Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 035: Pertarungan Terakhir di Goa Larangan
Srigala Merah Legendaris mengaum dahsyat, mengguncang seluruh goa hingga batu-batu berjatuhan. Tubuhnya besar berkilau merah menyala, matanya tajam menatap Elara tanpa gentar. Seraphina menyatu dengan wujud sakti itu, merasakan kekuatan purba mengalir deras lahir bukan dari amarah, melainkan cinta dan tanggung jawab melindungi semua yang dicintainya.
Elara mundur selangkah untuk pertama kalinya keraguan menyelinap di hatinya. Namun ia segera menggeleng, menatap penuh kebencian yang makin membara. “Jangan kira wujud itu bisa menakutiku! Takkan pernah terjadi!”
Elara merentangkan tangan. Sihir hitam menyatu menjadi tombak raksasa, lalu menghantam Srigala Merah hingga berguncang hebat. Seraphina meraung perih namun tetap tegak; cakarnya membalas, mengoyak lengan Elara. Darah hitam mengalir, bukan lagi manusia, melainkan daging yang bercampur kegelapan murni.
"Kau berani melukai tubuhku!" Elara mengerang marah, lukanya segera tertutup asap hitam dan pulih seketika. "Lihat! Aku sembuh secepat kilat, sedangkan kau setiap serangan justru perlahan menguras tenagamu sendiri!"
"Kau sembuh, tapi kegelapan yang merasukimu tak pernah bisa pulih. Setiap luka di tubuhmu hanyalah bukti kekuatanmu bukan milikmu, melainkan harga yang terus kau bayar dengan jiwamu sendiri."
Tangan Elara mengepal, asap hitam mengepul siap dilontarkan ke arah Seraphina. "Rasakan ini…!"
Seraphina berkelit sigap, menghindari tiap serangan tanpa tersentuh sedikit pun. "Asap dan kemarahanmu takkan pernah bisa menjatuhkanku!"
Pertarungan berlangsung sengit; cahaya murni melawan kegelapan pekat. Seraphina sadar: bertahan begini takkan membuatnya menang. Harus ada cara lain bukan sekadar kekuatan, melainkan menyerang akar kejahatannya sendiri.
Sementara itu, dari Kerajaan Cahaya Timur, rombongan Pangeran Rian segera berangkat. Kereta kuda berhias sutra putih dan perak membawa bejana emas berisi air, Mata Air Kehidupan penawar segala racun sihir gelap. Rian memimpin di depan, wajahnya serius dan penuh tekad. Di belakangnya, puluhan prajurit terbaik siap menjaga air suci itu hingga nyawa terakhir.
"Percepat! Kerajaan Bulan Perak butuh bantuan kita sekarang!" seru Rian. Mereka berlari kencang membelah hutan dan padang rumput, menembus malam yang masih panjang.
Di dalam goa, Seraphina tiba-tiba berhenti menyerang. Ia berdiri tegak di hadapan Elara napas berat, namun tatapannya jernih dan tenang. Wujud Srigala Merah perlahan mengecil kembali menjadi manusia, meski cahaya merah masih menyala mengelilinginya.
"Kenapa berhenti? Sudah menyerah?" ejek Elara, napasnya pun mulai tersengal.
"Bukan menyerah," jawab Seraphina tegas, suaranya bergema berwibawa. "Aku memberimu kesempatan bertaubat. Kembalilah menjadi Elara yang dulu, dan terima hukuman Kerajaan Bulan Perak atas segala perbuatanmu."
Elara terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berteriak histeris. "DIAM! Jangan berlagak suci! Elara yang lemah itu sudah lama mati! Yang ada sekarang hanyalah penguasa kegelapan yang tak akan pernah tunduk pada siapa pun!"
"Elara, dengarkan aku. Jika kau tak segera bertaubat dan melepaskan sihir hitam itu, kau akan hancur bersamanya," seru Seraphina dengan nada prihatin namun tegas.
"Aku tak peduli!" potong Elara kasar, matanya menyala liar. "Biarlah hancur sekalipun! Selama aku bisa berdiri di atas semua orang, aku rela menukar segalanya!"
Seraphina mengangkat kedua tangan. Liontin perak dan gelang naga bersinar serentak, menyatukan cahaya perak dan merah menjadi satu bola terang yang menyilaukan, kekuatan yang akan memusnahkan kegelapan itu.
"Karena kau tak mau mendengar, terimalah cahaya ini…!" ucap Seraphina.
Elara berusaha sekuat tenaga menahannya, namun kekuatannya tak cukup. Ia terpental keras, lalu perlahan hancur menjadi debu yang lenyap tertiup angin.
"Akhirnya… semuanya sudah berakhir." Seraphina menurunkan tangannya perlahan, cahaya di sekelilingnya perlahan meredup. Hening kembali menyelimuti lembah itu, beban berat yang bertahun-tahun kini akhirnya terangkat.