Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Tidak bisa hidup seperti ini
Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. “Aku… aku sudah tidak sanggup lagi,” ucapnya terbata. “Lebih baik aku mati saja…”
Pria itu segera menggeleng. Tangannya bergerak cepat, menggenggam pergelangan wanita itu dengan mantap.
“Jangan berkata seperti itu,” katanya tegas namun rendah. “Keputusan seperti ini tidak pernah lahir dari pikiran yang jernih. Semua bisa dipikirkan kembali.”
Ia menarik wanita paruh baya itu menjauh dari tepi jembatan, memapahnya hingga tubuh rapuh itu kembali menginjak tanah. Wanita itu dibiarkan bersandar pada pagar, napasnya masih tersengal.
Pria itu berdiri, lalu berjalan menuju mobil hitam yang terparkir tepat di belakang kabriolet Blair. Ia membuka pintu, mengambil sesuatu dari dalam, lalu kembali dengan sebotol air mineral di tangannya.
Ia berjongkok di hadapan wanita itu, menyerahkan botol tersebut.
“Minumlah,” ujarnya lembut. “Pelan-pelan.”
Wanita itu menerima botol itu dengan tangan gemetar. Ia meminumnya sedikit demi sedikit, hingga napasnya perlahan mulai teratur.
Blair yang sejak tadi berdiri terdiam memperhatikan mereka, kini menyipitkan mata. Tatapannya jatuh pada wajah pria itu, profil yang tidak mungkin ia salah kenali.
Tuan Pengawas.
Wanita itu menurunkan botolnya, isaknya belum sepenuhnya reda. Pria itu menghela napas pelan, lalu bertanya dengan suara yang tetap terkendali,
“Apa yang terjadi, bibi? Kenapa sampai kau seperti ini?”
Wanita itu terdiam. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya terbuka.
“Aku… aku tidak bisa hidup seperti ini,” katanya lirih. “Tidak bisa…”
Nada putus asa itu membuat alis Blair mengerut. Ada sesuatu yang terasa janggal, terlalu dalam untuk sekadar kelelahan hidup.
Pria itu mengangguk perlahan. “Kenapa tidak bisa? Apa bibi memiliki masalah?” katanya tenang.
“Bibi, apa kau tidak memikirkan hal lain? jika kau melakukan ini… bagaimana dengan putrimu? Bagaimana jika ia pulang dan tidak menemukanmu di rumah?”
Kata putri membuat wanita itu tersentak.
Matanya terbelalak. Air mata yang sempat mereda kembali mengalir deras. Ia menggeleng keras, emosinya kembali pecah.
“Tidak, tidak...dia tidak akan pulang,” tangisnya meninggi. “Dia tidak akan pernah menemuiku.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Blair menegang. Ada sesuatu yang salah. Kalimat itu terlalu absolut… terlalu final.
Pria itu menatap wanita itu lebih dalam. “Apa maksudmu?” tanyanya. “Bukankah putrimu sekolah di luar negeri? Kenapa tidak bisa pulang?”
Tidak ada jawaban.
Wanita itu menangis semakin keras, tubuhnya gemetar hebat. Kepalanya menggeleng berulang kali, seolah menolak kenyataan yang bahkan belum terucap. Rasa bersalah, keputusasaan, dan luka yang belum sembuh bercampur menjadi satu.
Ia mengepalkan kedua tangannya, napasnya tersendat. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan menatap pria itu.
“Nak Theodore…” suaranya nyaris tak terdengar. “Putriku… putriku tidak akan pernah pulang. Tidak akan bisa…”
Theodore terdiam.
Ekspresi tenangnya mengeras. Tangannya bergerak, menggenggam tangan wanita itu yang gemetar, menahannya dengan erat.
“Lihat aku,” katanya pelan. “Tarik napas. Ikuti aku.”
Ia menuntunnya bernapas perlahan, teratur. Sedikit demi sedikit, isakan wanita itu mereda.
Blair memperhatikan dalam diam. Sosok pria di kantor yang dikenal dingin, tegas, bahkan mengintimidasi kini berdiri di hadapan seorang ibu yang hancur, dengan kesabaran yang nyaris tak tersisa pada siapa pun selain dirinya.
Setelah tangis wanita itu sedikit lebih tenang, Theodore memberi jeda sebelum kembali berbicara.
“Katakan padaku perlahan,” ujarnya. “Apa yang terjadi?”
Wanita itu menunduk. Tangannya masih menggenggam erat tangan Theodore, seolah itu satu-satunya penyangga yang tersisa. Suaranya keluar terputus-putus.
“Putriku… tidak pergi ke luar negeri. Tidak. Tidak pernah.”
Ia menggeleng, air matanya jatuh ke punggung tangan mereka.
“Dia… dia mati.”
Kata itu jatuh berat.
“putriku sudah mati, Theodore.”