Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga tahun Menjadi Rumah Singgah
Setelah kepergian Rayhan, Arini menghentikan makannya yang tinggal sedikit, dia menghela nafas karena tahu jika semua ini terus berlanjut mereka hanya akan terus saling menyakiti.
Dia memandang kosong kedepan tanpa memikirkan apapun, dia hanya fokus pada pemikirannya saat ini
POV Arini
Aku pertama kali kenal Rayhan di kantor tempat dulu aku bekerja tapi setelah menikah aku berhenti karena aku ingin mendedikasikan hidupku untuk suamiku kelak walau aku tahu pernikahan itu tidak dinginkan
Dia anak baru di divisi marketing. Ramah, tapi matanya selalu kosong kalau sore.
Tiga tahun lalu.
Hari itu hujan juga sama seperti sore kemarin di kafe dia kehujanan, jasnya basah, dan laptopnya hampir rusak.
Aku yang nawarin tisu, lalu payung, lalu tempat berteduh.
"Kamu baik banget, Rin," katanya waktu itu.
Aku ketawa. "Biasa aja, temen kantor harus saling bantu".
Ternyata bukan cuma itu.
Seminggu kemudian dia ngajak makan siang. Sebulan kemudian dia cerita tentang Sahira.
Perempuan yang ninggalin dia tanpa alasan 2 tahun sebelumnya.
"Dia bilang butuh waktu. Sampai sekarang aku masih nunggu," ucapnya sambil menatap kopi.
Aku bodoh.
Aku kira dengan mendengarkan, aku bisa jadi cukup.
Dengan mengingat kopi pahitnya, ukuran bajunya, tanggal ulang tahun ibunya, aku pikir aku bisa menggeser nama Sahira dari hatinya.
Tiga tahun kami jalan bareng.
Aku yang nemenin dia pas lembur.
Aku yang hapalin obat kalau dia sakit.
Aku yang jadi tempat dia pulang tiap gagal menghubungi Sahira.
Teman-teman bilang, "Rin, kamu itu pacarnya atau perawatnya?"
Aku cuma ketawa. "Gapapa. Nanti juga dia sadar."
Tapi manusia memang aneh ya.
Kita rela jadi pilihan kedua, asal jangan jadi tidak dipilih sama sekali.
Malam ini aku buka galeri.
Foto kami bertiga... eh, berdua. Banyak.
Foto pas dia ulang tahun, aku yang masak.
Foto pas dia demam, aku yang jaga.
Foto pas tahun baru, kami berdua di rooftop, dan dia bilang "makasih ya udah selalu ada."
Tidak ada satupun foto kami berpelukan.
Tidak ada satupun foto dia menatapku seperti aku rumah.
Karena aku memang bukan rumah.
Aku cuma rumah singgah.
Tempat dia mampir, istirahat, lalu pergi lagi mengejar bayangan yang belum tentu kembali.
Dan sekarang bayangan itu kembali.
Dengan gadis bernama Sahira.
Hubungan kami akhirnya renggang karena pernikahan yang diatur keluarga kami, aku tahu dia menjadikanku tempat pulang kala dia tidak bisa menghubungi Sahira
Hari itu, seminggu sebelum pernikahan yang dirancang itu Sahira datang membawa badai hebat dalam hubungan kami, Rayhan memutuskan jalinan kasih selama tiga tahun kami secara sepihak.
Dia mengatakan jika dia tidak pernah mencintaiku dan ingin memulai hidupnya dengan Sahira karena dia telah kembali dan dari semua itu, aku tahu itu tapi aku memaksakan untuk tetap menikah dengannya agar aku tetap bisa bersama orang yang ku cintai.
Pernikahan paksaan itu berjalan seperti neraka, sikap Rayhan yang dulu hangat perlahan mendingin dan juga tak tersentuh
Hidup bersamanya selama 3 tahun, dia tidak pernah menoleh kearah aku lagi seakan waktu 3 tahun jalinan kasih sebelumnya hanya sekedar angin lalu.
Sahira mendominasi dan mengontrol hidup Rayhan hanya berpusat padanya dan aku menjadi pajangan rumah yang tak ada nilainya sama sekali.
Dia pulang jika ingin, dia berbicara jika perlu dan paling menyakitkan dia tidak pernah menyentuh apapun yang aku siapkan untuknya.
"Jangan mengurusku Arini, urus saja urusanmu sendiri, kamu sendiri yang menginginkan pernikahan ini, jadi nikmati saya keinginanmu itu".
Perkataan menyakitkan itu selalu aku terima setiap kali aku peduli dan mengurusnya tapi aku selalu mengabaikannya dan berharap dia kembali memiliki walau 3 tahun telah berlalu.
Selama 6 tahun kami mengenal, aku hanya jadi bayangan yang tak pernah terlihat apalagi jika itu berhubungan dengan Sahira.
Ayah mertuaku tahu segalanya, dia mencari ku untuk memberikan semua bukti yang dia punya, dia menyesal karena tidak tegas kepada putranya sampai dia menyakiti aku seperti itu.
Aku melarangnya mengungkapkan segalanya karena aku ingin pergi dengan harga diri bukan karena dibuang, aku sudah lelah berkorban.
"Pergilah nak jika kamu sudah lelah, ayah tidak akan menahan mu lagi, maafkan ayah karena memaksakan pernikahan ini padamu".
Perkataan mertuaku itu membuatku tahu akan mengambil keputusan apa disaat nanti aku menyerah, dan tidak akan ada yang menghalangi lagi, aku hanya butuh Rayhan bicara pada ayahnya untuk melepaskan aku dengan harga diri penuh.
"Loh memang kamu tidak sarapan dirumah Ray, bukannya Arini selalu membuatkan kamu sarapan?". Tanyanya pelan.
Dia sengaja tidak membawa sarapan karena dirinya juga kesiangan, dia baru saja sarapan dikantin kantor sebelum naik ketempat kerjanya karena dia pikir Rayhan sengaja menelponnya berjam-jam semalaman karena tahu Arini akan membuatkannya sarapan walau dia tidak pernah memakannya
"Aku tidak pernah sarapan dirumah selama ini dan kamu tahu itu, tumben sekali kamu tidak buat sarapan untukku?".
Rayhan menyipitkan matanya menatap kekasih hatinya ini dengan perasaan kesal apalagi sejak tadi Arini seakan membuat dirinya menjadi orang yang terkesan sangat jahat padahal Arini sejak dulu tahu jika dia tidak pernah mencintainya.
Dia sudah pernah berusaha melupakan Sahira dan membuka hatinya untuk Arini tapi tidak bisa, pesona Sahira terlalu melekat pada dirinya.
Sahira menghela nafas mulai kesal pada lelaki ini, andai bukan karena hartanya dia juga ogah bertahan.
"Aku kesiangan, kan kita telponan semalaman jadi aku telat bangunnya, kamu turun aja untuk sarapan baru naik kekantor lagi, kamu kan punya penyakit maag".
Rayhan hanya menghela nafas karena perkataan Sahira ada benarnya, walau perasaanya sangat dongkol karena dia harus kembali menunggu sarapan padahal dia memiliki dua orang yang mencintainya tapi untuk sarapan saja harus seperti ini, dia mengangguk kemudian turun kebawah untuk sarapan sendirian.
Dia duduk termenung sambil memakan sarapannya karena sikap Arini yang tidak biasa saat dirumah.
Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan gadis itu Arini tidak pernah bersikap seperti itu padanya sekalipun dia bersikap dingin dan acuh.
Bahkan setelah tiga tahun jalinan kasih mereka dan tiga tahun pernikahan Arini selalu ada dan membuatkannya makanan.
Dia selalu menyiapkan segala sesuatunya sendiri bahkan disaat dirinya tidak pernah memberi nafkah lahir bathin kepadanya perempuan itu tetap bersikap manis padanya tapi hari ini tatapan penuh cinta padanya hilang entah kemana dan itu mengusik nuraninya.
"Biarkan saja, nanti dia juga baik sendiri, yang perlu aku pikirkan adalah bagaimana caraku meminta ayah melepaskan Arini setelah ini".
Setelah makan dia bergegas untuk kembali bekerja, dia harus menyelesaikan banyak pekerjaannya setelah ini
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.