Pengusaha muda yang tak pernah jatuh cinta. Selalu acuh tiap kali didekati oleh wanita, apapun alasannya.
Hingga bertemulah dia dengan seorang aktris kenamaan dengan wajahnya yang cantik.
Mungkinkah hatinya dapat berubah??Ataukah wanita sudah tak berarti dalam hidupnya?
Seiring berjalannya waktu, mereka berdua akhirnya saling jatuh cinta. Meskipun kebersamaan mereka terbilang tidak terlalu mulus.
Akankah perjalanan cinta mereka berakhir manis? Atau kisah cinta ini hanya akan berakhir dengan tragis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Am, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Situasi yang Kacau
Hani berjalan menuju Apartemen Yuna dengan sempoyongan. Ia hampir ambruk.Bersandarlah di tembok. Dan menangis. Untunglah Yuna keluar. Yuna pun terkejut dan bingung. Apa yang terjadi?
"Hani ?" Yuna merengkuh tubuh Hani. Rasanya sesak juga melihat sahabatnya seperti itu.
Baru kali ini dia melihat Hani sebegitu hancurnya. Biasanya Hani selalu membuatnya tersenyum meskipun tengah mendapat masalah.
"Kau kenapa ? Masuklah !"
Mereka sudah sampai di sofa. Hani yang sembab matanya langsung bersandar. Yuna memberikannya minum. Sebenarnya Yuna bukanlah tipe orang yang peduli saat sahabatnya mendapat masalah. Tapi kali ini, Hani berhasil membuatnya merasa iba.
"Minumlah."
Hani meminumnya.
"Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi padamu."
Hani menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Seharusnya aku tidak mendatangimu, Yuna."
"Apa?" Yuna semakin bingung, "kau membuatku bingung."
"Baru kali ini hatiku terasa hancur sehancur-hancurnya." Pandangannya kosong.
"Apa ini ulah Kak Azof?"
"Tidak. Dia tidak bersalah." Dia menyeka air matanya. "Aku yang salah. Seharusnya aku tidak pernah mencintai Kakakmu."
"Sudah kukatakan padamu hari itu. Tapi kau tidak pernah percaya padaku."
"Yuna. Aku tidak mendapat restumu dan Ibu kalian."
"Ah. Sudahlah jangan mendatangiku saat kau menangis seperti ini. Kau kan tahu aku tidak bisa menangis sepertimu."
"Kuharap kau bisa menemukan cintamu."
"Aku tidak yakin."
"Kenapa? Setidaknya kau harus menemukan satu orang dalam seumur hidupmu, agar kau tidak sekacau ini."
"Memangnya hidupku sekacau itu?"
"Kau perlu seseorang untuk menjagamu."
"Kenapa kau tidak menyewa bodyguard saja untukku." Berpaling. "Aku tidak tahu. Hari ini aku berasa sangat malu."
"Kenapa? Apa kau masih punya rasa malu?" Tertawa kecil.
"Ishh... Aku sungguh malu. Kupikir Jian sedang membutuhkan uang. Aku mengajaknya berperan juga dalam film ku. Ternyata dia adalah produser film yang aku mainkan."
"Apa? Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?"
"Aku kira dia bangkrut karena tidak menaiki mobilnya. Dia berangkat ke lokasi syuting ku menggunakan taksi yang sama denganku. Kupikir mungkin dia sedang membutuhkan uang."
"Kau memang bodoh."
"Dan aku tak menyangka ternyata akulah yang membutuhkan uangnya selama ini."
"Kenapa kau pikir Jian bangkrut? Mana mungkin Jian butuh uang." Tertawa.
Lega juga melihat Hani kembali tenang.
"Bahkan sutradaraku bilang dia telah menawarkan properti nya dalam film kami. Apa dia sekaya itu?"
"Apa kau tidak tahu? Dia punya beberapa usaha besar yang tersebar di berbagai wilayah. Dia adalah seorang CEO. Dia juga menekuni bisnis properti dari setahun yang lalu. Dia juga mulai menitah karirnya menjadi seorang produser film dan tidak lupa, dia telah bertanda tangan dan resmi menjadi management Trainee Company. Dan yang terakhir, dia baru saja membeli gedung mewah seharga 80 M untuk dia jadikan sebagai kantor agensi." Panjang lebar Hani menjelaskan, Yuna hanya melongo.
"Jadi benar kalau dia sehebat itu?"
"Hanya kau yang tidak tahu apapun. Padahal kau sendiri yang wawancara dengannya."
"Kau tahu Hani? Hari itu aku memintanya membelikan aku pembalut."
"Apa? Kau memang tidak waras."
"Juga celana. Tapi itu keadaan yang kacau."
"Pantas saja langsung viral. Kukira itu bukan berita yang benar. Ternyata tokohnya malah sahabatku sendiri. Kau memang pembuat masalah."
"Untung berita itu tidak membawa namaku."
"Kata siapa?" Hani mencari sebuah artikel dan menunjukkannya pada Yuna." Sepertinya ada yang melihatmu."
"Kau yakin?"
"Artikel ini sudah jelas mengatakan kau yang bersamanya di Super Market hari itu."
"Sungguh? Bagaimana ini? Jika begitu aku pasti akan menjadi gosip."
"Yuna, aku lapar. Ayo kita cari makanan diluar. Ini masih agak sore. Pasti ada makanan yang masih di jual."
"Baiklah. Aku akan memakai jaketku.."
Mereka pergi dan berjalan santai. Melihat Restoran ala Jepang di pinggir jalan, ia langsung masuk dan memesannya.
Mereka menunggu pesanan datang. Demy kebetulan ada juga disana.
"Hai Yuna, Hani?" Mendekat.
"Kalian juga disini?"
"Bergabunglah. Apa kau sudah memesan makananmu?"
"Sudah."
Pesanan baru saja sampai. Mereka pun makan dengan lahapnya.
.........
Pagi itu Azof datang dengan tergesa. Ia sudah tahu jadwalnya hari ini. Sampainya di Rumah Sakit, seorang Perawat langsung menyodori kertas padanya.
"Apa dia sudah sampai?"
"Sudah Dokter. Dia tengah menunggumu."
"Baguslah. Katakan padanya aku segera datang."
"Baik dokter." Perawat itu berlalu pergi.
Azof segera menyambar Jaz dinasnya dan keluar menyusul Perawat tadi.
Tapi saat ia hendak membuka pintu, Hani datang disana. Seperti biasa membawakan makan siang untuknya.
"Hani? Kau datang sepagi ini? Apa ada sesuatu?"
"Aku harus bicara denganmu." Matanya masih terlihat begitu sembab karena tangisannya semalam.
Mereka tiba di ruangan dan tengah duduk berhadapan satu sama lain.
"Apa ada hal penting?"
Hani berusaha meyakinkan dirinya sendiri, "Azof.. Aku mungkin harus menjauh darimu." Ucapannya terdengar begitu serius.
"Apa?" Azof kaget. "Apa maksudmu? Kau pasti tengah bercanda, bukan?"
"Tidak Azof. Aku serius."
"Kenapa? Apa alasanmu mengambil keputusan ini?"
"Apa kau tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu? Ibumu membenciku. Yuna mengatakan padaku hal itu sedari dulu. Tapi kukira seiring berjalannya waktu, dia akan berubah. Nyatanya dia masih tetap sama. Maka dari itu aku yang harus mengalah. Aku tidak mau menghancurkan sebuah keluarga hanya karena aku ingin membangun rumah tangga bersamamu."
"Kita bisa melaluinya Hani."
"Tapi aku tidak seyakin itu, Azof. Aku tetap dengan keputusanku."
"Tapi, Han."
"Aku harus pergi. Maafkan aku." Ia menyodorkan makanan di tangannya.
"Makanlah saat kau sudah bisa beristirahat. Jangan menyiksa dirimu dengan alasan kau tak punya waktu luang."
Azof menatapnya begitu lekat, meski Hani tak menghiraukannya sama sekali.
"Saya permisi."
Hani pamit. Meninggalkan makanan di atas meja. Azof tak selera saat itu. Tidak seperti biasanya ia selalu menanti jam makan siang karena sudah tak sabar untuk mencicipinya. Tapi kali ini rasanya hambar. Tidak ada lagi yang bisa ia harapkan.
Hani menangis sejadinya di Taman kota. Bagaimanapun rasa yang telah tumbuh dan ia pupuk selama bertahun tahun, kini setelah dia mendapatkannya. Harapan itu musnah begitu saja. Rasanya amat sakit.
Bagaimana bisa kau melupakan semuanya, Hani? Sedangkan kau tahu dia telah menjanjikan sebuah impian yang indah untuk kalian berdua. Apalah daya.
'Aku akan tetap mencintai kamu, meski suatu hari nanti kau mungkin sudah bahagia bersama pasangan hidupmu.'
.......
"Hallo, Yuna." Demy rupanya hadir di lokasi, membuat Yuna tampak senang.
"Hai. Kau datang? Terima kasih telah meluangkan waktumu."
"Aku membawa bakmi kesukaanmu." Memberikan sebuah kotak berisi makanan.
"Wahh... Terima kasih. Aku akan memakannya dulu." Yuna langsung membuka dan memakannya. Kalau soal bakmi, dia begitu antusias.
Demy hanya tersenyum. Melihat sekeliling dan berhenti pada satu objek. Jianan.
"Kenapa dia disana?"
"Um.. Siapa yang kau maksud?" mencari objek yang sama.
"Jian maksud kamu?"
"Iya. Mr Jian. Apa dia berperan dalam industri film ini?"
"Kau tahu?" Ia berbisik, "ternyata dia produser film ku."
"Begitu, ya?"
"Jangan panggil dia Mr. Itu sangat kaku. Aku biasa memanggilnya Jian saja. Kurasa panggilan Mr tidak cocok untuknya." Ucapnya sambil mengunyah makanan.
"Kenapa?"
"Dia orang yang sombong dan angkuh."
"Apa kau dekat dengan orang itu?"
"Awalnya tidak. Setelah aku pindah di Apartemen lamaku, ternyata dia juga di sana. Aku menjadi orang penuh emosi setiap hari karena dirinya."
"Sudahlah! Makan dulu bakmi mu."
"Baiklah. Apa kau tidak mau?" menawarkannya pada Demy.
Demy tersenyum manis. "Aku sudah kenyang, kau saja yang makan."
Belum juga bakmi itu habis, sutradara sudah memanggil semuanya. Adegan aksi dari Yuna akan segera di mulai.
Jujur saja semua orang khawatir pada saat itu. Bukan karena apa, Yuna jarang melakoni adegan berbahaya dalam film nya. Karena itulah kali ini dia sangat penasaran untuk melakukannya. Bahkan saran memakai peran pengganti pun dia tolak.
Sutradara menjelaskan bagaimana adegan itu dilakukan nantinya. Terutama pada Yuna. Dia akan membawa moge mahal milik perusahaan Jian dalam aksinya kali ini. Tentu saja semua orang merasa khawatir.
"Oke semua. Harap di perhatikan !! Ini adegan yang terakhir untuk hari ini, dan termasuk adegan yang berbahaya. Yuna harus paham betul bagaimana moge yang akan menjadi rekannya nanti. Apa kau sudah belajar sebelumnya, Yuna ?"
Yuna mengacungkan jempol saja dari kejauhan pertanda ia telah mantap.
"Oke !! Kita lanjutkan. Untuk seluruh crew properti harap memperhatikan dan teliti dalam pekerjaan kalian. Ini menyangkut nyawa dan semoga saja berhasil seperti yang kita semua inginkan. Terima kasih."
Semua bertepuk tangan. Bersiaplah Yuna menaiki moge hitam itu.
Adegan akan segera di mulai. Rasa grogi, dan was-was mencapai hati semua orang yang melihatnya. Bagaimana tidak, dia baru kali ini beraksi dengan menggunakan sepeda motor. Keahliannya yang masih di bawah rata-rata membuat semua orang merasa khawatir. Tapi Yuna bersikeras. Biar real katanya.
"Oke siap !!!!" Sutradara memberi aba aba.
"And.. Action !!"
Dag!! Dig!! Dug!!
Semua berdegup kencang. Menyaksikan bagaimana adegan itu terjadi.
jangan lupa mampir juga ya kak ke karya saya
sukses dan sehat selalu ya😘
semangat terus ya berkarya nya