Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Hari pertunangan Alika dan Ricki akhirnya tiba. Sejak pagi, rumah keluarga Wijaya sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan mondar-mandir menyiapkan berbagai hidangan, sementara beberapa orang sibuk memastikan dekorasi di halaman rumah terlihat sempurna.

Amira berdiri di depan cermin. Gaun sederhana yang dikenakannya jauh berbeda dari pakaian para tamu yang mulai berdatangan.

Ia memang sengaja memilih pakaian biasa.

Bukan karena ingin mempermalukan keluarganya. Ia hanya tidak memiliki alasan untuk berdandan dalam sebuah acara yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi kakaknya dan pria yang baru saja meninggalkannya.

Saat Amira hendak keluar dari kamar, suara Ganjar terdengar dari belakang.

"Amira."

Ia menoleh. Ganjar menatapnya dari atas sampai bawah.

"Kamu mau datang ke acara pertunangan kakakmu dengan pakaian seperti itu?"

Amira melihat gaunnya sendiri. "Kenapa, Pi? Bukankah ini cukup sopan?"

"Cukup sopan?" Ganjar mengulang dengan nada tidak senang.

"Gunakan gaun terbaikmu. Apa kamu mau orang-orang berpikir aku bukan orang tua yang mampu merawat anak sendiri?"

Amira terdiam. Jadi yang dipikirkan ayahnya hanya bagaimana pandangan orang lain terhadap keluarga mereka. Bukan bagaimana perasaannya.

"Baik."

Amira hendak berbalik, tetapi Ambar ikut menghampirinya.

"Jangan membuat malu keluarga hari ini. Kakakmu sedang bertunangan. Setidaknya tunjukkan kalau kamu bisa menghargainya."

Amira menatap kedua orang itu beberapa detik. Lalu ia tersenyum. Senyum yang terasa begitu pahit.

"Baik, Mi."

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Padahal di dalam hati, sebuah kalimat terlintas begitu saja. Bukankah selama ini kalian memang bukan orang tua yang baik untukku?

Namun, Amira memilih menyimpannya. Ia tidak ingin membuat keributan. Hari ini bukan harinya. Atau mungkin... tidak pernah ada hari yang benar-benar menjadi miliknya di rumah ini.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa saat kemudian, para tamu mulai memenuhi tempat acara, tempat yang dipilih mereka berdua, dan tanpa mereka sadari tempat ini dulu pernah menjadi impian Amira dan Ricki, entah kenapa pilihan Alika begitu sama, entah kebetulan atau tidak.

Alika tampil begitu cantik dalam gaun pertunangannya. Senyumnya terlihat sempurna. Wajahnya memancarkan kebahagiaan seolah tidak ada seorang pun yang mampu mengganggu hari istimewanya.

Ricki berdiri di sampingnya dengan setelan jas yang rapi. Mereka tampak seperti pasangan yang serasi. Namun, bagi Amira, pemandangan itu justru terasa seperti luka yang sengaja dibuka kembali.

Ia berdiri agak jauh dari kerumunan. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Sayangnya, keberadaannya tetap menjadi bahan pembicaraan. Beberapa tamu yang baru datang mulai berbisik.

"Benarkah itu Alika Wijaya?"

"Iya. Cantik sekali."

"Katanya hari ini dia bertunangan dengan Ricki."

"Ricki yang itu?"

"Iya."

Orang di sampingnya tampak terkejut. "Bukankah Ricki itu mantan pacar adiknya?"

"Benar."

"Jadi Alika bertunangan dengan mantan pacar adiknya sendiri?"

Bisikan lain terdengar. "Hebat juga keluarga Wijaya. Hubungan seperti itu ternyata bisa diterima."

"Entahlah. Tapi kalau aku jadi Amira, mungkin aku akan sulit menerimanya."

Amira yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar semuanya. Jarinya mengepal tapi ia berusaha tetap diam. Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan kepada siapa pun bahwa bukan dirinya yang memilih keadaan ini.

Ia hanya seseorang yang ditinggalkan. Lalu dipaksa menyaksikan pria yang dicintainya berdiri di samping kakaknya.

Beberapa sahabat Alika kemudian datang, senyum hangat terpancar jelas. Alika mendekat dan mereka ikut memuji kecantikan Alika.

"Alika, kamu benar-benar beruntung. Ricki cocok sekali denganmu."

"Orang tua kalian pasti bahagia."

Alika hanya tersenyum malu. "Jangan begitu."

Salah satu sahabatnya kemudian melirik ke arah Amira. "Oh, itu Amira, kan?"

"Iya."

Mereka mulai berbisik. "Aku kira yang akan menjadi tunangan si monster itu kamu, Alika."

"Benar. Aku juga sempat berpikir begitu."

"Kalau begitu, siapa wanita sial yang akan mendapatkan pria kejam itu?"

"Entahlah. Tapi aku kasihan pada perempuan itu."

"Katanya pria itu sekarang lumpuh, kan?"

"Iya. Tapi tetap saja. Kekejamannya terkenal."

Amira menahan napas. Setiap perkataan terasa seperti tamparan. Mereka tidak tahu bahwa perempuan yang mereka sebut sebagai wanita sial sedang berdiri beberapa langkah dari mereka.

Amira menundukkan wajah. Olokan demi olokan itu ia telan mentah-mentah. Ia tidak membalas tidak juga menangis. Karena ia sudah terbiasa menyimpan luka seorang diri.

Namun, penghinaan itu ternyata belum selesai.

Sebelum acara pertunangan dimulai, Alika menghampiri Amira, entah apa yang ingin dilakukan oleh perempuan itu.

"Mira."

Amira menoleh. "Ada apa, Kak?"

Alika tersenyum lembut. "Aku ingin bicara sebentar."

Amira mengangguk. Mereka berdiri sedikit menjauh dari tamu lainnya. Alika menggenggam kedua tangannya.

"Aku tahu ini pasti berat untukmu."

Amira terdiam, dahinya berkerut heran, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba kakaknya itu memegang tangannya padahal tamu yang dilayani masih banyak.

"Tapi aku berharap kamu bisa menerima pertunanganku dengan Ricki."

"Aku sudah menerimanya."

Jawaban Amira terdengar datar. Alika mengangguk pelan.

"Aku senang kalau begitu." Ia terdiam sejenak.

"Tapi aku masih merasa kamu marah kepadaku."

Amira mengernyit. "Aku tidak marah."

"Kamu yakin?"

"Iya."

Alika tersenyum kecil. "Kalau begitu, kenapa sejak tadi kamu terus menghindariku?"

"Aku hanya tidak ingin mengganggu acara Kakak."

Alika menatap Amira cukup lama. Lalu berkata pelan, "Jadi kamu memang tidak suka melihatku bahagia bersama Ricki?"

Amira terkejut wajahnya begitu terlihat bingung. "Aku tidak pernah bilang begitu."

Suara mereka mulai menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Alika segera menundukkan kepala.

"Aku cuma ingin kita tetap menjadi saudara."

"Aku juga."

"Kalau begitu, kenapa kamu masih menyalahkanku karena orang tua Ricki memilihku?"

Amira semakin bingung. "Aku tidak menyalahkan Kakak."

"Tapi dari caramu melihatku..." Alika berhenti.

Matanya mulai berkaca-kaca sedangkan Amira menatapnya tidak percaya.

"Kak, aku sungguh tidak bermaksud apa-apa."

Alika mengusap sudut matanya. "Aku cuma ingin bahagia, Mira."

Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka. Alika kembali berkata dengan suara yang lebih lirih.

"Kalau memang aku salah karena menerima pilihan orang tua Ricki, aku minta maaf."

"Aku tidak pernah mengatakan Kakak salah."

Namun, suara Amira justru membuat keadaan semakin buruk. Beberapa orang mulai berbisik.

"Sepertinya Amira memang belum menerima pertunangan itu."

"Kasihan Alika."

"Padahal hari ini seharusnya hari bahagianya."

Alika menundukkan wajah. Air matanya akhirnya jatuh namun hal yang tidak disangka pada saat itulah Ricki datang.

"Alika!" Ricki segera menghampiri tunangannya. "Ada apa?"

Alika menggeleng sambil mengusap air mata.

"Tidak apa-apa."

Ricki menatap Amira. "Apa yang kamu lakukan kepadanya?"

Amira membeku, ini kali pertamanya ia mendengar lelaki itu membetaknya, padahal ia sendiri masih belum memahami situasi seperti ini. Kenapa Alika tiba-tiba menyudutkannya?

"Aku tidak melakukan apa-apa."

Ricki mengernyit. "Kalau begitu kenapa dia menangis?"

"Aku juga tidak tahu."

Ricki menatapnya dengan kecewa. "Kau bilang kalau tanganmu tidak bisa menutup mulut orang-orang yang membicarakan kita. Ternyata kau sendiri yang tidak bisa menutup mulutmu, Amira."

Kalimat itu membuat wajah Amira memucat.

Ia menatap Ricki. Pria yang pernah menjadi tempatnya pulang. Pria yang selama tiga tahun ia percaya akan selalu berada di sisinya namun pada mulut Ricki mampu menyalahkannya di hadapan semua orang. Padahal ia tidak melakukan apa-apa.

"Aku benar-benar tidak mengatakan apa pun untuk menyakiti Kak Alika."

Namun, tidak ada yang mau mendengarkan.

Semua mata justru tertuju kepadanya. Amira menatap satu per satu orang di sekelilingnya.

Tidak ada yang membelanya. Sekali lagi, ia sendirian.

Sementara itu, di balik air mata yang terus mengalir, Alika menundukkan wajahnya. Tidak seorang pun melihat senyum tipis yang hampir muncul di bibirnya.

Di dalam hati, Alika tertawa puas. Rencana kecilnya berhasil. Sekarang, bukan hanya Ricki yang berdiri di sisinya. Semua orang mulai melihat Amira sebagai adik yang iri terhadap kebahagiaan kakaknya.

Dan Amira? Gadis itu hanya berdiri dalam diam, menahan rasa sakit yang kembali memenuhi dadanya. Ia ingin pergi. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah...

Terdengar suara roda kursi dari arah pintu utama. Seketika, suasana di ruangan itu berubah. Percakapan terhenti.

Satu per satu kepala menoleh. Beberapa orang bahkan mundur dengan wajah pucat. Amira ikut mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya...

Ia melihat pria yang selama ini hanya ia kenal dari cerita mengerikan tentang kekejamannya. Pria yang akan menjadi suaminya.

Kaizar Abraham.

Bersambung .....

Semoga suka ya Kak.

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!