yang di katakan Gerin, banyak siswi yang bertanya kepada Gerin siapakah teman Alda yang di maksudnya, dengan senang hati Gerin pun menceritakan asal usul Azalea.
"Gerin mau nya apa sih?" Fina geram
"Sudah biarkan saja," ucap Alda tak mau ambil pusing.
"Tapi kok malah dia jelek jelekin Azalea sih?" Fina semakin heran.
"Aku juga tak tau, dia juga menyeret nama ku sebagai teman Azalea. Padahal aku tak tau betul tentang Azalea." Ucap Alda juga tak habis pikir dengan Gerin.
"Hei hei hei Alda . . . Alda," ucap Gerin menutup jalan Alda saat pulang sekolah.
"Apa mau mu?" tanya Alda dingin.
"Kamu berhasil pergi dari ku waktu itu. Tapi kali ini nama mu sudah jelek di sekolah ini," ucap Gerin merasa senang.
"Trus gue harus bilang wow gitu?" tatapan Alda mengejek. Gerin emosi saat melihat Alda tak goyang sama sekali saat ia mempermalukan nama Alda di depan siswa dan siswi di sekolah ini.
Dengan cepat Fina langsung menarik tangan Alda untuk pergi dari sana, ia bisa menebak apa yang terjadi jika Alda tak pergi dari sana. Alda hanya mengikuti langkah Fina.
Alda dan Fina pulang berbeda arah, Alda pulang sendiri saat itu. Saat di perjalanan ia kesal dengan Gerin dan teman temannya, tapi kali ini ia malah lebih kesal dengan Azalea.
Alda pergi ke tempat ia bertemu Azalea saat di kejar Gerin. Alda mulai emosi, ia sudah sampai ke tempat itu. Tidak ada siapa siapa di sana, tapi dari kejauhan Alda melihat ada seorang perempuan yang sedang duduk di pondok kecil. Tanpa berpikir panjang Alda pun langsung ke sana.
"Azalea!!" nadanya sedikit tinggi. Aku langsung menghapus air mataku saat melihat Alda berada di depan mata ku.
"Ada apa?" tanya ku masih dengan suara serak.
"Lo maunya apa sih!! gara gara lo, nama gue jelek di sekolah!" Alda semakin emosi.
"Maksudnya?" tanya ku heran
"Gara gara kau anak haram, nama gue ke seret jelek gara gara lo. Lo mikir gak sih, kalau cerita aib gitu gak usah di cerita sama orang lain!!" Alda semakin emosi.
Deg. . .
Bagaimana bisa cerita tentang kehidupan ku tersebar di sekolah Alda dan bagaimana bisa nama Alda juga ikutan jelek.
"Aku tak pernah cerita kepada siapa pun! aku tak tau apa yang terjadi. Aku juga di ejek anak haram di sekolah," ucapku dengan suara yang agak serak.
"Seharusnya lo sadar diri, dah tau miskin dan anak haram setidaknya gak usah sekolah di kota. Bikin malu aja lo terlahir ke dunia ini. Dan gara gara lo gue ikutan jelek di mata orang. Tolong sadar diri, lebih baik, lo balik sana ke kampung lo. Lo gak pantas ada di sini!!" Alda membentak ku, ia pun langsung pergi saat itu.
Air mata ku semakin mengalir deras, aku tak tau kenapa bisa jadi seperti ini. Siapa yang tak suka padaku, kenapa ada orang tak suka jika aku hidup bahagia di dampingi oleh orang orang baik.
Kata kata Alda membuat hatiku terasa sakit, mungkin benar apa yang ia katakan, aku tak pantas berada di sini. Seharusnya aku sadar diri, aku bukan anak yang di inginkan.
"Ya Allah." Aku menangis, melihat ke arah langit. Allah pasti melihat kejadian hari ini, aku yakin Allah tidak buta.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
_Happy Reading_
Deg deg ser hatiku kak fatih
Saat bayinya meninggal keluarga melihat jasadnya apa ngga ya?
mampir dong kak ke novel ku :)