Dani adalah gadis biasa. Menjalani kehidupan biasa dan ingin menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang biasa.
Sampai Bumi tanpa sengaja menyatu dengan dunia lain, membuka jutaan pintu di langit yang memuntahkan orang-orang hilang dari lima tahun lalu kembali. Bumi segera menjadi tempat dimana fantasi bahkan akan lebih baik dibandingkan realita itu sendiri.
Tetangganya yang baik, Adam. Merupakan sosok dewa tanaman di dunia lain.
Mantan pacarnya yang lembut, Samuel. Merupakan senjata penghancur yang bahkan bisa melenyapkan satu zona surga tanpa sisa sendirian.
Adik tirinya yang obsesif, Joshua. Memiliki kemampuan manipulasi tubuh yang menakjubkan.
Dani si orang biasa "???"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DarkMoran1603, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekeping informasi
Danielle membeku, tapi ia masih mencoba tetap tenang karena tau bahwa panik hanya akan membuat segalanya menjadi sulit.
Pertama-tama, pahami situasinya. Dia belum lama ini sedang bertarung melawan 'ibu' yang meniru seratus persen figurnya, bagaimana kondisi orang-orang saat itu? Seingatnya, Samuel memalingkan muka karena tidak tahan melihat Joshua melukai penirunya. Joshua sendiri sedang berada dalam krisis dan kemungkinan besar tidak mampu menyerang 'ibu' lagi, sementara Samuel dan Amanda ....
Hembusan angin yang cukup kuat membuyarkan pemikirannya, jelas berasal dari balik punggungnya. Danielle menoleh, dan disuguhi pemandangan sebuah mata besar yang setinggi tubuhnya. Mata itu berwarna biru murni yang nyaris transparan seperti air, ia juga bisa melihat lautan bintang yang seperti kristal di mata ini. Ini hanya satu mata, tapi Danielle seolah bisa melihat seluruh rahasia alam semesta didalam sana. Membawa perasaan damai, takut, bahagia, tenang, juga menamparnya tentang betapa dangkal pengetahuan manusia pada alam semesta.
Pupil gelap Danielle bergetar, nafasnya menjadi sesak dan ia lemas seketika. Tapi kedua kakinya seolah sudah dipaku, tidak bisa bergerak kemanapun walau sebatas menggeser tubuhnya sedikit.
"Hh ..."
Sekarang mahluk besar ini ganti menghembuskan nafas ke tubuhnya, seolah sedang tertawa dengan mata yang menyipit penuh jenaka. Dia tampak senang melihat bagaimana Danielle bersikap baik dan sadar diri dimana posisinya, mata yang menyipit itu bergerak naik-turun seolah sang pemilik sedang menganggukkan kepala.
Bunyi gemerisik pakaian yang ditangkap oleh telinganya menjadi lebih dan lebih berisik. Sebagai satu-satunya manusia disini, rasanya seolah sedang terjebak dalam longsoran tanah yang menimbunnya semakin dalam ke pelukan kegelapan. Kakinya segera menyerah, dan untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan ekstrim hingga jatuh ke atas piring saji tanpa bisa melakukan apa-apa.
Mahluk besar yang ia curigai sebagai orang himasan ini, tau betapa takutnya mahluk kecil ini pada mereka. Tapi ia tetap menjulurkan jari telunjuk yang sebesar satu pintu rumah dan meletakkannya di atas kepala Danielle, tidak peduli meski gadis yang hanya sebesar jari kelingkingnya ini sudah nyaris pingsan karena ketakutan.
Begitu jari orang himasan berhasil membuat kontak dengan ujung kepala Danielle, sekeping kilas balik segera menginvasi otaknya. Pupil hitam si gadis manusia bergetar hebat akan informasi baru ini, tapi sorotnya yang sedang beradu tatap dengan orang himasan menjadi sedikit lebih tenang dan ia secara bertahap mulai berhenti gemetaran.
Itu hanya informasi kecil, tentang rekannya Adam dan bagaimana cara pria itu menjadi dewa para debris.
Jari telunjuk itu segera menjauh dari tubuhnya, tapi Danielle dengan refleks meraih jari tersebut menggunakan kedua tangannya sendiri. Dengan sadar membuat dirinya tergantung seperti layang-layang saat orang himasan ini mendekatkan dirinya sendiri ke mata biru tadi, mengamati dari jarak yang sangat dekat.
Informasi adalah senjata terkuat di alam semesta, karena itulah Danielle mengikuti instingnya sendiri dan dengan egois memutuskan untuk buka suara.
Nadanya tampak sangat berhati-hati saat bertanya "Pertama, Adam. Kedua, kera. Ketiga ... 'Adam'?"
Mata orang himasan segera menyipit dan gemerisik tadi terulang kembali sebelum ia merespon dengan "Sst."
Sekali lagi, sekelilingnya meluruh seperti tinta lukisan dan mengembalikannya ke kenyataan.
Dia berkedip untuk menyesuaikan diri dan mengatur perasaannya kembali, dia kembali pada saat ia berdiri dengan perut berlubang di belakang tubuh adiknya. Juga bertatap muka dengan wajahnya sendiri yang sedang menangis di kejauhan. Melihat keadaan Joshua, jelas adiknya ini sudah berada dalam kondisi mental yang menolak untuk bertarung. Lebih tidak mungkin lagi bagi Samuel untuk menggantikan peran adiknya. Amanda tidak mencapai level itu sampai bisa berhadapan satu lawan satu dengan 'ibu', debris yang satu itu terlalu baik dan lebih tidak mungkin baginya untuk menghadapi kekuatan yang mirip mimikri ini.
Adam? Lupakan.
Begitu pria itu tau kebenaran dibalik sosok 'ibu', bisa dijamin dia akan berbalik membunuh mereka semua sebelum berakhir mati di tangan Samuel.
"Joshua" panggil Danielle, saat ia dengan lembut mengusap punggung adiknya yang sudah tidak tertutup pakaian.
Pria muda itu tersentak dan berbalik untuk melihat gadis yang hanya setinggi telinganya ini, dia dengan gemetar memanggil "Kakak, aku ..."
Danielle mengulas senyum simpul saat menggenggam salah satu tangan sang adik dan berkata "Bunuh dia."
Pupil ungu pria muda ini masih agak bergetar saking paniknya, dia balas menggenggam kedua tangan pihak lain sebelum buka suara "Kakak, tapi dia-"
Dengan senyum di wajahnya yang menjadi sedikit lebih manis, ia menatap mata Joshua lamat-lamat dan berkata "Aku ingin dia mati, Joshua. Aku tau kau tidak bisa melakukannya karena dia meniru wajahku, tapi lantas kenapa? Dia masih bukan aku. Aku ada disini dan aku tau kau tidak akan pernah melakukan apapun untuk menyakitiku. Kau membunuhnya karena keinginan egoisku, kau sama sekali tidak melukaiku."
Nafas Joshua berangsur menjadi lebih rileks, mulutnya terbuka dan tertutup seolah ia memiliki banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi ia hanya bisa memgistirahatkan kepalanya di pundak sang kakak dan merajuk seperti anak kecil "Aku tau, kak. Tapi ..."
Sebagai respon atas tindakan manja adiknya, Danielle memberikan sebuah pelukan juga tepukan lembut di punggung kokoh pihak yang lebih muda "Joshua, aku tau perasaanmu. Karena itu aku akan bertanya padamu, apakah kau akan membiarkannya membunuh debris atau guardian lain menggunakan wajahku?"
'Ibu' adalah monster yang terbawa dari dunia itu bersama para dekomposer, jelas ia tidak akan memiliki pemikiran baik terhadap manusia sedikitpun dan akan membunuh siapapun untuk memberi makan 'anaknya' menggunakan wajah Danielle. Jika itu sampai terjadi, maka objek dendam para korban selamat akan berubah menjadi Danielle Norma yang tidak ada hubungannya sama sekali.
Mosnter di dunia itu juga sangat cerdas. Jika mereka tau bahwa menggunakan wajah Danielle bisa membuat mereka lolos dari amukan beberapa debris terkuat, mereka akan mengikuti jejak 'ibu' dan membuat sekelompok Danielle Norma non manusia yang baru.
Sebagai debris, mereka semua jelas bisa melindungi Danielle. Tapi mustahil mengawasi gadis itu setiap waktu, ada kalanya mereka harus memberi privasi pada gadis ini. Dan di waktu-waktu khusus itulah, kemungkinan besar Danielle Norma akan dibunuh oleh kelompok lain.
Membayangkan kakaknya terpotong dan tidak bisa kembali padanya lagi, Joshua refleks berteriak "Tidak!"
Melepas pelukannya, Danielle mengusap sayang garis wajah adiknya. Tatapan Joshua padanya perlahan berubah gelap, pria muda itu balas menatap wajah kakaknya dan membungkuk. Sadar akan apa yang ingin dilakukan pihak lain, Danielle segera menghalaunya dan menutup bibir Joshua menggunakan telapak tangan. Pria muda tersebut balas menggenggam tangan sang kakak dan menanam beberapa kecupan singkat.
Namun senyum di wajah Danielle sama sekali tidak berubah, ia bahkan mengatakan "Kau sekarang jauh lebih kuat dariku, sedangkan aku masih sama egois dan lemahnya seperti dulu. Aku tau ini berat untukmu, tapi ..."
Sadar bahwa kakaknya ingin meminta tolong padanya, ekspresi di wajah Joshua segera berubah serius. Dia akan mendengarkan baik-baik.
Dengan sepasang mata yang melengkung saat ia tersenyum, Danielle bertanya "Joshua, maukah kau melindungiku?"
cocok direkomendasikan pada orang yang suka gore dan misteri
Authornya kenapa deh nulis adegan pembantaian dengan sangat rinci?
Kak, jujur deh. kakak punya dendam apa sama manusia?
Aku juga curiga kalau tokoh utamanya tau sesuatu tapi lebih milih mingkem, sus banget 😭