Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terkunci
Setibanya di rumah sepulang sekolah, aku melangkah gontai memasuki kamar tidurku. Kurobohkan tubuhku sebentar di atas kasur empuk untuk mengikis rasa lelah. Belum sempat aku memejamkan mata, ponsel di dalam tas seragamku berbunyi pelan. Satu notifikasi pesan masuk terlihat di layar.
"Sayang, Mas ada kelas siang ini di kampus. Nanti selesai kuliah Mas langsung ke rumah kamu ya.'
Aku tersenyum tipis membacanya. Dengan jemari yang ringan, aku membalas singkat:
"Iya, Mas."
Aku beranjak bangun, melepas seragam sekolah, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa dingin air membasuhi tubuhku, menyegarkan pikiran dan membuang sisa-sisa dahaga. Selesai berganti pakaian santai, aku menuju dapur untuk menikmati makan siang. Perut yang kenyang dan suasana rumah yang sepi membuat mataku perlahan terasa berat, hingga akhirnya aku ketiduran di atas kasur kamarku.
Sekitar pukul tiga sore, dering telepon dari ponselku membangunkan diriku dari tidur nyenyak. Aku mengusap mata, meraih ponsel di nakas, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Mas?"
"Halo, Sayang... Mas baru selesai kelas nih, sekarang lagi jalan ke rumah kamu ya," suara Adrian terdengar begitu hangat dari seberang sambungan.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya."
Aku bergegas merapikan rambutku di depan cermin, merapikan sedikit penampilanku, lalu melangkah menuju ruang tamu. Sembari menunggu kehadirannya, aku menduduki sofa empuk seraya menyalakan televisi untuk membunuh waktu.
Tak butuh waktu lama, deru mesin motor besar yang teramat kukenali terdengar berhenti di teras. Pintu depan terdorong terbuka. Begitu sosok Adrian muncul dengan senyum menawannya, aku langsung berdiri dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
"Kangen..." bisikku pelan.
Adrian terkekeh lembut, membalas dekapanku erat sebelum akhirnya melepaskannya. "Mas juga kangen banget."
Aku memimpinnya menduduki sofa ruang tamu. Saat itulah, Adrian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kertas cokelat berbalut pita sederhana, kotak yang berisikan gelang tali hitam SL.
Ia membuka kotak itu, meraih pergelangan tangan kiriku dengan jemarinya yang hangat, lalu melingkarkan kembali gelang itu di sana.
"Janji ya..." tutur Adrian menatap mataku lekat-lekat dengan binar yang amat dalam, "...apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah lepaskan gelang ini lagi ya, Sera."
Aku memandangi gelang berinisial nama kami yang kembali melingkar indah di kulitku, lalu menatap matanya seraya menyunggingkan senyum tulus. "Sera janji, Mas."
Setelah itu, Adrian merogoh ponsel pintarnya dari saku, menekan tombol kunci hingga layarnya terbuka, lalu mengulurkan ponsel itu tepat ke tanganku.
"Nih," ucap Adrian mantap. "Kamu bebas buka apa aja di HP Mas. Periksa sepuas hati kamu, biar kamu enggak ada rasa curiga lagi."
Aku menatap ponsel di tanganku sejenak, lalu menggelengkan kepala seraya mengembalikannya ke pangkuan Adrian. "Enggak usah, Mas. Sera udah percaya sama Mas Adrian."
Adrian tersenyum lega, menatapku penuh kasih sayang. "Kalau gitu... kita hubungkan status Facebook kita jadi berpacaran yuk? Biar semua orang tahu kamu punya Mas."
Pipi rasanya memanas mendengar permintaannya. Tanpa ragu, aku menganggukkan kepala setuju. Kami menyatukan status hubungan kami di media sosial sore itu. Setelah proses sederhana itu selesai, kami meletakkan ponsel kami di atas meja kaca, menghabiskan sisa sore dengan mengobrol hangat, saling melempar candaan, dan menikmati detik demi detik kebersamaan yang teramat berharga.
Keesokan harinya di sekolah, suasana koridor dan ruang kelas mendadak terasa heboh begitu aku mengayunkan langkah masuk. Teman-teman sekelasku langsung menatapku dengan godaan dan sorakan riang.
"Cieee! Yang status Facebook-nya baru berubah berpacaran sama Mas Adrian!" seru Celine heboh menghampiri mejaku, memberikan selamat dengan tepukan di bahuku. "Selamat ya, Sera! Pajak jadiannya mana nih?"
Aku tertawa canggung dengan pipi bersemu merah. Di sebelahku, Kania tersenyum hangat memandangi kebahagiaanku. Namun dari binar matanya, aku bisa menangkap sedikit ganjalan, Kania ikut senang, tetapi jauh di dalam hatinya, ia menyimpan ketakutan kalau-kalau abangnya akan mengecewakan dan menyakitiku lagi di kemudian hari.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi nyaring, para siswa berhamburan keluar kelas. Aku melihat Kania berdiri di depan koridor seraya celingak-celinguk panik memandangi layar ponselnya.
"Kenapa, Nia?" tanyaku menghampirinya.
"Aduh, Sera... Ayaha Nia teleponnya enggak masuk-masuk dari tadi, katanya lagi ada urusan. Terus Mas Iyan juga lagi ada kelas siang di kampusnya," keluh Kania cemas. "Gak ada yang bisa jemput nih."
"Yaudah, yuk aku anterin pulang," tawarku ramah.
Mata Kania seketika berbinar lega. "Beneran, Sera? Makasih banyak ya!"
Kami berdua menaiki Scoopy merahku, melaju membelah jalanan kota menuju rumah Kania. Setibanya di sana, Kania menahan lenganku dan mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya yang megah dan teduh.
Di ruang tamu, kami disambut oleh Bunda Kania yang sedang merapikan beberapa hiasan bunga.
"Eh, ada Sera," sapa Bunda ramah seraya menyuntikkan senyum hangat. "Ayah sebelum kamu pulang sekolah nelpon, katanya mendadak ada meeting penting sama rekan bisnisnya, jadi ponselnya disenyapkan."
"Enggak apa-apa, Bunda. Kan ada Sera yang anterin," sahut Kania ceria. Lalu dengan nada menggoda, Kania merangkul bahuku. "Bunda tahu gak? Mas Iyan sama Sera sekarang udah pacaran loh!"
Bunda tertegun kaget, sebelum akhirnya binar bahagianya memancar lebar. "Wah, beneran? Alhamdulillah... Pantesan ya," tutur Bunda memperhatikan wajahku lekat-lekat. "Dari awal Bunda liat-liat, wajah kalian berdua itu mirip loh. Kata orang tua dulu, kalau wajahnya mirip itu tanda jodoh."
Pipiku seketika merona merah mendengar tutur kata hangat dari Bunda Kania. Aku menunduk malu seraya mengulas senyum tipis.
"Yuk, Sera, ke kamar Nia!" ajak Kania menuntun tanganku menaiki tangga menuju lantai dua.
Di dalam kamar Kania yang bernuansa serba merah muda, kami menduduki tepi kasur seraya melepaskan tas sekolah. Kania mulai bercerita heboh mengenai perubahan drastis abangnya di rumah.
"Sera tahu gak? Mas Iyan tuh berubah banget semenjak balikan sama kamu!" cerita Kania menggebu-gebu. "Dia rajin banget bangun pagi, jam 10 malam udah tidur nyenyak, terus sikapnya baik banget sama Nia. Beda banget sama dulu pas kalian belum balikan... dia tuh judes parah, begadang tiap malam, terus jarang banget pulang ke rumah!"
Aku tersenyum menyimak cerita Kania dengan dada yang berdesir hangat.
"Eh, kamu kepo gak sama kamarnya Mas Iyan?" goda Kania mendadak seraya menunjuk ke arah pintu. "Mumpung orangnya belum pulang nih. Masuk yuk?"
"Ah... enggak usah deh, Nia," tolakku malu-malu seraya menggelengkan kepala. "Malu ah, itu kan kamar cowok."
"Alah, sama pacar sendiri aja malu! Penasaran kan? Yuk!" paksa Kania menarik lenganku tanpa memberi kesempatan untuk mengelak.
Akhirnya, rasa penasaran menang. Kania menuntunku keluar dari kamarnya dan membukakan pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.
Begitu pintu kamar Adrian terdorong terbuka, aroma parfum kayu dan mint yang teramat kukenali langsung menyeruak memenuhi indra penciumanku, begitu familiar dan menenangkan.
"Biasanya kamar ini berantakan banget kayak kapal pecah," tutur Kania seraya melangkah masuk. "Tapi akhir-akhir ini sejak balikan sama kamu, kamarnya jadi rapi banget. Liat tuh."
Aku mengedarkan pandanganku menyusuri ruangan berukuran cukup luas itu. Di dinding kamar, terpajang beberapa poster grup musik rock Green Day. Di sudut ruangan, berdiri dua buah gitar listrik dan sebuah gitar akustik yang tersimpan rapi di dalam gig bag.
Langkah kakiku perlahan terayun mendekati meja belajar kayu milik Adrian. Di atas meja itu, tertata rapi beberapa bingkai foto.
Bingkai pertama menampilkan foto keluarga mereka, terlihat Adrian, Kania, Bunda, Ayah, serta Cila adik kecil Kania yang lucu. Di sampingnya, terbaring bingkai foto Adrian kecil yang sedang dirangkul almarhum ibu kandungnya dengan senyum ketulusan.
Namun, perhatianku seketika terkunci sepenuhnya pada sebuah bingkai foto kayu berukuran kecil yang terletak paling ujung di sudut meja.
Aku melangkah makin dekat, menundukkan kepala untuk mengamati gambar di balik kaca bingkai tersebut.
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak seketika.
Di dalam foto kusam itu, tampak sosok anak perempuan kecil bergaun merah yang sangat kukenal, itu adalah diriku sendiri sewaktu kecil. Dan di samping anak perempuan itu, berdiri seorang anak laki-laki berambut agak bergelombang dengan senyum jahil yang begitu khas.
Ingatan masa kecil yang selama ini terpendam jauh di dasar memori mendadak membuncah naik ke permukaan. Aku memandangi wajah anak laki-laki di dalam foto itu lekat-lekat, seraya menyadari satu kenyataan besar yang membuat dadaku berdebar kencang... aku sepertinya ingat betul siapa anak laki-laki itu.