Bisa melihat masa depan siapa saja
Agasy memutuskan untuk menghukum mereka yang akan mencelakakan nya dan saudaranya.
Berani-beraninya mereka memperlakukan keluarga kekaisaran seperti itu?
Aku Agasy tidak akan tinggal diam!
Aku akan memperlakukan kalian semua lebih buruk 1000 kali lipat dari apa yang akan kalian lakukan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon April Eliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali nya Emilius
Setelah selesai penyambutan para utusan kerajaan, Agasy kembali ke istana Putri dengan keadaan lelah.
Setelah mandi dan berganti pakaian yang nyaman dia merebahkan tubuhnya di kasur. Belum ada keputusan apakah Kekaisaran mereka akan membantu kerajaan tetangga.
Saat mendengar apa saja yang telah di lakukan orang bar bar tersebut dia juga marah, mereka membunuh semua pria lemah di sana, menjadikan wanita sebagai budak nafsu mereka, bahkan tidak peduli jika itu masih di bawah umur.
Tidak hanya itu, orang-orang lanjut usia disana di siksa untuk bekerja paksa, dan para pria yang memiliki fisik kuat juga di paksa bekerja sama dan tidak pernah di beri imbalan apapun.
Dia tahu bahwa kondisi setiap wilayah berbeda-beda, tapi setidaknya dia yakin di kekaisaran mereka tidak ada yang berani berbuat seperti itu.
Satu-satunya halangan di kekaisaran mereka adalah monster-monster yang semakin kuat, dan banyak mengakibatkan korban jiwa pada rakyat-rakyat yang berada di desa terpencil.
Sudah bertahun tahun mereka menyelidiki hal tersebut, tapi tidak pernah mendapatkan jejak siapa yang berada di balik itu semua.
Walaupun sudah sering mereka mendapatkan antek-antek orang itu tapi mereka sangat setia dan lebih memilih bunuh diri dari pada mengkhianati tuan mereka, ada yang ingin mengaku tapi sebelum bisa menyebutkan siapa orang tersebut tubuhnya langsung meledak secara otomatis karena dari awal sudah di beri mantra agar tidak berkhianat.
Tapi mereka sudah yakin, dibalik semua ini adalah ulah dari sekte penyihir hitam yang sudah di larang sejak ratusan tahun yang lalu.
Orang-orang kakak nya sudah banyak memusnahkan pangkalan mereka, tapi tetap saja tempat seperti itu akan segera muncul kembali jika pemimpin nya tidak juga di lenyapkan.
Saat sibuk memikirkan segala konflik yang ada di kekaisaran dan juga kerajaan asing, tiba-tiba matanya di tutup dan muncul aroma Musk lembut yang sudah dia ketahui siapa milik dari tangan tersebut.
Dia tersenyum tapi tetap tidak mengeluarkan suaranya. Dan tetap tidak menghiraukan pemilik tangan itu.
"Apa Putri tidak menyambut kedatangan saya? padahal sudah hampir setahun kita tidak berjumpa."
Mendengar suara berat dan dalam itu, dia hampir bergidik, semakin bertambah nya usia Emilius suaranya berubah menjadi lebih berat dan maskulin dan membuat banyak wanita terpesona hanya dengan mendengar suaranya.
Tidak mendapatkan respon apapun, Emilius menghela nafas dan melepaskan tangan nya yang menutup mata Agasy.
"Maafkan saya Putri, karena tidak menghubungi Putri selama setahun belakangan ini."
Mendengar suara yang penuh dengan penyesalan itu, dia pun akhirnya menghadap Emilius yang saat ini sudah duduk di pinggir ranjang nya.
Dia duduk dan menatap Emilius dengan dingin sambil melipat tangannya.
Melihat tatapan itu bukannya merasa takut di dalam hatinya, Emilius malah merasa Putri yang selama ini dia saksikan tumbuh kembang nya sudah menjadi wanita yang mempesona hanya dengan satu tatapan matanya yang cantik dan jernih.
Dia melengkungkan mata nya dan meraih tangan Agasy lalu mengecup nya dengan lembut.
"Maafkan saya Putri, saya akan menceritakan semua yang telah saya lakukan selama setahun belakangan ini tanpa ada kebohongan sama sekali."
Melihat Agasy mengangguk, diapun menceritakan semua yang telah dia alami, mulai dari dia yang pergi ke menara ajaib hanya untuk menambah pengetahuan nya, lalu di latih dengan paksa oleh pemilik menara sihir tersebut dan sekarang sampai dia menjadi Penyihir Agung Menara Sihir.
Mendengar penjelasan tersebut Agasy terkejut, dia tau Emilius akan menjadi Penyihir Agung Menara Sihir yang sangat di segani dan juga di takuti banyak orang.
Tapi dia gak menyangka proses untuk mencapai itu semua karena keterpaksaan belaka karena paksaan dari penyihir agung sebelum nya.
"Karena sekarang saya sudah menjadi pemimpin menara sihir, saya segera menjumpai Putri di sini, karena sudah tidak ada yang berani menghalangi saya lagi."
"Jadi setelah menjadi Penyihir Agung kamu langsung kesini dan sama sekali belum menjumpai keluarga mu?"
Melihat Emilius yang mengangguk mantap tanpa ada rasa bersalah sama sekali, Agasy menggeleng kepalanya, gak tau harus senang karena menjadi prioritas utama atau marah karena Emilius menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya.
"Sudah setahun penuh saya tidak bisa melihat Putri karena orang tua itu ... "
Emilius menurunkan matanya dengan sedih dan membuat suara yang akan hendak menangis.
"Bisakah Putri memberi saya pelukan sambutan karena sudah kembali dengan selamat?"
Melihat tatapan mata yang sangat berharap itu, Agasy menghela nafasnya, lalu merentangkan tangan nya dan memeluk tubuh Emilius yang besar.
Seperti anak kecil yang merindukan kehangatan ibunya, Emilius memasukkan tubuhnya yang besar ke tubuh Agasy yang kecil dan menggosokkan wajahnya di pundak Agasy yang harum.
Dia menarik tubuh Agasy agar badan mereka semakin rapat, mengelus rambut Agasy yang panjang dan menghirup aroma yang sudah lama dia rindukan.
Selama pelatihan yang seperti neraka itu, dia selalu menggertak giginya agar bisa berhasil dengan cepat, dia tidak ingin ketinggalan acara kedewasaan Agasy yang hanya akan di adakan seumur hidup sekali.
Itu sebabnya walaupun rasanya pikiran dan tubuhnya seperti akan hancur, dia menahan itu semua.
Akhirnya dia berhasil dan segera menjumpai Agasy lebih cepat dari prediksi orang tua itu, tentu saja dia sangat senang jika waktunya lebih di percepat.
Seperti Agasy yang menjadi pasangan dansa pertama dan terakhir nya di acara kedewasaan nya waktu dulu, dia juga ingin menjadi partner dansa Agasy yang pertama kalinya, walaupun dia yakin itu akan sulit karena keberadaan Putra mahkota, tapi karena Putra mahkota adalah saudara kandung itu tidak masuk hitungan kan?
Jadi dia dengan percaya diri mengakui bahwa dialah pasangan dansa Agasy yang pertama di acara kedewasaan nanti.
"Sudah puas sekarang?"
Mendengar pertanyaan itu, dia tersenyum lalu melepaskan pelukannya, menarik rambut Agasy dan meletakkan di belakang telinga nya, dia mengelus telinga Agasy yang terdapat anting yang dulu pernah dia berikan.
Agasy merasakan geli di telinga nya, tapi tidak melepaskan tangan Emilius, dia hanya menatap Emilius dengan matanya yang besar dan berkilau.
Saat menatap Agasy entah kenapa dia merasa mulutnya kering, lalu dengan pelan menggosok kepala Agasy.
"Saya tidak sadar kalau Putri sudah dewasa sekarang."
"Beberapa bulan lagi umur ku tujuh belas tahun."
Agasy mengingatkan dengan serius, Emilius tertawa, lalu melepaskan tangannya.
"Saya mendengar ada utusan dari kejaran datang berkunjung, apa itu benar?"
"Hm, mereka meminta bantuan untuk mengusir dan membunuh orang bar bar yang sudah mencuri wilayah mereka."
"Apa Yang Mulia setuju?"
"Belum ada keputusan yang pasti, tapi untuk sementara mereka akan tinggal di istana ini."
Belum sempat Emilius mengangguk, Agasy sudah melanjutkan perkataan yang membuat dia terkejut.
"Dan besok aku akan menemani Putra mahkota Kerajaan mereka berkeliling istana kekaisaran ini."
" ... Apa?"
"Kenapa kamu terkejut begitu? sudah sewajarnya aku sebagai Putri untuk menemani Putra mahkota mereka untuk berkeliling, tidak mungkin kakak ku yang sibuk itu kan?"
Agasy mengangkat alis nya bingung, Emilius kehilangan kata-kata, memang benar sesuai etiket Kekaisaran seperti itu, tapi entah kenapa dia merasa tidak nyaman.
Mungkin dia tidak ingin Putri yang selalu dia lindungi dengan nyawanya di manfaatkan oleh pria lain, ya pasti seperti itu.
"Kalau begitu bisakah saya ikut dan menemani Putri?"
Tanya Emilius dengan penuh harap.
"Hmm ... baiklah, tapi ingat jangan sampai membuat dia merasa tidak nyaman mengerti?"
Agasy kembali mengingat Emilius, walaupun kesan Emilius seperti musim semi yang membuat orang nyaman, tapi dia selalu bisa membuat orang lain marah hanya dengan beberapa kata dari mulut tampan nya itu.
"Baik saya berjanji, saya hanya akan mengawal Putri dengan baik."
Emilius langsung tersenyum senang, mereka melanjutkan obrolan mereka sambil menuntaskan rasa rindu mereka selama ini.
Bersambung