Rani putri kedua dari pasangan Rangga dan Sisil, miliki kecerdasan sama seperti sang kakak bahkan parasnya juga tak kalah cantik seperti sang kakak.
Di dunia persahabatan dan di keluarganya ia begitu sempurna namun sayang di percintaan ia tak sempurna, ia miliki kekasih yaitu kakak sepupu dari sahabatnya namun hubungan mereka harus LDR ketika keduanya sama-sama hendak meneruskan kuliah di kota yang berbeda.
Bertahun-tahun sang kekasih tak punya kabar hingga hubungan mereka tergantung dan tak tau arah.
"Apakah keduanya masih bisa bersama?"
"Atau justru harus berakhir?"
Ikuti ceritanya disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafizoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sebelum menghubungi sang sahabat, awalnya Ica duduk tengah menulis pendapatan hari ini di buku pemasukan dan pengeluaran di usaha kakak sepupunya bahkan saat ini hanya tinggal Ica sendirian.
Para karyawan sudah pada pulang setengah jam yang lalu, ia yang di beri kepercayaan oleh kakak sepupunya tentu pulang terakhir karena harus melihat pendapatan uang setiap harinya.
Selesai menulis pendapatan uang di buku pemasukan, ia masih duduk di kursi kasir sembari bermain HP lalu membuka aplikasi warna hijau dimana ia sedang melihat satu persatu story' semua teman kontaknya.
Ia yang memang sempat menyimpan nomor telepon Jimy sewaktu mereka KKN dulu, jadi bisa melihat story' Jimy yang mana sebuah foto Jimy tengah memasang cincin ke jari tangan seorang perempuan.
Ia pun langsung berpikir pasti itu tangan sang sahabat, di lihat dari waktu story' Jimy baru upload foto itu sekitar dua jam yang lalu jadi Ica pun langsung berinisiatif menghubungi sang sahabat untuk memberi selamat.
Ketika ia menghubungi sang sahabat berapa kali tak kunjung di angkat, kemungkinan sang sahabat masih sibuk dengan urusannya disana sehingga tidak menerima telepon darinya.
"Aduh kebelet pipis lagi" kata Ica berbicara sendiri kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan HP-nya begitu saja di atas meja kasir
Ica melangkahkan kaki menuju ruang belakang dimana kamar mandi berada, ia pun menuntaskan hajatnya. Bertepatan HP-nya berbunyi yang kebetulan Putra datang untuk menjemput adik sepupunya.
Drrrtt......
Putra tak melihat adik sepupunya dimana-mana, namun ia justru mendengar HP milik adik sepupunya berbunyi segera ia mendekati HP yang ada di atas meja kasir itu takutnya orang tua adik sepupunya yang menelepon.
"Best Friend"
Terpampang nama itu di layar HP milik adik sepupunya, Putra tau kalau nama itu adalah sahabat adik sepupunya siapa lagi kalau bukan Rani mantan kekasih yang sampai detik ini masih sangat di cintainya.
Putra menerima sambungan telepon itu karena ia sangat merindukan suara mantan kekasih yang sudah hampir empat tahun tak di dengarnya, tetapi ketika ia memanggil nama mantan kekasih, orang di seberang langsung diam.
"Kak Putra, siapa yang nelpon di HP-ku?" tanya Ica ketika telah selesai dari belakang kembali ke meja kasir sudah ada kakak sepupunya yang tengah menempelkan HP-nya di telinga
"Rani"
Putra pun langsung memberikan HP milik adik sepupunya itu pada pemiliknya, lalu ia mengatakan pada adik sepupunya akan menunggu di depan karena ingin menghisap tembakau.
Iya Putra berubah dratis semenjak tak bersama Rani lagi, ia sering sekali menghisap tembakau yang mana itu tak pernah di lakukan sewaktu masih pacaran dengan Rani atau sebelum kenal Rani.
Tapi sekarang ia tak pernah lagi memikirkan kesehatannya, selesai menghabiskan dua batang tembakau adik sepupunya tak kunjung keluar ia pun kembali masuk ke dalam ruko usaha miliknya itu.
Namun ketika masuk ia justru mendengar percakapan adik sepupunya pada mantan kekasih yang mana tengah mengucapkan selamat atas lamaran, mendengar itu hatinya terasa seperti di tusuk seribu belati.
Setelah sambungan telepon berakhir Ica memasukan HP-nya ke dalam tas, ia membereskan beberapa barang miliknya karena sudah malam jadi waktunya ia pulang dari tempat usaha kakak sepupunya.
"Kak Putra"
Ica terkejut melihat kakak sepupunya tengah bersandaran di dinding pembatas antara kasir dengan ruang tengah, ia yakin kakak sepupunya mendengar semua pembicaraannya dengan sang sahabat tadi.
Ia pun berusaha bersikap normal dan tak ingin bertanya dulu dengan kakak sepupunya, kemudian ia merangkul tangan kakak sepupunya mengajak kakak sepupunya untuk segera pulang.
"Kak, Ica laper. Tadi gak sempet makan, nanti kita mampir yuk di warung pecel lele langganan kita"
Ica begitu manja dengan kakak sepupunya itu karena hanya kakak sepupunya lah satu-satunya keluarganya yang ada disini, sedangkan dengan kakak sepupunya satu lagi lebih tepatnya kakaknya Putra ia tak bisa.
Karena dari dulu tak akrab di tambah kakak sepupunya satu lagi sudah punya istri, takut istri kakak sepupunya jadi cemburu apalagi ia memang tipikal manja soalnya tak pernah dapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Hem"
Hanya itu jawaban yang Putra keluarkan, bukan hanya kelakuan Putra yang berubah setelah tak bersama Rani melainkan sikap Putra juga yang kini jadi irit bicara dan terlihat sangat dingin pada semua orang.
Bahkan Ica merasa seperti tak mengenal kakak sepupunya itu lagi, yang mana dulu kakak sepupunya sangat suka bercanda dan menjahilinya tapi sekarang 180 derajat berubah tak pernah lagi ada candaan.
"Kak Putra denger Ica ngobrol sama Rani tadi?" tanya Ica di sela-sela perjalanan mereka menuju warung pecel lele
"Iya"
"Kakak jangan bersedih ya, Rani kan baru tunangan kalau jodoh pasti ada aja jalannya" nasehat Ica agar kakak sepupunya tidak pesimis
"Hem"
"Ihh, kakak nyebelin banget sih Ica ngomong panjang lebar tapi jawab seadanya" rutuk Ica sembari melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya
Putra tak menyahut lagi, ia sudah biasa menghadapi sikap adik sepupunya yang masih kanak-kanak itu bahkan mungkin bisa di katakan sudah jadi makanan sehari-hari Putra ketika bersama adik sepupunya.
Mobil milik Putra pun telah tiba di warung pecel lele pinggir jalan langganan mereka, ketika keduanya turun dan masuk ke dalam warung itu tampak semua tempat duduk terisi penuh oleh para pembeli.
Warung pecel lele itu memang selalu ramai setiap malam dan semakin malam justru semakin ramai para pembeli berdatangan, ada kalangan anak-anak remaja, sepasang kekasih, ada juga satu keluarga.
"Iya penuh, gimana ni kak?" tanya Ica kecewa tak dapat tempat duduk
"Mbak duduk sini aja, kita udah selesai kok" kata Salah satu pembeli yang tampaknya sepasang kekasih
"Ohh iya, terima kasih" ucap Ica dengan ramah
Lalu Ica menarik tangan kakak sepupunya untuk duduk di tempat yang sudah kosong itu, pelayan warung itu segera menghampiri Ica dan Putra untuk menanyakan menu apa yang ingin di pesan keduanya.
Ica dan Putra yang selalu kemana-mana berdua di anggap semua orang sepasang kekasih, padahal sebenarnya keduanya adalah saudara sepupu dari ayah mereka yang saudara kandung.
Tak lama kemudian pesanan mereka berdua datang, Ica makan dengan sangat lahap nasi bebek goreng yang selalu jadi menu favoritnya ketika makan di warung pecel lele pinggir jalan langganan mereka ini.
Namun berbeda dengan Putra, ia yang biasa makan dengan lahap entah mengapa malam ini tak nafsu bahkan makanan yang ada di piringnya hanya berkurang sedikit.