Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Keluarga Ramon

Keluarga Ramon punya empat anak, namanya Er, Ur, Ar, dan Or. Bukan karena aku malas memberi nama mereka, tapi memang orang tuanya memberi nama mereka dengan awalan yang mudah diingat.

Er untuk Erelon Agustus Ramon. Tentu dia lahir di bulan Agustus. Lalu Ur untuk Uralos Julius Ramon, dia lahir di bulan Juli. Lalu Ar untuk Arman Oktavinus Ramon. Ya, dia lahir di bulan Oktober. Dan terakhir Or untuk Oraclus Meianus Ramon. Kalian sudah tahu, kan, dia lahir di bulan apa?

Mereka semua mahir menggunakan pedang, tidak hanya menggunakannya, mereka juga mampu membuatnya.

Bisa dibilang, keahlian keluarga Ramon bukan hanya sebagai ahli pedang, tetapi juga sebagai pandai besi.

Keahlian itu sudah diwariskan sejak generasi pertama keluarga mereka menjadi Jagabaya Kasapin. Tidak ada seorang pun dari keluarga Ramon yang diperbolehkan menganggap pedang hanya sebagai senjata.

Bagi mereka, pedang adalah karya, di mana setiap bilah memiliki karakter dan setiap lekukan memiliki tujuan.

Dan setiap goresan pada permukaannya menyimpan sejarah.

Mereka bahkan memiliki bengkel sendiri yang terletak di belakang rumah utama keluarga. Bangunannya jauh lebih besar daripada bengkel biasa. Dindingnya terbuat dari batu tebal, sementara bagian dalamnya dipenuhi tungku besar, landasan besi, palu dengan berbagai ukuran, penjepit, cetakan, serta rak-rak yang menyimpan batangan logam.

Ketika tungku dinyalakan, seluruh ruangan akan berubah menjadi merah oleh cahaya api. Suara dentingan logam terdengar berulang kali.

Tang! Tang! Tang!

Suara itu sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga Ramon.

Sejak kecil, keempat bersaudara itu sudah diperkenalkan dengan dunia pandai besi. Mereka belajar mengenali jenis logam hanya dengan melihat warna dan teksturnya. Mereka tahu kapan sebuah logam terlalu panas, kapan harus ditempa, kapan harus didinginkan, dan kapan sebuah bilah harus dibentuk kembali.

Namun membuat pedang bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan, karena satu kesalahan kecil dapat membuat bilah menjadi rapuh; terlalu panas, logam bisa kehilangan sifat yang dibutuhkan, terlalu cepat mendinginkannya, pedang bisa retak dan terlalu keras memukulnya, bentuk bilah bisa berubah.

Karena itulah setiap pedang buatan keluarga Ramon dibuat dengan ketelitian luar biasa. Bagi mereka, pedang juga adalah kehormatan.

Er paling unggul dalam menempa bilah panjang. Gerakannya kuat dan stabil. Ia mampu menghasilkan pedang yang seimbang meskipun ukurannya besar.

Ur berbeda lagi. Ia memiliki tangan yang lebih ringan dan sangat memperhatikan detail. Pedang buatannya terkenal karena bentuknya indah, ringan, tetapi tetap kuat. Ia juga pandai membuat gagang pedang dengan ukiran rumit.

Ar adalah ahli dalam mempertahankan keseimbangan senjata. Menurutnya, pedang yang bagus bukan pedang yang paling tajam, melainkan pedang yang terasa seperti perpanjangan tangan pemiliknya.

Sementara Or memiliki kemampuan yang sedikit berbeda, ia mampu memperbaiki hampir semua jenis senjata, mulai dari pedang patah, gagang rusak, bilah retak, hingga senjata tua yang sudah berkarat sekalipun, yang semuanya bisa kembali digunakan setelah berada di tangannya. Tidak berubah bentuk, tidak berubah ukuran bahkan berat dari pedang akan sama persis seperti semula, dia selalu bisa memperbaiki bagian yang rusak.

Keempatnya juga memiliki gaya bertarung masing-masing.

Er mengandalkan kekuatan, Ur mengandalkan kecepatan, Ar mengandalkan teknik, dan Or mengandalkan naluri. Ketika mereka bertarung bersama, keempat gaya itu justru saling melengkapi.

Itulah alasan keluarga Ramon dianggap sebagai salah satu keluarga yang paling berbahaya di antara para Jagabaya Kasapin. Mereka tidak hanya tahu bagaimana menggunakan pedang. Mereka tahu bagaimana sebuah pedang dibuat.

Dan seseorang yang memahami senjata dari awal pembuatannya akan tahu persis bagaimana cara menggunakannya sampai batas akhir, tidak hanya melukai, bahkan juga mencabik seperti taring kecil yang mereka miliki.

Bagi keluarga Ramon, menjadi ahli pedang bukan sekadar kemampuan. Itu adalah darah yang mengalir dalam keluarga mereka. Sama seperti api yang terus menyala di dalam tungku bengkel mereka.

Selama masih ada keturunan Ramon yang mampu mengangkat palu, selama itu pula suara dentingan besi akan terus terdengar.

Dan selama suara itu masih terdengar, keluarga Ramon belum selesai menjalankan tugasnya sebagai Jagabaya Kasapin.

Hari ini Oktober 1965, pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dimulai, pembersihan dan eksekusi tersebut dipicu oleh kemarahan publik dan operasi yang dipimpin oleh militer. Gelombang penangkapan serta pembunuhan ini meluas di berbagai daerah, keluarga Ramon bak penonton layar tancap melihat satu persatu penduduk mereka ditangkap dan diadili massal, tidak ada adu pembuktian di pengadilan, tidak ada pembelaan, yang ada hanya tuntutan, MATI! Kata itu yang harus mereka terima.

Keluarga Ramon menjadi salah satu keluarga yang bekerja sama dengan para Militer karena dianggap bagian dari keluarga yang kelak disebut orde baru. Mereka berada di belakang pasukan yang mengumpulkan orang-orang, orang itu dianggap sebagai anggota PKI, melalui mulut kemulut dan bahkan hanya penampilan yang berbeda.

Masyarakat yang menjadi korban pembantaian sebagian besar berasal dari kelas sosial ekonomi bawah atau disebut juga akar rumput. PKI saat itu merupakan partai massa yang mengakar kuat di kalangan masyarakat miskin dan pekerja melalui berbagai organisasi sayapnya. Tak heran, sasaran mereka memang adalah rakyat yang miskin dan terlihat vokal.

Memiliki kesamaan dengan para Dekekuoi, mereka selalu bersembunyi dengan rakyat bawah, terlihat kotor dan tidak memiliki ambisi, tapi sebenarnya para Dekekuoi memliki Sila yang tinggi dan hebatnya lagi, tak dapat terdeteksi oleh para Jagabaya Kasapin.

“Maafkan kami tuan, kami hanya rakyat kecil, kami tidak pernah ikut campur urusan penculikan para Jenderal, kami tidak tahu, kami ….” Salah seorang lelaki yang ditangkap saat sedang mencangkul sawah yang bahkan bukan miliknya itu memohon agar di lepas.

Mereka semua dikumpulkan di tanah lapang, di tengah hutan, bagaimana mungkin ada lapangan di tengah hutan. Tentu saja hutan itu dibabat terlebih dahulu, tak ada yang tahu lokasi pastinya, yang pasti masuk ke dalam hutan, di tempat di mana pohon sudah ditebang dan membentuk lingkaran pada tanah kosongnya, maka di situlah tempat penyiksaan terjadi.

Lelaki itu dipecut dengan pecutan ekor pari.

Tubuhnya langsung terhuyung. Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya tidak mampu menopang tubuh yang sudah gemetar.

“Sebutkan siapa saja yang ikut denganmu?” salah seorang Tentara bertanya dengan lantang.

“Aku tidak tahu, Tuan. Aku sungguh tidak tahu.” Lelaki kurus hitam karena terbakar matahari terus menerus di hamparan sawah menjawab dengan putus asa.

Cambuk itu kembali menghantam punggungnya, ia berteriak.

Beberapa orang yang berada di belakangnya menundukkan kepala. Mereka tahu, sebentar lagi giliran mereka akan tiba. Tidak ada seorang pun yang berani melarikan diri karena di sekeliling tanah lapang itu berdiri orang-orang bersenjata.

Jagabaya Kasapin dari keluarga Ramon berada di antara mereka dan bagi keluarga Ramon malam itu bukan sekadar operasi penangkapan, melainkan sebuah pencarian terhadap seseorang yang memiliki Sila.

Masalahnya, para Dekekuoi mampu menyembunyikan Sila mereka dengan sangat baik. Karena itulah semua orang yang dianggap mencurigakan dikumpulkan dan diperiksa.

Yang membuat pemeriksaan berubah menjadi penyiksaan adalah ketika tidak ada jawaban yang dianggap memuaskan.

Seorang lelaki dipaksa berlutut di hadapan para interogator. Tangannya diikat erat. Kabel listrik ditempelkan pada tubuhnya, lalu aliran listrik diberikan berkali-kali.

Tubuhnya menegang dan jeritannya menggema di antara pepohonan.

“Siapa pemimpinnya?”

“Aku tidak tahu!”

“Siapa yang menyembunyikannya?”

“Aku tidak tahu!”

Jawaban itu selalu sama dan setiap kali jawaban tersebut keluar, penyiksaan kembali dilakukan. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk terus diam, ada yang akhirnya menyebut nama tetangganya, ada yang menyebut nama saudara sendiri.

Ada pula yang menyebut nama seseorang yang bahkan tidak pernah mereka kenal, hanya karena ingin semuanya berhenti.

Namun para Jagabaya Kasapin tidak mencari kebenaran, melainkan hanya mencari tanda, mencari Sila.

Seorang perempuan tua yang sejak tadi diam akhirnya dibawa ke depan. Tangannya gemetar ketika ditanya tentang anak laki-lakinya.

“Dia bukan anggota apa pun,” katanya pelan, “dia hanya buruh.” Salah seorang penjaga menamparnya.

“Di mana anakmu?” Perempuan itu tidak menjawab. Tamparan berikutnya membuatnya jatuh ke tanah.

Di belakangnya, beberapa tahanan dipaksa menyaksikan. Mereka yang mencoba memalingkan wajah justru dipukul agar kembali melihat. Itulah bagian paling mengerikan dari malam tersebut.

Bukan hanya rasa sakit yang harus mereka tanggung, tetapi ketakutan bahwa orang-orang yang mereka cintai akan mengalami hal yang sama. Hari berganti malam. Malam berganti pagi.

Orang-orang yang sebelumnya mampu berdiri akhirnya hanya bisa bersandar pada sesamanya. Beberapa tahanan mengalami dehidrasi dan jatuh pingsan. Mereka masih di lapangan hutan itu, para tentara mendapatkan makanan dan minuman tapi para tahanan, dibiarkan di sana terduduk dengan tangan diikat tali.

Mereka hanya membalas katanya, karena Jenderal mereka sudah dihabisi oleh para anggota mereka, yang mereka juga yakini, penghabisan nyawa para Jenderal mungkin juga dihadiri salah satu dari para tahanan ini, tapi entah siapa.

Or si bungsu dari keluarga Ramon yang selalu mengandalkan naluri karena memiliki kecerdasan yang unggul juga, berjalan di sekitar tahanan ketika waktu petang, sudah 2 hari mereka menahan haus dan lapar, Or tahu, jika Dekekuoi ada di antara mereka, pastilah dia yang akan paling mampu bertahan.

Keluarga Ramon mencurigai satu dua orang, makanya keluarga Ramon memasukan seluruh nama penduduk desa di tempat itu kepada Militer untuk diperiksa apakah mereka anggota PKI, tapi tentu saja itu hanya sebuah pancingan biadab yang harus ditanggung oleh orang tidak bersalah karena peperangan antara Jagabaya Kasipin dan Dekekuoi, bukan hanya pemburu yang salah, yang diburu juga memiliki porsi yang sama.

Mereka memeriksa satu per satu, dari wajah, tangan, mata, hingga napas. Orang yang memiliki Sila akan memiliki energi yang jauh lebih kuat dibanding yang lain.

Sampai akhirnya Or berhenti di depan seorang anak muda yang sejak tadi hanya diam. Pemuda itu tidak terlihat berbeda dari yang lainnya.

Pakaiannya sederhana, tangannya penuh bekas pekerjaan kasar, wajahnya pucat, namun ketika Erelon berdiri beberapa langkah di depannya, sesuatu terasa aneh, bukan rasa takut.

Or menyipitkan mata, dalam hatinay dia berkata, mereka makin pandai menyembunyikan tanda di leher, tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat memiliki garis seperti akar di leher, tapi berbeda dengan pria ini, dia terlihat tenang, terlihat menunduk dan tetap terlihat kelaparan, tapi sikap tenangnya sungguh sangat mencurigakan, seolah penahanan ini tidak membuatnya gentar.

Or, berbisik padanya … “Dekekuoi, kau pikir aku tidak bisa merakan Sila yang kau sembunyikan?!”

Seketika pemuda itu berdiri dan mengeluarkan tongkat hitam yang hanya sepanjang lima puluh centi saja, tongkat hitam itu ada ukiran emas yang indah, ketika lelaki itu berdiri tongkat dikeluarkan, tongkat mengeluarkan cahaya, seketika itu juga tanda di lehernya terlihat, matanya mengeluarkan cahaya.

Or tertawa terbahak-bahak, “KENA!”

1
Vie Vie Sue
/Good/
Muka Kanvas: Terima kasih
total 1 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!