Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pertapa di lereng gunung
Tiga hari telah berlalu.
Raden Jayengrana tak lantas memacu langkahnya menuju Kotaraja. Pengalamannya bertahun-tahun memimpin peperangan mengajarkannya satu hal: seorang panglima yang diyakini telah tewas lalu mendadak muncul begitu saja hanya akan memancing seluruh gerbang dijaga ketat.
Memburu Wiradipa dengan darah mendidih sama saja melangkah menuju jebakan berikutnya.
Sebab itulah ia memilih lenyap. Ia menyusuri jalan-jalan setapak yang dilupakan zaman, melintasi desa-desa terpencil yang jauh dari intaian mata-mata istana.
Sebuah jubah lusuh ia kenakan untuk menyembunyikan zirah hitamnya, sementara tombak panjangnya dibungkus rapi dengan kain goni. Bagi penduduk desa yang berselisih jalan dengannya, ia tak lebih dari seorang pengembara penat yang baru pulang dari medan tanding.
Menjelang senja, Jayengrana tiba di lereng sebuah gunung.
Di sana, di antara ketenangan pepohonan, berdiri sebuah gubuk bambu yang bersahaja. Asap tipis membubung pelan dari arah dapur, halamannya bersih terawat, dan tak jauh dari situ terdengar gemercik air mancur yang jernih.
Jayengrana menghentikan langkahnya. Ia mengenali tempat ini.
"Ki Jagabaya..." bisiknya liris.
Penghuni gubuk tersebut adalah guru silat yang mendidiknya semasa muda. Sudah lebih dari satu dekade mereka tak pernah bersua.
Belum sempat Jayengrana melangkah mendekati halaman, serak suara seorang lelaki tua menggema dari dalam gubuk:
"Jikalau kau datang untuk meminta suapan makan, masuklah."
"Jikalau datang untuk menuntut ilmu baru, pulanglah."
"Namun jikalau kau datang membawa maut..."
"...tinggalkan alasmu di luar."
Jayengrana menyunggingkan senyum tipis. Ketegasan nada suara itu tak sedikit pun tergerus waktu.
Ia menolak pintu bambu perlahan. Di dalam gubuk, seorang lelaki tua tampak duduk bersila di atas tikar pandan. Rambut dan janggutnya telah memutih seumpama kapuk, perawakannya kurus, namun sepasang matanya masih menyala setajam elang.
Ki Jagabaya sedang menuangkan seduhan teh ke dalam dua cangkir tanah liat. Tanpa berpaling, ia berujar pendek, "Duduklah."
Jayengrana menurut. Keheningan yang sarat makna memenuhi ruangan itu.
Baru setelah cangkir kedua terisi penuh, Ki Jagabaya mendongakkan wajahnya. Tatapan mereka beradu.
Untuk pertama kalinya... raut tenang lelaki tua itu goyah. Bukan semata terkejut, melainkan... kebingungan yang mendalam.
"Siapa kau sejatinya?"
Jayengrana menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memberi hormat. "Muridmu, Guru. Jayengrana."
Ting.
Cangkir di jemari Ki Jagabaya terlepas. Seduhan teh panas tumpah membasahi lantai bambu.
"Itu... mustahil," gumam Ki Jagabaya, suaranya bergetar. "Kabar kematianmu sudah diembuskan angin hingga ke lereng ini dua hari lalu."
Jayengrana mengangguk pelan. "Kabar itu tidak salah, Guru. Aku memang telah mengembuskan napas terakhirku."
Kembali, keheningan mencekam menyelimuti gubuk.
Ki Jagabaya bangkit perlahan dari duduknya. Ia melangkah mengitari tubuh Jayengrana, mengamatinya dari jarak yang amat dekat. Tiba-tiba... dua jarinya mendarat kilat, menekan titik nadi di pergelangan tangan sang Senopati.
Wajah Ki Jagabaya seketika pucat pasi.
"Nadimu... begitu lemah dan dingin. Namun jantungmu... tetap berdetak."
Jemari tua itu bergeser, hendak meraba dada Jayengrana. Namun, begitu telapak tangannya berjarak beberapa jari di atas bekas tanda kontrak, Ki Jagabaya seolah terhentak oleh dorongan gaib!
Brak!
Ki Jagabaya terdorong mundur dua langkah. "Apa yang telah terjadi padamu, Jayengrana?!"
Tanpa menutupi apa pun, Jayengrana menceritakan segalanya—mulai dari pengkhianatan di lembah, pembantaian prajuritnya, kepekatan Hutan Kematian, kemunculan penunggang kuda berapi, hingga kontrak yang mengikat jiwanya.
Ki Jagabaya mendengarkan dalam diam, tanpa sekalipun menyela. Namun seiring cerita itu bergulir, raut wajah sang guru kian muram dan mengelam.
Usai cerita itu tuntas, lelaki tua itu menarik napas berat. "Jikalau apa yang kau saksikan itu nyata... berarti legenda kuno itu memang benar-benar bersemayam."
Jayengrana mendongak. "Apakah Guru mengenalnya?"
Tanpa menjawab, Ki Jagabaya berjalan menuju sebuah rak kayu lapuk di sudut ruangan. Dari balik tumpukan kain tua, ia mengeluarkan gulungan lontar yang telah menguning kusam dimakan zaman.
Dengan jemari yang berhati-hati, ia membeberkan lontar tersebut. Di salah satu halamannya, terukir lukisan kuno sosok penunggang kuda. Bukan berupa manusia, melainkan raut tengkorak yang dilingkupi kobaran api.
Jayengrana terpaku. Gambaran itu... persis dengan wujud makhluk yang merenggut jiwanya.
"Dari mana Guru memperoleh naskah ini?"
"Lontar ini sudah ada jauh sebelum aku dilahirkan ke bumi," bisik Ki Jagabaya seraya mengusap goresan kuno itu. "Diturunkan dari generasi ke generasi oleh para penjaga rahasia lama."
Ia menatap Jayengrana dengan sorot mata yang sarat kecemasan. "Namanya tak pernah dituliskan oleh pena mana pun. Orang-orang terdahulu hanya menyematkan satu gelar padanya..."
Ki Jagabaya jeda sejenak, "...Senopati Terakhir."
Lelaki tua itu melanjutkan, "Naskah ini juga menorehkan satu peringatan penting..."
Jayengrana menanti dalam keheningan.
"Setiap kali Senopati Terakhir memilih seorang manusia untuk diikat kontrak... itu tandanya, zaman sedang bergerak menuju jurang kekacauan yang teramat gelap."
Di luar gubuk, angin gunung bertiup perlahan. Daun-daun bambu bergesekan, melantunkan bisikan lirih yang seolah datang dari masa lalu yang amat jauh.
Jayengrana membisu. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari maut, ia menyadari sebuah kenyataan pahit: dirinya mungkin bukanlah manusia pertama yang meneken perjanjian kelam itu...
Dan sangat mungkin, bukan pula yang terakhir.