Aku dilahirkan ke dunia ini pada awal tahun baru 2005. Namun ada yang aneh dengan diriku, kalau aku memiliki otak yang berbeda dari bayi pada umumnya. Aku bisa berpikir, dan mengetahui yang seharusnya tak di ketahui kepada orang yang baru lahir.
Namun aku berbeda, aku bisa mengetahui semuanya, padahal aku baru saja di lahirkan. Bukannya aku bereinkarnasi, tapi sepertinya aku mempunyai kekuatan yang lain, dari yang lainnya. Namun... aku bertemu dengan Lisa, dia adalah teman baikku.
Pertama aku bertemu dengannya adalah waktu di ruangan bayi. Di saat itu, dia terus menatapku, sampai suatu hari ada yang memisahkan kami. Entah apa itu, aku tidak tahu, rasanya seperti aku kehilangan akal, dan pikiran ku saat kehilangan dia.
Aku berharap, suatu hari nanti, kami akan di pertemukan kembali. Baik dalam keadaan susah, maupun, senang. Tapi ada satu hal yang membuatku takut, yaitu. Bagaimana jika nanti kita tak akan pernah bertemu lagi, sampai akhir hayat ku?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Novri Al-zanni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Lalu setelah Lisa pergi, kami melanjutkan bermain vidio gamenya. Padahal tadi dia menyuruhku istirahat, dia malah mengajakku bermain lagi. Sebelum jam 8 tiba, kami bersiap-siap duku untuk pergi ke mall.
Aku meminjam pakaian Juna untuk pergi, lalu setelah kami siap. Kami berangkat menggunakan sepeda motor milik Juna, aku di pinjamkan 1 sepeda motor miliknya. Lalu kami berangkat untuk pergi ke mall.
Sesaat kami sampai di mall, aku melihat teman-teman ku sudah datang lebih dulu. Wah! pakaian-pakaian yang mereka pakai itu keren-keren sekali.
"Hai! kalian akhirnya sudah datang! kalau gitu ayo kita langsung masuk saja" Yuna dengan girang.
Lalu kami masuk ke dalam mall, pertama-tama yang kami kunjungi adalah makan di restoran. Kami banyak berbincang-bincang pada pertemuan kami, yang membuat hubungan kami semakin akrab.
"Oh ya, kapan-kapan kita pergi ke rumahnya Jay yuk. Aku ingin sekali bermain ke rumah Jay" kata Alvin.
"Ah maaf... aku, aku" kataku dengan gugup, tiba-tiba Juna memotong pembicaraan ku.
"Lebih baik kita main di tempat lain saja, seperti di taman mungkin" kata Juna, yang sepertinya mengalihkan topik pembicaraan.
"Terima kasih Juna, kau selalu membantuku" kataku dalam hati.
"Hmm baiklah, sepertinya main di taman tidak terlalu buruk. Bagaimana denganmu yuna?" tanya Alvin.
"Ya, sebenarnya aku hanya ikut kalian saja mau kemana" kata Yuna
Lalu setelah kami selesai makan-makan, kami pergi menuju bioskop. Kami akan menonton bioskop film horor, soalnya kami dengar-dengar. Film yang satu ini sangat seram, dan seri bagi penonton.
Saat kami menonton bioskop, semua temanku ketakutan. Kecuali aku, aku hanya santai-santai saja menontonnya tanpa rasa takut. Namun, tiba-tiba tanpa sadar ada seseorang yang ketakutan di sampingku, dan memelukku.
"Eh!? maaf nona, apa yang kamu lakukan" kataku.
"Ah ma-maafkan aku, aku tadi..." kata Lisa yang terkejut melihatku.
"K-kau... kenapa kamu ada disini? apa kamu mengikuti ku dari tadi?" tanyaku.
"Apa! tentu saja tidak, kalau begitu aku pindah tempat, sekali lagi aku minta maaf" kata Lisa.
Setelah kami selesai nonton bioskop, kamu memutuskan untuk pulang , karena sudah terlalu larut malam. Aku pulang bersama Juna, dan di saat aku sedang mengendarai motor, ada seseorang yang lewat di depanku.
Dan aku langsung berusaha menghindar dari orang itu agar tak tertabrak. Alhasil aku malah terjatuh, kaki kananku terbentur cukup keras, dan juga terjepit. Begitu juga dengan tubuhku banyak yang lecet setelah terjadi kecelakaan itu.
Lalu orang yang tadi hampir ku tabrak, datang membantuku, "Maafkan aku, aku salah tak melihat jalan" kata Lisa.
"Kamu! kenapa kamu lagi sih hah! ugh" kataku dengan kesakitan.
"Eh? kamu lagi? apa maksudmu?" kata lisa kebingungan.
Lalu aku membuka helmnya, "Apa kau sudah puas Lisa? sampai kapan kau akan terus menyakitiku hah?" kataku dengan kesal.
"Aku tidak pernah menyakitimu, aku hanya tak sengaja" kata Lisa panik melihat keadaan ku yang penuh luka.
"Tak pernah menyakitiku, haha kau lucu sekali, argh sa-sakit sekali" kataku meringis kesakitan.
"Sudahlah jangan banyak bicara, lebih baik ayo kita pergi ke rumahmu" kata Lisa.
"Aku tidak punya rumah" kataku dengan sendirinya.
Eh? kenapa tiba-tiba aku bisa mengatakannya dengan jelas, bahkan kepada orang yang ku benci. Kenapa di tempat seperti ini tak ada orang lain, aku ingin di tolong orang lain, dan bukannya dia.
"Lagi-lagi kamu Lisa, bukankah aku sudah bilang jangan mengganggu Jay lagi" kata Juna turun dari motornya, dan mengangkat motorku.
"Terima kasih Juna, tapi kakiku sakit sekali, aku tak bisa berdiri" kataku.
"Hmm, kalau begitu bagaimana biar Lisa yang bawa motor, dan kamu naik motor bersama Lisa" kata Juna.
"Apa! kenapa harus sama dia, aku naik motor kamu saja, dan biarkan Lisa membawa motornya sendiri" kataku.
"Aku takut dia akan membawa kabur motorku, jadi kai sama Lisa saja ya" kata Juna.
"Kau kira aku wanita seperti apa" kata Lisa kesal.
"Argh, baiklah, kalau begitu cepat kau bawa motornya. Cepat tarik tanganku, bantu aku berdiri" kataku dengan kesal.
"B-baiklah, ayo raih tanganku" kata lisa menjulurkan tangannya.
Lalu aku meraih tangannya, saat ku pegang, tangannya begitu lembut sekali. Entah kenapa aku merasa nyaman dengannya, lalu aku naik motor, dan di kendarai oleh Lisa. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami.
Di sepanjang perjalanan Lisa mengajakku bicara, "Aku benar-benar minta maaf padamu, padahal ini bukan keinginan ku" kata Lisa sedih.
Entah kenapa aku juga merasakan sedih, "Itu bukan kesalahan mu kok... aku juga bersalah" kataku.
Entah kenapa aku bisa mengeluarkan semua perasaan yang ku pendam padanya. Memangnya siapa dia, siapa dia sebenarnya, apakah dia malaikat. Atau dia adalah sosok yang bisa meluluhkan kerasnya hatiku.
"Kau tidak salah, aku yang salah" kata Lisa.
"Baiklah terserah kamu" kataku.
"Oh ya, maaf jika aku lancang, kenapa kau tidak memiliki rumah?" tanya Lisa.
"Sebenarnya aku... aku anak yatim-piatu, semenjak aku berumur 5 tahun. Banyak hal yang terjadi setelahnya, sekarang aku tidak ingin membicarakan hal ini" kataku.
"Oh, ma-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu kok" kata Lisa.
"Kenapa kau minta maaf padaku, kau kan tidak salah" kataku.
"Entahlah, aku hanya ingin meminta maaf padamu" kata Lisa.
Kami mengobrol di sepanjang perjalanan, sampai kami tiba di rumah Juna. Orang tuanya terkejut begitu melihatku terluka, dan menyuruh kami masuk, begitu juga dengan Lisa.
Orang tuanya menyediakan obat luka untukku, dan aku sangat takut dengan obat luka. Jadi aku menolaknya untuk di obati, namun orang tuanya Juna terus membujukku, begitu juga dengan Juna.
Aku tetap menolaknya, sampai tiba-tiba Lisa turun tangan untuk mengobati lukaku, "Sini bu, biar aku saja yang mengobatinya" kata lisa mengambil obatnya dari ibu Juna.
"Tidak, aku tetap tidak mau di obati" kataku.
"Kau harus di obati Jay, kalau tidak lukamu akan semakin parah" kata Lisa.
Aku tetap bersikeras untuk tidak mau di obati lukaku. Lisa juga tak mau menyerah, dia terus-terusan membujukku, sampai aku pasrah. Dan pada akhirnya aku pasrah saja di obati lukaku dengannya.
"Terserah kau sajalah, tapi awas saja kalau aku sampai merasakan kesakitan saat terkena obatnya" kataku.
"Mungkin ini akan terasa sedikit sakit, tapi kau harus bisa menahannya. Ayo kita mulai, aku akan membersihkan luka di kakimu dengan air" kata Lisa, sambil membersihkan kakiku.
Beberapa menit kemudian, "Sudah selesai pengobatannya, tuh kan apa ku bilang tidak sakit kan. Hei! apa kau tidak dengar?" tanya Lisa.
"Eh!? ada apa!?" tanyaku kebingungan, karena tadi sempat bengong.
"Tidak terasa sakit kan?" tanya Lisa.
"Hah!? kapan kau melakukannya?" tanyaku bingung.
"Sejak kau bengong, dan terus menatapku" kata Lisa.
"A-apa!? tidak mungkin, kau pasti bohong" kataku memerah.
"Lihat saja wajahmu merah tuh" kata Lisa.
"Ah sudahlah, kau diam saja, lebih baik kau pulang ini sudah malam" kataku.
"Ah iya benar juga katamu, aku harus pulang, sampai ketemu besok" kata Lisa pergi keluar.
Eh? dia langsung pergi begitu saja, ngomong-ngomong bagaimana caranya dia pulang. Dia kan dateng kesini tidak naik apa-apa, bagaimana caranya dia pulang. Ah mungkin dia akan memesan taksi online, atau semacamnya.
Tapi kenapa harus kupikirkan dia, untuk aku aku memikirkannya. Tapi kenapa aku terus memikirkannya, ah sudahlah lebih baik aku tidur saja. Karena besok aku harus pergi sekolah lagi.
Bersambung...
CINTAI AKU SAHABAT KECILKU
& I NEED YOU
lanjut
lanjut 👏
lanjut
lanjut 👏