Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan dari berbagai arah!!
Pagi ini, Daffa sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Ia mengambil kunci mobil, melangkah keluar dari kamar. Langkahnya berhenti di samping Halimah yang sedang duduk di sofa sambil membaca Qur'an.
Daffa menatapnya sebentar, "Halimah."
Halimah langsung menoleh saat mendengar namanya di sebut, "Iya."
"Hari ini ada banyak hal yang harus di urus di perusahaan. Mungkin, aku akan pulang larut malam. Jangan menunggu. Dan jangan pergi kemanapun tanpa izin aku," Nada Daffa datar. Bukan memerintah, tapi seperti memperingatkan.
Halimah mengangguk pelan, "Iya, Daffa."
Daffa pergi meninggalkan Halimah yang masih menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.
Mbok Ayu diam-diam memperhatikan cara dua manusia itu berinteraksi. Kadang menggemaskan, kadang terasa sangat dingin.
Sementara itu, di rumah Rangga dan Santi, suasana pagi ini terasa sangat menggembirakan. Bagaimana tidak, hal yang mereka tunggu-tunggu akhirnya terwujud.
Santi keluar dari kamar mandi, membawa alat tes kehamilan dengan hasil yang memuaskan.
"Mas, aku hamil!" serunya dengan wajah berbinar, memperlihatkan hasil tesnya.
Rangga yang sedang merapikan tempat tidur, menoleh ke arah Santi, lalu melangkah cepat menghampiri istrinya itu.
Tangannya bergerak mengambil alih alat tes kehamilan ditangan Santi. Menatap lekat dua garis merah di sana, "ini... ini artinya kamu positif hamil?"
"Iya, iya Mas. Aku hamil...."
"Ya ampun..." Rangga mengusap wajah dan kepalanya, merasa belum siap menerima berita sebahagia ini.
"Sayang, itu artinya aku akan jadi Ayah?"
Santi mengangguk percaya diri.
"Oh Tuhan, terimakasih." Rangga langsung memeluk Santi erat, bahkan sampai memutar tubuh Santi dalam gendongannya.
"Terimakasih sayang. Terimakasih. Kamu pilihan yang tepat buat aku. I love you, sayangku."
Rangga menciumi seluruh wajah Santi tanpa henti. Betapa ia merasa bahagia karena akhirnya ia bisa dengan lantang mengatakan bahwa memang bukan dia yang salah telah melepaskan Halimah.
Kabar bahagia itu langsung sampai pada Bu Ramlah dan Rengganis. Mereka bahkan langsung berangkat menuju rumah Rangga.
Sementara, Rita memilih untuk tidak ikut menjenguk kakak iparnya yang sudah hamil itu. Entah mengapa, sejak awal Rita memang tidak pernah menyukai wanita itu.
...>~~<...
[SURYA HOLDING]
Di Aula ruang rapat besar, 20 orang duduk melingkar mengikuti meja di depan mereka.
Daffa masuk paling terakhir ke ruangan itu. Ia melepas kancing tengah jasnya sebelum duduk di kursinya.
Tatapannya menyapu satu persatu manusia yang sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing.
"Rapat dimulai," ucap Daffa tegas dan lantang.
Sementara itu, di ruangan bagian HRD, Tasya yang baru masuk hari ini, diminta untuk memperkenalkan dirinya pada rekan-rekan kerjanya.
Seorang Kepala HRD berdiri, "Silahkan perkenalkan dirimu Tasya!"
Tasya berdiri, tatapannya ragu menyambut semua sorot mata yang kini tertuju padanya.
"Selamat pagi semuanya. Saya Tasya Amelia, staf bagian pengembangan SDM. Mohon bimbingannya," suaranya terdengar bagus, tidak gemetar sama sekali.
"Pagi Tasya. Semoga betah ya bekerja di sini."
"Hai Tasya. Selamat datang di perusahaan."
Beberapa rekan staf bagian HRD menyambut perkenalan dirinya dengan ramah. Namun, ada juga yang menyambutnya dengan sinis.
"Tasya, ini meja kamu..." Kepala HRD menunjukkan meja kerja Tasya.
"Terimakasih, Bu Dewi." ucap Tasya pelan.
"Panggil Mbak saja. Saya rasa kita seumuran."
"Baik, Mbak."
"Selamat bekerja. Kalau ada yang belum kamu pahami, silahkan tanyakan pada yang lain atau pada saya juga boleh."
"Baik, Mbak Dewi. Terimakasih."
Di ruang rapat, terjadi kegaduhan. Beberapa orang saling melempar kesalahan. Sementara Daffa masih menunggu konfirmasi dari Tiger.
Tadi malam, Tiger mendeteksi adanya pembobolan sistem. Seseorang yang mencoba masuk kedalam sistem perlindungan yang dijaga Tiger itu, bukan lawan yang mudah. Orang itu sama hebatnya dengan Tiger bahkan mungkin bisa lebih hebat.
Sejauh ini, ada dua data penting perusahaan terkait proyek pembangunan hotel dan rumah sakit yang telah di curi. Proyek ini merupakan proyek yang berkolaborasi dengan perusahaan besar milik pengusaha Luar Negeri.
Jarinya mengetuk-ngetuk meja, mulai dengan ketukan pelan hingga perlahan menjadi ketukan cepat dan keras.
"Beni, apa kamu punya bayangan siapa orang yang telah berkhianat?"
"Maaf, Bos. Saya sama sekali tidak punya bayangan apapun. Tiger juga sudah memastikan pengkhianat itu bukan salah satu dari bagian Surya Holding." jawab Beni yakin.
Kening Daffa mengerut, tanpa sadar ia mulai menggigit bagian dalam bibirnya. "Siapa? Siapa yang berani mengkhianati aku? Apa ini ulah Mama?" batinnya.
...>~~<...
[BLACK GROUP]
Perusahaan Albert cukup besar, tapi belum sampai sebesar Surya Holding. Laki-laki itu duduk di ruang kerjanya, matanya menatap layar komputer sementara mulutnya mengeluarkan asap rokok yang tebal.
Ponsel berdering, panggilan masuk dari kekasihnya, Amanda.
Albert melempar puntung rokok ke lantai, lalu menginjak dengan kakinya.
"Sayang!" sambutnya menjawab panggilan dari Amanda.
"Apa rencanamu sudah berjalan? Kenapa Daffa sama Halimah tampak tenang-tenang saja."
"Iya, sabar sayang. Rencana kali ini memang terkesan lambat. Tapi, kamu harus percaya sama aku. Dengan rencana ini, aku akan pastikan Halimah sendiri yang akan meninggalkan Daffa."
"Jangan terlalu lama, Albert. Waktu terus berjalan. Bagaimana kalau ternyata rencana kali ini gagal juga. Aku gak akan tinggal diam...."
"Tenanglah, sayang. Aku punya plan B," Albert tersenyum miring sebelum mengakhiri pembicaraan itu.
Kemudian, Albert kembali mengangkat ponselnya, mulai menelpon lagi.
"Halo, Doni. Kau butuh kerja cepat dengan bayaran tinggi dalam satu hari?"
Di seberang telepon, suara serak seorang laki-laki menjawab, "Kerja apa? Dan kau siapa?"
Albert pun meminta bawahannya langsung menemui Doni untuk membicarakan pekerjaan yang harus dia kerjakan hari ini juga. Jika berhasil, Doni akan mendapatkan uang puluhan juta.
Laki-laki itu tentu setuju. Meski harus membunuh pun ia mau, asal menghasilkan uang dalam jumlah banyak.
"Bisa bayarkan DP nya dulu," Pinta Doni pada bawahan Albert itu.
"Ini uang 10 juta, anda bisa gunakan uang ini semau anda. Jika misi kali berhasil, Bos akan menambahkan lagi 20 juta berikutnya."
"Wah, fantastis!" Doni tertawa lepas, "Bilang sama Bos mu, aku akan menyelesaikan tugasku dengan mulus."
Bersambung...