Sedih, marah, kecewa, putus asa, dan yang paling penting tidak ada lagi semangat untuk melakukan apa pun. Perasaan campur aduk yang dirasakan oleh seorang gadis remaja cantik bernama Apple.
Mendiang maminya berwasiat agar dia menikah dengan pria pilihan sang mami dan disinilah dia berada. Duduk berhadapan dengan seorang pria yang berstatus suaminya. John Fisher, satu-satunya penerus laki-laki di keluarga Fisher. Pria itu terkenal tidak menyukai wanita dan berperangai buruk.
Apple merasa masa remajanya telah hilang dirampas oleh takdir yang tidak bisa dia hindari. Ingin menuntut sang mami tapi tidak mungkin karena mami sudah beristirahat dengan tenang. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya hingga nyaris membuat gadis cantik itu berteriak saat berada di meja makan. Dapatkah dia menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri? Bagaimana menjalani rumah tangga tanpa rasa bosan karena bertemu setiap hari?
"Ah, kembalikan masa remajaku?" teriak Apple tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqua Venus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Hening
Sepulangnya dari kampus, Apple langsung menuju ke kamar. Kepalanya pusing karena terlalu banyak informasi yang masuk ke dalam otaknya. Untung saja, kantin mulai ramai karena beberapa kelas telah usai. Ola kurang menyukai tempat ramai dan berisik, jadi dia sendiri yang menyudahi pembicaraan mereka.
Gadis cantik itu merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran queen yang dilapisi dengan seprai hijau pupus. Tubuh rampingnya terlihat gelisah. Dari tadi tubuh gadis itu berubah posisi dari telentang, tengkurap, menyamping, dan entah posisi seperti apa lagi. Begitulah Apple jika sedang gelisah. Caranya cukup aneh dalam mencari solusi untuk menyelesaikan masalah. Kecuali pelajaran. Sesulit apa pun soal yang di dapat, dia akan mengerjakannya dengan tenang.
"Ish, masa iya gue harus bangun pagi-pagi cuman untuk berada di ruang makan lebih awal, sih!" sungut Apple. Kini posisinya telah berubah duduk di ujung tempat tidur sambil memeluk bantal.
"Terus, masa harus bikin anak juga?" Pertanyaan demi pertanyaan dia lontarkan di udara. Beban gadis itu cukup berat. Ditinggal sang mami tiga bulan yang lalu untuk selama-lamanya dan baru menikah lima hari yang lalu.
"Mi! Kenapa sih mami harus bikin wasiat yang bikin sulit hidup Apple?" suara Apple mulai terisak. "Apple kan anak baik, mi. Bisa jaga diri sendiri. Teman-teman Apple juga banyak. Eh, cuman dua yang deket," ucap Apple. "Tapi Apple juga ngga ada musuh," Apple menimpali ucapannya sendiri.
Usai bermonolog, Apple merebahkan tubuhnya dengan menghadap ke langit-langit. "Kalo aja gue punya papi. Mungkin sekarang kehidupan gue masih normal kek gadis remaja umumnya," keluh Apple. Bukannya dia tidak bersyukur atas kehidupannya yang baik dibandingkan dengan orang-orang yang hidupnya sulit di luar sana. Hanya saja menikah muda tanpa cinta, tanpa rasa, dan sudah tentu tidak saling mengenal membuat Apple frustasi.
Tok ... Tok ...
"Pel! Bibi masuk ya!" ucap Margaret setelah mengetuk pintu.
Belum sempat Apple mempersilahkan masuk, tubuh wanita paruh baya itu sudah berada di dalam kamar. Sepertinya kecepatan gerak Margaret lebih cepat daripada kecepatan suara.
Wajah murung Apple terukir jelas di sana. Rambut yang acak-acakan menambah aura murung Apple semakin menjadi. Gadis cantik itu langsung duduk tanpa beranjak dari tempat tidur.
"Ada yang ingin bibi bicarakan dengan kamu sebelum bibi bertolak ke Itali," ucap Margaret sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur tepat di sebelah Apple.
Apple terkejut mendengar penuturan sang ibu mertua. "Bibi mau ke Itali? Kapan?"
Margaret tersenyum melihat ekspresi Apple yang terlihat tidak ingin di tinggalkan olehnya. Sejujurnya dia juga tidak tega meninggalkan Apple sendiri di sini. Mengingat hubungan Apple dan John belum ada hilalnya. Istilah kata, belum ada sentruman atau percikan asmara. "Nanti malam," jawab Margaret sambil tersenyum.
Rasa malas dan meratap nasib tak baik tadi menguap ke udara digantikan dengan sedih kala mendengar sang ibu mertua akan bertolak ke Itali. Artinya, Apple akan banyak menghabiskan waktu di mansion bersama John. Membayangkannya saja membuat mood Apple kembali merosot.
"Sebelum bibi pergi, ada yang ingin bibi sampaikan kepadamu," ucap Margaret lembut.
"Ada apa, bi?" tanya Apple takut. Rasa trauma masih singgah di hatinya setiap kali ada seseorang yang berkata ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Persis seperti yang dilakukan oleh mendiang maminya dulu. Gadis itu khawatir jika sesuatu yang akan disampaikan itu bukanlah sesuatu yang baik.
Raut resah dan gelisah yang terpatri di wajah Apple membuat Margaret tak tega untuk berlama-lama menyampaikan amanah mendiang sang sahabat. "Ini," ucap Margaret menyodorkan benda kotak berbentuk persegi. Bentuknya seperti kotak hadiah. Permukaannya tidak dilapisi apa pun. Namun, sudah terdapat motif kelinci dan pita berwarna pink. Salah satu warna dan hewan favorit Apple.
Tidak perlu dijelaskan, Apple tahu kotak itu dari siapa. Hanya saja isinya menjadi misteri. Sedih yang dia rasakan saat melihat kotak itu sirna berganti rasa penasaran. Timbul pertanyaan yang membuatnya bingung, "Mengapa mami tidak memberikan langsung kepadanya saat mami masih hidup?"
Apple meraih kotak itu dengan tatapan kosong dan perasaan campur aduk. Jemarinya terlihat bergetar. Timbul keraguan untuk membuka kotak itu saat ini. Apple takut akan mengusik emosinya. Apalagi ada ibu mertuanya.
Melihat Apple yang bimbang, Margaret memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia paham betul bagaimana nanti reaksi Apple saat melihat isi kotak itu. Tentu saja dia tahu karena dia sendiri dan mendiang sahabatnya yang mempersiapkan beberapa peninggalan untuk Apple. "Bibi keluar dulu ya."
Gadis cantik itu menoleh dan mengangguk. Tenaganya seolah terkuras hingga membuatnya tak berdaya untuk bersuara. Sebelum meninggalkannya, sang ibu mertua mengusap puncak kepala dan mengecup keningnya. Lalu dia tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.
"Huh!" Apple menghela napas panjang. Dia mengetuk permukaan kotak menimbang untuk membukanya atau tidak.
Semasa hidup, maminya terkenal senang memberi kejutan. Entah itu membuat hati senang, kesal, bahkan mengaduk emosi. Apple khawatir akan kejutan kali ini. Apalagi kotak ini diberikan setelah tiga bulan kepergian sang mami. Terlihat disengaja untuk memilih momen yang tepat untuk diberikan kepada Apple.
"Tau ah, pusing kepala Incess!" seru Apple sambil meletakkan kotak itu di sampingnya. Gadis itu memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Waktu juga menunjukkan saat yang tepat untuk tidur siang.
Gadis cantik itu memilih nanti untuk membuka kotak pemberian mendiang sang mami. Dia tidak ingin perasaan campur aduk mengalahkan logika yang waras. Bobok cantik ciang-ciang (siang-siang) adalah pilihan terbaik saat ini.
Sementara itu diluar kamar Apple. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, segar, dan energik masih setia menempelkan telinga di daun pintu. Margaret penasaran dengan reaksi Apple jika mengetahui isi kotak itu. Cukup lama dia berdiam diri di sana hingga tubuhnya nyaris pegal sebelah.
"Kok ngga ada suara sih?" tanya Margaret pada dirinya sendiri. Hampir seperempat jam dia berdiri menguping di sana. Namun, suara yang ingin dia dengar tak kunjung hadir. "Apa kurang nempel ya?" ucapnya lagi sambil membenahi posisinya. Margaret menekan daun telinganya lebih rapat. Mungkin saja dia kurang menempelkan telinganya sehingga tidak bisa mendengar sesuatu di dalam sana.
Beberapa saat kemudian, Margaret terlihat kesal. Suara yang ingin dia dengar tak kunjung datang menghampiri telinganya hingga dapat melepaskan dahaga penasarannya. "Duh, kenapa masih ngga bisa dengar sih! Hening banget di dalam," kesal Margaret sambil meraba pintu yang menurutnya tidak begitu berat.
"Mom sedang apa?" tanya seseorang dari belakang.
"Ini, lagi ngecek pintu," ucap Margaret tanpa membalikkan tubuh.
"Oh, memang pintunya kenapa?" tanya suara itu lagi.
"Mama ngga bisa denger suara Apple dari dalam," jawab Margaret lugas.
"Oh gitu. Jadi judulnya mama lagi menguping?" tanya suara itu lagi.
"Ho oh!" jawab Margaret. "Eits, perasaan tadi ngga ada orang," ucap Margaret dalam hati. Wanita itu perlahan membalikkan tubuh dan langsung terkejut melihat sosok John sudah berdiri di belakangnya. "Argh!" teriak Margaret.
John segera menutup mulut sang mama. Bisa gawat jika penghuni kamar keluar dan mendapati dia dan mamanya sedang berdiri tepat di depan pintu kamar. "Sst, Jangan teriak mom!"
Bersambung
Ceritanya Seru,,,,
Suka sm karakter Apple 😊🥰
semangat Thor.
next❤🙏