Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Lebih Lama
#35
Pagi kembali datang seperti biasa. Namun, suasana di rumah keluarga Azam terasa jauh berbeda, dipenuhi kehangatan dan keharmonisan.
Dina dijamu dengan sarapan spesial yang bergizi lengkap demi mendukung produksi ASI-nya. Keluarga Azam juga memperlakukannya dengan hangat, tak terkecuali orang-orang yang bekerja di sana.
Ada tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Bu Ratih, nenek Azam, yaitu semua orang sarapan dengan menu yang sama. Tak hanya sarapan, makan siang dan malam pun demikian. Apalagi, di antara para pekerja itu, ada yang sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut sejak lama, bahkan sebelum kedua orang tua Azam menikah. Mereka semua diperlakukan dengan baik, layaknya keluarga sendiri.
“Bagaimana, Dina? Makanannya cocok dengan selera lidahmu?” tanya Bunda Hilda.
Dina mengangguk. “Alhamdulillah, Tante, cocok. Ini spesial sekali, malah.” Dina tidak sekadar menyanjung, tetapi memang mengatakan yang sebenarnya.
HK Catering adalah bisnis milik Bunda Hilda yang terkenal dengan beragam menu Nusantara kaya bumbu dan rempah. Hal itulah yang menjadi salah satu daya tariknya hingga bisnis tersebut mampu bertahan sampai sekarang.
“Syukurlah. Ayo, makan yang banyak. Jangan malu-malu,” ujar Bunda Hilda, mempersilakan Dina menikmati hidangannya agar tidak merasa canggung.
Sementara Dina menikmati sarapan, Azam yang sedang menggendong Ghazi sesekali mencuri pandang ke arahnya. Namun, suara tangisan Ghazi tiba-tiba membuyarkan perhatian pria itu.
“Iya, Sayang. Papa di sini. Kita keluar, yuk, lihat tanaman hijau,” bisik Azam, lalu membawa putranya menjauh agar Dina bisa menyelesaikan sarapannya dengan tenang.
Azam membawa Ghazi ke halaman depan. Dari sana, ia memperhatikan para pekerja yang mulai beraktivitas setelah sarapan pagi.
“Dina, makan yang banyak, ya. Om tinggal ke kebun dulu,” pamit Ayah Irfan karena hendak memantau para pekerja di perkebunan.
“Iya, Om. Silakan.”
Setelah Ayah Irfan meninggalkan meja makan, Bunda Hilda ikut berdiri dan membereskan piring kotor milik suaminya.
“Bunda juga mau ke dapur sebentar. Aisha, temani Dina, ya?”
“Siap, Bunda!” sahut Aisha.
Setelah Bunda Hilda berlalu, Dina kembali bicara.
“Aisha, kalau mau beli kebutuhan dasar, di mana, ya? Aku perlu beberapa perlengkapan yang kemarin lupa kubawa dari rumah.”
“Oh, nanti sore saja, Kak. Sekalian kita keluar untuk membeli popok dan perlengkapan Ghazi.”
Dina tersenyum lega. “Benarkah? Alhamdulillah. Iya, deh, aku mau ikut. Sekalian melihat suasana Yogyakarta. Kapan lagi, kan?”
Jika tidak mengingat batas sopan santun, Aisha pasti sudah mengusulkan agar Dina menikah dengan kakak keduanya, Azam. Namun, ia tahu hal itu tidak pantas diucapkan dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan. Jadi, ia cukup berdoa dalam hati, semoga keduanya memang berjodoh.
•••
Sesuai janji, sore harinya Aisha benar-benar mengajak Dina keluar. Awalnya, mereka berencana pergi berdua saja dengan sepeda motor. Namun, rencana itu berubah ketika Ghazi mulai rewel.
Memang, sejak siang bayi itu terlihat semakin lengket dengan Dina. Bahkan, ketika tidur sekalipun, ia seolah menyadari jika perempuan yang biasanya berada di dekatnya tidak ada di sana.
Lelah, tentu saja. Namun, Dina bahagia karena merasa kehadirannya begitu berarti bagi Ghazi. Di sisi lain, ia juga takut jika suatu saat nanti harus menjauh dari bayi kecil itu. Karena itulah, selama masih memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Ghazi, Dina ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Ya sudah, aku ikut. Kita pergi naik mobil saja,” putus Azam, menengahi.
Bagaimanapun, Dina adalah tamu mereka. Tidak mungkin ia harus terus berada di rumah tanpa diberi kesempatan untuk keluar sejenak dan menghirup udara segar Kota Yogyakarta.
“Waduh, jadi merepotkan semua orang,” kata Dina, merasa tidak enak hati. Namun, Aisha dan Bunda Hilda justru tidak merasa demikian.
“Enggak, kok. Kami tidak merasa repot,” jawab Bunda Hilda sambil mengusap punggung Dina dengan lembut. “Biar Azam yang menemani kalian di luar nanti.”
Meski kembali merasa canggung, akhirnya mereka benar-benar pergi bersama. Kehadiran Aisha membuat suasana di antara Dina dan Azam terasa lebih cair. Jika hanya ada mereka berdua di dalam mobil, mungkin perjalanan itu akan berlangsung sunyi senyap, seperti ketika mereka berkendara dari rumah Dina sehari sebelumnya.
Tanpa terasa, beberapa hari telah berlalu sejak pertama kali Dina datang ke rumah Azam. Selama itu pula, ia mulai terbiasa dengan ritme kehidupan dan suasana rumah yang hangat, jauh berbeda dari rumah tangganya dahulu yang sering membuatnya merasa sendirian.
Pagi itu, Dina baru saja selesai menyusui Ghazi ketika bayi mungil itu kembali merengek saat hendak dipindahkan ke tempat tidurnya.
“Lho, kenapa lagi, Sayang?” gumam Dina sambil menepuk-nepuk punggung Ghazi dengan lembut.
Ghazi justru semakin merapatkan wajahnya ke dada Dina. Kedua tangan mungilnya bergerak seolah tidak ingin perempuan itu menjauh darinya.
Dina tersenyum geli. “Maunya digendong terus, ya? Memangnya tangan Tante Dina ini tidak boleh istirahat sebentar?” gumamnya, mengajak Ghazi berkomunikasi seadanya.
Tentu saja Ghazi tidak menjawab. Bayi itu hanya mengeluarkan suara kecil sebelum kembali menyandarkan kepalanya dengan nyaman.
Tak lama kemudian, Bunda Hilda memasuki kamar tamu yang kini ditempati Dina. Ia tersenyum melihat pemandangan tersebut.
“Belum ditidurkan juga, Nak?”
Dina menoleh sambil tersenyum malu. “Sudah dicoba, Tante. Tapi setiap mau ditaruh, dia malah menangis.”
“Dasar manja.” Bunda Hilda mencolek hidung Ghazi. “Ya sudah, biarkan dulu. Mungkin dia memang sudah tidak butuh eyangnya lagi,” imbuhnya.
Dina kembali menatap Ghazi. Ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya setiap kali bayi itu tertidur dalam pelukannya. Namun, bersamaan dengan itu, kenangan tentang Ghaza terkadang datang tanpa permisi.
Ia masih ingat bagaimana dahulu dirinya begitu menantikan kelahiran putranya. Ia pernah membayangkan akan menggendong Ghaza setiap pagi, menyusuinya, dan menyaksikan setiap tahap pertumbuhannya bersama Farhan.
Sayangnya, kesempatan itu tidak pernah benar-benar ia miliki. Farhan telah menyakitinya begitu dalam hingga akhirnya pernikahan mereka berakhir.
Dina menarik napas perlahan, berusaha kembali menerima kenyataan yang sudah berulang kali ia pahami.
•••
Di tempat lain, Farhan tengah duduk bersama pengacaranya. Sementara itu, kuasa hukum Dina telah bersiap dengan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan perkara harta bersama.
Persidangan hari itu tidak berlangsung terlalu lama. Kedua pihak kembali menyampaikan keterangan serta dokumen yang dianggap relevan dengan tuntutan masing-masing.
Pengacara Dina menjelaskan dasar tuntutan kliennya, termasuk persoalan aset dan kontribusi keluarga Dina yang masih menjadi bagian dari sengketa.
Sementara itu, pihak Farhan menyampaikan keberatan terhadap beberapa hal yang menurut mereka masih perlu diperiksa lebih lanjut.
Hakim meminta kedua pihak melengkapi dokumen yang diperlukan sebelum proses berlanjut ke tahap berikutnya. Belum ada keputusan akhir yang ditetapkan hari itu.
Farhan hanya bisa menghela napas ketika pengacaranya menjelaskan bahwa perkara tersebut masih membutuhkan beberapa tahapan lagi.
“Jadi, belum selesai?” tanyanya dengan nada lelah.
“Belum, Pak. Kami masih harus menunggu pemeriksaan dokumen berikutnya. Setelah itu, baru bisa diketahui bagaimana proses selanjutnya,” jawab pengacaranya.
Farhan mengusap wajah. Ia sudah cukup lelah dengan urusan tersebut. Pekerjaan di Permana Group masih menumpuk, sementara sengketa dengan Dina terus menyita waktu dan pikirannya.
Namun, ia juga tahu bahwa perkara itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan keinginannya untuk segera mengakhirinya.
“Baik. Kabari saya jika ada perkembangan terbaru.”
Setelah itu, Farhan meninggalkan ruang sidang bersama pengacaranya. Ia tidak menyadari bahwa perkara yang dianggapnya merepotkan itu perlahan akan membuka persoalan lain yang selama ini luput dari perhatiannya.
•••
Sore itu, Azam mengajak Dina berkeliling perkebunan, tentu bersama Ghazi. Kali ini, bayi itu berada dalam pelukan Azam.
Sejak Dina datang, Ghazi memang semakin lengket dengan perempuan itu. Meski sesekali masih bisa digendong Azam maupun anggota keluarga lainnya, bayi itu cenderung lebih mudah tenang ketika berada dalam gendongan Dina.
Karena itulah, Azam mengajak Dina ikut serta. Ia khawatir Ghazi kembali rewel saat mereka berada di luar rumah, sementara Dina tidak ada di dekatnya.
Semua orang di rumah sudah terbiasa dengan kebiasaan baru Ghazi tersebut. Mereka justru merasa senang melihat bayi itu semakin nyaman bersama Dina, terlebih karena mereka tahu perempuan itu juga membutuhkan kehangatan setelah melewati banyak hal menyakitkan.
Udara terasa sejuk. Barisan tanaman di sekitar rumah tampak hijau, sementara cahaya matahari mulai melembut menjelang petang.
Dina sesekali berhenti untuk memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan setapak. “Tempat ini benar-benar memanjakan mata,” ucapnya.
Azam mengangguk setuju. Pemandangan dan suasana tenang seperti inilah yang membuatnya rela meninggalkan pekerjaan bergengsi yang dulu dimilikinya. Kenyamanan seperti ini sulit ditemukan di tempat kerjanya yang lama.
“Kamu suka?” tanyanya.
Dina mengangguk. “Iya. Rasanya tenang sekali.”
“Kalau begitu, tinggallah lebih lama. Tidak perlu buru-buru pulang.”
•••
yang menanti Mayra, othor mohon maaf, karena othor mau merevisi alurnya supaya lebih cepat, dan nggak bertele-tele. pliss sabar ya. nanti akan otnor hapus, dan up ulang dengan format baru ceritanya nggak akan berbeda kok 🙏🏻
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣