Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Reuni SOLIX [1]

Mobil Junho melaju meninggalkan kawasan Apgujeong-dong, membelah malam Seoul yang mulai dipenuhi cahaya hangat dari lampu jalan dan deretan toko yang masih buka. Arah tujuan mereka jelas Yeonam-dong, Mapo-gu, sebuah kawasan yang lebih tenang, artistik, dan berjiwa muda. Di sanalah rumah Taeyang berdiri, tersembunyi di balik deretan pohon mapel dan pagar kayu berwarna gelap.

Nala duduk di kursi penumpang, mengenakan blus ivory berpotongan sederhana yang dipadukan dengan celana wide-leg berwarna cokelat susu. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan gelombang lembut, sementara sebuah kalung tipis menghiasi lehernya, dipadukan dengan anting kecil yang sederhana. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk memberikan sentuhan elegan pada penampilannya.

Di sampingnya, Junho mengenakan kemeja cokelat tua tanpa dasi, dipadukan dengan celana bahan berwarna beige dan sepatu loafers. Jam tangan klasik melingkar di pergelangan tangannya, menjadi satu-satunya aksesori yang mencuri perhatian.

Warna mereka tidak benar-benar sama, tetapi berpadu dengan tenang. Keduanya terlihat santai, rapi, dan elegan—bukan seperti pasangan selebritas yang sedang berusaha menarik perhatian, melainkan suami-istri mapan yang tahu bagaimana membawa diri tanpa perlu menunjukkan siapa mereka.

“Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini,” ucap Junho pelan. Matanya tetap fokus ke jalan, tetapi senyum tipis terlihat di sudut bibirnya.

Nala mengangguk kecil.

“Dan mereka semua datang... lengkap?” tanyanya, seolah masih memastikan.

Pertanyaan itu membuat senyum Junho sedikit melebar.

“Iya. Kali ini bukan cuma SOLIX tapi keluarga SOLIX,” jawabnya sembari menggenggam tangan Nala dengan sebelah tangannya.

Nala menoleh kepadanya. Jemari mereka bertaut di antara jeda percakapan, sementara tangan Junho yang lain tetap mengendalikan kemudi. Ada sesuatu yang terasa berbeda malam itu bukan sekadar pertemuan dengan teman-teman lama, melainkan kesempatan untuk kembali duduk bersama orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya.

“Oppa...” panggil Nala, membuat Junho menoleh sekilas. “Jangan minum, arasseo?” lanjutnya.

“Iya,” jawab Junho dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.

Pria itu kembali memusatkan pandangan ke jalan. Ia menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir pelan sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul ketika dirinya berada di antara lelah dan lega.

“Di sana ada makanan halal?” tanya Nala lagi.

“Kalau tidak ada, kita tidak perlu ikut makan,” ucap Junho, membuat Nala terkekeh pelan.

“Itu tidak sopan, mereka pasti sudah menyiapkannya,” balas Nala, yang membuat Junho mengerlingkan matanya.

“Lalu? Kamu mau melanggar keyakinanmu demi menyenangkan orang lain?” tanya Junho, seolah-olah sedang menguji Nala.

Nala tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya lebih dalam pada kursi, membiarkan kepalanya bersandar sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan.

“Sejak awal aku sudah banyak melanggar...” gumamnya. “Menikah denganmu saja adalah aturan besar yang aku langkahi karena cinta... Kali ini sudah cukup.”

Nala berhenti sebentar. Tatapannya lurus ke depan, lalu ia melanjutkan dengan nada yang jauh lebih santai, seolah baru saja menemukan pembelaan yang paling masuk akal.

“Mereka tidak memasak samgyeopsal, tetapi bulgogi dan galbi,” lanjutnya.

Junho terkekeh pelan bukan karena merendahkan, melainkan karena gemas mendengar nada bicara istrinya yang terdengar begitu serius ketika sedang berusaha membela diri.

“Nada bicaramu seperti orang yang sedang menitipkan wasiat, sungguh,” ujar Junho diiringi tawanya yang meledak memenuhi kabin mobil, Nala langsung mengerucutkan bibir. Tanpa banyak bicara, ia memukul pelan lengan Junho.

“Oppa...” rengeknya kesal.

“Aigo... perutku sakit,” ucap Junho di sela tawanya, bahkan harus menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri.

Nala hanya menggeleng, tetapi senyum kecil akhirnya muncul di wajahnya. Kesalnya tidak pernah benar-benar bertahan lama ketika melihat Junho tertawa seperti itu.

Tak lama kemudian, mereka tiba di Yeonam-dong ketika langit sudah benar-benar gelap. Jalanan di kawasan itu justru semakin hidup, dipenuhi suasana muda yang khas; kafe-kafe kecil dengan jendela besar, restoran yang memancarkan cahaya hangat dari balik kaca, serta suara tawa yang sesekali terdengar dari sudut-sudut jalan yang tidak terlihat dari dalam mobil.

Rumah Taeyang tampak menyala hangat dari kejauhan. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan dominasi kayu dan kaca, sementara taman kecil di bagian depan ditata dengan sentuhan artistik lampu-lampu taman yang redup, beberapa pot tanaman hijau, serta bangku kayu panjang di teras yang membuat rumah itu terasa sederhana sekaligus nyaman.

Begitu mobil berhenti di depan pagar, Junho turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Nala. Bukan karena Nala tidak mampu melakukannya sendiri, melainkan karena itu adalah salah satu cara sederhana Junho mengatakan, aku masih memilihmu.

Nala turun dari mobil dan merapikan cardigan-nya sebelum mengangkat pandangan ke arah rumah tersebut. Di ambang pintu, Taeyang sudah berdiri mengenakan kaus hitam sederhana dan celana training yang terlalu santai untuk ukuran seorang aktor papan atas. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia tidak sempat memedulikan penampilan setelah menunggu kedatangan mereka.

“Hyung,” sapa Taeyang sembari membuka kedua tangannya lebar.

Junho langsung menghampirinya dan memeluknya. Tepukan kuat di punggung mengiringi pelukan itu; pelukan dua laki-laki dewasa yang tidak membutuhkan banyak kata untuk menunjukkan bahwa mereka sudah lama saling mengenal.

“Akhirnya datang juga. Yang lain sudah menunggu,” ujar Taeyang setelah mereka melepaskan pelukan.

“Kalau kau yang mengundang, tidak mungkin aku tidak datang,” balas Junho. Taeyang tersenyum, lalu mengalihkan pandangan kepada Nala senyumnya seketika melembut.

“Selamat datang, Noona,” ucapnya dengan senyum lebar.

Nala mengangguk sopan.

“Malam. Terima kasih sudah mengundang kami, Oppa,” jawabnya pelan.

“Tentu saja... Ayo, masuk,” ajaknya sembari membuka pintu rumahnya lebih lebar.

Nala tidak menjawab panjang ia hanya mengangguk dan melangkah mengikuti Junho. Namun, sebelum benar-benar masuk, matanya sempat menyapu halaman kecil di depan rumah itu sekali lagi. Ada sesuatu yang terasa sederhana dalam sambutan Taeyang malam itu tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, tetapi cukup untuk membuatnya merasa diterima.

Sesuatu yang membuat Nala merasa dihargai tanpa harus memintanya.

Begitu mereka masuk, aroma makanan langsung menyambut. Perpaduan aroma daging panggang, kuah sup yang masih mengepul, dan sesuatu yang manis seperti hidangan penutup yang baru saja dikeluarkan dari oven, memenuhi udara di dalam rumah.

Di ruang tamu, meja rendah sudah dipenuhi berbagai hidangan: bulgogi, galbi-tang, tteokbokki, japchae, kimchi, pajeon, beberapa banchan, serta kue-kue yang jelas bukan hasil kerja satu orang saja.

Ruang tamu yang luas itu juga sudah dipenuhi beberapa orang. Jinwoo dan Mira telah tiba lebih dahulu. Jinwoo mengenakan kemeja putih santai dengan lengan yang digulung hingga siku.

CEO HYGIN Beverage itu tampak seperti seseorang yang dipaksa memainkan peran “ayah rumah tangga” dalam sebuah variety show tetapi anehnya, ia menjalankannya dengan kepercayaan diri yang nyaris absurd. Sementara itu, Mira tampil anggun dalam blus pastel dan celana kain berpotongan rapi. Auranya tetap tenang dan profesional, khas mantan ahli gizi yang kini menjalankan kliniknya sendiri.

“Junho-ya... leader kita datang,” sapa Jinwoo sambil mengangkat gelas minumannya.

“Hyung,” balas Junho.

Mira kemudian menoleh kepada Nala, senyum hangat segera merekah di wajahnya.

“Nala-ya...” sapanya antusias sembari bangkit dan menghampiri Nala. Tanpa ragu, ia langsung memeluknya.

“Aku terlambat, ya?” tanya Nala sopan sembari membalas pelukan itu.

“Tidak juga. Masih ada dua keluarga lagi yang belum tiba,” jawab Mira sembari melepaskan pelukannya.

Di sudut lain ruangan, Yoohan dan Yoona tengah sibuk membantu menata makanan di dapur terbuka. Yoohan mengenakan kemeja hitam polos, sedangkan Yoona tampil sederhana dalam dress midi berwarna sage.

Mereka tidak banyak berbicara. Namun, gerakan keduanya terlihat begitu selaras seolah saling memahami hanya melalui tatapan singkat, gerakan tangan, atau sekadar mengetahui apa yang perlu dilakukan tanpa harus diminta. Ada kenyamanan yang hanya tumbuh dari kebersamaan yang telah berlangsung lama.

Ketika mata Yoona bertemu dengan mata Nala, perempuan itu langsung tersenyum hangat. Nala membalas senyum tersebut, merasakan suasana akrab yang perlahan membuatnya tidak lagi merasa seperti tamu di rumah itu.

Tak jauh dari sana, Hoseung dan Camille baru saja tiba. Hoseung mengenakan kaus putih yang dipadukan dengan jaket kulit, sementara Camille tampil kontras dalam dress hitam elegan dan boots pendek. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai melewati bahu. Kehadiran mereka seketika mencuri.

“Junho... Astaga, kau masih hidup walaupun sudah tua!” seru Hoseung sambil langsung memeluk Junho.

“Kau semakin berisik... tidak sadar umur,” balas Junho datar.

Hoseung justru tertawa lebar, sama sekali tidak merasa tersinggung. Camille yang berdiri di samping mereka hanya menggeleng geli sebelum mengalihkan perhatian kepada Nala.

“Bagaimana kabarmu, Nala?” tanyanya tanpa ragu sembari menghampiri dan memeluk Nala.

Nala membalas pelukan itu, lalu mengangguk kecil.

“Aku baik, Eonni. Lama sekali tidak bertemu,” jawab Nala.

“Iya... Kau terlalu sibuk. Aku sering mendengar namamu saat mendampingi ASTRAE, tahu,” ujar Camille.

Nala menggeleng kecil, sudut bibirnya terangkat samar.

“Semoga bukan dari keluhan,” balasnya.

Camille langsung menggeleng.

“Justru dari kekaguman. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka, tahu. Mereka tampan, kan?” bisiknya pelan. Ia kemudian melirik ke arah Hoseung yang sudah bergabung dengan yang lain, seolah memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Nala spontan menutup mulutnya, menahan tawa.

“Memang tampan,” jawabnya pelan.

Camille terkekeh, sementara Nala masih berusaha menahan senyum. Untuk sesaat, percakapan mereka terasa seperti obrolan dua perempuan yang sudah lama saling mengenal.

Terakhir, Jihwan dan Rena datang bersamaan dengan Kiyoon dan Eunchae yang baru saja masuk dari pintu. Jihwan mengenakan sweater rajut yang senada dengan dress midi yang dipakai oleh istrinya, Rena. Penampilan mereka tampak sederhana, tetapi jelas bukan tanpa pertimbangan. Ada keselarasan kecil dalam warna dan gaya yang membuat keduanya terlihat seperti pasangan yang sudah terbiasa berjalan berdampingan tanpa perlu menunjukkannya kepada siapa pun.

Sementara itu, Kiyoon mengenakan kemeja abu-abu muda, sedangkan Eunchae tampil dalam long dress putih sederhana yang dipadukan dengan cardigan pendek. Mereka terlihat tenang—pasangan yang kehangatannya tidak membutuhkan sorotan.

“Haii semua... Orang tampan datang,” sapa Jihwan pelan dengan senyum lebar.

“Ya, ampun... kau tidak tahu malu,” ledek Kiyoon sembari melewati Jihwan begitu saja.

“Yakk... Jeon Kiyoon!” sentak Jihwan, pura-pura tersinggung.

Tawa langsung pecah di antara mereka. Tidak ada yang benar-benar terkejut dengan tingkah keduanya bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, dinamika mereka masih sama; ringan, berisik, dan penuh ejekan yang hanya bisa muncul dari persahabatan yang telah melewati terlalu banyak waktu bersama.

“Untung Kiyoon hanya bilang ‘tidak tahu malu’, bukan ‘pendek’,” ledek Taeyang yang baru saja kembali dari luar setelah mengambil sisa pesanan yang baru datang.

Jihwan langsung menoleh tajam.

“Kau mau mati?” jawabnya kesal.

Namun, sudut bibirnya justru tertarik menahan tawa. Jelas tidak ada kemarahan sungguhan di sana. Sejak dulu, mereka memang gemar meledek Jihwan soal tinggi badannya yang relatif lebih pendek dibandingkan yang lain ditambah wajahnya yang terlalu menggemaskan untuk seorang pria yang sudah memasuki usia matang.

Dan Jihwan, seperti biasa, selalu menjadi orang pertama yang terpancing.

“Kau makin tidak sopan padaku,” ucapnya, pura-pura kesal. Namun, Rena hanya bisa tersenyum kecil melihat interaksi itu. Ia sudah terlalu mengenal suaminya untuk benar-benar percaya bahwa Jihwan tersinggung.

“Memangnya tidak boleh mengatakan fakta?” goda Taeyang semakin jahil. Senyum miring terbit di wajahnya, jelas menunjukkan bahwa ia belum berniat berhenti mengusik Jihwan.

Jihwan yang semula hendak mengambil minuman langsung berbalik tatapannya menyipit, sementara satu alisnya terangkat curiga.

“Fakta apanya?” tanyanya, mulai waspada.

“Fakta bahwa—”

“Sudah, jangan mulai,” potong Kiyoon santai. Ia bahkan tidak menoleh ketika mengatakannya. Tangannya masih sibuk merapikan lengan kemejanya, seolah keributan di depannya sama sekali bukan urusannya.

Namun, Jihwan justru langsung menunjuk ke arah Kiyoon.

“Justru kau yang mulai!” serunya gemas hingga Kiyoon akhirnya menoleh wajahnya tetap datar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda merasa bersalah.

“Aku hanya lewat,” balasnya tanpa rasa bersalah.

“Tapi kau yang bilang aku tidak tahu malu!” jawab Jihwan tidak terima.

“Karena memang begitu,” ucapnya begitu tenang hingga Jihwan terdiam sepersekian detik. Matanya membesar, bibirnya bahkan sedikit terbuka, seolah tidak menyangka Kiyoon akan membalas secepat itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

“Yakk... Jeon Kiyoon!” serunya, pura-pura tersinggung.

Beberapa orang langsung tertawa. Taeyang bahkan sampai menundukkan kepala sambil menahan tawa, sementara Hoseung menepuk-nepuk lengannya sendiri karena terlalu geli. Jihwan hanya mendengus, berusaha mempertahankan wajah kesalnya, tetapi sudut bibirnya sudah bergetar menahan senyum.

Taeyang yang melihat reaksi itu justru semakin bersemangat. Ia meletakkan kotak makanan yang dibawanya di atas meja, lalu menyandarkan satu tangan di pinggang.

“Kalau dipikir-pikir...” katanya, sengaja menggantung kalimatnya hingga Jihwan kembali menoleh, tatapannya langsung berubah curiga.

“Apa?” tanyanya waspada karena dia tahu sejak dulu, Kiyoon dan Taeyang memang paling senang mencari celah untuk membuatnya kesal.

Hoseung yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat mereka ikut menyahut. Ia mengusap dagunya, seolah sedang mempertimbangkan sebuah persoalan yang sangat serius.

“Masalah sebenarnya bukan tinggi badan Jihwan,” katanya pelan dengan nada penuh pertimbangan. Jihwan menyipitkan mata, menatap Hoseung semakin curiga.

“Lalu?” tanyanya.

Hoseung menahan senyum beberapa detik sebelum akhirnya memasang wajah sok bijaksana.

“Kepercayaan dirinya terlalu tinggi,” ucapnya sembari tertawa puas begitu kalimat nya selesai.

“HAH?” Jihwan hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Taeyang yang berada di sampingnya langsung menunjuk Jihwan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Lihat? Tubuhnya pendek, tetapi egonya—”

“Jangan membawa-bawa tubuhku!” sela Jihwan cepat.

Tangannya terangkat, seolah hendak menghentikan Taeyang sebelum kalimat itu berkembang menjadi penghinaan yang lebih panjang. Namun, ekspresi wajahnya yang sudah memerah karena kesal justru membuat tawa di sekitar mereka semakin pecah.

“Berarti boleh membawa egomu?” Taeyang balik bertanya dengan wajah polos yang justru membuatnya semakin menyebalkan.

“Taeyang!” bentaknya cepat.

“Kenapa kau berteriak?” Taeyang mengangkat kedua tangannya, berpura-pura tidak bersalah. Sudut bibirnya bahkan sedikit terangkat, jelas menikmati reaksi Jihwan. “Aku hanya bertanya.”

“Karena kau memang menyebalkan!” balas Jihwan kesal. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Taeyang dengan tatapan sebal.

“Bukankah itu sudah menjadi fakta sejak kita masih muda?” tanya Taeyang santai.

Jihwan terdiam sesaat, dia memandang Taeyang dengan ekspresi tidak percaya, seolah baru menyadari bahwa tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berniat menyelamatkannya.

Perlahan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari seseorang yang mungkin masih memiliki sedikit rasa kasihan untuk membelanya, namun sayangnya tidak ada satupun.

Jinwoo malah sudah tersenyum sambil bersandar nyaman di kursinya. Mira yang duduk di sampingnya menutup mulut dengan satu tangan, berusaha menyembunyikan tawanya meski bahunya sudah bergetar kecil.

Yoohan hanya melirik dari tempatnya berdiri dengan ekspresi datar, seolah keributan itu tidak lebih penting daripada merapikan gelas di tangannya. Sementara itu, Yoona tersenyum kecil, menikmati pertengkaran ringan yang sudah begitu akrab bagi mereka.

Jihwan menghela napas pelan.

“Tidak ada yang mau membelaku?” tanyanya akhirnya, menatap mereka satu per satu dengan wajah penuh pengkhianatan. Bukannya menjawab, Jinwoo justru tertawa kecil.

“Kenapa kami harus membela orang yang memang sedang kalah?” balasnya. Jihwan langsung mengerucutkan bibirnya, jelas tidak terima.

“Hyunggg...” serunya kesal, nada suaranya terdengar setengah merengek. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Taeyang. “Dan kau, Taeyang, fakta menurut siapa?” tuntutnya akhirnya.

“Menurut sejarah,” jawab Taeyang tanpa ragu.

“Sejarah siapa?!” balas Jihwan cepat.

“Sejarah SOLIX,” timpal Kiyoon sembari kembali duduk di kursinya. Setelah sejak tadi cukup menikmati reaksi Jihwan, akhirnya ia ikut turun tangan dalam perdebatan yang semakin tidak jelas arahnya.

“SOLIX tidak pernah mencatat hal seperti itu!” bantah Jihwan lagi. Ia langsung menoleh tajam kepada Kiyoon, si maknae menyebalkan yang tampaknya selalu punya sesuatu untuk ditambahkan.

“Nah, itu dia...” Kiyoon menyandarkan punggungnya dengan santai. Wajahnya tetap tenang, seolah apa yang hendak dikatakannya benar-benar masuk akal. “Harusnya dicatat supaya generasi berikutnya tahu bahwa si paling manis di SOLIX ini mudah tersinggung.”

“Aku tidak mudah tersinggung!” bantah Jihwan tanpa berpikir panjang.

“Kau baru saja tersinggung,” sela Jinwoo sambil tertawa, bahkan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka.

“Itu karena mereka memang menyebalkan, Hyung,” balas Jihwan setengah manja.

Ia kembali menghadap Jinwoo, seolah kakak tertuanya itu adalah satu-satunya orang yang masih mungkin berdiri di pihaknya. Sejak dulu, Jinwoo memang selalu menjadi tempatnya meminta pembelaan, meskipun pada akhirnya ia hampir selalu kalah cepat dari Kiyoon.

Jinwoo hanya menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Mereka tidak salah...” katanya santai membuat senyum Jihwan langsung memudar.

“Hyung?”

“Sudahlah, ayo duduk di sini. Kau sudah tua untuk berdiri selama ini,” ucapnya membuat Jihwan membeku.

Seisi ruangan kembali pecah oleh tawa, sementara Jinwoo dengan tenang menepuk kursi kosong di sebelahnya, seolah baru saja memberikan nasihat penuh kasih kepada adiknya.

Jihwan hanya menatapnya dengan wajah tidak percaya.

“Bahkan Hyung juga...” gumamnya lirih, benar-benar merasa dikhianati.

“Sudahlah, ayo sini. Pendek juga asal hidup,” timpal Rena akhirnya.

Jihwan sontak menoleh kepada istrinya dengan tatapan tidak percaya. Dari semua orang yang ada di ruangan itu, ia tidak pernah menyangka Rena akan ikut bergabung dalam barisan orang-orang yang mengusiknya. Padahal, dari tadi ia sudah berharap istrinya menjadi satu-satunya pihak yang masih mau membelanya.

Namun, perempuan yang paling dicintainya itu justru ikut menambah luka.

“Yeoboooo....” ucapnya dramatis, memanjangkan panggilan itu sambil menatap Rena dengan ekspresi seolah baru saja dikhianati untuk kesekian kalinya.

Yoohan yang melihat interaksi keduanya langsung memalingkan wajah, menahan tawa yang hampir lolos. Sementara itu, yang lain sudah tidak mampu lagi mempertahankan wajah serius mereka. Tawa kembali memenuhi ruangan.

“Tapi menurut filsafat memang seperti itu,” ucap Kiyoon tiba-tiba.

Suasana seketika hening, hanya terdengar bunyi samar dari alat masak yang masih digunakan Yoona di area dapur terbuka. Dengung lembut pendingin ruangan berpadu dengan musik instrumental yang mengalun dari soundbar di sudut ruangan, menciptakan jeda yang terasa ganjil setelah keributan beberapa saat lalu.

Junho, yang sejak tadi duduk tenang di samping Nala, akhirnya mengangkat wajah. Salah satu alisnya sedikit terangkat ia menatap Kiyoon selama beberapa detik sebelum perlahan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Lima menit lalu, mereka masih memperdebatkan tinggi badan Jihwan. Lalu entah bagaimana, pembicaraan itu melebar menjadi sejarah, dan sekarang, tanpa ada seorang pun yang tahu bagaimana peralihannya terjadi, mereka sudah sampai pada filsafat.

Junho kembali menatap Kiyoon dengan ekspresi antara bingung dan waspada.

“Filsafat?” ulangnya.

Nala yang duduk di sebelahnya ikut menoleh. Ia dapat melihat dengan jelas ekspresi suaminya yang mulai menunjukkan kelelahan menghadapi logika teman-temannya. Sementara itu, Kiyoon justru mengangguk mantap, sama sekali tidak menyadari bahwa satu kalimatnya telah berhasil menarik perhatian Junho.

“Iya. Karena tinggi badan itu relatif.” Ia berhenti sebentar, kemudian mengangkat satu jari seperti seorang dosen yang hendak menyampaikan teori penting. “Seperti kata filsuf—”

Kiyoon mendadak terdiam keningnya berkerut dalam, tatapannya menerawang ke atas, seolah jawaban yang dicarinya tertulis di langit-langit rumah. Beberapa detik kemudian, matanya perlahan bergeser ke arah Eunchae, berharap istrinya akan menyelamatkannya.

Eunchae hanya menggeleng pelan tatapan matanya seolah berkata; sudahlah, jangan diteruskan. Namun, Kiyoon sudah terlanjur masuk terlalu jauh.

“Siapa?” sela Jihwan cepat.

“Nietzsche,” jawabnya akhirnya.

Junho langsung mengernyit, namun Kiyoon tampaknya sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Junho. Ia malah melanjutkan dengan penuh keyakinan, seolah baru saja menemukan bukti paling kuat untuk mendukung argumennya.

“Kalau sesuatu tidak membunuhmu, berarti kau menjadi lebih kuat.”

Ruangan mendadak hening hanya suara pendingin ruangan bahkan Taeyang yang sejak tadi paling berisik pun tidak langsung menyela. Junho menatap Kiyoon tanpa berkedip, Nala perlahan menoleh kepada suaminya karena dari ekspresi Junho, ia sudah tahu satu hal: Kiyoon baru saja membuka pintu menuju masalah yang jauh lebih panjang.

“Kiyoon.”

“Apa?” jawab Kiyoon santai.

“Itu bukan tentang tinggi badan,” balas Junho datar, membuat Nala tertawa geli di sampingnya.

“Ya, aku tahu,” katanya sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Junho menghela napas pelan lalu menggeleng cepat, seolah berusaha mengusir kalimat barusan dari kepalanya.

“Tidak. Kau jelas tidak tahu,” balasnya.

Tawa Jinwoo langsung pecah. Ia bahkan sampai menundukkan kepala ke arah meja, sementara Mira di sampingnya menutup mulut dengan telapak tangan karena tidak mampu lagi menahan tawanya.

Hoseung menepuk bahu Taeyang sambil tertawa.

“Dia kena,” ucapnya.

Taeyang hanya mengangguk, wajahnya tampak puas menikmati keadaan seperti penonton yang mendapatkan kursi terbaik untuk menyaksikan pertunjukan. Sementara itu, Kiyoon masih tampak tenang bukannya merasa bersalah, ia malah mengusap dagunya dengan ekspresi serius, seolah sedang benar-benar mempertimbangkan kembali argumennya.

“Aku sedang mengembangkan teorinya. Lagi pula, sama saja,” ucapnya, tidak mau kalah.

Junho memijat pangkal hidungnya. Matanya terpejam sesaat, seakan sedang mengumpulkan sisa kesabaran yang masih dimilikinya.

“Jangan mengembangkan teori Nietzsche seenaknya. Ia bahkan tidak pernah mengatakan seperti itu,” ucapnya akhirnya.

Kiyoon menatap Junho beberapa detik.

“Tapi masuk akal.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Junho menurunkan tangannya dari wajah dan menatap Kiyoon dengan kesabaran yang mulai menipis. Tatapannya tenang, tetapi sorot matanya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak habis pikir dengan arah pembicaraan mereka.

“Karena kau baru saja mengubah kutipan tentang menghadapi kesulitan menjadi pembenaran bahwa Jihwan harus menerima ejekan kalian soal tinggi badan,” ucapnya.

Kiyoon mengangguk pelan bukannya merasa kalah, ia malah tampak seperti baru saja menemukan celah baru dalam argumen Junho.

“Bukankah itu juga kesulitan?” tanyanya polos.

Jihwan yang sejak tadi mendengarkan perdebatan tersebut langsung membulatkan mata. Ia menunjuk Kiyoon dengan ekspresi tidak percaya, seolah tidak menyangka adiknya sendiri bisa menggunakan logika seaneh itu.

“Nah! Kau dengar sendiri, kan? Dia memakai filsafat untuk menghinaku!” serunya membuat Junho menoleh kepadanya, tetapi belum sempat mengatakan apa-apa, Taeyang sudah kembali menyela dengan santainya.

“Bagus, Hyung. Orang lain belum tentu bisa menghinamu sesopan Kiyoon,” balas nya. Hoseung langsung tertawa terbahak-bahak, bahunya berguncang hebat sampai ia harus memegangi meja untuk menahan tubuhnya.

“Ya ampun, Taeyang! Kau jujur sekali!” serunya di sela-sela tawa.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!