kisah kehidupan kakak beradik Aurora dan Sisilia yang yang ditinggal mati orang tua nya karna kecelakaan. tidak ada sanak saudara yang mau menerima mereka. sehingga membuat mereka harus berjuang menghadapi keras nya dunia. hingga suatu hari datang lah seorang laki-laki kaya raya yang mengubah kehidupan mereka 180 derajat. tapi sayang nya persaudaraan mereka yang menjadi taruhan nya, karna sang adik yang malah berkhianat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Esok pagi nya, Adrian menjenguk Arumi kerumah sakit.
Arumi memang sudah sadar dua bulan yang lalu. Namun, kondisi nya masih lemah dan masih membutuhkan perawatan.
Arumi sangat terpukul, dan mengalami trauma berat yang membuat dia tidak mau berinteraksi dengan siapapun, Arumi menjadi murung dan bahkan sesekali dia mengamuk ingin membunuh janin yang ada diperut nya, yang tidak diketahui benih siapa, akibat pemerkosaan yang dialami nya.
"Suster....Pasien yang bernama Arumi dirawat dikamar mana?" Adrian bertanya sama salah seorang perawat yang berada di bagian resepsionis.
Perawat itu menatap Adrian sekilas dan bertanya
"Nama lengkap nya siapa pak?"
"Arumi Dariya Najwa Sus." Jawab Adrian.
"Baiklah, tunggu sebentar ya." Ucap perawat itu dan mulai mengetik dan " Pasien Arumi Dariya Najwa berada dikamar Mawar no.5 dilantai 2 ya pak."Ujar perawat itu.
"Baik, terima kasih suster." Adrian beranjak melangkahkan kaki nya menuju kamar rawat Arumi.
Kreeeeeet!
Adrian mendorong pintu kamar rawat Arumi pelan.
"Arumi......" Panggil Adrian yang melihat Arumi duduk bersandar diatas brankar dengan tatapan kosong menatap dinding.
Adrian merasa kan sedikit sesak di dada nya melihat kondisi Arumi. Dia merasa yang terjadi pada Arumi karena dirinya. Andai bukan karena diri nya tidak mungkin Sisil akan menyakiti Arumi.
Tanpa terasa mata nya berembun, Namun, dia tahan agar air bening itu tidak keluar. "Arumi...."Adrian mendekati Arumi perlahan dan memegang pundak nya.
"Arumi.... Ini aku Adrian." Dia berkata, namun Arumi sama sekali tidak merespon. Tatapan nya masih belum beralih. Entah apa yang dipikirkan nya.
"Arumi... Maafkan aku, ini semua salah ku."Ucap nya merasa bersalah, dan memegangi tangan Arumi.
"Tidak ada yang perlu disalahkan, semua sudah terjadi."Arumi berucap namun tatapan nya masih belum beralih.
Adrian bisa melihat dikedua sudut mata Arumi mengalir butiran bening. Namun, dia segera menyeka nya.
"Hidup aku hancur Adrian, mereka merenggut kebahagiaan ku. Mereka menghancurkan mental ku habis-habisan, mereka menyiksa ku tanpa belas kasihan. Aku...A-aku....."Arumi menangis terisak tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
Adrian merebahkan kepala Arumi kepundak Nya, berusaha menguatkan wanita itu.
"Menangis lah......jika itu mampu membuat mu tenang, kamu tidak perlu takut aku akan selalu ada buat kamu. Aku janji." Imbuh Adrian mengusap punggung Arumi yang semakin terisak.
"Aku tidak kuat Adrian, aku capek... Huhuhuu..." Ucap nya terlihat putus asa, air mata nya mengalir semakin deras.
"Kamu harus kuat Arumi, aku tau kamu itu bukan wanita lemah. Aku yakin kamu mampu melewati semua ini, kamu tidak boleh menyerah." Adrian terus menyemangati Arumi.
"Aku.... Aku tidak sanggup Adrian... Aku benci semua ini... Benci.... hiks, hisk..." Arumi makin frustasi dan memukuli perut nya dengan tangan kosong.
"Arumi, apa yang kamu lakukan?" Sentak Adrian melihat Arumi hendak berlaku kasar pada dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa Adrian. Aku tidak mau anak ini.... Aku benci."
"A-anak....?Maksud kamu anak siapa?" Adrian terlihat kaget, karena memang dia belum mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Arumi menatap Adrian. " Kalau kamu tau, kamu pasti akan merasa jijik sama aku Adrian. Aku yakin itu."Ucap nya menatap Adrian sendu.
"Aku tidak mengerti, apa maksud kamu?" Adrian makin bingung dibuat nya.
"Aku hamil."
Deg!
"Ha-hamil?"
"Iya, mereka memperkosa aku Adrian. Mereka kejam. Dan, aku tidak tau benih siapa yang sudah tertanam dirahim aku. Mereka melakukan nya secara beramai-ramai. Aku.....Aku.... Hiks..." Arumi tidak sanggup lagi berkata, dia Hanya bisa menangis merutuki nasib nya yang begitu malang. Semesta seolah tidak membiarkan dirinya hidup bahagia.
"Kurang ajar..." Adrian mengepal kan tangan nya, muka nya merah padam. Dia sakit hati mendengar kenyataan yang begitu menusuk hati. Dia tidak menyangka Arumi bakalan mengalami nasib se tragis itu.
"Aku akan membunuh bayi ini, sebelum dia lahir ke dunia ini."
"Kamu yang sabar Arumi. Aku....aku, akan menikahi kamu." Ucap Adrian seketika membuat Arumi menatap nya. " Kamu mau menikahi aku Adrian?Tidak jijik kah kamu sama aku?" Tanya Arumi tidak yakin akan perkataan Adrian.
"Arumi, aku akan menerima bayi itu dan kita memulai hidup baru. Lupakan segala yang telah terjadi, semua yang terjadi pada kamu juga akibat ulah perbuatan ku."
" Kamu kasihan kan sama aku? Aku tidak mau.Mulai sekarang jauhi aku Adrian. Aku ingin hidup sendiri, tanpa bayang-bayang kalian lagi. Kehadiran aku hanya akan menyusahkan kalian. Biar kan aku selesai kan masalah ku sendiri." Ucap Arumi berlinang air mata, dan menatap Adrian serius.
"Aku mohon, Jangan menolak. Jangan buat aku semakin merasa bersalah dengan membiarkan kamu terus menderita dan harus berjuang sendirian. Aku janji akan menikahi kamu secepat nya. Percaya sama aku Arumi. Kita besarkan anak ini sama-sama." Ucap nya tulus berusaha meyakinkan dan mengelus lembut perut Arumi.
Arumi tidak menjawab dan malah semakin terisak, antara harus senang atau kah sedih.
Suasana mendadak hening, hanya suara isakan yang terdengar memenuhi ruangan itu.
⭐⭐⭐⭐
"Tu-tuan Raihan...." Aurora kaget dan reflek menarik tangan nya.
"Ada keperluan apa datang kesini?" Aurora bertanya dengan nada ketus.
" Gak usah Gr, saya datang kesini cuma mau bertemu sama Azzam dan Azzima, bukan ketemu kamu." Cetus Raihan tak kalah sengit.
"Alasan....." Gumam Aurora mencebik kan bibir nya.
" Terserah, mana mereka?"
"Gak ada, mereka tidur." Aurora menghadang Raihan yang hendak masuk.
"Gak percaya... Awas." Raihan menarik bahu Aurora agar tubuh nya bisa masuk.
"Gak ada, jangan ganggu mereka lagi tidur siang." Sentak Aurora melototi Raihan.
"Oh jadi gak mau minggir?" Raihan berucap dan menyerigai.
"Ka-kamu mau apa?" Melihat ekspresi Raihan, seketika membuat raut wajah Aurora terlihat khawatir.
Raihan makin mendekat dan mengurung Aurora dengan kedua tangan nya menempel di daun pintu.
Sesaat tatapan kedua nya beradu, dan kemudian mata Raihan melirik ke bibir nya Aurora. Jakun nya naik turun, Raihan menelan ludah nya menatap bibir Aurora yang terlihat seksi dimata nya.
"mengapa bibir itu menggoda sekali." Batin Raihan menelan ludah nya.
Aurora seperti terhipnotis dengan tatapan pria dihadapannya, pria itu begitu mempesona.
"Ya Tuhan, tampan sekali. Hidung nya begitu menggoda, mata nya indah. Dan, bibir itu.... Ah.... Ada apa sama aku....?" Batin Aurora terus berkecamuk tak karuan.
Tanpa sadar kedua nya saling memuji dalam diam, seperti nya benih-benih cinta mulai tumbuh nih.... Hehe...
"Bunda......" Suara anak kecil membuyarkan lamunan kedua nya.
Azzima yang tadi nya sedang tertidur nyenyak tiba-tiba terbangun.
"Hay gadis cantik..." Sapa Raihan melepas kan Aurora dan mengajak Azzima berbicara.
"Azzima baru bangun ya?Lihat om bawa apa? Raihan merogoh saku jas nya dan mengeluarkan beberapa permen.
"Wah, permen. Makasih om."
"Sama-sama. Bagi sama Azzam juga ya?"Ujar Raihan.
"Iya, om." Azzima turun dari sofa menghampiri saudara kembar nya dibelakang.
Raihan memang sudah akrab dengan anak-anak nya Aurora. Begitu pun dengan Indira yang sudah menganggap mereka sebagai cucu nya sendiri.
"Saya pulang dulu, ingat besok datang lebih awal."
"Tidak, bukan kah perjanjian nya hanya sampai Tante Indira sembuh. Dan, sekarang Tante Indira sudah sembuh berarti kontrak nya selesai." Tolak Aurora, dan memang benar yang dikatakan Aurora.
"Tidak bisa, mama saya memang sudah sembuh. Tapi masih butuh kamu Aurora," Keluh Raihan.
"Gak, gak... Saya tidak mau," Aurora terus menolak hingga membuat Raihan kesal.
"Oh jadi kamu gak mau ketemu lagi sama mama saya. Baiklah, saya akan kasih tau sama mama kalau kamu____"
"Oke, oke.... Saya akan datang besok, ingat ya, saya melakukan ini karena Tante Indira. Andai tidak ingat bagaimana baik nya Tante Indira aku Mak ogah balik lagi kerumah yang pemilik nya jutek, sombong, dan dingin sedingin es." Aurora terus mengoceh.
Raihan tersenyum tipis mendengar ocehan Aurora, Dia tidak mempedulikan nya. Yang penting dia sudah berhasil membuat Aurora tetap mau bekerja dirumah nya.
Entah mengapa dia seakan tidak rela bila harus berjauhan sama wanita itu.
***
> Bro.... Segera datang kekantor. Ada yang spesial, aku jamin kami bakalan senang jungkir balik kalau melihat ini." Ucap Yuda diseberang sana.
>Ada apa? Katakan saja, saya tidak punya waktu untuk hal- hal yang tidak penting."
>Ayo lah, aku tidak sedang bercanda. Buruan datang," Ujar Yuda terdengar serius lalu mematikan sambungan telpon. Dan, mampu membuat Raihan menjadi sedikit penasaran.
"Dasar tidak sopan,"rutuk Raihan.
Raihan melajukan mobil nya hingga sampai kekantor.
"Siang tuan Raihan...." Sapa staf kantor, namun seperti biasa Raihan tetap dengan gaya khas nya yang dingin dan cuek.
Dia berjalan dengan gagah nya menuju ruangan utama.
Begitu pintu terbuka Raihan dikejutkan dengan pemandangan yang begitu mengejutkan, dan tidak terduga.....
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
di like dan di komen ya?
Terima kasih ❤️