Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 : Keputusan hidup dan matimu

Keheningan jatuh seketika.

Lorong tahanan seolah kehilangan napasnya sendiri.

Pria itu membeku. Kepalanya masih tertunduk, bahunya naik-turun menahan isakan yang belum sepenuhnya reda.

Orang yang berdiri di luar jeruji kembali membuka suara, datar namun menekan.

“Aku tidak butuh saksi mata untuk memahami kronologi kejadian.”

Pria itu tersentak.

“Kau tahu kenapa?” lanjutnya. “Karena kau sendiri yang menjelaskannya.”

Kepala pria itu terangkat perlahan. Ekspresinya berubah drastis, tatapan yang tadi penuh ketakutan kini mengeras. Air mata berhenti mengalir.

“Apa maksudmu?” tanyanya, nadanya rendah, bergetar oleh emosi yang berganti arah.

Tangannya mencengkeram jeruji besi.

Orang itu menatapnya tanpa berkedip.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya,” ucapnya tenang,

“dalam kondisi mabuk, hal-hal yang tak diinginkan memang bisa terjadi.”

Ia melangkah setengah langkah mendekat.

“Masalahnya, banyak orang yang tahu konsekuensinya… dan tetap memilih melakukannya.”

Tatapannya menekan. “Sama sepertimu.”

Ia berhenti sejenak.

“Kau mabuk. Dan kau tetap pulang.”

Rahang pria itu mengeras. Genggamannya pada jeruji makin kuat, buku-buku jarinya memutih.

“Aku juga tidak tahu aku akan berakhir membunuh mereka,” katanya cepat, seolah membela diri.

“Aku tidak tahu semuanya akan sejauh itu.”

Orang itu mengangguk tipis.

“Orang yang benar-benar tidak tahu bahwa dirinya akan membunuh… tidak akan melanjutkan pembunuhan ke tempat lain.”

Nada suaranya tetap dingin, namun kata-katanya menghantam.

“Kau membunuh istrimu dan anak bungsumu di rumah.”

Pria itu menelan ludah. Matanya bergetar, napasnya tercekat.

“Lalu kau ketahuan oleh anak sulungmu,” lanjutnya pelan,

“dan karena kau panik, kau mengejarnya sampai ke rumah kakek-neneknya.”

Keheningan mencekam. Kata-kata berikutnya jatuh seperti palu.

“Kau membunuh mereka semua… untuk menghilangkan saksi.”

Tatapan orang itu menusuk. “Sekarang katakan padaku”

Ia berhenti tepat di depan jeruji.

“apa itu yang kau sebut… tidak berniat membunuh?”

Tatapan pria itu berubah menajam. Tubuhnya yang tadi meringkuk kini perlahan tegak, seolah sosok rapuh barusan tak pernah ada.

Ia bangkit berdiri di balik jeruji. Gerakannya pelan, namun penuh ancaman.

“Siapa kau sebenarnya?” geramnya, suaranya rendah dan kasar, tak menyisakan jejak tangisan.

“Dan dari mana kau tahu semua itu?”

Ujung bibir orang di luar jeruji terangkat tipis. Dagunya ikut terangkat, tatapannya tetap datar.

“Aku hanya Hakim Blair,” katanya tenang, nyaris santai.

“Hakim yang memimpin kasusmu.”

Ia mendekat setengah langkah.

“Aku datang untuk menegosiasikan sesuatu.”

Blair memiringkan kepala sedikit.

“Tapi rupanya aku harus mengulang pertanyaan yang sama… dan kau masih memilih berbohong.”

Pria itu mendengus, rahangnya mengeras.

“Apa yang kau mau dariku?”

Blair menatap lurus ke dalam matanya. Suaranya pelan, tenang, nyaris datar.

“Aku mau kau jujur padaku,” katanya.

“Semua yang kau katakan barusan… benar, atau tidak.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

“Kalau kau mengaku,” lanjutnya, nadanya tetap rendah,

“aku akan mengampunimu di sidang berikutnya.”

Pria itu menyipitkan mata. Tatapannya penuh curiga, napasnya memburu.

“Kenapa aku harus percaya padamu?”

Blair terkekeh pelan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya bukan ramah, melainkan dingin.

“Karena akulah yang memegang keputusan hidup dan matimu.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Wajah pria itu mengeras.

Geramannya keluar, mentah, liar.

“Bajingan—!”

Dalam sekejap, tubuhnya menghantam jeruji. Tangannya menerobos celah besi, mencengkeram kerah kemeja Blair, menariknya paksa ke depan.

“Jangan mainkan aku!” bentaknya.

Umpatannya meluncur kasar, napasnya panas menghantam wajah Blair.

Seketika langkah kaki berlari mendekat.

Seseorang menerobos di antara mereka.

Tangannya mencengkeram pergelangan pria itu, memaksa cengkeramannya terlepas.

“Lepaskan!”

Satu tangan lain menarik Blair ke belakang, menjauhkannya dari jeruji.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!