Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman
“Sil…Silvia!!”
Suara ketokan yang tergesa-gesa terdengar dari balik pintu.
Silvia mengangkat pandangannya dengan susah payah kea rah pintu. Tubuhnya sudah lemas tak bertenaga, bahkan untuk berdiri dan membukakan pintu pun ia tidak sanggup lagi.
Butir air mata terakhir yang bersembunyi di sudut matanya perlahan jatuh saat kelopak matanya kembali terpejam.
Bip…Bip…Bip…
Aroma khas cairan antiseptic memenuhi udara.
Silvia membuka matanya perlahan.
Di samping ranjang, Nelia tertidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur.
Silvia menarik pelan lengannya yang tertindih.
Gerakan kecil itu membuat Nelia langsung terbangun. Ia mengucek matanya beberapa kali, lalu menatap Silvia dengan wajah penuh kekhawatiran.
Begitu melihat Silvia akhirnya sadar, Nelia buru-buru berlari keluar untuk memanggil dokter.
Tak lama kemudian, dokter penanggung jawab masuk ke ruang rawat.
Setelah memeriksa monitor jantung, tekanan darah, serta kondisi fisik Silvia, dokter menutup senter pemeriksaannya.
“Apa yang terjadi padaku?” Suara Silvia terdengar begitu serak.
Dokter menuliskan beberapa catatan di rekam medis sebelum akhirnya berkata pelan.
“Ini pertama kalinya tubuhmu mengalami reaksi emosional sekuat inni. Kondisimu belum mampu menahannya, jadi tubuhmu mengalami syok.”
Silvia menundukkan kepala.
Ujung jarinya perlahan mengusap gelang tali merah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Itu adalah gelang yang diberikan Chris sebelum ia berangkat ke Negara Barat.
Padahal, Chirs bukanlah orang yang percaya pada dewa ataupun kuil.
Namun demi Silvia, berkali-kali ia rela melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah ia percayai sebelumnya.
“Terima kasih, Dok.”
Nelia yang telah merapikan rambutnya membungkukkan badan kecil sebagai tanda terima kasih.
Dokter mengangguk singkat sebelum meninggalkan ruangan.
Kesunyian kembali menyelimuti kamar rawat itu.
Nelia memandang sahabatnya yang tampak jauh lebih kurus dan pucat.
Dadanya terasa sesak.
Ia tahu...
Ikatan antara Silvia dan Chris bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan hanya dengan beberapa kata penghiburan atau dalam hitungan hari.
Hampir seluruh kota mengenal bagaimana Chris memperlakukan Silvia.
Ia memanjakannya sepenuh hati.
Bahkan, banyak orang telah menganggap Silvia sebagai calon menantu keluarga Devallion.
Keluarga Pollis yang sebelumnya biasa saja pun mulai diterima di kalangan elite berkat hubungan itu.
Dan karena alasan yang sama pula, rencana perjodohan antarkeluarga akhirnya muncul.
“Sil...”
Nelia menarik kursinya mendekat ke sisi ranjang.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”
Silvia tetap menundukkan kepala.
Tidak ada jawaban.
Nelia hanya bisa menghela napas panjang.
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Kelvin berjalan masuk lebih dulu.
Di belakangnya berdiri Meliana dan Gordan dengan wajah yang tampak muram.
Mereka datang dengan tangan kosong.
Tatapan mereka tertuju pada Silvia yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
Begitu melihat Nelia berdiri di samping tempat tidur, Meliana segera menyingkirkan Kelvin dan menghampiri sambil tersenyum ramah.
“Nelia, maaf sudah merepotkanmu. Di musim sedingin ini kamu masih harus menjaga Silvia di rumah sakit.”
Nelia mundur selangkah.
Tatapannya berubah dingin.
“Bibi.”
“Yang seharusnya Bibi khawatirkan sekarang adalah Silvia. Bukan aku.”
Senyum Meliana langsung membeku.
Dengan wajah canggung, ia menoleh ke arah putrinya.
“Silvia...bagaimana keadaanmu?”
Silvia mengalihkan pandangannya kepada Gordan yang sejak tadi hanya berdiri diam.
“Ayah.”
Gagal mendapat tanggapan, Meliana hanya bisa kembali berdiri di sisi Kelvin.
Gordan menatap putrinya dengan ekspresi yang tetap datar.
“Bagaimana kondisi tubuhmu?”
Ia tahu benar bagaimana istrinya memperlakukan Silvia sejak kecil.
Karena itu, ia tidak pernah heran melihat putrinya menjaga jarak dari Meliana.
“Aku baik-baik saja.”
Jawaban Silvia tetap terdengar tenang.
Kelcin bergantian memandang Silvia dan Nelia yang masih memasang wajah kesal.
Malam pun tiba.
Nelia mengantar keluarga Pollis hingga ke depan lift.
Saat pintu lift akhirnya tertutup, ia mengembuskan napas lega.
Wajahnya perlahan berubah muram.
Melalui kaca kecil di pintu kamar rawat, ia melihat punggung Silvia yang membelakanginya.
Tubuh gadis itu bergetar pelan, sepertinya sedang berusaha menahan tangis.
Rasa sesak kembali memenuhi dada Nelia.
Bagaimana mungkin ia tidak berduka atas kepergian Chris?
Memang, pria itu terkadang bodoh dan menyebalkan.
Namun hatinya selalu hangat.
Di tengah lingkaran orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, Chris adalah satu-satunya sahabar yang bisa benar-benar ia percayai.
Tetapi...
Orang baik justru pergi lebih dulu.
Nelia tidak pernah mengerti mengapa Tuhan membiarkan begitu banyak jiwa jahat tetap hidup, sementara semua penderitaan justru diberikan kepada orang-orang yang berhati tulus.
Ia kembali menatap ke arah Silvia.
Tangannya yang sudah menggenggam gagang pintu perlahan dilepaskan.
Ia memilih berbalik dan berjalan menuju atap rumah sakit.
Waktu yang tersisa baginya untuk bebas juga tidak banyak lagi.
Chris sudah pergi.
Dan satu-satunya orang yang selama ini mampu melindungi dirinya serta Silvia...kini juga telah tiada.
Bzz...
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nelia yang sedang duduk di bangku atap rumah sakit sambil mengayunkan kedua kakinya perlahan menatap layar ponsel.
Alisnya langsung berkerut.
Pengirim: Chris Devallion.