Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:557
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah pengumuman

Senin pagi di kantor pusat PT Golden tidak berjalan seperti biasanya. Meskipun tumpukan berkas dan monitor komputer di area kubikel lantai tiga sudah menyala sejak pukul delapan, atmosfer di ruangan tersebut terasa sangat tegang dan penuh bisik-bisik rahasia. Kabar mengenai peristiwa luar kota di hari Minggu kemarin rupanya menyebar bagai api yang tertiup angin. Tentu saja, besoknya di kantor langsung gempar luar biasa.

Intan buru-buru menggeser kursi berrodanya, menghampiri meja kerja Budi dengan raut wajah yang dipenuhi rasa tidak percaya.

"Eh, Bud... kamu tahu enggak? Kemarin si Rico ditangkap polisi!" kata Intan dengan nada setengah berbisik namun sarat akan penekanan yang mengejutkan.

Budi yang sedang fokus menyortir data di layarnya seketika menghentikan gerakan jemarinya. Dia menoleh dengan dahi berkerut dalam.

"Ah, masa...?" tanya Budi, mengira teman kubikelnya itu sedang membuat lelucon di pagi hari.

"Bener Bud... Asli enggak bohong!" timpal Intan meyakinkan.

"Infonya bahkan sudah tersebar luas di grup pesan singkat internal khusus karyawan PT Golden sejak tadi subuh.

Kamu enggak baca?"

Budi mengembuskan napas pendek, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku mana sempat baca gituan di hari libur. Toh, kalau waktu istirahat atau hari Minggu, aku mending fokus main game di kamar daripada mantau grup kantor," jawab Budi dengan kepolosan yang murni.

Mega yang duduk tepat di seberang meja Budi, sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya mendengarkan prinsip hidup rekan kerjanya tersebut.

"Hmm... bagus juga kamu, Bud," kata Mega memuji dengan tulus.

"Ya iyalah... gini-gini juga jalanku selalu lurus," kata Budi dengan bangga, membusungkan sedikit dadanya di balik kemeja kerja.

"Aku enggak pernah macam-macam, apalagi sampai main cewek atau punya pikiran nekat yang aneh-aneh."

Melihat kebanggaan Budi yang agak berlebihan, insting usil Intan seketika muncul. Dia menyitirkan matanya sambil tersenyum mengejek.

"Apa lantaran kamu emang enggak laku?" tanya Intan dengan nada menggoda yang sangat telak.

Wajah Budi seketika memerah menahan malu karena ledekan tersebut.

"Kamu...!" sentak Budi seraya menunjuk Intan dengan pulpennya, kehilangan kata-kata untuk membela diri.

Melihat ekspresi salah tingkah Budi yang menggemaskan, Intan dan Mega langsung cekikikan bersama, menertawakan nasib asmara rekan kerja mereka yang datar itu.

Suasana kubikel yang sempat tegang perlahan mencair oleh tawa kecil mereka.

Namun... keriangan kecil tersebut tidak bertahan lama. Mereka semua langsung terdiam seribu bahasa dan menegakkan posisi duduk ketika sebuah suara deheman terdengar dari arah lorong kubikel.

"Ehem."

Itu adalah suara Vani. Sang sekretaris pribadi Mita melangkah masuk ke area kubikel dengan pakaian kerjanya yang selalu rapi. Meskipun wajahnya masih menyiratkan sedikit sisa kelelahan setelah mendapatkan perawatan untuk menetralkan efek obat bius kemarin malam, auranya tetap memancarkan ketegasan yang mutlak sebagai perwakilan lantai teratas.

Intan, Mega, dan Budi langsung merapikan sikap duduk mereka, menatap Vani dengan pandangan penuh hormat sekaligus cemas.

Vani berdiri di tengah ruangan, menatap satu per satu wajah para karyawan baru di divisinya dengan pandangan yang serius.

"Kalian semua pasti sudah tahu berita yang ada di grup internal mengenai salah satu rekan kerja baru kalian," kata Vani memulai pengarahan paginya dengan nada suara yang tenang namun berat.

Ruangan kubikel itu mendadak senyap, tidak ada satu pun yang berani memotong atau mengeluarkan suara sekecil apa pun.

"Tindakan nekat dan kriminal yang dilakukan oleh mantan karyawan bernama Rico kemarin tidak akan pernah ditoleransi oleh pihak manajemen PT Golden," lanjut Vani dengan tatapan mata yang menembus langsung ke arah mereka.

"Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga bagi kalian semua. Fokuslah pada pekerjaan dan kompetensi kalian, jaga etika, dan ingat batasan posisi kalian di perusahaan ini,"

kata Vani menutup kata-katanya dengan sedikit tegas sebelum berbalik arah kembali menuju lift VIP.

Begitu bayangan Vani menghilang di balik pintu lorong, Budi, Intan, dan Mega hanya bisa saling pandang dengan napas lega yang panjang. Mereka menyadari betapa mengerikannya dinding realita di PT Golden jika seseorang mencoba bermain-main dengan kekuasaan Ibu Mita, tanpa ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik runtuhnya nasib Rico, ada satu orang lagi yang belum mendengar cerita lengkapnya.

Dialah Bayu, yang saat ini sedang menunggu istrinya pulang di rumah mewah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!