“Laki-laki mana yang mau menikahi wanita mandul?” sinis ibu Mimi, selaku ibu mertua Alina.
Dituduh mandul lantaran tak kunjung hamil setelah lima tahun pernikahan. Kemudian dipoligami, tapi berakhir dicerai karena menolak menjadi pembantu untuk sang madu yang lagi-lagi hamil. Alina Princesela Kalandra, merasakan semua itu. Namun setelah resmi menjadi janda, Alina yang sempat terjebak ‘cinta satu malam’ dengan Dharen sang bos, justru dinyatakan hamil!
Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa wanita tangguh yang dianggap hina oleh mantan suami, mantan ibu mertua, bahkan pihak dari madunya hanya karena Alina orang kampung sekaligus dianggap mandul, justru hamil? Parahnya, Alina terancam menjadi nyonya besar. Sementara Dharen yang berasal dari keluarga kaya raya, merupakan bos Yusuf—mantan suami Alina.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 : Menemani Selama 24 Jam
Meski apa yang Yusuf dapatkan terkesan tidak adil, peraturan perusahaan tetaplah menjadi hal yang tidak bisa ditentang.
Ditambah lagi, pimpinan sekaligus pemilik perusahaan juga tidak membenarkan apa yang Yusuf lakukan. Tak lupa, tadi Yusuf dengan sadar memilih mengundurkan diri agar Alina tetap dipertahankan di perusahaan. Yusuf memilih mengalah kepada Alina sebagai wujud rasa cintanya kepada istri pertamanya itu. Meski ternyata, tanpa Yusuf melakukannya, tampaknya Alina memang tetap akan dipertahankan. Karena memang baru Yusuf ketahui juga, ternyata keluarga Alina memiliki hubungan baik dengan keluarga Dharen.
Setelah merenung, Yusuf mendadak berubah pikiran. “Jadi, jika pada akhirnya saya dan ibu Alina bercerai. Berarti—”
“Kamu mau balik kerja lagi di sini?” sergah Dharen sengaja memotong ucapan Yusuf.
Detik itu juga Yusuf merasa tertam.par lantaran Dharen langsung bisa membaca maksudnya.
“Ya enggak apa-apa, itu hak kamu. Kami juga akan tetap menerima kamu kembali ke sini, setelah kalian bercerai. Malahan dari kemarin, saya sudah kasih kamu tawaran, kan?” sergah Dharen lagi. “Bahkan andai sekarang juga kamu menceraikan Alina, saya kasih kamu promosi khusus! Promosi yang hanya akan saya tawarkan sekarang, besok-besok enggak. Dan enggak semua karyawan saya kasih tawaran ini!”
“Enggak! Sekarang aku tetap wajib mundur agar Alina merasakan pembuktian cintaku!” batin Yusuf mantap dengan rencananya.
Beberapa saat kemudian, Yusuf benar-benar meninggalkan perusahaan. Akan tetapi, kenyataan dirinya yang akan diterima lagi andai dirinya dan Alina berakhir bercerai. Menjadi alasan Yusuf tetap bersikap gagah. Yusuf sama sekali tidak sedih.
Beberapa karyawan sempat melepas kepergian Yusuf. Namun, mereka kembali memilih fokus bekerja. Sebab mereka berikut keluarga mereka selaku alasan mereka bekerja, perlu tumbuh. Sementara untuk mereka tumbuh memerlukan biaya yang tidak sedikit.
***
Di rumah Yusuf, Rita kembali memakai cadar lantaran ibu Mimi mempertanyakan keimanan Rita.
“Rita, kamu enggak mau kerja. Kamu enggak ada pikiran buat jadi wanita karier juga seperti Alina? Atau malah, kamu memang ENGGAK PUNYA PIKIRAN, makanya tidur di rumah mertua saja, jam delapan pagi baru bangun?” ucap ibu Mimi yang sengaja menyindir sekaligus mengomel.
“Sembarangan banget si mama Mimi, bilang aku enggak punya pikiran,” batin Rita yang mulai belajar mengepel. “Lah Mama, sebenarnya tujuan Mama punya menantu lagi buat apa? Sengaja dikoleksi buat kerja rodi biar Mama Mimi bisa numpang hidup ke menantu. Begitu? Seperti itu? Bersyanda nih orang! Pantas si Alina bar-bar. Lah, ibu mertuanya saja spek seling.kuhannya dakjal!”
Tanggapan Rita yang terdengar layaknya ucapan anak zaman now, membuat ibu Mimi syok. Gaya bicara Rita sudah sangat berbeda dari awal pertemuan mereka. Sama sekali tidak mencerminkan perilaku anak yang paham agama. Ibu Mimi sampai tidak bisa berkata-kata.
“K—Kenapa kelakuan Rita lebih parah dari kelakuan Alina?” batin ibu Mimi yang juga jadi sesak napas. Ia melepas kepergian Rita yang membawa ember pel lengkap dengan pel-pelannya.
Rita melangkah ke rumah bagian luar. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka kuncinya disusul pintu yang akhirnya dibuka.
“Wah ... Ayang Ucup sudah pulang? Cepat banget! Pasti kangen ya, ke aku!”
Termasuk suara genit Rita yang baru saja terdengar, ibu Mimi merasa ada yang salah. “Beneran aneh si ini. Harusnya anak santri paham agama enggak bar-bar macam Rita.”
Namun ketimbang memikirkan Rita, mendadak ibu Mimi jadi kepikiran Yusuf. “Yusuf sudah pulang? Itu anak beneran dipecat?!” pikirnya buru-buru lari.
Niatnya, ibu Mimi ingin memastikan langsung. Benarkah Yusuf pulang bahkan fatalnya dipecat? Namun, lantai yang masih sangat licin setelah dipel Rita, membuat ibu Mimi terpeleset bahkan terbanti.ng.
“Ya Allah Rita ... masa iya, sudah berkali-kali diajari ngepel, enggak bisa? Sebenarnya, otak kamu terbuat dari apa?” rin.tih ibu Mimi masih kesakitan.
Yang membuat ibu Mimi kesal, ketika Rita kembali dan itu sambil menuntun Yusuf. Dengan tak berdosanya, Rita malah bertanya, “Loh, Ma. Ngapain tiduran di lantai? Jangan tiduran di situ, Ma. Nanti masuk angin.”
“Aku tunggu kabar darimu, Lin. Jika kamu tetap tidak menganggap pengorba.nanku, aku pastikan kamu akan tersi.ksa karena rasa cemburumu kepada hubunganku dan Rita,” batin Yusuf masih membiarkan sebelah tangannya digandeng mesra oleh Rita menggunakan kedua tangan.
Rita yang awalnya akan mengepel teras rumah, jadi lupa dan memilih bermanja-manja kepada Yusuf. Malahan ketika ibu Mimi menangis meraung-raung setelah tahu Yusuf mengundurkan diri dari pekerjaan. Rita malah sangat bahagia.
“Ya enggak apa-apa enggak kerja. Sambil daftar dan nunggu panggilan kan bisa makin sering ngadon calon anak. Katanya, Mama Mimi pengin cepat-cepat punya cucu?” ucap Rita benar-benat bahagia.
Sementara itu, di ruang kerja Dharen, Alina sedang sibuk mengurus laporan di laptopnya. Ia duduk di hadapan Dharen yang juga tak kalah sibuk. Karena jika sudah bekerja, mereka memang mirip bu.dak yang sedang dijajah. Hingga ketika mereka memiliki kesempatan untuk istirahat, mereka juga akan memanfaatkannya sepuas-puasnya.
Sekitar satu jam kemudian, keduanya sengaja menikmati secangkir kopi di hadapan masing-masing. Namun, fokus Dharen tertuju ke susternya.
“Sus, kamu beneran belum siap balik ke rumah Yusuf dalam waktu dekat?” tanya Dharen.
Alina yang awalnya memandangi kopi kapucino di cangkirnya, berangsur menggeleng. “Aku paham watak Yusuf. Dia pasti sedang menungguku menghubunginya.”
“Apa yang dia lakukan dengan cara mengundurkan diri, dia jadikan sebagai bukti rasa cintanya kepadaku. Namun di balik itu, dia berharap aku kembali kepadanya. Masalahnya jika aku tidak masuk perangkapnya, dia pasti akan menye.rangku dengan uga.l-uga.lan. Salah satu cara andalannya pasti pamer kemesraan.”
“Aku hanya ingin waras dan cari waktu yang tepat buat ambil buku nikahku.”
“Bahkan meski aku akan menemanimu selama 24 jam?” tanya Dharen dan langsung membuat kedua mata bulat Alina menatapnya.
“Menemaniku selama 24 jam? Bagaimana caranya?” tanya Alina lirih dan memang ragu. Namun di hadapannya, Dharen dengan segera tersenyum li.cik. Senyum yang bisa Alina pastikan, ada bahkan banyak hal tidak baik yang sudah Dharen siapkan untuk menemaninya selama 24 jam menghadapi orang-orang di rumah Yusuf.