Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dorongan
Farhan sudah mulai pulih. Tetapi ia merasa tersentak kaget saat melihat sang mama menangkap ia dan papanya, jelas saja tubuh mereka memiliki bobot yang tak mungkin bisa diangkat oleh seoeang wanita biasa sekaligus.
"Ma...ma..." suaranya pelan. Tetapi momen itu masih ia ingat.
"Sudah, jangan berisik!" hardik Wulan dengan cepat, kemudian meletakkan keduanya di bawah pohon rindang.
Kasih dari atas berteriak histeris sembari menangis. "FARHAN!!"
Kuntilanak Biru dan juga Kuntilanak Kuning membawanya turun hingga ke bawah.
Sesampainya di bawah, ia langsung memeluk Farhan.
Sedangkan Nawang Wulan memeriksa nadi sang anak yang mulai normal.
"Sengatan dari ekor Kalajengking yang sekaligus di tubuhnya, membuat racunnya cepat bereaksi. Untungnya kamu memiliki titisan dari Eyang Getih, sehingga tidak fatal." ucap Nawang dengan lega.
Akan tetapi, Mbah Jati yang di tinggal sendirian di atas, merasa geram.
Ia ikut merosot turun dan dengan sangat pelan.
Akan tetapi, tiba-tiba Pocong yang ingin mencegahnya justru kain kafannya terjerat akar pohon dan membuat ia terjatuh, lalu bergelinding dari atas.
Dan...
Braaak!
Tubuh mereka berpelukan, hingga sampai tiba di bawah.
Tak!
Mereka mendarat di bawah pohon.
"Menyingkir dari aku!" Ia mendorong pocong agar menjauh darinya.
Pocong justru meludahinya.
Cuuuoih!
Aroma busuk menyengat di wajah Mbah Jati.
Sosok ria itu bangkit dengan penuh amarah, dan ia mengayunkan kerisnya.
Wusssh!
Tak!
Sebuah tendangan yang cukup keras mengenai tangan Mbah Jati, hingga membuat benda itu terpental.
Mbah Jati merangkak menghampiri ke arah senjatanya, dan dengan cepat ia menyambarnya.
Saat bersamaan, para kalajengking berukuran kecil itu langsung ikut menyerang para demit.
Pertempuran kembali pecah.
Mbah Jati tersenyum menyeringai.
"Bagus. Sekarang serahkan anakmu. Atau aku ambil satu kompleks."
Nawang Wulan berdiri. Wajahnya berusaha cukup tenang. Tetapi matanya masih terlihat hitam legam.
"Kalau kau mau ambil anakku... lewatin aku dulu."
Kakinya menghentak tanah.
DUM!
Dari dalam.tanah, keluar akar-akar yang berwarna perak. Kemudian mengikat semua kaki-kaki Kalajengking.
Perang kembali pecah, dan membuat Mbah Jati murka.
"Kau sudah mengajak perang... Kau akan menyesal, dan lihat saja apa yang akan terjadi nantinya..." ancamnya pada Nawang Wulan.
Nawang Wulan Mengayunkan pedangnya, dan ia melompat untuk menyerang Mbah Jati.
Akan tetapi, tiba-tiba saja....
Wuuusssh!
Sekelebatan bayangan hitam muncul menghantam pedangnya.
Aroma busuk mawar hitam menguar di udara.
Traaaang!
Dua senjata saling beradu.
Nawang Wulan menatap sosok yang sudah ikut campur dengan urusannya.
"Kau?!" ucap Nawang Wulan dengan wajah terkejut.
Sosok itu tersenyum menyeringai, dari balik topi capingnya.
"Sayang, bawa putera kita untuk pergi dari sini," ucap Nawang Wulan kepada Rayyan.
Rayyan tampak ragu.
"Lalu kamu bagaimana?" ia tak tega melihat Nawang Wulan sendirian.
"Jangan khawatirkan aku... pergilah ke arah timur, bawa mereka ke Danau Cermin, sekarang! Aku akan menahan mereka."
Rayyan akhirnya menganggukkan kepalanya, dan memapah Farhan serta Kasih untuk menuju ke Danau Cermin.
Akan tetapi, Mbah Jati tidak akan membiarkan merek lolos begitu saja.
"Kasih! Kau harus menyelesaikan tumbal! Jangan ikuti mereka! Aku ayahmu!" suara Mbah Jati terdengar serak dan menggema, memecah keheningan malam.
"Tidak! Meskipun kau bapakku, aku tidak mau tersesat seperti kamu!" tolak Kasih. Ia terus berjalan bersama Rayyan yang sedang memapah Farhan.
"Kalau begitu, aku yang akan mengambilnya dengan paksa!" Mbah Jati melesat, dan mengayunkan kerisnya.
Traaang!
Buto Ijo menangkisnya dengan menggunakan pentungan.
Ia berdiri dengan tegak. "Oh, tidak bisa, Mbah! Kamu harus melewati aku dulu!" ucapnya dengan mata merah menyala.
"Sialan!" maki Mbah Jati dengan amarah. Ia langsung menyerang Buto Ijo yang sudah menghalangi langkahnya.
Di tengah perperangan, Kasih terus berdoa, agar ia dan keluarga suaminya dapat segera tiba di Danau cermin untuk segera melakukan ruwatan sengkolo yang sudah masuk dalam tahap ketiga.
"Farhan... Bertahanlah. Jangan tinggalkan aku.. Kita baru saja menikah." ucapnya dengan nada penuh harap.
Tiba-tiba saja, ia merasakan tanda toh di bagian intimnya berdenyut. Desakan ingin bercinta begitu kuat. Bahkan ia sampai basah.
Kasih merasakan gejolak hasratnya sangat kuar. Bahkan ia sudah sangat gelisah.
Jika saja Rayyan tidak bersama mereka, maka ia sudah memperkosa Farhan saat ini juga.
Kasih merasa bingung. Ia mendesis, sembari menggigit bibirnya. "AAAAAKH!"
Kasih tak dapat lagi menyembunyikan semuanya. Dengan dorongan yang jauh lebih besar, membuatnya membunuh rasa malu pada sang ayah mertuanya.
Ia menarik tubuh Farhan dengan paksa, dan merapatkannya ke batang pohon.
Dengan wajah merah ia mengecup bibir Farhan ia sudah di rasuki hasrat iblis.
Nawang Wulan menyabetkan pedangnya ke arah topi caping lawannya.
Craaas!
Pedangnya membelah seperempat kepala lawannya.
Traaak!
Hasil tebasannya tergeletak di atas rerumputan.
Sedangkan Nawang Wulan langsung melesat dan menghampiri menantu dan juga puteranya.
"KASIH JANGAN!"
Taaak!
Nawang Wulan terpaksa menendang Kasih, dan sialnya, Farhan justru merasakan hal yang sama.
Mereka sangat ingin bercinta saat ini juga.
"Tahan! Belum saatnya!" Nawang Wulan mengingatkan.
Sedangkan Rayyan menghampiri puteranya, dan membawanya untuk segera ke tempat penyucian.
Farhan merasakan nafasnya sesak.
Ia tidak dapat mengendalikan hasratnya yang juga sama besarnya dirasakan oleh Kasih.
"Ayo, bantu bawa mereka agar segera sampai ke danau," pinta Nawang Wulan pada seluruh demit.
Mbah Jati ingin menghalangi, tetapi Siluman Ular datang menghantam dengan ekornya.
Wuuuussh!
Braaaak!
Sosok pria renta itu terpental hingga jauh.
Sedangkan Sundel Bolong menyapu para Kalajengking dengan sapu lidi yang mengeluarkan api.
Wuuussh!
Wuuuussh!
Mereka terbakar, bersamaan dengan Mbah Jati yang muntah darah.
Sedangkan sosok bercaping memungut kepalanya yang terbelah, dan memasangnya dengan terbalik, hingga bagian telinganya menghadap kebelakang.
Mbah Jati kembali memuntahkan cairan pekat berwarna hitam. Wajahnya sangat pucat, dan ia menggeram.
Saat ia ingin bangkit, Nawang Wulan mencabut sehelai rambutnya, dan berubah menjadi jarum beracun.
Wuuussh!
Taaak!
Jarum itu tertancap di bola matanya.
Mendadak racun itu menyebar dengan cepat, dan membut mata kirinya meledak.
Mbah Jati terpekik. "Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!"
Nawang Wulan tersenyum sinis. Ia kembali melesat, dan memberikan tendangan pada pria renta tersebut.
Wuuussh!
Braaaak!
Tubuhnya terpental di dalam rawa-rawa.
"Aaaaaaarrggh!..."
Suara pekikannya hingga terdengar ke tepi hutan.
KRAAAAK!
Segel yang tadinya di bagian intim Kasih mengalami retak... sekarang mengunci lagi. Cahaya merah berganti dengan cahaya putih yang berpendar.
Ratusan Kalajengking menjerit dan meledak jadi asap.
"SEMUANYA BELUM SELESAI!!" suara Mbah Jati menghilang bersama kepulan asap hitam kalajengking yang terbakar.
Suasana mendadak hening, dan yang terdengar hanya deru nafas mereka yang terasa berat.
Fajar hampir menyingsing.
Rayyan mengendong Farhan. Buto Ijo menggendong Kasih.
Sedangkan Nawang Wulan jalan paling depan.
"Kita ke Danau Cermin. Sekarang. Sebelum racun di tubuh Kasih nyebar," perintahnya.
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌
dn benar kah JK Wulan kalah dr si iblis ❓😱
Roro Penguk alias Kun Hit mmg benar-benar iblis jahat 🤬😡